Cinta Melati Cinta

Cinta Melati Cinta
Keinginan Meli


__ADS_3

"Halo Melati putih cantik mewangi. Apa kabar," sebuah suara mengagetkan Melati yang sedang menyusun peralatan mandi dan make- up ke dalam tas kosmetiknya. Gadis itu menoleh ke arah datangnya suara.


"Lili...kapan nyampe. Kok nggak bilang-bilang kalo pulang ke sini?" ternyata yang memanggilnya barusan itu Lili saudari kembarnya. Mereka langsung berpelukan. Layaknya Teletubbies. Berpelukan.


"Aku baik. Yuk keluar dulu. Mau aku kenalin sama seseorang," Meli langsung menarik lengan Melati , untuk keluar kamar itu. Mereka berjalan beriringan menuju tangga di rumah itu menuju ke ruang tamu.


Melati masih melongo dengan wajah penuh tanya. Entah siapa yang akan di kenalkan padanya.


Saat sampai di ruang tamu, tampak tiga orang duduk menunggu di ruang tamu.


"Siapa?" tanya Melati sambil menyenggol lengan saudari kembarnya. Meli hanya tersenyum.


" Steve, Dad and Mom. Kenalkan, ini saudari kembarku," Meli langsung membawa Melati kepada tiga orang itu. Melati masih tak mengerti. Siapa mereka ini. Kenapa wajahnya seperti orang bule.


"Li-Li..siapa mereka?" Melati menatap Meli penuh tanya. Meli tersenyum.


"Ini calon suami ku, dan ini Mom dan Dad calon mertuaku," Meli mulai Mengenalkan mereka pada Melati. Ketiganya mengangguk. Senyum manis terukir di sudut bibir mereka.Melati ikutan senyum. Lalu menyalami mereka satu persatu dengan tangan di tautkan di dada. Kecuali pada Rose. Melati menyalami tangan wanita itu dengan mencium punggung tangannya. Rose tersenyum takjub. Betapa ramahnya orang Indonesia.


"Mama dan Papa sudah berjumpa dengan mereka ?" Melati menoleh ke arah Meli. Meli mengangguk sambil tersenyum.


"Mereka akan menginap di hotel atau di sini?" tanya Melati lagi.


"Menginap di sini. Agar membaur dan menjadi akrab dengan kita. Begitu titah Mami," Melati mengangguk paham. Ya benar juga agar kedua keluarga menjadi akrab.


"Kak Rose, Bang Mark dan juga Steve sebaiknya kita makan bersama. Makanan sudah terhidang di meja makan. Ayo kita makan!" ajak Anita yang tiba-tiba datang mengajak mereka makan bersama. Ketiganya tamu mereka itu mengangguk. Lalu berjalan mengikuti Anita, Meli dan Melati menuju ruang makan.

__ADS_1


"Silahkan, ini makanan khas Indonesia. Silahkan di cicipi.Semoga suka ya!" Anita menyilahkan tamu mereka makan.


"Wow this is very delicious. What is it?" tanya Mark dengan mata berbinar saat menikmati hidangan berupa daging yang di masak dengan segala macam rempah dan santan kental.


"This is called Malbi. Meat Cooked with spices and thick coconut milk."jawab Anita. Di sahuti anggukan oleh Mark, di ikuti oleh Steven dan Rose.


Anita tersenyum bahagia karena ketiga tamunya sangat menyukai masakan yang di hidangkan.


Selesai makan siang. Anita menyuruh Mbok Sri mengantarkan ketiga tamunya untuk istirahat di kamar yang sudah di sediakan. Rumah Anita bukan hanya mewah akan tetapi juga sangat besar. Rumah itu terdiri dari tiga lantai. Lain satu di huni oleh Hendrawan dan Istrinya.Dan dua kamar tamu dengan ukuran cukup besar. Sementara lantai dua di tempati oleh Melati, Meli dan Reyhan. Lantai tiga merupakan rooftop yang diisi dengan taman dengan tempat santai.


Rumah mewah itu memiliki halaman luas. Bukan hanya teras yang luas saja, akan tetapi halaman belakang pun cukup luas. Ada kolam renang, taman bunga dan kebun yang menanam bermacam sayuran hidroponik.


