
Hari sudah berangsur gelap. Jam yang menempel di pergelangan tangan Randy sudah menunjukkan ke pukul 19;30. Tamu undangan sudah banyak yang datang pada acara resepsi pernikahan Melati dan Randy.
Tak lama MC mempersilahkan pengantin dan rombongan keluarga memasuki ballroom tempat acara resepsi di gelar.
Melati dan Randy berjalan beriringan sambil berpegangan tangan diapit oleh ibu mereka masing - masing. Kebahagian membuncah di dalam hati Randy. Keberuntungan serasa berpihak padanya.
Kebahagian memiliki Melati yang amat menarik dalam pandang pertama. Keduanya memiliki profesi yang sama sebagai dokter dan calon dokter. Pernikahan yang di gelar persis sama dalam khayalan dan impian Randy.
Bibirnya tak lepas memberikan senyum manis yang tersungging di bibirnya. Kebahagian itu terpancar nyata di wajah tampan nya.
Acara berlangsung lancar dan terkesan mewah. Terang saja, karena yang menikah adalah seorang pewaris hotel Ambassador yang merupakan hotel terkenal bintang lima.
Setelah acara selesai Randy mengajak Melati kembali ke kamar mereka . Sementara kedua orang tua dan saudara kandung Melati, Reyhan dan Meli masih ngobrol dengan beberapa kenalan mereka yang ikut hadir dalam acara resepsi pernikahan Melati dan Randy.
Randy dan Melati sudah tiba di kamar mereka.
"Siapa yang mau ke kamar mandi duluan?" tanya Melati sambil menatap sang suami. Melati ingin segera mandi. Badannya terasa lengket dan gerah. Apalagi karena memakai baju pengantin itu.
"Duluan aja. Mas masih mau ngecek wa dari rumah sakit," sahut Randy sambil berjalan ke sofa. Lalu sibuk membaca wa yang sudah masuk. Mengecek semua wa dari rumah sakit. Siapa tahu ada pasien yang dalam pengawasannya membutuhkan pertolongan. Setelah di cek ternyata semua berita isinya bagus semua. Tak ada berita yang emergensi .
Randy kemudian membuka baju pengantinnya. Lalu mengganti bajunya dengan baju kaos.
Sementara Melati yang berada di dalam kamar mandi sudah selesai mandi. Tubuhnya terasa segar saat air mengguyur tubuhnya. Gadis itu memakai pakaian gamis bermotif bunga-bunga berwarna biru muda. Setelah selesai berpakaian. Melati membuka pintu kamar mandi. Matanya sempat mencari sosok Randy di dalam kamar. Ternyata pria itu sedang asyik dengan ponsel di tangannya. Melati melangkah memasuki kamar.
"Mas nggak mandi?" tanya Melati sambil merapikan rambutnya yang panjang sebahu. Randy menoleh kearah Melati. Menatap sang istri yang sudah wangi dan rapi.
"Sudah selesai mandinya?" tanya Randy sambil bangkit dari sofa. Melati menoleh sesaat lalu mengangguk.
"Oke giliran mas yang mandi kalau begitu," Melati mengangguk. Sementara Randy sudah berjalan menuju kamar mandi. Sepuluh menit Randy habiskan untuk mandi. Pria itu kemudian keluar dari kamar mandi. Dengan handuk yang melilit di pinggangnya.
Melati menatap ke arah sang suami. Yang tampak makin tampan walau hanya mengenakan handuk di tubuhnya.
Jantungnya berdetak kencang saat menatap dada bidang dan perut kota-kotak milik Randy. Gadis itu kemudian mengalihkan pandangannya pada sang suami. Menatap kearah lain. Yang bisa membuat jantungnya kembali normal.
Sebuah ketukan membuat Melati menoleh ke arah pintu. Gadis itu menyambar jilbabnya lalu berjalan tergesa untuk membuka pintu. Sementara Randy kembali ke kamar karena akan mengenakan pakaian.
__ADS_1
Pintu kamar sudah terbuka. Seorang pria dengan trol makanan berdiri di depan Melati.
"Maaf Mbak. Saya mau mengantarkan makanan. Karena menurut Nyonya Hera, Mbak dan Mas Randy belum makan tadi."
"Oh ya...silahkan masuk mas," Melati mempersilahkan pria itu membawa makanan dengan troli. Setelah menghidangkan makanan dan minuman, pria itu pamit keluar kamar. Tak lama Randy keluar dari kamar mandi dengan pakaian rapi. Kaos putih dan celana blue jeans biru navi.
"Siapa yang datang Mel?" tanya Randy sambil mengamati makanan yang terhidang di meja makan.
"Oh itu tadi room servis mas nganterin makanan pesanan Mama Hera," jawab Melati sambil menatap sang suami yang telah rapi dengan pakaian casual nya.
"Oh...Mas pikir tadi kita akan makan malam bersama."
"Mungkin Mama pikir kita kelelahan mas. Jadi lebih baik di antar ke kamar aja," sahut Melati.
"Ok. Mas telpon mama dulu."
"Halo Ma Assalamualaikum,"
"Waalaikumsalam,"
"Iya..mama takut kalian kelaparan. Soalnya saat bersanding kalian belum makan apapun," sahut Hera.
