Cinta Melati Cinta

Cinta Melati Cinta
Rapat kecil keluarga


__ADS_3

"Mas...abis sarapan kita langsung siap-siap ya untuk ke rumah Papi. Jam sepuluh kita sudah di tunggu untuk rapat kecil pernikahan Lili," Melati mengingatkan suaminya sambil meneguk minuman terakhir di gelasnya. Randy mengangguk lalu meletakkan dengan rapi sendok dan garpu di atas piringnya. Sarapan pagi sudah selesai.


"Mbak Mila, tolong.bilang sama Mas Eko untuk menyiapkan mobil untuk saya pakai sekarang!" perintah Randy saat akan masuk ke dalam rumah dan berpapasan dengan art nya Mila.


"Baik Tuan..nanti saya kasi tau Pak Eko," sahutnya cepat sambil mengangguk. Setelah membereskan semua piring dan sisa makanan di gazebo. Mila langsung mencari Pak Eko untuk menyiapkan mobil sesuai pesan Randy.


Sementara sepasang suami istri itu kemudian meninggalkan gazebo yang masih menyisakan banyak makanan di atas meja. Dan telah di bereskan oleh Mila dengan cekatan.


Lalu keduanya berjalan menuju ke kamar. Sampai di kamar mereka berdua mengganti pakaian di ruang walk in closet. Setelah sama-sama rapi berdandan dan berpakaian , Melati dan Randy langsung turun kembali ke lantai bawah dan berjalan ke halaman menuju mobil yang sudah terparkir rapi di halaman.


"Pagi Tuan Randy...Nyonya..mobil sudah siap," Randy mengangguk sebelum masuk ke dalam mobil pria itu menyempatkan untuk mengucapkan terima kasih pada Pak Eko. Pak Eko membungkuk hormat pada tuannya. Pria berusia empat puluh tahunan itu membukakan pintu gerbang. Tak lama mobil yang di kemudikan Randy keluar dari halaman rumah itu. Pak Eko menutup kembali pintu gerbang yang tingginya tiga meter itu. Lalu duduk kembali di pos satpam.


Di dalam mobil Melati asyik melihat jalan raya yang mulai sibuk di depannya. Sementara suaminya mengemudi dengan tenang di kursinya.


"Kita nggak membeli sesuatu untuk di bawa ke rumah Mami?" tanya Randy memecah kesunyian di antara mereka berdua. Melati menoleh ke arah Randy.


"Boleh Mas. Tapi Mel nggak tau toko kue yang ada di dekat rumah kita. Apa ada toko kue yang searah rumah Mami?"


" Ada..itu sebelum tikungan jalan ada satu toko kue yang kuenya enak-enak."


"Mas pernah beli di sana?"


"Ya pernah. Sudah dua kali sih. Saat akan melihat rumah. Para tukang kan kerja membuat rumah kita itu. Untuk cemilan sore. Jadi mas beli disana. Itu toko terdekat dengan rumah. Ada sih toko kue langganan Mama, Tapi cukup jauh dari sini. Kalau mau kesana terpaksa putar Balik." cerita Randy. Melati mengangguk saja mendengar penjelasan suaminya.


"Nanti kalau mau ke rumah Mama kita beli kue di tempat biasa Mama beli ya Mas. Mel pengen coba," ucap Melati.


"Ya..boleh..ide yang bagus. Biar kamu tahu tempatnya."


Tak lama kemudian mobil Randy berhenti di halaman parkir sebuah toko kue. Randy langsung mematikan mesin mobilnya. Pria itu keluar mobil lalu berjalan ke arah pintu sebelah kiri. Membukakan pintu untuk sang kekasih hati. Melati tersenyum dengan perlakuan manis suaminya. Kemaren hatinya enggan sekali untuk menerima Randy menjadi suaminya. Akan tetapi jika dipikir lebih dalam lagi, menikah dengan Randy jauh lebih baik ketimbang dengan Resnu. Apalagi dengan Pak Harjo bandot tua yang sudah lama menjadi fans nya..hehehe.


Melati kemudian turun dari mobil dan bergandengan tangan dengan Randy memasuki toko kue.


Netra Melati membulat indah saat melihat beberapa kue terpajang di lemari kaca. Semuanya membuat air liur seakan meleleh.

__ADS_1


"Selamat siang Mbak. Ada yang bisa di bantu. Mau kue apa?" tanya pelayan toko ramah. Melati mengangguk.


"Saya lihat dulu ya Mbak. Nanti saya pilih." sahut Melati ramah.


"Silahkan ambil nampannya Mbak." ujar pelayan sambil menyodorkan nampan pada Melati. Melati langsung mengambilnya dari tangan mbak pelayan. Lalu berjalan memutar melihat beberapa kue yang cantik dan tentunya menggugah selera yamg berjejer rapi di etalase.


"Belum memilih kue apa yang akan di beli ,sayang?" tanya Randy sambil berjalan beriringan dengan Melati. Melati menatap suaminya.


"Nanti ya Mas. Mel liat dulu. Kue apa yang enak untuk di bawa," Randy mengangguk paham. Netranya juga asyik melihat beberapa kue di sekitarnya.


Melati nampak mendekati sebuah etalase yang memajang beberapa kue kecil. Seorang pelayan dengan ramah membantunya untuk mengambil beberapa kue.


