
"Halo.Assalamualaikum,"
" Waalaikumsalam. Apa kabar dek Tommy?" sapa Hendrawan di seberang.
"Alhamdulillah baik Mas. Ini saya cuma mau bicarakan kejelasan hubungan Melati dan Randy saja. Kalau bisa Melati secepatnya menikah dengan Randy. Tidak jadi dengan Meli tak masalah. Asal bisa dengan Melati. Randy menyukai Melati , Mas. Itulah sebabnya saya meminta mas mempercepat mengikat Randy dan putri Mas Hen."
"Ya saya mengerti dek Tommy. Saya sangat setuju. nanti kami bicarakan dengan Melati." sahut Hendrawan menyetujui keinginan Tommy Wiryawan.
"Ok Mas..kalo gitu , aku tunggu keputusannya."
" Baik dek Tommy, selekas nya Mas akan kabari." Hendrawan menutup sambungan telponnya. Pria itu terdiam. Anita yang berada di sebelahnya menatap dengan penuh tanya.
"Tommy..ingin pernikahan Randy dan Mel terlaksana secepatnya," Anita terkejut mendengar penjelasan suaminya.
" Kapan?"
"Secepatnya, bisa minggu depan,"
"Bagaimana Mas mengurus surat -suratnya? kalau gitu minta sama Tommy surat-surat penting berupa identitas Randy. Mas kan bisa minta tolong Asisten Mas di kantor untuk mengurus nya," di jawan anggukan oleh Hendrawan.
"Apa Mami menyimpan berkas Melati?" tanya Hendrawan pada Anita. Wanita itu menggeleng.
"Mami bisa minta sama Melati. Kita sudah lama terpisah. Yang Mami punya hanya Kartu Keluarga yang sudah di masukkan nama Melati di dalamnya." Hendrawan mengangguk.
"Hari ini baru hari minggu, berarti besok aku akan menyuruh Rico untuk mengurus berkas pernikahan Meli dan Randy." gumam Hendrawan yang hampir terdengar oleh Anita.
"Sebaiknya Mami kasi tahu Melati. Jangan sampai dia menolak pernikahan dengan Randy." Anita mengangguk lalu bangkit dari duduknya.
Anita berjalan ke luar kamarnya. Wanita setengah baya itu berjalan ke ruang keluarga. Lalu memanggil asisten rumah tangga yang ada di rumah mewahnya.
"Ya Nyonya.." sahut nining berjalan cepat ke arahnya.
"Panggil anak saya Melati. Bilang saya menunggu di ruang kerja!" ujar Anita sambil bangkit menuju ke ruang kerjanya.
Nining berjalan cepat ke lantai atas. Setelah berada di depan pintu kamar Melati. Nining mengetuk pintu itu. Terdengar suara dari dalam kamar.
"Siapa?"
"Saya Non. Non di minta Nyonya ke ruang kerjanya." Melati membuka pintu kamarnya. Sebuah buku tebal masih berada di tangannya.
__ADS_1
"Ya..makasih Mbak Nining. Nanti Mel ke sana," Melati meletakkan buku tebalnya ke atas tempat tidur. Lalu berjalan ke luar kamarnya , sebelumnya menutup rapat pintu kamarnya itu.
Setelah tiba di depan pintu ruang kerja orang tanya, Melati langsung mengetuknya. Lalu memutar handel pintu ruangan.
Di ruangan telah menunggunya, Anita dan Hendrawan. Melati langsung masuk ke ruang kerja Papinya.
"Mami manggil Mel?" di sahut anggukan oleh Anita.
"Ya duduk sayang, ada yang mau kami bicarakan sama kamu," Anita menyuruh Melati untuk duduk di sofa ruang kerja Hendrawan. Gadis itu duduk di sofa itu. Diikuti oleh Anita yang duduk di sebelahnya.
" Mel..gimana hubungan kamu sama Resnu? Apa masih berjalan dengan baik?" Hendrawan berjalan mendekati Melati, ikut duduk di kursi tak jauh dari sofa tempat Anita dan Melati duduk.
"Masih Pi..tapi kami jarang bertemu. Mas Resnu hanya menelpon atau mengirim pesan saja,"
"Kamu masih mencintai nya sayang?" jemari Anita mengusap lembut kepala Melati dengan sayang. Melati tertunduk.
"Mel...?" Hendrawan menatap Melati lekat. Melati mendongkakkan kepalanya.
" Ya Pi...,"
"Besok Papi akan menyuruh Rico asisten Papi di kantor, untuk mengurus surat pernikahan kamu dengan Randy di KUA."
