Cinta Melati Cinta

Cinta Melati Cinta
Bertemu di Rumah Sakit


__ADS_3

Pagi ini Melati sudah sibuk menyiapkan buku-buku pelajarannya. Sudah dua hari ini dia kuliah di Fakultas Kedokteran Universitas Abdi Bangsa.


Saat membereskan buku, sebuah ketukan di pintu menghentikan kegiatan Melati memasukkan buku-bukunya di dalam tas. Lalu berjalan melangkah ke pintu kamar. Membukanya. Lalu di depan pintu kamar berdiri wati, asisten rumah tangga di rumah ini.


"Ada apa mbak Wati?"


" Itu..kamu di suruh cepetan sarapan..."


" Iya..mbak..bentar lagi..saya beresin buku dulu, nanti saya ke bawah,"


Wati mengangguk, setelah itu beranjak dari depan kamar Melati. Gadis itu kemudian menutup pintu kamar lagi dan gegas memasukkan buku yang akan di gunakan hari ini. Setelah selesai membereskan buku-bukunya, Melati merapikan dandanannya dengan cepat. Karena kedua orang tuanya dan dua saudaranya sudah menunggu untuk sarapan di meja makan. Sebuah kebiasaan dari keluarga besar Hendrawan. Karena di meja makan itu lah mereka bisa bercengkrama dengan mendengarkan ceritaku satu sama lain. Baik itu ceritaku yang menyedihkan selama kegiatan di luar rumah ataupun cerita gembira. Setiap anggota keluarga akan di tanya oleh Hendrawan kegiatan putra putrinya. Terbuka satu sama lain, membuat mereka jadi dekat.


Melati keluar kamarnya setelah menyelesaikan kegiatannya walau dengan tergesa. Sambil membawa tas ransel dan beberapa buku tebal dalam pelukannya. Beberapa menit gadis itu telah tiba di ruang makan. Papi, Mami, Reyhan dan Meli sudah menunggunya di meja makan. Semua mata menatapnya saat Melati sudah berdiri di depan meja makan.


"Eh pake ngelamun..buruan..gue sudah lapar !" protes kembarannya, Meli.


Melati menjawab dengan senyuman, lalu menarik kursi di depannya. Duduk dengan tenang memandang Semua yang telah menunggunya.


"Sudah siap kuliah sayang. Tidak ada yang ketinggalan kan?" tanya Anita lembut menyapa putrinya. Melati tersenyum


"Sudah Semua Mi..maaf semua jadi menunggu Mel.." ujarnya tertunduk.


" Sudah, nggak usah merasa bersalah gitu..ayo kita mulai makan.Meli ayo pagi ini kamu yang pimpin doanya!" perintah Hendrawan pada Meli. Gadis itu mengangguk.


"Bismillahirohmanirohim..Allahumma bariklana fima rozaktana wakinna azabanar, aamiin,"


Lalu selesai membaca doa mereka mulai sarapan. Melati mengambil nasi goreng yang disiapkan di mangkuk besar. Ada roti dan bermacam-macam selai. Tapi Melati lebih menyukai nasi goreng.


"Apa kegiatan kamu hari ini Meli?" tanya Anita pada putrinya. Sambil menikmati roti selai kacang. Meli menatap ibunya, masih mengunyah rotinya.


"Gak kemana-mana Mih..tapi siang nanti aku mau meet up sih sama temen SMA aku. "


" Jangan sampai pulang malam Meli..Mami gak suka kalau anak gadis mami pulang malam. Seperti Tidak dididik orang tuanya saja. Adat ketimuran harus tetep dipakai, walaupun selama ini kamu kuliah di Luar negeri." ujar Mami Anita tegas. Diikuti oleh anggukan setuju suaminya. Meli mendengarkan nasihat Maminya sambil mengerlingkan matanya. Tanda dia kesal karena selalu dianggap melakukan sesuatu yang salah.


"Sayang, kamu kuliah jam berapa hari ini ?" tanya Anita sambil menatap gadis cantiknya yang sedang menikmati nasi gorengnya.


"Kuliah pagi Mih..sampai jam 3 sore. Hari ini mata kuliahku padat banget," jawabnya sambil tersenyum pada Mami Anita. Anita dan Hendrawan tersenyum mendengar cerita Melati. Mereka bahagia karena Melati menjadi gadis yang cantik, pinter dan juga taat dalam menjalankan ibadah. Berbeda dengan Meli kembarannya. Yang selalu bersikap serampangan. Apalagi sekarang berkuliah di Luar Negeri. Yang menganut azaz kebebasan.


