Cinta Melati Cinta

Cinta Melati Cinta
Murka Rose


__ADS_3

Flat Melbroune City


Kicauan burung saling bersahutan, mewarnai pagi yang cerah.Meli menyibak kan tirai kamarnya. Cahaya mentari menerobos masuk melalui fentilasi kamarnya.


Gadis cantik itu membukakan pintu kamar nya, ada senyum yang tersungging di sudut bibirnya.


Hari ini sesuai rencana Ia akan bertemu orang tua Steven. Mereka berdua akan meminta izin untuk melaksanakan pernikahan di Jakarta.


Steven sudah menjadi muslim sekarang. Itu pula yang membuat Meli merasa tantangan di depan berangsur terlewati. Walau beberapa waktu lalu, Ia sempat bertanya dalam hati. Apa Mungkin Ia akan menikah dengan Steven. Pria bule yang beda kewarganegaraan, beda agama dan lain sebagainya yang bisa menjadi tembok tinggi untuk hubungannya dengan Steven.


Dulu, sebelum Steven mengungkapkan rasa cinta padanya, Meli merasa sangat terluka.Karena pria yang dia cintai ,mencintai saudara kembarnya. Meli merasa dirinya begitu sial saat sang kembaran kembali kepada keluarganya. Setelah mere but seorang yang dia sayangi.


Apalagi, saat mendengar keluarga Resnu akan melamar saudara kembarnya itu. Meli tak henti menangis di kamarnya. Hidup rasanya dilalui dengan kekecewaan. Namun saat kepedihan dan kekecewaan itu memenuhi rongga dadanya, saat itu pula Steven menawarkan cinta yang indah untuknya.


Laksana padang gurun yang kering kerontang, lalu di siram dengan air hujan yang membuat tanah menjadi subur. Seperti itulah Dia, bagai tanah yang kering. lalu tersiram air.


Sebuah ketukan membuat Meli berjalan ke ruang tamu. Wajah kekasihnya nampak saat pintu terbuka. Sebuah senyum tulus penuh cinta tercetak di wajah tampan Steven.


"Hii. Sudah siap?"Steven masuk ke dalam rumah Meli. Gadis itu mengikuti kekasihnya dari belakang.


"Belum, baru juga bangun." sahut Meli santai. Steven hanya geleng-geleng.


"Mentang-mentang udah nggak kuliah lagi ya?" Meli terkekeh.


"Kebetulan aku lagi nggak sholat. Jadi ya bisa bangun siang!" kekehan kemudian keluar dari mulut Steven.


"Segitunya, tapi kalau sudah jadi istriku, harus bangun pagi lah. Menyiapkan sarapan buat suami dan anak nanti," Steven mengusap lembut rambut hitam mengkilat milik Meli.


"Mau aku buatkan minuman apa?" tawar Meli sambil berjalan ke dapur.


"Nggak udah repot, aku bisa ambil sendiri. kamu buruan mandi, sudah jam sembilan ini!" Steven mengingatkan. Meli langsung kabur ke kamarnya. Kamar Meli memiliki kamar mandi di dalamnya.


Dengan cepat Meli menyelesaikan mandinya pagi ini. Mengenakan pakaian ,berdandan dengan make up gaya natural. Lalu bergegas ke ruang keluarga, karena Steven telah menunggunya di sana.

__ADS_1


"Sudah?" tanya Steven sambil memperhatikan pakaian dan dandanan Meli yang sangat cantik.


"Iya..udah, Gimana apa terkesan biasa aja?"


"Bagus kok. Makin cantik," puji Steven. Meli tersenyum senang. Steven melengkungkan tangan nya dan Meli langsung mengaitkan tangan pria itu lalu berjalan keluar rumah dengan bergandengan tangan.


"Kita langsung ke rumah orang tua ku ya. Mereka sudah mempersiapkan penyambutan untuk calon mantunya," dijawab anggukan penuh senyum bahagia di wajah Meli.


Keduanya lalu masuk ke dalam mobil Steven. Sebelumnya pria itu membukakan pintu untuk kekasihnya, setelah itu baru dirinya sendiri yang masuk ke dalam mobil. Lalu duduk di kursi pengemudi.


Jadi sabtu ini, lalu lintas di jalanan tidak terlalu padat, biasanya saat menjelang siang atau sore suasana baru akan terlihat ramai.


Sekitar tiga puluh lima menit keduanya sampai di halaman rumah yang besar dan mewah. Dengan di bukakan pagar oleh satpam yang berjaga di rumah itu. Dinding rumah itu banyak terdapat ukiran keemasan yang membuat rumah itu jadi makin mewah.


Saat turun dari mobil dan menaiki tangga menuju pintu utama, seorang pelayan dengan pakaian seragam menunggu keduanya dengan membungkukkan tubuhnya.


