Cinta Melati Cinta

Cinta Melati Cinta
Meminta izin


__ADS_3

Setelah ngobrol panjang lebar dengan Resnu. Keluarga Hendrawan memutuskan untuk kembali ke hotel. Karena hari ini mereka akan cek out dari hotel Ambassador milik Tommy Wiryawan, papa Randy. Rombongan Hendrawan dan Resnu berpisah di halaman kantor polisi. Resnu masuk ke dalan mobilnya. Setelah memencet klakson mobilnya pria itu membawa mobilnya kembali ke rumah.


"Jadi Resnu kuliah di luar. Ehm kenapa bisa Papi nggak tau kalau dia sudah resign dari kantor kita." tanya Hendrawan saat mereka berlima sudah berada di dalam mobil.


"Resnu resign nya mendadak banget Pi. Sampai -sampai aku nggak sempat ngasi tau Papi. Apalagi ngasi tau Mel. Bisa-bisa Mel berubah pikiran karena Resnu mau kabur ke Amrik." sahut Reyhan melirik sang adik yang berada di sampingnya. Wajah cantik itu langsung memerah. Randy sempat menoleh menatap sang istri.


"Kenapa pada liat Mel ya?" tanya gadis itu sambil melirik ke kanan dan ke kirinya. Kedua orang pria yang duduk mengapitnya tertawa terkekeh melihat Melati.


"Biasa aja kali, nggak perlu segitunya wajah ampe merah kayak kepiting rebus." goda Reyhan dengan terkekeh. Randy yang duduk di dekat pintu hanya tersenyum melihat wajah sang istri.


"Tenang aja Ran..Mel nggak bakalan kok kepikiran sama Resnu. Toh orangnya juga udah jauh," Netra Reyhan melirik Randy yang sedang menatap keluar mobil.


Lalu pria tampan itu menatap ke arah Reyhan lalu menatap sang istri.


Melati menggembungkan pipinya. Salah tingkah itulah yang di rasanya saat ini.


"Jangan cemburu Ran.." sontak kata-kata itu membuat Hendrawan dan Pak Hardi tertawa terbahak-bahak.


"Ada-ada aja kamu Rey..Hus sudah jangan bikin adik kamu dan Randy malu," kata Hendrawan menatap sekilas wajah kedua orang itu.


"Ok..ok..!" sahut Reyhan sambil terkekeh. Bahagia banget dia bisa menggoda sang adik dan adik ipar.


Tak lama kemudian mobil yang mengantarkan mereka ke hotel telah sampai. Keempatnya keluar dari mobil dan berjalan menuju hotel Ambassador. Akan tetapi Pak Hardi belum ikut masuk ke dalam hotel karena pria itu masih memarkirkan mobilnya di halaman hotel.


"Gimana Pi..? apa sudah selesai acara ke Kantor Polisinya? Ketemu sama Fahmi?" tanya Anita yang membukakan pintu kamar untuk suaminya langsung dengan memberondongkan pertanyaan pada Hendrawan.


Hendrawan duduk di kursi yang terletak di belakang jendela kamar itu.

__ADS_1


"Alhamdulillah sudah. Tapi nanti kita akan tetap dimintai keterangan. Oleh pihak kepolisian maupun jaksa.Yah jadi nambah kerjakan gara-gara si Harjo tua bangka itu,"


Anita mengangguk membenarkan ucapan sang suami. Hatinya agak prihatin. Dengan kejadian yang membuat kalang kabut keluarganya. Anita mendesah.


"Jam berapa kita cek out. Mami sudah beres-beres pakaian?" Hendrawan menatap wajah sang istri yang duduk di sisi tempat tidur.


"Jam dua belas sih Pi. Mami tadi Abis sarapan langsung ke kamar, jadi pas sampai ke kamar langsung memasukkan baju ke tas."


"Ok..lalu gimana dengan Lili , Steven dan calon mertuanya. Apa udah di kasi tau kalau siang ini mereka juga akan pulang ke rumah?"


"Udah Pi...tadi pas sarapan udah Mami kasih tau mereka," Hendrawan menganggukkan kepalanya. Pria itu langsung bangkit dari duduknya. Berjalan ke arah pintu kamar mandi. Tapi kemudian berhenti sesaat di depan pintu kamar mandi.


"Mi..Papi lupa nanya sama Mami. Surat-surat untuk pernikahan Lili udah sampai mana? dan Udah ada belum perbincangan tentang pernikahan mereka? Soalnya Papi belum sempat ngobrol soal rencana pernikahan Lili dan Steven."


