
Tak lama mengambil obat di apotek rumah sakit, Hardi berjalan lagi ke UGD. Di ruang tunggu UGD masih dengan setia menanti dirinya.
"Ini obatnya Pak Fahmi." Hardi mengulurkan tangannya yang berisi kresek obat di dalamnya.
"Makasih Pak Hardi," Fahmi menyambut kresek itu. Fahmi segera masuk ke dalam ruang rawat UGD. Sebelum masuk ke dalam UGD, langkah Fahmi terhenti karena di panggil Hendrawan.
"Mi, apa Mas bisa pulang dulu? Mengingat nanti malam acara resepsi Melati dan Randy."
"Bisa mas. Silahkan. Karena mas ada urusan Itulah makanya BAP kami tunda hari ini. Dan di laksanakan besok. "
"Oh...ha ha ha..makasih banyak Mi..Ah apa jadinya kalau tak ada kamu Mi." Fahmi mengurungkan niatnya untuk masuk ke dalam ruang UGD. Fahmi lalu mendekati Hendrawan yang berdiri di depan ruang UGD itu.
"Mas..Jangan sungkan. Pulang lah," Fahmi menepuk lengan Mas nya dengan lembut. Lalu memberikan senyum manis nya pada sang kakak sepupu.
"Makasih Mi. Mas pamit ya, Tolang salam sama Beni. Semoga cepat sembuh." Hendrawan lalu memeluk adik sepupunya itu. Fahmi menyambut pelukan Hendrawan. Kemudian mengangguk.
Kedua anak Hendrawan, Melati dan Reyhan menyalami adik sepupu Papi mereka, begitu juga dengan menantu baru Hendrawan.
"Ok. kalo gitu saya ke dalam dulu ya Mas, Reyhan, Melati, Menantu baru .ha ha ha Randy ya namanya," pamit Fahmi sambil tertawa bahagia pada sepupu dan ketiga keponakannya. Semua tersenyum bahagia. Lalu mereka pun beranjak dari ruang tunggu di UGD itu. Berjalan beriringan menuju parkiran mobil.
Setelah semua masuk ke dalam mobil, pak Hardi yang sedari tadi menunggu di dalam mobil segera menghidupkan mesin mobil , lalu mobil bergerak meninggalkan halaman rumah sakit.
"Kita langsung ke hotel tuan?" tanya Pak Hardi.
"Ya..biar hati Nyonya lega, Di..anak gadisnya sudah kembali," sahut Hendrawan.
Mobil pun berjalan dengan kecepatan sedang. Tak lama mobil yang mereka tumpangi telah tiba di halaman parkir Hotel Ambassador.
"Kalian langsung ke kamar saja. Melati pasti capek. Istirahat dulu ya nak!" perintah Hendrawan pada Melati dan Randy.
__ADS_1
"Randy ajak Melati ke kamar pengantin kalian!"
"Baik Pi..kami langsung ke kamar. Pamit Mas Rey, Pi," kata Randy sambil menggenggam tangan Melati erat. Gadis itu melirik tangannya yang di genggam oleh Randy. Hendrawan dan Reyhan berjalan duluan menuju pintu utama hotel itu.
Sementara Randy dan Melati masih termangu menatap kedua orang itu masuk ke dalam.
"Ayok kita masuk Mel. Langsung ke kamar kita ya! Kamu istirahat dulu ya!" Randy kemudian menarik tangan Melati yang ada dalan genggamannya. Melati mengikuti langkah pria itu.
"Mas..lepas tangan ku. Kita belum Sah jadi suami istri !" pinta Melati pelan. Randy menatap Melati yang berjalan di sampingnya.
"Kita sudah jadi suami istri Mel. Kita sudah Sah. Kamu jangan takut ya," mendengar penjelasan Randy mata Melati langsung melotot .Melati terkejut. Bagaimana bisa dia sudah menjadi istri Randy. Padahal Melati masih di culik Pak Harjo.
"Nanti saja Mas ceritakan. Sekarang kita masuk ke kamar dulu. Kamu pasti capek kan?" kata Randy masih menggenggam jemari istrinya itu. Melati tak bisa menolak. Membiarkan Randy menggenggam tangannya dan mengikuti langkah sang suami berjalan ke kamar pengantin mereka.
Setelah berada di depan pintu kamar mereka, Randy mengeluarkan kartu dari sakunya lalu menempelkan kartu itu di depan gagang pintu. Ceklek. Randy kemudian meraih handel pintu , menekannya lalu pintu itu di dorongnya. Keduanya masuk ke dalam kamar pengantin. Yang di tata dengan rapi dan cantik. kelopak bunga mawar memenuhi ranjang pengantin mereka.
"Gimana? Apa kamarnya bagus?" Randy menatap Melati dengan senyum manis tersungging di bibirnya. Lalu melangkah mendekati istrinya.
"Bagus mas. Tapi ada satu yang mau Mel tanya sama Mas. Bagaimana bisa sekarang kita sudah resmi jadi suami istri. Sementara Mel masih di sekap oleh pak Harjo?" tanya Melati menatap tajam mata Randy. Pria tampan itu tersenyum. Sangat mengerti kebingungan yang di rasakan Melati.