Pagi itu Keluarga Hendrawan menyelesaikan sarapan pagi dengan keakraban. Di meja makan inilah Hendrawan dapat berbagi cerita dengan putra dan putrinya. Karena pria itu selepas sarapan dengan anak dan istrinya akan pergi bekerja, dan pulang saat malam telah larut.


"Mau bareng Mel?...Mas mau ke kantor yang searah sama kampus kamu," tanya Reyhan. Melati yang sedang mengambil tas ranselnya dan beberapa buku menoleh kepada kakaknya.


"Boleh mas Rey..bentar ya Mel pakai sepatu dulu," Melati kemudian memakai sepatu kets nya lalu mengambil kembali bukunya, sementara tas ranselnya sudah tersandang di punggungnya.


"Mami...Mel berangkat dulu ya.." pamit Melati sambil mencium punggung tangan ibunya.


" Ya..hati-hati ya sayang. Semangat kuliah ya," ujar Anita sambil mengecup lembut pipi Melati. Melati tersenyum manis. Seumur hidup dia hanya mendapat pelukan dan ciuman sayang dari ibu Ratih. Yang ternyata adalah ibu angkatnya.


Reyhan dan Melati berjalan beriringan. Hendrawan sudah pergi ke kantor lebih dahulu. Meli saudaranya kembar Melati sudah kembali ke kamarnya. Hanya Anita yang mengantarkan Melati dan Reyhan sampai pintu utama rumah mewah itu. Anita melambaikan tangannya saat mobil Reyhan sudah bergerak meninggalkan halaman rumah yang luas itu.


"Masuk jam berapa pagi ini Mel?" tanya Reyhan sambil menyetir dan tetap menatap jalan di depannya.


"Jam delapan mas, "

__ADS_1


"Baru jam tujuh, lebih kurang dua puluh lima menit kita akan sampai di kampus kamu."


"In Sha Allah Mas..Rey.." sahut Melati sambil tersenyum.


" Gimana perasaan kamu Mel? Setelah tau kalau kamu anak kandungnya Papi dan Mami?" tanya Reyhan sambil melirik adiknya. Melati tersenyum sambil mengerjapkan matanya.


"Nggak nyangka aja Mas..Tapi yang jelas bahagia sih.masak ketemu orang tua kandung nggak bahagia," sahutnya datar. Reyhan tersenyum menanggapi jawaban adiknya.


"Apa Meli bahagia Mas bisa ketemu sama saudaranya kembarannya?" tanya Melati ingin tahu.


"Pasti. Hanya saja kamu Jangan berkecil hati mendapati saudara kembar kamu yang jutek itu. Dia gadis mandiri. Walaupun Mami dan Papi sangat memanjakannya, mungkin karena berfikir dia anak satu-satunya cewek dan sekaligus menjadi anak bungsu..jadi yah...begitulah sikapnya.." jelas Reyhan sambil tertawa. Melati tersenyum menanggapinya. Baginya tak ada masalah sama sekali dengan saudari kembarnya itu. Kalau pun Meli agak nyolot dan jutek dengan nya. Tapi dia maklum.


Tak terasa Mobil Reyhan sudah memasuki pelataran parkir di kampus Melati.


"Alhamdulillah.. sudah sampai Mel.."


"Ah iya..makasih Mas Rey. Mel turun ya.." Melati segera turun setelah pamit pada kakak sulungnya.


"Ok..yang semangat ya...calon dokter.." ujar Reyhan memberi semangat. Melati tersenyum lalu melambaikan tangannya. Dan gadis itu baru masuk ke dalam gedung kampus, setelah mobil Reyhan menghilang di tikungan.


Dengan semangat, Melati mengayunkan langkahnya dengan ringan menuju ruang kelasnya. Di sana sudah menunggu sahabatnya Reva. Reva melambaikan tangannya pada Melati. Gadis itu berjalan cepat menghampiri Reva yang sedang duduk di depan jelas mereka.


"Hai...tumben agak cepetan nyampe di kampus?" tanya Reva saat Melati sudah duduk di sampingnya.


