Cinta Melati Cinta

Cinta Melati Cinta
Meli: Ku menangis...


__ADS_3

"Kita langsung ke kamar Meli."


"Ya Abis tu kasi tahu Mami ya Pi. Ah ...biar papi yang ke kamar Meli sementara Rey ke kamar Mami aja. Ngasi tau supaya langsung ke ruang tunggu tempat akad nikah," saran Reyhan. Hendrawan mengangguk. Lalu mereka berpisah. Hendrawan ke kamar Meli. Sementara Reyhan ke kamar Sang Mami.


"tok..tok," bunyi pintu di ketuk. Tak menunggu lama pintu terbuka. Wajah Meli sudah lebih cantik dari yang biasa. Benar kata Reyhan, wajah Melati dan Meli bagai pinang tak berbelah. Hiks..


"Li..Papi mau bicara sebentar, bisa ke kamar Mami?" pinta Hendrawan. Meli mengangguk.


"Sebentar Pi..aku bilang ke mama Steven dulu. Nanti dia nyari," Hendrawan mengangguk. Lalu menunggu di depan pintu. Saat Meli sudah kembali ke depan pintu kamar, Hendrawan mulai berjalan di belakangnya menyusul Meli sambil berlari kecil. Mereka berjalan ke kamar Anita. Lalu mengetuk pintu kamar hotel itu. Kamar hotel Anita, kamar pengantin dan kamar Meli juga calon mertuanya berdekatan. Hingga tak membutuhkan waktu lama untuk sampai di kamar itu.


"Tok..tok.." Hendrawan kali ini mengetuk pintu kamar Anita.


Anita sudah mengenakan pakaian rapi. Baju kebaya modern dengan bahan brokat berwarna coklat muda. Wanita itu lalu berjalan ke arah pintu dan membuka daun pintu kamar hotel itu. Saat pintu terbuka, nampak Hendrawan yang masih mengenakan kemeja biasa. Sementara Meli sudah rapi dengan kebaya nya.


"Papi kok belum siap?" tanya Anita bingung. Hendrawan langsung masuk ke dalam kamar di ikuti oleh Meli.


"Kok Papi belum ganti pakaian?" ulang Anita dengan wajah penuh tanya.


"Ya nanti Papi ganti baju. Tapi ada yang amat penting yang harus Papi katakan sama Mami dan kamu juga Nak."


"Reyhan mana? Tadi dia bilang mau ke sini?" tanya Hendrawan mencari - cari sosok putra sulungnya di kamar Anita.


"Oh tadi dia emang ke sini. Tapi nggak jadi masuk. Karena ada telpon dari rumah sakit. Nggak tau siapa yang sakit." kata Anita. Membuat mata Hendrawan terbelalak. Tapi akhirnya pria itu kembali tenang. Hendrawan berpikir mungkin ada berita penting. Biar saja Reyhan yang handle. Karena urusan menyuruh Meli menggantikan Melati itu jauh lebih penting dari pada mendengar berita dari rumah sakit.


"Jadi gini,"


"Apa ?" tanya Anita dan Meli serentak. Belum selesai Hendrawan bicara sudah di potong oleh Anita dan Meli yang amat penasaran dengan cerita Hendrawan.


"Melati hilang,"


"Hah.." kata Anita dan Meli kaget serempak lagi saat mendengar cerita Hendrawan.


"Ya di culik. Sampai sekarang kita nggak tau siapa dalang penculikannya Melati. Tapi yang pasti dia pria dan tidak suka Melati menikah dengan Randy," Hendrawan kembali menjelaskan. Anita mendadak pusing mendengar cerita suaminya.


"Jadi gimana Pi. Undangan udah di sebar. Pagi ini mereka nikah dan malam resepsi nya. Ya Tuhan.. kenapa bisa begini?" bisik Anita pelan. Tubuhnya serasa kapas. Lemah dan lunglai. Tubuh Anita kemudian merosot di lantai.


"Mi..Mami..." keduanya kaget melihat tubuh Anita yang sudah terduduk di lantai.


"Mami..Mi..jangan pingsan..kita harus memikirkan apa solusinya!" ujar Hendrawan mengingatkan istrinya.

__ADS_1


"Kenapa bisa dua kali sih anakku itu bisa hilang. Oh Tuhan..." bisik Anita lemah. Anita memijit pelipisnya yang tiba-tiba sakit.


"Lalu apa solusinya Pi? Sampai kita menunggu Melati? Pernikahan dia dan Randy nggak mungkin batal kan?" Hendrawan mengangguk. Pria itu dan Meli putrinya ikutan duduk di lantai sambil menatap lekat wajah Anita yang terlihat sedih.


"Solusinya , Lili harus menggantikan posisi Melati di acara akad nikah itu." ujar Hendrawan tegas. Meli melongo mendengar ucapan sang Papi.


"Ya bener aja Pi. Aku kan mau nikah sama Steven . Lah orang tuanya aja ke sini buat melamar aku. Papi gimana sih semena-nena gitu!" bantah Meli dengan wajah memerah marah.


"Itu Resiko kamu karena jadi anak kembar identik. Wajah kalian berdua nggak berbeda sedikitpun. Yang membedakan cuma kami yang tau. Ada tahi lalat di punggung Melati. Sementara kamu nggak punya tahi lalat itu," jelas Hendrawan.


Meli tertunduk lemah. Air matanya mulai meloncat keluar. Bagaimana tidak menangis jika di paksa duduk di pelaminan dengan pria yang akan menjadi suami saudari kembarnya.


"Aku mohon jangan Pi. Apa nanti kata Steve dan Orang tuanya? Bagusnya batalin aja pernikahan mereka!" saran Meli dengan mata berkaca -kaca, membuat mata Hendrawan melotot.


