
Sore hari di rumah sakit. Randy baru saja mengecek kesehatan seorang pasien di ruang ICU. Selesai melakukan pemeriksaan pasiennya. Randy berjalan ke luar ruang insentif itu. Diikuti dua orang perawat di belakangnya. Mereka bertiga berjalan menuju ruang kerja Randy.
Setelah tiba di ruangan itu Randy langsung ke ruangannya. Mengambil segelas air minum mineral di mejanya. Meneguknya perlahan. Lalu mengistirahatkan tubuhnya sejenak. Matanya terpejam sesaat. Tapi saat melihat jam dinding di ruangannya itu Randy tersentak kaget.
"Ya Allah. Kok bisa lupa menjemput Melati ke Kampusnya." gumamnya pelan.
Pria itu langsung bangkit dari kursi nya, lalu berjalan keluar ruangannya. Perawat yang bertugas di dalam sempat menyapanya. Randy mengangguk ramah. Namun dengan cepat keluar ruangan itu menuju ke parkiran khusus dokter di rumah sakit itu. Setelah sampai di mobilnya, Randy menghidupkan mesin mobil. Lalu membawa mobilnya keluar parkiran rumah sakit. Untungnya Kampus Abdi Bangsa dan Rumah Sakit tempat dia bertugas tidak begitu jauh. Sekitar lima belas menit jika lalu lintas tidak macet. Tapi kalau sedang macet, jangan di tanya lagi. Bisa membutuhkan waktu berjam-jam untuk sampai ke Kampus Melati.
Beruntung mobilnya tidak bertemu dengan mobil-mobil orang yang pulang kerja. Kalau tidak, Melati bisa marah karena dia telat menjemput gadis itu.
Saat mobilnya masuk ke dalam halaman Kampus, Randy melihat Melati sedang duduk ngobrol dengan seorang gadis. 'Mungkin temannya, 'pikir Randy. Pria tampan itu menghentikan mobilnya, setelah di parkir rapi di halaman Kampus Abdi Bangsa. Sejenak dia terdiam. Lalu duduk menunggu Melati di depan mobilnya.
Sepertinya Melati tidak melihat kehadirannya. Randy kemudian mengambil ponsel di saku celananya. Lalu mencari nomor Melati. Setelah dapat nomor Melati, pria itu menekan tanda panggilan. Sesaat masih terdengar nada dering. Kemudian terdengar suara lembut Melati.
"Ya Halo. Assalamualaikum. Mas Randy," sapa Melati.
"Mas sudah di parkiran. Apa perlu mas jemput ke taman tempat kamu duduk sekarang?" setelah berkata itu, Randy melihat Melati mencari keberadaannya. Tatapan mereka berdua bertemu. Randy masih meletakkan ponselnya di telinga.Begitu pun halnya Melati. Beberapa saat mereka saling pandang. Melati mematikan. sambungan telponnya.
"Rev...aku pulang dulu ya. Sudah di jemput tuh," pamit Melati pada sahabatnya seraya menunjuk seorang pria tampan yang sedang menunggunya di parkiran.
"Siapa?" pandangan Reva mengikuti telunjuk Melati.
"Sopir pribadi," Melati menjawab sambil terkekeh. Wajah Reva berubah jadi cemberut.
"Kayaknya bukan Resnu, Mel?" Melati mengangguk.
"Kenalin dong? heran deh. Betapa beruntungnya elu Mel..bisa di antar jemput sama cowok kece mulu!" Reva terheran-heran sekaligus takjub melihat keberuntungan sahabatnya itu.
"Idih...nggak gitu juga kali Rev..muka kamu itu kayak gimana ya? Ehmn lain kali aku kenalin," Melati berusaha menahan tawanya. Demi melihat wajah penasaran sahabatnya. Melati kemudian berlari kecil meninggalkan Reva yang masih termangu menatap Randy yang duduk di depan kap mobil sedan mewahnya.
"Maaf Mas, jadi lama nunggu," ucap Melati saat sudah berada di depan Randy. Pria itu tersenyum
"Nggak masalah. Tapi kayaknya saya yang telat menjemput kamu. Sudah berapa lama nunggu Mas tadi?" Randy membukakan pintu mobilnya untuk Melati. Gadis itu kemudian masuk ke dalam mobil. Randy berjalan cepat menuju pintu mobilnya setelah menutup pintu di samping Melati. Lalu duduk di belakang kemudi. Menghidupkan mesin mobil lalu tancap gas keluar halaman kampus. Membelah jalanan yang mulai ramai.
"Berapa hari Tante Anita ke Bandung Mel?" tatapan Randy masih fokus dengan lalu lintas di depan nya.
__ADS_1
"Kurang tau Mas. Mami berangkat tadi pagi agak mendadak. Dan Papi menelpon Mel. Bilang kalau Mami belum bisa pulang. Ada trouble dengan kantor cabang di Bandung." sahutnya tanpa menatap Randy. Randy melirik sekilas pada Melati. Kemudian fokus ke jalan lagi.
"Berarti kalau pak Heru belum bisa pulang, kamu tetap mas yang antar jemput ya?" Melati mengangguk.
"Apa nggak merepotkan Mas? Biasanya Mel nggak juga di antar Pak Heru. Pak Heru itu sopir Mami. Sopir yang biasa ngetem di rumah ya Pak Nanang. Tapi karena beliau lagi cuti pulang kampung. Ya jadi nggak ada yang mengantar dan menjemput Mel." Randy mengangguk paham. Tak berapa lama, mobil Randy telah sampai di depan rumah Melati.