"Mami pikir biarlah nanti malam saja kita bicarakan Pi. Biar agak santai," sahut Anita sambil menatap suaminya. Hendrawan mengangguk lalu membuka pintu kamar mandi dan masuk ke dalam.


"Mel..Randy. ..ayo masuk," ajak Anita pada pasangan pengantin baru itu. Keduanya mengangguk. Lalu masuk ke dalam kamar mengikuti Anita yang berjalan di depan mereka.


"Ada apa? Apa sudah beberes? Kan siang ini kita cek out!" kata Anita sambil duduk di sisi tempat tidur.


"Kami sudah beberes Mi. Hanya saja mau izin sama Mami. Apa Papi ada di sini?" tanya Randy.


"Papi ada. Tadi lagi di kamar mandi," sahut Anita.


"Kita tunggu Papi keluar dari kamar mandi aja," kata Randy sambil menatap Melati. Melati mengangguk setuju. Tak lama pintu kamar mandi terbuka. Wajah Hendrawan muncul di balik daun pintu yang terkuak sedikit.


"Hai..tumben berduaan kesini?" sapa Hendrawan ceria pada anak dan menantunya.

__ADS_1


"Oh...hehehe. Gini Pi..kami berdua mau ngomong sesuatu," ujar Randy menatap wajah sang mertua sambil tersenyum.


Hendrawan menatap sesaat ke arah sang istri. Lalu kembali menatap Randy dan Melati.


"Ya Ngomong saja. Nggak papa,"


"Iya baik. Gini Pi..Mi..tadi saya sama Mel sempat diskusi kalau setelah nikah ini kita mau tinggal dimana. Nah setelah diskusi kami sepakat untuk tinggal di rumah kami sendiri. Kebetulan...dulu saat ultah saya yang ke dua puluh lima tahun , Papa saya menghadiahkan pada saya sebidang tanah dekat rumah sakit. Dan tahun kemaren sudah saya buat sesuai dengan impian saya Pi, Mi. Dan pembangunan rumah itu sudah selesai. Tinggal ngisi furniture nya aja. Begitu ceritanya Pi.Mi." cerita Randy.


"Ya Mi..Pi..apa Mami dan Papi setuju kalau kami berdua tinggal di rumahnya mas Randy?" tanya Melati pelan. Dia takut jika orang tuanya tak bersedia jika Ia lebih memilih tinggal si rumah sang suami.


Hendrawan menatap wajah sang putri dan menantunya. Lalu menatap sang istri yang duduk di sisi ranjang.


"Bagaimana Mi..apa Mami setuju kalau Mel ikut suaminya?" tanya Anita menatap Hendrawan.


"Ya pada prinsipnya Papi setuju. Biar kalian bisa mengelola rumah tangga. Juga biar lebih bebas. Papi setuju. Tapi ingat Ran..jangan pernah mengkhianati putri saya. Cuma itu aja." kata Hendrawan. Randy mengangguk setuju.


"Iya, begitu juga sama Mami. Mami setuju kalian tinggal di rumah kalian sendiri. Biar kalian bisa merasakan bahagianya hidup berumah tangga," sambung Anita. Wajah Randy menjadi berseri-seri mendengar pendapat kedua orang tua istrinya.


"Makasih Mami, Papi..karena sudah menyetujui kami untuk tinggal di rumah kami sendiri," dijawab anggukan oleh Hendrawan dan Anita.


"Ok.kami ke kamar dulu Mi..mau siap-siap," pamit Randy dan Melati. Mereka berdua kemudian bangkit dari duduknya lalu berjalan ke arah pintu keluar.


"Kalian mau langsung ke rumah Randy setelah dari sini?" tanya Hendrawan sambil menatap lekat wajah sang menantu.


"Iya Pi..makanya kami sekalian pamit. Mungkin nanti malam kami ke rumah Papi. Mel juga katanya ada yang mau di ambil di rumah Papi," sahut Randy berhenti sejenak , menatap Hendrawan. Hendrawan mengangguk .Randy lalu melanjutkan langkahnya berjalan keluar kamar Hendrawan. Melati berjalan duluan. Namun saat sudah berada di luar kamar orang tuanya mereka berjalan beriringan. Randy meraih jemari sang istri.


Menggenggamnya dengan erat. Melati melirik ke arah tangannya yang di genggam erat oleh Randy. Gadis itu membiarkan saja. Mereka berdua kemudian berjalan menuju kamar pengantin mereka.

__ADS_1


****


__ADS_2