"Waduh Ma..makasih ya..Mam jadi repot deh gara-gara kami,"
"Hus..jangan ngomong gitu. Kamu itu pewaris keluarga Tommy Wiryawan. Hotel ini kamu yang punya sayang.Jadi wajar saja kalau kamu di servis dengan baik di sini. Ya sudah makan sana. Salam sama Melati." ujar Hera.
"Ok Ma..makasih banyak. Salam nanti di sampaikan." sahut Randy lalu menutup sambungan telpon.
"Mel udah selesai dandannya? kita makan yuk," ajak Randy sambil berjalan ke arah meja makan.
"Ya.." Melati langsung berjalan mengikuti langkah Randy untuk makan malam bersama sang suami.
"Banyak juga lauknya. Jadi bingung ya Mas, mana yang di pilih," kata Melati sambil terkekeh melihat lauk yang dihidangkan begitu banyak.
Randy tersenyum. Keduanya mulai menikmati makan malam bersama. Selama makan tak ada yang mengeluarkan suara. Yang terdengar hanya denting suara sendok dan garpu di dalam piring keduanya.
__ADS_1
Selesai makan malam, Melati merapikan piring sisa makan malam mereka berdua. Sementara Randy berjalan ke luar kamar menuju balkon di kamar mereka.
Udara malam ini begitu sejuk. Beberapa bintang bersinar di langit yang mulai gelap. Melati yang dari dalam kamar bisa melihat suaminya sedang menatap langit gelap yang hanya ada cahaya bulan dan bintang.
Melati kemudian lebih memilih merapikan pakaian yang tersi.pan di lemari kamar hotel itu. Namun belum selesai merapikan sebuah tangan kekar memeluk tubuhnya dari belakang. Bau parfum segar khas maskulin masuk ke indra penciumannya. Melati sesaat menoleh ke belakangnya. Wajah tampan Randy tepat di depan wajahnya. Melati agak terkejut. Ingin berontak melepaskan pelukan suaminya tapi takut dosa.
"Sedang apa?" tanya Randy. Bau harum peppermint menguar dari dalam mulut Randy, membuat mata Melati terpejam sesaat.
Randy tersenyum. Pria itu kemudian mencium lembut tengkuk Melati. Gadis itu mengelinjang pelan. Merasa geli saat Randy mencium tengkuknya.
Tapi Randy bukannya menghentikan ciuman itu. Tapi makin gencar menyerang leher Melati yang sebelah kiri. Randy membalikkan tubuh Melati hingga menghadap kepadanya. Pria itu mengecup lembut kening Melati . Lalu turun ke hidung, pipi kiri , pipi kanan terus turun menyapu lembut bibir merah jambu Melati. Mata Melati terpejam. Bukannya menikmati ciuman suaminya, tapi gadis itu merasa jantungnya seakan mau copot. Seumur hidup tidak pernah di cium oleh pria manapun. Melati tersentak lalu mendorong tubuh Randy yang mendekap erat serta mencium bibirnya.
"Mel..kenapa?" Randy menatap heran istrinya. Melati tertunduk. Lalu berlari ke kamar mandi. Melati malu, Melati takut. Itulah yang di rasakannya.
Randy mengejar Melati yang berlari ke kamar mandi. Untung pintu tak sempat di kunci Melati. Jadi Randy dengan mudah masuk ke kamar mandi.
"Kenapa lari?" Randy menatap Melati yang tertunduk. Hingga rambutnya menutupi wajahnya. Randy menyibak rambut hitam itu. Wajah Melati kini terlihat oleh Randy. Wajah cantik dan ayu. Pipinya nampak kemerahan.
"Kenapa? Apa mas nggak Boleh menyentuh kamu Mel?" Randy menatap lekat wajah cantik itu.
"Ehmn..Mel belum siap Mas. Maaf!" Melati beranjak dari kamar mandi. Dan berjalan keluar meninggalkan Randy yang termenung di kamar mandi. Randy menarik nafas dalam. Lalu berjalan pula meninggalkan kamar mandi.
Matanya mencari keberadaan Melati . Ternyata gadis itu sedang duduk di kursi balkon depan kamarnya. Randy berjalan ke arah balkon.Mendekati istrinya itu.
"Belum mau tidur?" tanya Randy sambil mengusap lembut puncak kepala Melati. Melati mendongakkan kepalanya menatap Randy yang tersenyum lembut padanya.
"Ya..bentar lagi Mas," sahut Melati.
"Mas ke dalam ya," ucap Randy lalu masuk kembali ke kamar meninggalkan Melati yang masih duduk termangu di balkon kamar itu. Akhirnya gadis itu masuk ke kamar. Mengunci pintu kamar yang berada di depan balkon.
Kamar yang mereka tempati memang kamar paling mewah di hotel ini. Tempat tidur besar, kamar mandi yang mewah dan besar dan di lengkapi meja makan dan pantry untuk sekadar memasak makanan ringan.
Keduanya tidur terpisah. Melati enggan tidur dengan Randy. Ia lebih memilih tidur di sofa. Sementara itu Randy tidur di ranjang. Malam semakin larut. Keduanya hanya diam membisu. Melati masih terdiam melamun di atas sofa. Tak lama keduanya sudah tenggelam dalam tidur lelapnya dengan tidur terpisah.
Satu di sofa, dan satu lagi di ranjang berukuran king size itu.
__ADS_1
******