"Iya..tadi ikut Mas Rey...katanya sekalian antar aku. Soalnya kantor cabang Mas Rey searah dengan kampus kita,"


"Bahagia banget jadi lo Mel...gue jadi iri," sahut Reva menatap wajah cantik Melati. Melati tersenyum manis. Dua lesung pipi menambah manis wajahnya.


"Itu Mas Reyhan. Abang sulung ku. Kenapa? tertarik..?" tanya Melati dengan riang. Reva, memanyunkan bibirnya.


" Kalau menurut lo gimana?"tanya Melati balik tanya.


"Eh..si eneng, gue tanya kok malah balik tanya?"


" Tolong..tolong...." sebuah teriakan membuat Melati dan Reva serentak menoleh kearah suara. Di ujung bangunan Fakultas kedokteran sudah ramai orang melihat kejadian dengan antusias.


"Liat yok Mel..kepo jadinya..ada apa ya?" ajak Reva sambil menarik lengan Melati mendekat kearah keramaian. Mereka berdua sudah tiba di depan gedung praktikum. Setelah melihat korban. ternyata anak Fakultas Teknik Kimia yang sedang praktikum di laboratorium . Kebetulan Lab punya Teknik Kimia ada di samping bangunan Fakultas kedokteran.


"Masya Allah.. itu kan Femi?...temen satu grup waktu kita ospek. Ingat gak Mel.." tanya Eva menoleh kearah Melati. Melati mengangguk.


"Ayo..anak-anak. kita bawa Femi ke rumah sakit terdekat. Kasian..ayo angkat!" perintah seorang pria yang merupakan dosen di Fakultas Teknik Kimia . Namanya Pak Hambali. Beberapa anak-anak cowok mengangkat Femi dan mengantarkan sampai mobil dinas Universitas Abdi Bangsa. Melati dan Reva mengikuti rombongan yang mengangkat Reva ke mobil dinas Universitas.


"Mau dibawa kemana Pak? kami ikutan ngiring ya Pak..Femi temen kami," ujar Reva sambil mensejajarkan langkahnya dengan dosen itu. Pria itu mengangguk.


"Kami bawa mobil juga pak, nanti kami ikut dibelakang mobil bapak,"


"Ok.terimanya kasih ya, ayo kita pergi. Cari rumah sakit yang terdekat saja," katanya pada Reva , kemudian menoleh kearah sopir yang sudah duduk di belakang kemudi. Dengan satu kali anggukan , sopir itu langsung menjalankan mobilnya. Sementara Reva dan Melati mengikuti mobil Pak Hambali dari belakang. Sekitar 15 menit , mereka mengikuti Mobil di depan yamg memasuki sebuah Rumah Sakit. Rumah Sakit Sehat Sejahtera. Tampak Pak Hambali ,sopir dan duo orang cowok yang merupakan anak Fakultas Teknik Kimia yang merupakan teman sekelas Femi turun dari mob. Pak Hambali berjalan kearah UGD Rumah Sakit itu. Reva dan Melati keluar dari pintu mobil dan berjalan mengikuti rombongan temannya yang mengangkat Femi ke atas berangkar. Lalu mereka mengikuti Femi masuk ke dalam UGD. Melihat Suster dengan cekatan memeriksa luka bakar di tangan Femi sebelah kanan, lalu mengecek wajahnya yang ikut terbakar karena salah mencampur cairan kimia saat di lab tadi. Melati khawatir karena sahabatnya itu belum sadarkan diri.


"Kita liat perkembangan Pak Herman ya Bu..ibu jangan khawatir karena kan sudah di rumah sakit. Setelah beliau selesai di cek darah dan urinnya Pak Herman bisa di bawa ke kamar perawatan. Sekarang kita observasi dulu ya. Biar tahu apa penyakit Pak Herman. " suara pria yang ada di tempat tidur sebelah . Rupanya pria yang bicara tadi seorang dokter jaga.


"Iya dokter. Terima kasih banyak. Tolong di sembuhkan suami saya," suara seorang wanita terdengar di telinga Melati. Gadis itu agak terpana mendengar orang di bed sebelah berbicara dengan dokter.


'Kok seperti suara ibu ya..'pikirnya.

__ADS_1


Tak berapa lama dokter yang berbicara dengan ibu tadi berjalan kearah bed Femi.


"Selamat pagi, siapa yang sakit..wah..luka bakar ya. suster coba ambil kain salep untuk luka bakar, masih pingsan ya pasiennya." ujar seorang dokter pria separuh baya. Namun masih terlihat segar dan tampan.