"Selamat pagi Tuan muda dan Nona,"


"Pagi nanny , apa papa dan mama di rumah?"


Saat sampai di ruang tamu yang luas dengan sofa besar yang mewah, mereka berdua melihat kedua orang tua Steven memang telah menunggunya.


Kedua orang tua Steven langsung berdiri menyambut Steven dan Meli.


"Mari ku kenalkan, ini Dad dan ini Mom," Steven membawa Meli mendekati orang tua nya. Lalu mengulurkan tangan pada keduanya dengan sopan.


"Selamat Pagi Tante dan Om. Maaf kedatanganku mungkin menyita waktu sibuk kalian," ujar Meli basa-basi.


Rose , mama Steven hanya menarik nafas dalam. 'Cantik juga anak ini' bisik Rose dalam hati sambil menatap lekat wajah Meli yang cantik. Mark pun menatap wajah Meli lalu mengalihkan tatapannya pada putra semata wayangnya. Pria itu dapat membaca betapa bahagianya Steven bisa mendapatkan Meli.


"Ayo silahkan duduk," ajak Rose pelan. Meli mengikuti saat yang lain duduk di sofa empuk itu.


"Ehm..keluargamu ada di Indonesia?" tanya Rose sambil menatap lekat wajah Meli. Gadis itu mengangguk. Tiba tiba ia merasa tangan nya jadi dingin. Lebih dingin dari saat Ia ujian Skripsi kemarin.

__ADS_1


"Iya Tante,"


"Apa pekerjaan orang tua mu?"


" Papi saya seorang direktur utama dari perusahaan yang Ia pimpin. Mami juga begitu." Rose mengangguk dengan tatapan meremehkan. Hati Meli tiba-tiba kecut.


"Ah..Rose mana pelayan, suruh Ia menghidangkan makanan dan minuman!" tatapan Mark berpaling pada Rose istri nya. Untuk mencarikan suasana yang seperti meja sidang saja. Rose menatap suaminya kesal. Lalu memanggil pelayan yang menunggu di depan ruang tamu. Pelayan mengangguk paham saat mendengar panggilan dari sang Nyonya.


Beberapa saat keheningan menyelimuti ke empat orang yang tengah berkenalan itu.


Namun tak lama ,pelayan datang lagi dengan meja dorong yang berisi minuman dan makanan kecil. Lalu menghidangkannya dengan sigap.


"Silahkan Nyonya!" ucap sang Pelayan. Lalu masuk lagi ke dalam sambil membawa meja dorongnya.


"Ayo diminum Li," ajak Mark ramah. Meli mengangguk sambil tersenyum. Rose yang berada di samping Mark, menyorot dengan mata tajam mata suaminya. Rose sangat kesal. Karena Mark begitu ramah pada kekasih Steven.


"Terima kasih," sahut Meli sambil mengambil gelas yang berisi air teh hangat."


"Apa kalian sudah lama bertemu?"


"Iya tante," sahut Meli dengan wajah penuh senyum.


"Lalu kenapa kau mengajak Steven memeluk agamamu? tanya Rose sinis.Meli tercekat mendengar pertanyaan yang mengandung kemarahan.


"Maaf kan saya tante, Steven menginginkannya sendiri. Bukan saya yang meminta atau memaksa," sahut Meli jujur. Rose menatap dengan tajam mata gadis itu.


"Mom..jangan bertanya seperti itu pada Lili. Aku yang memutuskan ingin menjadi Muslim. Tak ada paksaan apa pun!" suara keras Steven bagai auman bagi Meli. Dilihatnya wajah sang kekasih dengan mata terbelalak. Wajah itu memerah menahan marah.


"Hei Steve, harus nya kau safar Mom membela mu. Jangan sampai terperosok pada kurang yang dalam. Mumpung masih baru. Jika kau berpisah dengan nya tak akan begitu sakit!" sergah Rose berang.


Mark hanya diam melihat pertengkaran itu. Lalu mengusap lembut bahu istrinya .


"Jangan sekeras itu dengan putra kita Ros!" Mark mengingatkan istri nya. Rose menatap tajam wajah suaminya dengan amarah yang akan meledak.Mark menarik tangan Rose untuk masuk ke dalam kamar. Walau wanita itu menolak, Mark memaksanya.

__ADS_1


"Kau tak perlu menyabarkan ku Mark. Aku tahu apa yang terbaik untuk anakku," sahutnya sewot. Mark meneguk saliva nya dengan kasar. Amarahnya sudah di ubun-ubun. Lalu menggelengkan kepalanya.


"Anak kita Ros, jangan lupa itu. Bukan hanya anakmu.. tapi juga anak ku. Kau tak berhak melarang semua keinginan Steven. Dia sudah dewasa. Bukan anak kecil lagi!" bentak Mark keras pada Rose, istri nya.


__ADS_2