
Hari makin larut. Melati telah tertidur saat jarum jam menunjukkan ke arah sebelas malam. Namun saat pukul 3 malam, gadis itu terjaga dari tidurnya. Setelah menghilangkan rasa kantuknya, Melati berjalan ke kamar mandi.
Melati lalu mengambil wudhu. Setelah selesai, gadis itu keluar kamar mandinya, berjalan ke sudut ruangan untuk mengambil sajadah dan Mukenah nya. Mengenakannya. Lalu mulai melaksanakan ibadah sholat Tahajud, dan Istikharah.
Melati khusuk dalam sholatnya. Setelah selesai, Ia langsung menadahkan tangannya. Berdoa pada Sang Pencipta. Memohon pilihan yang terbaik . Selesai berdoa Melati mengusap wajahnya. Berharap sang Pencipta mengabulkan doa dan harapannya. Kemudian kembali berbaring di ranjangnya. Mencoba memejamkan matanya barang sejenak. Sambil menunggu azan Subuh berkumandang.
...***...
Pagi ini keluarga Hendrawan sudah berkumpul di ruang makan. Sarapan pagi bersama keluarga merupakan kebahagian tersendiri buat Melati.
Dulu saat masih di desa Sedayu, Melati selalu sarapan bersama Bapak dan Ibu angkatnya. Walau tidak mewah tapi sembari bercerita, bersenda gurau sungguh nikmat.
"Mel..pulang kuliah jam berapa?" tanya Anita sambil menyuapkan sepotong kecil roti dengan selai kacang kesukaannya.
Melati menatap sang Mami ."Sore Mi ..soalnya ada empat mata kuliah hari ini. dua pagi dan dua siang."
"Jangan lupa makan siang. Walau sesibuk apapun," kata Anita memperingatkan. Melati menjawab dengan anggukkan.
"Gimana kantor cabang Rey..apa aman?" kali ini yang bertanya Hendrawan. Reyhan yang sedang menikmati mie kwetiau langsung mengangkat kepalanya. Menoleh kearah Hendrawan.
"Alhamdulillah...aman. Pi..stok tinta masih banyak. Bahan juga masih banyak Pi. Kemaren PT. Hexamindo udah mengajukan kontrak untuk tender kain ke perusahaan kita. Dan udah di handle sama Resnu." cerita Reyhan.
Mendengar nama Resnu, Hendrawan dan Anita langsung menatap Melati. Gadis itu mengangkat alisnya sebelah saat melihat kedua orang tuanya menatapnya.
Anita tersenyum.
"Kenapa pada ngeliat aku?" tanyanya lalu menunduk malu.
" Hahaha..Melati salting Mi...!" seru Reyhan sambil terkekeh. Melati mengerucutkan bibirnya.
"Gimana? sudah ada keputusan Mel.?" tanya Anita menatap lekat wajah putrinya.
"Belum Mi. Semalam Mel udah sholat Istikharah. Besok Mel coba lagi. Kalau sudah dapat petunjuk dari Allah. Akan Mel kasi tau Mami, Papi dan Mas Reyhan." ujarnya.
Anita, Hendrawan dan Reyhan mengangguk. Mereka semua menunggu keputusan Melati. Semoga keputusan apa pun yang diambil Melati, yang terbaiklah yang menjadi harapan orang tua dan saudaranya.
Melati melirik jam yang melingkar di pergelangan tangannya. Sudah pukul tujuh lewat tiga puluh menit. Melati kemudian pamit kepada orang tua dan masnya Reyhan, untuk berangkat ke kantor.
Di teras, sopir yang biasa mengantar dan menjemput Melati sudah siap dengan mobilnya.Melati langsung masuk ke dalam mobil. Pak Heru adalah sopir pribadi Anita.
"Langsung ke kampus Non?" tanya Pak Heri sambil melirik ke kaca spion depan.
"Ya pak,"
Tak lama kemudian mobil mulai berjalan. Keluar komplek lalu memasuki jalan raya yang mulai ramai.
Sekitar empat puluh menit, mobil yang membawa Melati sudah tiba di parkiran kampus Abdi Bangsa. Setelah turun dari mobil, Ia langsung masuk ke dalam kelasnya. Di depan kelas sudah ada Reva sahabatnya dan yang lainnya.
__ADS_1
Melati menghampiri Reva.
"Hei..sibuk ngobrol aja. ampe nggak ngeliat aku datang?"
Reva Menoleh menatap Melati yang tepat di belakangnya.
"Ya Ampun..sorry beastie...nggak liat gue..maaf ya.." Melati mengangguk. Reva terkekeh.
"Baru nyampe lo?"
"Iya...di antar Pak Heru,"
"Oh bukan sama Mas mu yang ganteng abis itu ya?"
Melati menggeleng. Reva langsung menarik tangan Melati. Membawanya ke dalam kelas. Lalu duduk di bangku nomor dua dari depan.
"Kayaknya lo kurang tidur ya Mel?"
" Nggak juga!"
"Ah masak sih? keliatan lho..."
"Udah ah..jangan liatin mata aku makanya!"
Reva terkekeh mendengar suara kesal Melati. Tak berapa lama dosen sudah masuk. Dua jam lamanya mereka asyik mendengarkan penjelasan dari Doktor Emir.
