Cinta Melati Cinta

Cinta Melati Cinta
Beni terluka


__ADS_3

Sementara itu pertarungan di depan rumah tua itu masih terlihat seru. Kini Baron dan Toni sedang bertarung dengan Reyhan dan Randy. Keduanya hampir sama kuat. Tapi saat terdesak sang pengantin di gantikan oleh anak buah Fahmi yang menolong dari samping.


"Mas..minggir..!" perintah pria itu pada Randy. Randy kemudian mundur dan di gantikan oleh Beni yang merupakan anak buah Fahmi. Beni di suruh Fahmi menolong Reyhan dan Randy. Dan menggantikan posisi Randy. Karena nanti malam pria itu akan duduk bersanding dengan Melati di acara Resepsi.


Reyhan dan Beni masih baku hantam dengan Toni dan Baron.


"Kalian..Berhenti! Bos kalian sudah kami bekuk," teriak Helmi sambil mengeluarkan pistolnya. Jika di biarkan lama, maka mereka gak akan bisa menyelesaikan pertarungan ini. Apalagi membekuk Pak Harjo dan anak buahnya.


"Angkat tangan!" Fahmi berjalan mengelilingi anak buah pak Harjo dan Pak Harjo yang sudah di ikat tangannya dengan borgol.


Tapi saat akan membekuk kedua anak buah Pak Harjo, salah satu dari kedua orang itu berjalan cepat sambil mengeluarkan sebilah pisau di pinggangnya. Beni melihat pergerakan yang sangat cepat dari pria itu. Baron ingin menusuk Randy yang berdiri mematung di sana. Akan tetapi mampu di halangi oleh Polisi muda itu. Beni menghalanginya, namun gerakan Baron begitu cepat. Ujung belati itu merobek lengan Beni yang mencoba menghalangi Baron.


"Ahh..." teriak Beni. Semua mata tertuju padanya. Baron melihat dirinya salah menusukkan belati itu sempat terdiam sesaat. Lalu berusaha mengejar Randy, namun sayang tangan seorang anak buah Fahmi yang lain meraih pisau belati itu dan dengan seorang temannya yang satu lagi membekuk Baron dengan cepat. Baron memberontak. Akhirnya pegangan dari polisi muda itu terlepas.


Baron Mengeram kesal. Namun sayang sebuah timah panas melesak masuk ke dalam pahanya sebelah kanan. Pria itu langsung terduduk. Tak mampu lagi untuk berusaha menggerakkan kakinya.


Baro merasa kakinya terasa kaku. Dengan semangat tinggi , pria bertato itu bergerak cepat. Namun saat akan melangkahkan kaki yang sebelah kiri. Justru timah panas itu pun mengenai kakinya sebelah kiri. Baron meraung kuat.


Netranya menatap nanar wajah Fahmi dan semua yang ada di sana. Tak lama tubuhnya ambruk karena menahan sakit di kedua kakinya.


"Cepat ikat tangannya, pria ini tampaknya melawan sekali!" seorang anak buah Fahmi langsung bergerak mendekati Baron. Mengikat kedua tangan Baron dengan cepat.


Sementara Toni tampak menunduk. Tangannya pun sudah di ikat oleh borgol. Tak lama kemudian Fahmi menginstruksikan untuk membawa semua anak buah Pak Harjo dan juga Pak Harjo ke kantor Polisi. Mobil yang tadi terparkir di dalam rerimbunan pohon keluar dari persembunyian nya. Lalu bergerak menuju rumah tua itu. Mobil Berhenti tepat di depan rumah. Lalu semuanya masuk ke dalam mobil polisi itu.


Setelah semua naik ke dalam mobil. Fahmi berjalan meninggalkan mobil yang segera berangkat ke kantor polisi.

__ADS_1


"Kita bawa Beni ke rumah sakit!" ujar Fahmi sambil menatap Reyhan dan Randy. Kedua pria itu mengangguk. Reyhan membantu Beni berjalan. Lengan pria itu mengulurkan darah yang cukup banyak. Mereka mempercepat langkahnya untuk pergi ke rumah sakit terdekat.


Melati melongo saat melihat salah satu anggota polisi itu ada yang terkenal tusukan. Hatinya menclos saat melihat darah mengucur dari lengan polisi muda itu. Beni sempat tersenyum pada Melati saat masuk ke dalam mobil.