"Mas nggak masuk dulu?" tawarnya sebelum turun dari mobil. Randy menatap lekat gadis itu. Lalu menggeleng.
"Mas ada jadwal operasi malam ini. Nanti aja kapan-kapan Mas mampir."
"Ya..nggak papa..makasih Mas Randy. Maaf Mel jadi merepotkan."
"Nggak masalah Mel, kalau perlu apa-apa kamu bisa telpon Mas. Mas pamit ya. Salam buat Om Hendra." dijawab anggukan oleh gadis itu.
Melati kemudian melambaikan tangannya saat mobil Randy bergerak meninggalkan halaman rumah.
Melati berjalan masuk ke teras rumah. Saat mengetuk pintu samping, Mbok Sri membukakan pintu untuknya.
" Baru pulang Non?" di jawab anggukan oleh Melati.
"Nanti aja Mbok. Mel pengen mandi dulu. Gerah soalnya,"
"Ya Non..nanti telpon aja, mau diantarkan minum atau makanan ya,"
"Ya..makasih Mbok."
Melati melanjutkan langkahnya menaiki tangga menuju kamarnya. Setelah sampai di depan pintu kamar, mata Melati menatap sebuah bingkisan yang terletak di depan pintu kamarnya.
Melati mengambil bingkisan itu, lalu membaca tulisan di bingkisan itu.
"Semoga hadiah ini bisa mempererat hubungan kita Mel. Dan kamu suka menerimanya.Tertanda Resnu Wijayanto.
Melati menghela napas pan jang. Matanya berkaca membaca kata-kata yang tertulis di bingkisan itu.
Sebenarnya Melati tak tega memutuskan hubungan dengan Resnu. Pria itu baik sekali padanya. Tetapi Melati tak ingin lagi bertemu dengan Pakde Harjo. Kerena jika tetap berhubungan dengan Resnu, otomatis suatu waktu dia pasti akan berjumpa dengan Pak Harjo lagi.
__ADS_1
Melati sangat takut apabila Pak Harjo menatap nya. Seakan ingin menerkam nya. Itulah sebabnya dia mengurungkan niatnya untuk menikah dengan Resnu. Bukan tak cinta. Tapi kenangan tak mengenakkan antara Pak Harjo dan orang tua angkatnya yang membuat mereka terpaksa tak bisa bersatu. Sayangnya, Resnu tak mengetahui alasan Melati menghindar darinya.
Kemarin setelah pertemuan keluarga Hendrawan dengan keluarga Resnu, sang Papi berjanji akan mengatakan alasan mereka karena belum memiliki jawaban atas lamaran Resnu. Belum ada keputusan. Hingga saat ini. Menurut Melati wajar saja Resnu tak menganggap tak terjadi apa-apa pada hubungan mereka. Hanya Melati saja yang mencoba menghindar setiap kali Resnu menelpon atau mendatanginya.
Melati hanya mengatakan agar mereka tidak bertemu dulu. Hal itu membuat Resnu galau. Kalau saja Melati atau Hendrawan mengatakan yang sebenarnya. Tentu saja Resnu akan maklum. Dan dapat menentukan sikap atas hubungan mereka.
Tapi semuanya tak ada kejelasan sama sekali. Melati pun rasanya tak sanggup untuk mengatakan yang sesungguhnya. Hingga hubungan nya dengan Resnu seperti menggantung.
Melati masuk ke dalam kamarnya. Duduk di sofa yang terletak di sudut kamar. Lalu membuka bingkisan dari Resnu. Tangannya gemetar saat membuka bingkisan itu. Air matanya mengalir tanpa di sadari. Melati mengusap air mata yang terus mengalir. Kerinduan yang begitu besar di hatinya pada Resnu membuat tangisnya menjadi tersedu-sedu.
Kado dari Resnu ternyata sebuah pigura kecil berbentuk lipatan. Di pigura itu sudah terpasang foto Resnu dan Melati saat mereka berjalan di taman kota. Saat mengangkat pigura foto itu, sesuatu jatuh ke lantai. Melati menatap benda yang jatuh itu. Lalu memungutnya. Ternyata sebuah kertas yang terlipat rapi. Melati membuka lipatan kertas itu. Sebuah surat yang di tulisan tangan oleh Resnu. Melati mulai membaca surat itu.
Mel..saat kamu membuka bingkisan ini, kamu pasti akan menemukan surat dari ku.
Aku tahu, kamu menghindar dariku. Hanya saja aku tak tau apa penyebabnya.
Aku berpikir , setelah keluarga kita bertemu, di acara perkenalan itu. Hubungan kita jadi semakin erat. Tapi ternyata kebalikan dari itu semua.
Sampai saat ini aku menunggu keputusan dari keluargamu Mel.
Aku mencintaimu...sangat amat sangat...
Dan kau pun sudah membalas cintaku. Tapi aku menunggumu. Menunggu kepastian darimu. Apakah kita bisa bersama Mel?
Jangan menghindar dariku Mel. Aku bisa gila jika tidak bisa melihatmu setiap hari.
Aku mohon, jangan pergi dariku.
Aku ingin kita bertemu.
Aku ingin kita bicara.
dari aku
Resnu Wijayanto
__ADS_1