
Siang ini Melati dan Randy cek out dari hotel Ambassador. Setelah menyerahkan kunci kamar pada bell boy hotel dan menyerahkan beberapa bawaan untuk di bawah ke lobby hotel.
Keduanya keluar kamar dan berjalan menuju lift yang terletak di ujung lorong kamar hotel.
Bergandengan tangan saat keluar dari lift. Setiap pegawai yang melihat menunduk hormat pada Randy. Karena pria itu adalah pewaris tunggal dari pemilik hotel Ambassador ini.
Saat sampai di lobby hotel netra keduanya sudah menangkap bayangan tubuh oarng-oramg dekat hang di sayangi oleh Melati. Keduanya mendekati keluarga Melati yang masih berkumpul di sebuah sofa di lobby.
"Pi.Mi.." sapanya hormat. Hendrawan tersenyum. Begitu juga dengan Anita. Hatinya lega. Melati sudah memiliki suami yang baik. Sesuai dengan keinginan hatinya dan suaminya Hendrawan.
"Kami izin duluan ya Pi..Mami.." pamit Randy dan Melati sambil mencium punggung tangan kedua orang tua Melati. Anita memeluk putri bungsunya itu. Melati beralih menatap kedua orang tua angkatnya .
"Bapak, Ibu..kami pamit duluan pulang." pamit Melati sambil mendekati Pak Herman dan Bu Ratih orang tua angkatnya yang masih duduk di ruang lobby hotel itu. Bersama dengan orang tua kandung dan saudara Melati.
Kedua orang tua itu mengangguk. Bu Ratih memeluk Melati dengan sayang.
"Kamu baik-baik ya nduk sama suamimu. Dia orang baik. Ibu yakin kamu pasti hidup bahagia dengan nak Randy." bisik Ratih ke telinga anak gadis kesayangannya. Sekarang pun masih sama. Tetap menjadi nomor satu di hati Pak Herman dan Bu Ratih.
Melati mengangguk. Bu Ratih mengurai pelukannya. Menatap wajah cantik sang putri angkat.
Wanita itu tersenyum. Netra Melati mengembun. Tak terasa titik air mata jatuh ke pipinya.
"
"Baik Pi..Mi.."
"Mas Rey..Lili..kami duluan." kata Randy sambil mengangguk dan tersenyum manis.Tak lupa memberikan senyum pada kedua orang tua Steven, Mark dan Rose.
"Ya..silahkan nak, kami masih menunggu Pak Hardi. Tadi izin keluar sebentar .Kalian duluan aja,"
Randy menggenggam tangan Melati. Mereka berdua berjalan duluan dan di belakangnya mengikuti seorang bell boy yang mendorong troli pengangkut barang.
__ADS_1
Keduanya masuk ke dalam mobil. Melati melihat pak Hardi yang tergopoh-gopoh memasuki ruang lobby, menemui bosnya Tuan Hendrawan.
Sementara pak Nanang yang akan mengantarkan Pak Herman dan Bu Ratih kembali ke rumahnya sudah menunggu di mobil.
Setelah menyalakan mesin mobil , kendaraan itu bergerak meninggalkan halaman hotel Ambassador. Empat puluh lima menit waktu yang di tempuh hingga mobil yang di kemudikan oleh Randy berhenti di sebuah rumah di pinggir jalan yang di tutupi Oleh pagar tinggi dan mewah.
Mulut Melati membentak huruf O saat menatap rumah mewah itu.
"Kok berhenti di sini Mas?" tanya Melati sambil memperhatikan rumah itu lagi.
"Ya berhenti dong. Emang mau berhenti dimana. Kan ini rumah kita," jawaban Randy sambil tersenyum. Melati membulatkan matanya indahnya. Sungguh kaget saat Randy bilang itu rumah mereka.
Randy lalu membuka pintu mobil. Keluar mobil menutup pintu mobil lalu berjalan ke arah pagar tinggi itu. Membuka pintu pagar dengan lebar. Lalu berjalan ke arah mobil. Pria itu membuka pintu mobil dan masuk ke dalam. Tak lama mobil itu masuk ke dalam halaman rumah yang luas dan sudah ada beberapa tanaman dan pohonan buah di dalam sekarang luas itu.