"Kita langsung ke rumah sakit Mas!" ujar Fahmi setelah semuanya masuk ke dalam mobil. Semua mengangguk. Perasaan mereka begitu tegang. Bagaimana tidak tegang. Jika orang mereka ada yang terluka. Masih beruntung bukan Randy yang tertusuk.


Mobil yang di kemudian eh Pak Hardi melaju cepat. Sementara mobil Fahmi sudah melesat jauh meninggalkan rumah tua itu.


"Darahnya banyak sekali Ben. Apa ada kotak P3K di dalam mobil?" tanya Fahmi sambil menatap Hendrawan.


"Kalau gak salah ada Om. Sebentar aku cek dulu," sahut Reyhan. Putra sulung Hendrawan itu mencari kotak P3K di dashboard mobil. Setelah menemukannya pria itu memberikannya pada Fahmi yang duduk di sebelah Beni.


Fahmi mengambil kotak obat itu, lalu mencari perban dan dengan cepat menutupi luka di lengan Beni yang masih mengucurkan darah.


Sekitar tiga puluh lima menit kemudian mobil Reyhan sudah sampai di rumah sakit yang terdekat dari rumah tua tadi. Mereka bergerak cepat turun dari mobil. Beni yang masih kuat untuk berjalan di bimbing erat oleh Fahmi.


Sebagai Bosnya Fahmi tentu bertanggung jawab dengan keselamatan anak buahnya.


Fahmi dan Beni masuk ke dalam UGD. Sementara yang lain menunggu di ruang tunggu UGD.


Tak berapa lama dokter muncul dari dalam ruangan.


Dengan cekatan dokter wanita itu mengobati luka Beni. Membersihkan luka itu, menjahitnya lalu menutupnya dengan kain kasa.


"Gimana dokter?" Fahmi mendekati dokter wanita itu saat sang dokter telah keluar dari ruang tindakan.

__ADS_1


"Alhamdulillah, Pak. Sudah selesai. Luaknya cukup dalam tapi audah saya jahit." sahut sang dokter sambil menuliskan resep obat untuk Beni.


"Ini resep obatnya, tolong rebus ya Pak. Pasien bisa pulang sebentar lagi," lanjut sang dokter menerangkan pada Fahmi tentang keadaan Beni. Fahmi mengangguk sambil berucap terima kasih pria itu mengambil resep obat yang di berikan oleh sang dokter.


Lalu membawa resep itu keluar ruangan UGD. Disana audah menunggu Reyhan , Randy , Hendrawan, Melati dan Hardi.


" Saya minta tolong tebus resep ini Pak Hardi!" Pak Hardi mengambil resep itu.


"Tidak bayar pak. Beni ada kartu BPJS nya," sambung Fahmi di jawab anggukan paham oleh Pak Hardi.


"Bagaimana keadaan Beni. Apa lukanya parah?" tanya Hendrawan cemas.


"Cukup parah Mas. Lukanya agak dalam. Tapi tadi sudah berhasil di jahit oleh dokter." jawab Fahmi.


"Syukurlah kalau begitu,"


"Ya..jadi sekarang saya akan menelpon anak buah saya agar menjemput kami di Rumah Sakit ini. Mas dan yang lain bisa pulang ke rumah. Besok kita ketemu di kantor polisi untuk membuat BAP." Fahmi menatap Hendrawan serius.


"Baiklah Mi. Mas ucapkan terima kasih banyak. Kami akan pulang. Karena nanti malam masih ada acara Resepsi pernikahan Melati dan Randy. Kalau sempat datang lah ke hotel Ambassador,"


"Terima kasih undangannya Mas. Mudah-mudahan urusan ini cepat selesai. Jadi saya bisa ke acara Resepsi Melati."


"Mel..Randy selamat ya..atas pernikahan kalian. Dan insyaallah Om akan datang dengan tante ke acara Resepsi kalian." Fahmi menyalami Melati dan Randy. Melati agak kaget karena ternyata pernikahan mereka tetap berjalan. Walaupun dirinya sedang dalam keadaan di culik. Walaupun kaget, Melati tetap bersyukur. Hanya saja dia bingung bagaimana bisa pernikahan tetap jalan, jika pengantin wanitanya tidak ada.


bersambung

__ADS_1


__ADS_2