"Kamu mau menghancurkan reputasi Papi dan Papanya Randy ya. Pake usulan gila itu!" bentak Hendrawan.


"Tok..tok," bunyi pintu kamar di ketuk. Ketiganya menatap ke arah pintu kamar.


"Buka Li...!" perintah Hendrawan. Meli mengangguk lalu bangkit dari duduk nya. Berjalan cepat membuka pintu. Menyusut air mata yang sempat turun tanpa permisi.


"Maaf mbak. Katanya saya di suruh memakaikan gaun akad nikah sama Mbak Melati," ternyata penata rias pengantin yang datang. Wanita itu datang ke kamar Anita berdua. Satu membawa alat make up satu lagi membawa gaun pengantin Melati.


"Masuk saja mbak.!" perintah Hendrawan. Meli ternganga. Nasib hidupnya sungguh tak jelas. "Gini amat yak nasib gue?" bisik Meli. Gadis itu meringis.


"Bisa kita pakai sekarang mbak gaunnya. Ini jilbabnya." ujar penata rias itu. Meli terpaksa mengangguk.


"Ok Papi tinggal dulu. Kamu berhias dan bergantian pakaian dulu ya Li," Meli mengangguk menahan sedih.


Akhirnya tak begitu lama Meli sudah beres di dandani dan dipakaikan gaun pernikahan yang sedianya untuk Melati. Malah terpaksa dia yang memakainya.


"Mel..eh Li...kamu cantik sekali memakai hijab.Hemn Mami suka melihatnya. Kamu harus pakai setelah ini ya," ucap Anita dengan mata berbinar terkagum-kagum melihat pesona kecantikan putri keduanya itu.


"Mami mau menyelesaikan pembicaraan tadi, tanggung banget bikin penasaran. Mami keluar dulu ya," pamit Anita pada Meli yang sudah selesai berpakaian. Meli mengangguk.


Anita melihat Reyhan, Steven dan Hendrawan sedang berbincang di sebuah sofa di sudut ruangan hotel lantai 5 ini. Mereka tampak serius.


"Jadi begitu ceritanya Steve. Papi mohon izin kamu. Meli nggak nikah. Yang nikah tetap Melati. Kamu paham kan?" bujuk Hendrawan sambil menepuk bahu calon menantunya itu.


Steve tampak paham. Dia mengerti kesusahan keluarga kekasihnya.

__ADS_1


"Meli akan keluar setelah acara ijab kabul selesai.Menemani Randy berdiri untuk foto-foto sebentar. Setelah acara nikahan selesai Meli kembali ke kamar." kata Reyhan menjelaskan.


"Ya..nama wanita yang akan menikah dengan Randy tetap Melati Ayudia," sambung Hendrawan.


" Asal syah. Dan tak bersalahan dengan Agama kita. Ya saya setuju-setuju aja Pi."


"Nanti kamu ke kamar Mami. Bujuk Meli. Agar Ia mau menolong adiknya. Sebentar saja," Anita berkata sambil berjalan mendekat ke arah ketiga pria itu.


"Baik Mi..aku segera ke sana," Steven kemudian berjalan meninggalkan kedua pria itu dan Anita, lalu berjalan menuju kamar Anita. Untuk membujuk Meli.


"Tok...tok.."


"Tolong buka Mbak!" pinta Meli yang sedang duduk di kursi.


"Ya..baik. Sekalian kami pulang dulu mbak. Nanti malam kita rias lagi. Untuk riasan acara Resepsi," pamit kedua wanita itu. Meli mengangguk. Tapi hatinya menolak. Gadis itu sempat berdoa. agar nanti malam yang hadir jadi pengantin di acara resepsi itu Melati, bukan dia.


"Tok...tok..tok.." pintu berbunyi di ketuk lagi. Kedua wanita itu gegas membuka daun pintu lalu tersenyum pada seorang Pria bule berwajah tampan yang sedang berdiri di depan pintu kamar.


"Permisi" ujar Steven. Kedua wanita itu saling menatap. Eh bisa bahasa Indonesia rupanya.


"Silahkan," ujar keduanya serempak. Lalu mereka berdua tampak pergi meninggalkan kamar, yang kini hanya di huni oleh Meli.


"Li...sudah siap?" tanya Steven terasa lembut di telinga Meli. Meli tersenyum.


"Luar biasa. Kamu cantik sekali sayang. Ini anggap saja seperti miniatur gambaran kalau kita menikah nanti. Penampilan kamu, dandanan kamu cantik seperti ini," puji Steven.


"Kamu sudah tau maksud Papi menyuruh ku menggantikan Melati?" tanya Meli dengan wajah penuh tanya. Steven mengangguk.


"Iya..Nggak papa..hitung hitung test gimana rasanya jadi istrinya Randy." sahut Steve sambil terkekeh.


"Ish..jangan ngomong begitu..aku maunya jadi istri kamu. Sekarang aku cuma membantu saudari kembarku. Aku terpaksa. Agar kedua keluarga nggak malu." kata Meli dengan suara bergetar.


Steven langsung memeluk calon istrinya itu.


"Cup..sayang sudah. Nanti jelek riasannya kalau kamu nangis.Aku cuma bercanda."


Meli membalas pelukan itu dengan Erat. Lalu terdengar pintu di ketuk lagi. Steve kali ini yang membukanya.


"Steve ..kita ke lantai 3 yuk. Papi kesini sekalian mau ambil baju Papi. Kita bareng ke sana,"

__ADS_1


"Ya Pi..." Hendrawan kemudian mengambil baju stelan untuk orang tua pengantin wanita yang tergantung di lemari kamar itu. Setelah itu memakainya.


bersambung


__ADS_2