"Meli yang menggantikan kamu pas ijab kabul. Tapi tetap nama kamu yang Mas sebut pada waktu ijab kabul." Randy menjelaskan sambil menatap Melati dengan tatapan penuh cinta. Melati melengos, menatap ke arah lain. Randy tersenyum. Dia makin gemas melihat tingkah sang istri itu.
"Emang boleh ya. Sah gitu pernikahan kita? Walau Nggak ada aku di sana?"
"Katanya Nggak masalah. Asal yang di sebut itu nama kamu , sang pengantin yang sebenarnya dan wali nikahnya Papi Hendrawan."
Melati mengangguk paham.
__ADS_1
"Oya..kalau mau mandi. Pakaian kamu udah ada di lemari pakaian. Tapi kalau mau langsung istirahat juga Nggak papa. Cuma sebaiknya mandi aja. Biar tidurnya lebih pules," saran Randy sambil tersenyum pada Melati.
"Mandi aja Mas, rasanya badan Mel gerah dan lengket," sahut Melati sambil berjalan menuju kamar mandi. Randy mengangguk.
"Mau mas temenin nggak?" goda Randy membuat Melati langsung menoleh kebelakang menatap Randy dengan mata melotot.
"Mesum!" teriak Melati sambil berlari cepat kearah kamar mandi. Randy terkekeh melihat tingkah istrinya. Pria itu hanya geleng kepala. Setelah Melati masuk ke kamar mandi , Randy berjalan ke arah sofa, menghenyakkan tubuhnya ke atas sofa empuk itu. Lalu mengambil ponsel yang tersimpan di sakunya. Membuka layar ponsel kemudian memilih sebuah game menarik untuk dimainkan.
"Tok..tok tok," sebuah ketukan mengalihkan pandangan Randy dari ponselnya. Pria itu kemudian berdiri dari duduknya lalu melangkah menuju pintu kamar hotel. Membukanya, sosok mertua perempuan berdiri dengan senyum mengembang di bibir.
"Randy. ..katanya Mel sudah kembali? Apa ada di kamar?" Randy membuka pintu kamar . Membiarkan Anita masuk ke dalam kamarnya. Anita langsung masuk ke dalam kamar pengantin itu.
Anita langsung duduk di sofa yang terletak di sudut ruangan. Wanita itu menatap sekeliling yang telah di rias rapi dan cantik.
"Bagus ya Ran..kalo udah di dandani gini kamarnya," Randy mengangguk. Anita tersenyum senang.
"Melati sudah lama mandinya?"
"Sudah Mi..udah beberapa menit yang lalu,"
"Cklek.." bunyi pintu di buka. Anita dan Randy menoleh ke arah datangnya suara. Melati baru saja keluar dari kamar mandi.
"Mami..." sapa Melati girang sambil berlari lalu memeluk tubuh Anita.
"Mel..oh nak..Mami lega sekali mendengar cerita Papi kalau kamu sudah pulang. Dan tidak kurang satu apa pun," Anita memeluk erat tubuh Melati. Air mata bahagia mengalir di pipinya.
"Sayang kamu Nggak papa kan? Kamu baik-baik aja kan? Apa mereka menyakiti mu?"Anita mengurai pelukannya lalu menatap lekat wajah sang putri. Melati menggeleng.
"Seperti yang Mami lihat, Mel baik-baik aja. Dan yang syukurnya, Papi dan rombongan datang tepat waktu." Anita mengelus lembut wajah Melati.
"Ya. Alhamdulillah sayang. Mami senang dan sangat bersyukur karena Allah sudah melindungi kamu. Apa benar kalau telat sedikit saja, kamu akan menjadi istri Pak Harjo. Pakde nya Resnu?" Melati mengangguk.
"Ya Mi..kalau telat sedikit saja, ah Mel bakalan jadi istri ke limanya Pakde Harjo," sahut Melati sambil melirik Randy yang masih duduk di sofa itu.
"Kalau pun telat, Nggak bakalan Sah juga sayang. Kan yang menikahkan harus wali yang Sah. Bisa ayah kandung, kakak kandung, adik kandung yang laki-laki atau lelaki yang merupakan keturunan garis lurus ke atas atau ke bawah ," Randy menjelaskan membuat kedua orang ibu dan anak itu mengangguk paham.
"Ya sudah. Mami sangat senang karena kamu sudah kembali. Kamu dan Randy istirahat aja. Mami keluar dulu." ujar Anita lalu berjalan keluar kamar pengantin itu. Melati mengantarkan sang Mami sampai di depan pintu kamarnya. Setelah Anita menjauh, Melati menutup kembali pintu kamarnya.
" Kalau capek Istirahat aja Mel. Nanti sore kita sudah harus bersiap-siap untuk di rias sama MUA ."
__ADS_1
"Ya Mas..Mel tidur dulu ," ucapnya lalu melangkah ke atas tempat tidur. Randy mengangguk dan membiarkan Melati naik ke atas tempat tidur mereka. Lalu mulai memejamkan matanya. Randy menatap lekat wajah sang istri yang sangat cantik. Randy tersenyum lalu meneruskan kembali permainan game di handphone nya yang tertunda saat kedatangan Anita tadi.
*****