"Ini...rumah siapa Mas Randy?" Melati melongok kan kepala menatap rumah dengan halaman luas dan asri. Rumah berlantai dua yang bergaya modern menimbulkan tanda tanya besar di kepalanya. Punya siapa? Kenapa Randy membawanya kesini. Randy hanya diam. Pria tampan itu mematikan mesin mobil ketika mobil sudah terparkir rapi di garasi luar yang telah terpasang atap berbahan plastik tebal berwarna bening.
Lalu membukakan pintu untuk sang istri.
Randy memencet tombol yang ada di gagang pintu rumah itu. Pintu itu ternyata memiliki pin. Tak lama pintu terbuka dengan sendirinya.
Keduanya masuk ke dalam rumah. Mata Melati terbelalak saat menatap design rumah itu.
"Kita ke atas ya. Naik lift aja. Yuk liftnya di ujung sana," ajak Randy sambil menarik tangan sang istri menuju sudut ruangan yang ternyata ada sebuah lift di sana.
Setelah menekan tombol tanda panah itu. Tak lama pintu lift terbuka. Randy menarik tangan Melati untuk masuk ke dalam lift. Saat lift tertutup Randy menekan tombol angka 2 . Tak lama lift bergerak ke atas. Tanda angka dua muncul. Kemudian pintu lift terbuka dengan sendirinya.
"Yuk keluar Mel," ajak Randy. Melati mengangguk
, Alhamdulillah mengikuti langkah Randy berjalan menyusuri lorong lalu mereka tiba di sebuah ruangan yang luas. Randy mengajak Melati ke sebuah ruangan.
Randy membuka pintu ruangan itu.
__ADS_1
"Yuk masuk!" ajak Randy.
"Ya.."
"Mas...tunggu dulu rumah siapa ini?" tanya Melati mencoba menghentikan langkah Randy yang berada di depannya.
"Ehm.." Randy menarik nafas dalam lalu menatap wajah Melati dengan sedikit lengkungan senyum di bibirnya.
"Ini rumah buat kamu, buat kita." jawab Randy mantap, menatap lekat wajah cantik Melati.
"Aku..kita?" ulang Melati. Randy mengangguk masih tersenyum memandang istrinya.
"Ya Allah..Alhamdulillah, makasih mas." Randy mengangguk .
Randy membuka pintu ruangan itu. Yang ternyata adalah sebuah kamar. Ukurannya sangat luas. Sudah ada sebuah ranjang ukuran king size terletak di sudut ruangan , sofa berwarna coklat dan lemari di samping tempat tidur.
"Ini kamar kita," Randy mulai menjelaskan.
"Lemari pakaian ada di walk in closet. itu di samping kamar mandi. Yuk mari.kita lihat!" ajak Randy . Melati mengikuti suaminya dengan perasaan penasaran.
Sebuah ruangan yang tidak terlalu luas. Di dalamnya ada kamar mandi yang terletak di pojok ruangan. Sementara di ruangan yang mereka datangi diisi dengan lemari yang buat sedemikian rupa sehingga bisa untuk menyimpan semua kebutuhan mereka berdua . Seperti pakaian, tas, sepatu dan beberapa aksesoris lainnya.
"Coba lihat kamar mandi kita. Yuk," ajak Randy sambil menarik tangan Melati dan menggenggamnya erat. Melati menatap suaminya lalu mengangguk.
Randy membuka pintu kamar mandi. Kemewahan kamar mandi terbentang di depan mata. Sangat mewah ...Melati sampai berdecak kagum.
"Ck..bagus banget Mas," pujinya sambil masuk ke dalam kamar mandi. Menatap sekeliling kamar mandi yang besar dan mewah itu.
Kamar mandi itu di lengkapi bathtub , closet duduk, keran air lengkap dengan air panas dan dingin, ada shower juga dan sebuah wastafel terletak di sudut kamar mandi menambah cantik kamar mandi itu.
Selepas melihat kamar mandi, Randy mengajak Melati berkeliling semua ruangan di rumah itu. Baik lantai satu maupun lantai dua. Halaman di belakang rumah masih luas. Namun belum di tanami apapun.
__ADS_1
bersambung