Setelah membereskan buku dan alat tulisnya, Melati mengikuti langkah Reva ke kantin kampus.
Reva dan Melati memilih kursi di kantin.Lalu duduk. Melihat daftar menu.
"Mau pesan apa lo?"
"Kayaknya nasi bakar dan jus manggo." sahut Melati sambil menatap daftar menu.
"Ok."
Tak berapa lama, pramusaji mendatangi mereka.
"Pesan apa Mbak?" pramusaji mengeluarkan catatan. Dan siap menulis menu yang di pesan oleh kedua gadis cantik itu.
"Dia pesan nasi bakar sama jus mangga, gue pesan mie ayam aja, sama jus jeruk."
"Masih ada yang lain .mbak?"
"Udah itu aja," jawab Reva datar. Pramusaji itu meninggalkan Melati dan Reva, kembali ke bilik dapur.
Sepuluh menit makanan sudah terhidang. Melati dan Reva menikmati dalam diam.
__ADS_1
Selesai makan, kedua ya langsung ke Masjid di pinggir pagar Kampus. Mereka berjalan beriringan menuju toilet. Setelah selesai mengambil wudhu kedua ya langsung masuk Masjid dan melaksanakan sholat zuhur.
Saat akan melangkah keluar Masjid sebuah suara memanggil nama Melati. Kedua gadis itu menoleh kearah datangnya suara. Mereka saling bertatapan.
"Cowok lu tuh. Gih sana temuin. Mumpung belum jamnya masuk kelas!" saran Reva.
Melati terdiam. Dia tak tau apa yang akan Ia katakan pada Resnu. Melati menatap Reva lagi.
"Udah sana!"
"Tunggu aku ya Rev?" pinta Melati. Reva mengangguk. Lalu berjalan meninggalkan Melati kearah taman kampus. Kampus ini memiliki taman, di tumbuhi bonsai dengan bentuk yang cantik. Dan di bawah pohon kayu rindang, ada beberapa kursi panjang yang terbuat dari besi yang di bentuk sehingga bentuknya sangat cantik.
Jadi lah Reva duduk di bangku taman. Sambil matanya tak lepas memperhatikan Melati dan kekasihnya.
"Apa kabar Mel?" sapa Resnu lembut. Melati menatap wajah taman Resnu sekilas lalu menatap Reva yang sedang duduk di pohon rindang.
"Baik," sahutnya pendek.
"Maaf Mas belum sempat ketemu kamu, karena Mas sibuk . Dan juga mengajak Pakde dan Bude ziarah ke makam papa dan mama."
"Kita duduk di sana, mau?" tawar Resnu karena merasa tidak mungkin ngobrol di depan kampusnya. Terlalu banyak orang akan berjalan melewati mereka. Melati mengangguk setuju. Lalu berjalan di belakang Resnu. Pria itu merasa sedikit aneh. Kenapa Melati begitu berubah. 'Ada apa sama Melati?' bisik hati Resnu.
Setelah mendapat tempat duduk yang di naungi pohon yang rindang, sepasang kekasih itu duduk bersebelahan. Melati masih menunduk. Rasanya sedih sekali. Mencintai pria yang ternyata adalah keponakan orang yang telah memberi kesedihan buat keluarganya.
Penyiksaan Pak Harjo kepada Pak Herman, Bapak angkat Melati. Membuat rasa cinta di dalam hatinya menjadi hilang perlahan. Melati ingin berkata yang sebenarnya, tapi ia tak ingin membuat Resnu kecewa.
Tapi jika hubungan ini di teruskan, pasti akan membuat perasaan Melati lah yang lebih terluka.
"Mel...kok diam aja? Kenapa seperti nggak bersemangat?"
"Apa nggak suka bertemu sama Mas?" tanya Resnu menatap lekat wajah cantik gadis itu.
Melati menatap sekilas wajah Resnu. Lalu pandangannya menatap ke depan.
"Mel nggak apa-apa Mas..Hanya saja, untuk sekarang ini, Mel ingin kita nggak usah ketemu dulu. Karena Mel mau memastikan. Apakah Mel tetap ingin menjadi pasangannya Mas Resnu. Atau mundur" jawab Melati pelan.
Jawaban Melati membuat Resnu terkejut. Ia sama sekali tak menyangka jika gadis yang amat Dia cintai dan sayangi masih meragu akan cintanya. Bagaimana bisa?
"Apa yang membuat kamu meragu begitu Mel? Bukankah dari awal hubungan kita kamu ingin kejelasan statusmu? Lalu apa penyebabnya. Mas benar-benar nggak ngerti. Semenjak Mas ke
rumah mu bersama Pakde dan Bude. Kamu nggak pernah menjawab telpon atau membalas Wa mas..ada apa?"
Melati menarik nafas dalam. Lalu menatap wajah Resnu sekilas.
"Nggak...alasannya belum bisa Mel katakan sama Mas sekarang. Mel ingin kita tak bertemu dulu!" ucapnya tegas.
"Maaf Mas. Mel masih ada kelas sore ini.Mel masuk dulu," kata Melati. Lalu langsung pergi meninggalkan Resnu yang duduk termangu menatap kepergian Melati.
__ADS_1
Resnu masih duduk termangu, sampai bayangan tubuh gadis itu tak terlihat lagi.