Saat dokter memeriksa Femi, Melati izin untuk melihat siapa yang sakit di sebelah.


"Reva, aku ke bed sebelah dulu ya?"


"Eh ngapain..belum waktunya jadi Coast," tanya Reva sambil menarik lengan Melati. Melati tersenyum, lalu berbisik kepada sahabatnya itu.


"O..sok atuh," kata Reva kemudian sambil menggerakkan tangannya berbentuk huruf O.


Melati berjalan pelan kearah bed sebelah yang di tungguin seorang ibu dan suaminya. Saat sampai di bed sebelah tatapan Melati terperangah.


"Astagfirullah , ibuk...bapak kenapa? kok ibuk nggak bilang sama Mel kalo bapak sakit?" tanyanya bertubi-tubi saat melihat pak Herman terbaring belum sadarkan diri. Melati memeluk Bu Ratih. Lalu melihat kearah Pak Herman.


"Bapak sakit apa bu?"


"Kemaren Pak Harjo datang, mengabarkan kalau hutang bapak sama dia udah di lunasi orang kaya. Ibu nggak tau siapa. Tak lama saat kami bercerita, eh bapak malah pingsan. Ibu juga gak tau apa sakitnya bapak. Biasanya suka pusing aja. Ini gak tau..bapak juga gak pernah bilang kalau badannya sakit..atau gak enak."


"Ya Allah bu. lain kali kalau sakit gini , kasi tau Mel ya..jangan menyelesaikan masalah sendirian. Nanti Mel kabari Papi kalau bapak masuk ke sal." Bu Ratih hanya mengangguk.


"Apa bapak sudah bangun setelah dari pingsannya ini Bu?"


"Belum Mel..ibu jadi takut," sahut bu Ratih dengan wajah cemas.Melati memeluk ibu Ratih. Wanita baya itu menangis sesegukkan.


"Ibu gak usah khawatir, kan sudah di periksa dokter. Sebentar lagi perawat akan membawa bapak ke ruangan ronxent bu . Nanti keliatan tu apa penyakit bapak." kata Melati menenangkan. Bu Ratih mengangguk paham.


"Mel..kamu sudah selesai? pulang yuk." Reva berjalan mendekati Melati yang sedang memeluk ibu Ratih. Melati menoleh kearah Reva. Lalu. mengangguk.


"Bu..maaf ya Mel mau ke kampus dulu. Nanti siang setelah selesai kuliah Mel akan ke sini nemenin ibu." kata Melati pelan. Lalu mencium pipi ibu angkatnya itu. Memeluk wanita itu dalam diam. Bu Ratih menahan tangisnya.Mengurai pelukan mereka. Melati tersenyum lembut pada Bu Ratih.


"Mel pergi dulu ya bu."


"Pak...cepat bangun Pak..nanti Mel kesini lagi," ujar Melati. Lalu Melati melangkah keluar kamar UGD itu. Berjalan kearah parkir, dengan sebelumnya mampir melihat Femi yang sudah siuman dari pingsannya.


"Siapa tadi Mel..kok aku gak dikenalin." tanya Reva setelah mereka duduk di dalam mobil.


"Ceritanya panjang Rev..tapi nanti aku ceritakan sama kamu. Sebentar, aku telpon Papi ku dulu,"


"Assalamualaikum, Pi..Tadi Melati ke rumah sakit nganter temen yang kena luka bakar, eh di sebelahnya ternyata ada Bapak Herman dan Ibu Ratih. Melati yakin kalau mereka gak punya uang Pi untuk berobat. Papi mau kan bantu mereka.?"


"Tentu nak, nanti biar papi suruh orang Papi ke rumah sakit apa tadi..biar mereka yang urus biaya pengobatan Pak Herman. "


"Rumah Sakit Sejahtera Pi. Makasih Pi,"


"Sama-sama Nak..O ya bagaimana keadaan Pak Herman?"


"Tadi waktu Mel ke tempatnya , Bapak masih gak sadar Pi.." sahut Melati gusar.


"Kamu jangan susah ya Mel. Doakan saja semoga Pak Herman cepat sadar dan sembuh dari penyakitnya."


"Aamiin..Pi.."

__ADS_1


Reva mendengarkan percakapan Melati dan Papinya. Sambil mengemudi mobilnya dengan kecepatan sedang. Tak lama kemudian mereka sudah tiba di Kampus Abdi Bangsa.


__ADS_2