"Apa Papi nggak bisa menolak? Mel masih pingin meneruskan kuliah Mel ,Pi,"
"Kamu masih bisa kuliah sayang. Randy pasti mengizinkan kamu untuk meneruskan pendidikan kamu." bujuk Anita sambil mengusap lembut bahu putri nya.
"Tapi bukankah dulu Meli yang akan di jodohkan dengan Mas Randy. Kenapa jadi Melati Mi?" tukas Melati sambil menatap lekat wajah Papi dan Mami nya secara bergantian.
"Randy jatuh cinta sama kamu. Bukan dengan Meli," sahut Hendrawan. Melati menarik nafas dalam.
Melati tidak bisa berkata- kata lagi. Hatinya bingung. Bagaimana mengatakan pada Resnu. Tiba-tiba hatinya iba pada Resnu.
"Terserah Mami dan Papi saja. Mel nggak bisa berbuat apa-apa," akhirnya hanya kata-kata itu yang keluar dari bibirnya. Hendrawan mengangguk dengan perasaan lega.
"Kalau gitu, Papi minta KTP kamu Mel. Biar Rico bisa segera mengurus surat-surat untuk pernikahan kamu dan Randy," Melati mengangguk. Lalu beranjak dari duduknya.
"Mel ke kamar dulu Mi Pi..nanti biar Mbak Nining yang ngasi KTP Mel sama Papi." di jawab anggukan oleh Hendrawan. Melati berjalan meninggalkan ruang kerja sang Papi. Lalu berjalan menuju ke kamarnya yang terletak di lantai dua.
Sampai di kamar, Melati berjalan ke arah balkon di depan kamarnya. Termenung di situ dengan air mata yang tak henti keluar dari sudut matanya. Nafas nya sesak. Sudut hatinya masih menyimpan cinta untuk Resnu. Kalau kemarin dulu dia pernah merasa bahwa hatinya sudah hampa pada hubungan nya dengan Resnu.
__ADS_1
Tapi entah mengapa, di paksa menikah dengan Randy seperti ini membuat hati Melati menjadi sesak. Melati memang mengagumi Randy.Tapi bagian kecil hatinya masih terisi cinta untuk Resnu.
Di ruang kerja Hendrawan.
"Jadi, Kapan rencana Randy dan Melati menikah Pi,"
"Minggu depan bagaimana?"
"Undangannya aja belum di buat?"
"Ya nanti kita serahkan sama Rico. Anak itu kerjanya gesit."
"Papi jangan lupa menelpon Tommy, agar menyiapkan berkas Randy. Biar besok Rico bisa dengan cepat menyelesaikan urusan surat menyurat di KUA," Anita mengingatkan suaminya lagi. Hendrawan mengangguk .
"Aku ke kamar dulu Pi..mau siap-siap ngajak Melati mencari baju untuk nikahnya."
"Ya sekalian ajak Randy juga. Atau Mami bisa telpon Randy untuk menjemput Mami dan Melati di rumah. Biar bisa bareng ke butik langganan Mami,"
" Oh ya ya...baru ingat Mami, Pi..Ok..Mami ke kamar dulu ya.." Anita kemudian keluar dari ruang kerja Hendrawan, lalu berjalan menuju kamarnya. Sebelumnya wanita itu pergi ke kamar sang putri.
"Mel..." Anita mengetuk pintu kamar Melati. Tak lama kemudian pintu kamar Melati terbuka.
"Mami?"
"Mel..kita keluar yuk. Nyari baju pengantin untuk kamu dan Randy." Melati terkejut mendengar nya. Apa secepat itu? pikirnya dalam hati.
"Ya Mi.."sahut nya gugup dengan jantung berdebar.
"Mami tunggu di bawah ya Mel," Anita berkata sambil keluar kamar Melati.
Melati termenung sesaat.
Lalu bergegas mengganti pakaiannya. Menggenakan Tunik bermotif bunga kecil berwarna hijau soft, dan jilbab polos berwarna senada. Setelah selesai, Melati menyapu wajahnya dengan bedak, Setelah itu memakai lipstick berwarna pink ke bibirnya yang tipis.
Selesai berdandan. Melati segera turun menuju ruang keluarga. Saat menoleh ke ruang tamu, Melati melihat seorang pria sedang memegang ponselnya duduk di ruang itu .
Jantung Melati berdebar kencang, pria itu Randy. Yang sebentar lagi akan menjadi suaminya.
Tak lama Anita keluar dari kamarnya, menatap Melati yang duduk termenung di sofa ruang keluarga. Anita menarik nafas dalam. Dia tahu jika Melati pasti berat untuk menikah dengan Randy. Karena semuanya begitu cepat, walaupun keduanya sudah sering jalan berdua.Selama dua bulan ini.
__ADS_1