Cinta Melati Cinta

Cinta Melati Cinta
Kelegaan hati Melati


__ADS_3

"Assalamualaikum, Tuan !" sapa suara pria di seberang.


"Ya Halo. Assalamualaikum. Gimana Bram. Apa sudah ada Ustadz nya?"tanya Hendrawan to the poin.


"Ya Alhamdulillah sudah ada Tuan. Dimana kita bisa ketemu?" Hendrawan menatap sang istri yang masih di rias.


"Kita ngobrol di kamar putri saya saja. Kamar nomor 670. "ucap Hendrawan sambil melangkah keluar kamarnya. Hendrawan memberikan isyarat pada sang perias bahwa ia akan keluar sebentar. Karena sang istri masih di rias bagian matanya hingga masih memejamkan matanya. Sang perias mengangguk paham. Hendrawan langsung keluar pintu kamar. Menutupnya lalu berjalan ke arah kamar Meli yang di pakai untuk merias pengantin dan beberapa anggota keluarga yang menjadi panitia dalam acara resepsi mewah itu.


"Ah.. Alhamdulillah kamu dah datang tepat waktu. Ayo masuk, " ajak Hendrawan pada Bram dan seorang pria berpakaian koko dan mengenakan sarung serta kopiah di kepalanya.


Hendrawan menyalami pria yang biasa di panggil Ustadz Sholeh. Ketiga orang itu masuk ke dalam kamar yang sedikit terbuka daun pintunya


"Mel..kamu sudah selesai di rias. Ini Ustadz yang akan menjelaskan kesahan pernikahan kamu dan Randy." Melati menoleh ke arah sang Papi. Pria yang di panggil Ustadz itu meletakkan kedua tangannya ke depan dada. Melati mengikuti gerakan pria itu.


Bram melangkah keluar kamar. Karena tugasnya telah selesai.


"Silahkan duduk Ustadz." ajak Hendrawan ramah. Ustadz itu mengangguk lalu mengikuti Hendrawan duduk di sofa. Melati duduk di pinggir tempat tidur. Bersiap mendengarkan.


"Jadi gini tadz..putri saya Melati ini pagi tadi harusnya ijab kabul di sini. Nah karena suatu sabotase penculikan atas dirinya jadi putri saya ini tak bisa menghadiri ijab kabul. Melati memiliki saudara kembar yang mirip sekali dengan dia. Mereka kembar identik. Atas saran putra sulungnya saya, kami meminta Meli untuk menggantikan Melati pada acara setelah ijab kabul. Agar tak mengundang tanya dari para keluarga dan kerabat yang menghadiri acara pernikahan mereka.


Nah yang mau kami tanya kan, apa pernikahan ini Sah. Karena Melati tidak bisa hadir karena di culik," Hendrawan menjelaskan dengan rinci atas penolakan Melati akan pernikahan ini.


Pak Ustadz Sholeh mengangguk. Lalu tersenyum pada Melati. Randy yang telah selesai di dandani berjalan mendekati Melati dan ikut duduk di sebelah sang istri. Sementara sang juru rias izin pada Hendrawan untuk keluar kamar dan bergabung dengan dua temannya yang lain.

__ADS_1


"Apa Melati setuju dengan pernikahan ini?" tanya Ustadz Sholeh sambil menatap Melati. Melati menatap sang suami yang duduk di sebelahnya. Lalu mengangguk dan menundukkan kepalanya cepat. Malu, entah kenapa wajahnya memerah, untuk Itulah ia dengan cepat menundukkan wajahnya. Menyembunyikan semburat merah di pipinya.


Ustadz Sholeh tersenyum.


"Baiklah..menurut kitab Kifayah Al Akhyar disebutkan bahwa meng andaikan bahwa ketidak hadiran mempelai wanita dalam akan nikah tidak mempengaruhi kesahan akad nikah. Jadi mempelai wanita tidak di haruskan hadir dalam pelaksanaan akad nikah."


"Jadi pernikahan kami sah kan Ustadz?" tanya Randy memastikan kembali. Sang Ustadz mengangguk , lalu tersenyum pada Melati dan juga Randy.