Tanaman buah pun bermacam-macam tumbuh di situ, ada pohon lengkeng, mangga, jambu air, jambu kristal, rambutan, anggur,pepaya dan pisang.


Dan tanaman itu di tanam di bagian paling belakang setelah kebun sayuran. Walaupun mereka tinggal di komplek elit tapi beruntungnya Hendrawan bisa membeli tanah milik penduduk di belakang rumah nya. Itulah sebabnya tanahnya memiliki ukuran yang lebih besar dari pemilik rumah di komplek itu.


"Jam berapa Melati nikah besok pagi Mi?" tanya Meli pada Maminya saat mereka berdua ada di ruang kerja Anita.


"Jam sembilan. Makanya jam lima setelah subuh Melati akan di antar Pak Nanang ke hotel. Dan berdandan di salah satu kamar hotel khusus untuk pengantin."


"Apa semuanya sudah siap?" tanya nya lagi.


"Sejauh ini semua berjalan lancar, kita berdandan di rumah dengan perias yang akan datang ke sini saat jam enam nanti. Setelah itu jam setengah delapan kita berangkat ke hotel."


"Oh ya Mami hampir lupa, baju buat papa dan mamanya Steve apa sudah di siapkan? Apa mereka membawa persiapan? Soalnya Mami nggak sempat menyewa baju buat mereka, Selain itu juga karena nggak tahu ukuran mereka. Waktunya mepet banget. Kamu sih H min satu baru ngasi tau," gerutu Anita. Meli hanya terkekeh melihat wajah cemberut Maminya.

__ADS_1


"Nggak apa Mi..mereka udah nyiapin baju untuk pesta kok. Jangan kuatir."


"Apa mereka mau pake Batik aja. Nanti tanya ukuran Steve dan Mark. Pasti ada ukurannya di toko Batik." tawar Anita.


"Ehm nanti aku tanya deh Mi. Biar cakep ya. Orang bule pakai Batik," sahut Meli geli. Anita mengangguk setuju.


"Ya sudah tanya sana sama Steve dan mertua mu,"


"Eits itu baru calon mertua Mi.Belum mertua. Apa Mami ingin menyuruh kami langsung nikah di sini. Sekalian sama Melati?" goda Meli.


"Eh...ngawur kamu. Sama aja kayak Papinya!" celetuk Anita.


"Emang kenapa? Papi nyuruh aku nikah bareng Mel ya?" Meli menatap wajah Anita dalam. Mencoba mencari persetujuan di sana.


"Nggak bisa. Kamu nikah siapin dulu semuanya dengan bener. Kamu tuh mau nikah sama orang bule. Bukan sama orang Indonesia Asli. Ada - ada aja," sergah Anita kesal.


"Kan nggak papa Mi...yang penting Sah dulu secara agama, baru nanti secara negara. Ayolah Mi..aku udah kebelet ini mo kawin." bujuk Meli dengan wajah memerah malu. Mata Anita langsung melotot mendengar permintaan putrinya.


"Makin ngaco ya kamu Li. Nggak ah...Mami nggak setuju." sentak Anita kesal.


"Mi dengar dulu. Gimana nanti, jika aku dan Steve terbawa suasana. Lalu kami melakukan hal- hal yang di inginkan. Aku sudah minta Mami menyetujui. Tapi Mami nggak mau. Tanggung sendiri nanti dosanya!" ancam Meli dengan wajah serius. Anita membelalak kan matanya. Sungguh dia tak menduga, mau putrinya itu. Anita lalu melengos. Dia tak punya alasan untuk menolak. Tapi sepertinya, lebih baik semuanya di bicarakan dengan keluarga Steven.


"Ya sudah, nanti Mami kasi tau Papi dan Mas Reyhan mu. Kalo di setujui baru kamu ngomong sama Steven dan keluarganya." Meli tersenyum lega. Kata-kata yang dinanti sudah keluar dari bibir mungil sang Mami. Itu artinya ia harus segera mempersiapkan segalanya.


Keduanya terdiam sesaat. Sibuk dengan pikiran masing-masing.

__ADS_1


Yang jelas. Meli sangat bahagia Jika sang Papi dan abangnya menyetujui keinginannya.


...****************...


__ADS_2