"Yang ini mbak." kata Melati sambil menunjukkan kue yang ingin di belinya.


"Berapa banyak mbak?" tanya pelayan itu ramah.


"Yang ini sepuluh. Dan yang ini sepuluh juga." kata Melati sambil menunjukkan sebuah kue berbahan dasar brownies dengan vla vanilla di tangannya, dan ada buah-buahan yang disusun rapi di dalam vla itu.


Sungguh menggugah selera. Melati melirik ke dalam etalase, sebuah kue yang nampak menul-menul. Ehm ... pasti enak sekali, gumam Melati pelan.


"Ini Cheese cake , Mbak. Mbak mau?"


"Ya. Ambil satu buah saya."


"Ada beberapa ukuran mbak. Dua puluh kali dua puluh, dua puluh dua kali dua puluh dua. Mbak pilih yang mana?"


"Yang ukuran dua puluh kali dua puluh aja. Oh ya..itu saya lihat ada soes buah. saya mau tiga puluh buah. Tolong bungkus semua ya Mbak!" Mbak pelayanan mengangguk. Segera perempuan itu mengambil semua pesanan Melati lalu memasukkannya ke dalam kotak. Setelah selesai baru di antar ke meja kasir. Melati dan Randy berdiri menunggu untuk membayar kue yang mereka pilih. Setelah selesai membayar. Keduanya meninggalkan toko itu, masuk ke dalam mobil. Lalu meneruskan perjalanan ke rumah orang tua Melati.


"Enak nggak kue-kue tadi?" tanya Randy sambil melirik Melati sekilas lalu kembali fokus pada jalanan di depannya.


"Belum tau mas. Kan tadi nggak sempat nyoba. Nanti aja deh. Kalo udah mau di hidangkan Mbok Sri." sahutnya sambil tersenyum. Randy mengangguk.


Tak butuh waktu lama, sekitar tiga puluh menitan mereka berdua sudah sampai di depan rumah orang tua Melati. Pak Tony yang menjadi satpam di depan rumah itu langsung membuka pintu gerbang. Pintu tinggi itu terbuka , Pak Tony mengenali mobil Randy, menantu si empunya rumah. Pria itu membungkuk hormat.

__ADS_1


Tak lama Randy memarkirkan mobilnya, lalu seperti biasa turun terlebih dahulu untuk membukakan pintu mobil disamping Melati. Melati turun. Randy langsung menggenggam jemari Melati. Membawanya masuk ke dalam rumah yang sudah terbuka pintu utama nya.


Nining sang Art yang sudah tiga tahunan bekerja di rumah Hendrawan menyambut Melati dan Randy dengan senyum tulus.


"Mbak Nining, tolong bawakan barang-barang yang di mobil ya. Di kursi yang tengah!"


"Baik Non..permisi,"


"Ya.." sahut Melati. Randy langsung menekan tombol membuka pintu di remote mobilnya. Terdengar bunyi pintu mobil terbuka. Nining langsung membuka pintu tengah . Dan mengambil kantong kresek putih sebanyak empat kantong. Lalu membawanya ke dalam rumah dengan hati-hati.


"Halo sayang...wah baru Satu hari Mami nggak ketemu kamu..sudah rindunya minta ampun," sambut Anita saat langkah kaki Melati dan Randy sudah memasuki ruang keluarga. Anita menyongsong sang putri. Lalu memeluk erat tubuh Melati. Mengurai pelukan itu lalu mencium lembut kedua pipi putrinya.


"Sama kok Mi..Mel juga kangen kok sama Mami. Mami sehat-sehat aja kan?"


"Tentu sayang..cuma kangen banget dari kemaren sama kamu," ucap Anita sambil mengusap lembut wajah anaknya. Melati tersenyum bahagia.


Dulu bapak dan ibu angkatnya juga selalu begitu. Merindukannya selalu.


"Hei..kembaranku!" teriak sebuah suara yang begitu di hapal Melati. Melati menoleh kearah datangnya suara. Lalu mengembang kan senyum termanis buat saudari kembarnya.


"Lili...apa kabar?" sapa Melati saat Meli sudah berjarak setengah meter darinya. Meli tersenyum. Lalu memberikan senyum balasan untuk kembaran nya.


"Alhamdulillah baik. Kamu gimana?" tanya Meli balik.


"Sama.."


"Ya nggak sama lah. Kan udah jadi istri orang. Udah nggak tidur sendirian lagi," goda Meli sambil melirik Randy yang tengah asyik berbicara dengan Reyhan dan Hendrawan. Wajah putih Melati menjadi merah bak kepiting rebus. Meli makin tertawa melihat wajah saudari kembarnya.


"Udah..ayo kita mulai rapatnya. Mana Mommy Rose dan Daddy Mark. Ajak mereka berdua kesini. Jangan lupa Steve juga!" perintah Hendrawan menatap ke arah Melati dan Meli.


"Ok Pi.. aku panggil dulu," Meli berjalan cepat meninggalkan semua yang ada di ruang keluarga.


Setelah Steven dan orang tuanya ada di ruang keluarga itu, keluarga Hendrawan mulai melaksanakan rapat kecil untuk persiapan pernikahan Meli.

__ADS_1


bersambung


__ADS_2