"Ya..seperti yang saya katakan tadi. Pernikahan tak mengharuskan kehadiran mempelai wanita. Jadi dalam hal ini pernikahan sah."


"Dan perlu saya tanya kan lagi. Pada saat pengucapan ijab kabul nama siapa yang disebutkan oleh mempelai pria dan orang tua laki-laki dari mempelai wanita?"


"Saya menyebutkan nama putri saya Melati Ayudia. Bukan kembarannya Meli," ucap Hendrawan.


"Nah itu, apa Nak Melati mendengar kan penjelasan dari Bapak Hendrawan? Jadi pernikahan kalian sah. Untuk syarat sah nya suatu pernikahan, ada wali nikah yaitu orang tua laki-laki dari mempelai perempuan, mempelai laki-laki dan dua orang saksi yang di tunjuk."


"Baiklah. Terima kasih atas penjelasannya Ustadz. Jadi tak ada keraguan lagi di hati putri saya, Melati. Benarkan nak?" kata Hendrawan yang kemudian menatap sang putri dengan perasaan lega.


"Ya Mel lega mendengarnya Pi,"


Tak lama Bram kembali masuk ke dalam kamar itu. Membuat semua yang ada di kamar itu menatap ke arah Bram.


"Ada apa Bram?" tanya Hendrawan pada orang kepercayaannya itu.

__ADS_1


"Maaf tuan. Ketua panitia menyuruh semua anggota keluarga untuk segera ke ruangan tunggu di samping Ballroom tempat Non Melati akan melangsungkan acara resepsi nya," kata Bram menjelaskan.


"Baik Bram. Terima kasih. Oya suruh Meli menjemput Melati di sini. Meli pasti sudah selesai di rias!" perintah Hendrawan di nawab anggukan oleh Bram. Pria itu langsung keluar kamar dan mencari keberadaan Meli di kamarnya.


"Maaf Non Lili. Saya diminta Tuan Hendra untuk membawa Non ke kamar Non Melati. Non di minta untuk menemani Non Melati," Meli yang sedang merapikan pakaian sang calon mertua menoleh ke arah Bram.


"Ok..terima kasih Mas Bram. Sebentar lagi kami akan ke kamar Meli." sahut Meli lalu mengajak sang calon mertua keluar kamar . Setelah menutup pintu kamar keduanya kemudian berjalan kearah kamar Melati. Setibanya di sana , Melati ternyata menunggu saudari kembarnya. Di temani Randy yang duduk di sofa. Hendrawan dan tamunya pak Ustadz Sholeh telah pergi ke Ballroom hotel.


"Lili..." sapa Melati saat melihat Meli datang ke kamarnya dengan sang calon mertua.


Mati langsung.berhambur memeluk Meli. Seperti sudah lama tak berjumpa saudari kembarnya itu.


Melati.lalu mengurai pelukannya lalu menatap Rose calon mertua saudara kembarnya itu.


"Mom.." Melati memeluk tubuh tinggi langsing wanita itu. Rose memeluknya erat.


"How do you feel dear?" Rose mengurai pelukannya. Lalu menatap lekat wajah Melati.


"I'm Ok Mom. Thank you," sahut Melati tersenyum manis pada Rose. Rose mengusap lembut wajah cantik Melati.


"Oh..You look so Beautiful, " pujinya pada Melati. Meli yang berdiri di sebelah Melati tersenyum mendengar pujian sang calon mertua.


"What about me. Mom. I'm Pretty ?" tanya Meli menggoda sang calon mertua. Rose terkekeh.

__ADS_1


"Oh My dear. You're very very beautiful. Pretty. ." jawab Rose masih terkekeh. Melati ikut terkekeh mendengar ucapan sang kembarannya. Randy yang melihat ketiganya bercanda hanya menggeleng kepala sambil tersenyum.


Akhirnya ketiga perempuan cantik itu berjalan meninggalkan kamar, di ikuti oleh Randy yang berjalan di depan layaknya sebagai pemimpin di rombongan itu.


__ADS_2