Cinta Melati Cinta

Cinta Melati Cinta
Melati Sakit..


__ADS_3

Suara azan bergema di sebuah masjid yang terletak di komplek tempat keluarga Hendrawan tinggal.


Melati sudah terjaga dari tadi. Sepanjang malam ini, hanya sebentar saja matanya terpejam. Selebihnya masih melek sampai azan subuh berkumandang.


Tubuhnya terasa lemah. Dari kemarin hanya sedikit sekali makanan yang masuk ke dalam tubuhnya. Melati merasa tubuhnya agak meriang. Kurangnya asupan makanan membuat tubuhnya jadi lemas.


Setelah azan subuh hilang dari pendengarannya, gadis itu langsung berjalan ke kamar mandinya. Mandi pagi seperti biasa lalu mengambil wudhu untuk menunaikan ibadah shalat Subuh.


Tak lebih dari lima belas menit, Melati sudah keluar kamar mandi. Lalu mengambil mukenah dan Sajadahnya. Kemudian melaksanakan sholat sunat Subuh dan shalat Subuh.


Setelah selesai melaksanakan shalat nya, Melati menoleh kearah pintu. Sebuah ketukan di pintu kamarnya membuat Ia membangkitkan tubuhnya lalu berjalan untuk membukakan pintu kamarnya. Di depannya berdiri Mbok Sri. Dengan membawa baki berisi makanan dan minuman.


"Non ini Mbok bawakan sarapan. Sarapan dulu ya, karena sebentar lagi non akan ke Hotel untuk di rias oleh MUA yang sudah di pesan Nyonya,"


"Ya Mbok. Makasih." Mbok Sri masuk ke dalam kamar Melati lalu meletakkan baki berisi makanan itu di meja.


"Makan ya non," ulangnya lagi sambil menatap wajah Melati yang terlihat pucat.


"Non sakit? Kok wajahnya pucat sekali?" Mbok Sri menatap wajah Melati dengan tatapan cemas. Melati tertunduk.


"Udah kalo gitu Non buruan makan. Biar nggak lemes waktu di rias nanti," saran Mbok Sri sambil mengambil kembali nampan berisi makanan itu dan memberi kan nya pada Melati.


"Ayo Non..makan. Jangan di tunda lagi. Mumpung anget,"


"Duh males banget Mel makan Mbok!" tolaknya lirih.


"Nggak, jangan gitu Non sini Mbok suapi. Non jangan gitu. Hari ini acaranya padat. Jangan sampai Non sakit. Kan hari ini hari pernikahan Non dengan Den Randy," Mbok Sri kembali mengingatkan. Melati tak dapat menolak. Satu suapan bubur ayam masuk ke dalam mulutnya. Dengan malas makanan itu langsung di telannya. Rasanya pengen muntah, mungkin karena dari semalam tak ada makanan yang masuk ke dalam perut nya.


"A..a..Non..paksain makan nya!" perintah Mbok Sri menyuruh Melati membuka mulutnya. Baru tiga suapan masuk ke dalam mulutnya. Dan suapan keempat Melati merasa perut nya makin mual.


"Udah Mbok. Nanti aja. Mel minum aja, makin mual Mbok," tolaknya dengan suara bergetar.


Mbok Sri mendesah pelan. Kecemasan memenuhi rongga dadanya.


"Ya udah, Non terusin makan nya. Ini minumannya di habiskan. Mbok keluar dulu," ujar wanita setengah baya itu di jawab Melati dengan anggukan lemah.


Mbok Sri bergegas turun ke lantai satu berjalan di tangga dengan lincah. Agak tergesa. Karena Ia harus cepat memberi tahu sang Nyonya besar, kalau calon pengantin tubuhnya sedang tidak baik-baik saja. Mbok Sri sangat cemas. Setelah tiba di lantai satu, wanita itu berlari kecil menuju kamar sang majikan. Mengetuk pintu kamar itu dengan suara yang kuat.


Suara pintu di buka membuat hati Mbok Sri lega.


"Sri? ada apa?" Anita terkejut menatap wajah kepala Art itu tampak berkeringat, dan terlihat kacau.

__ADS_1


" Nyonya, maaf. Saya mengangguk tidur Nyonya dan Tuan. Tapi ini sangat penting. Non Mel saya liat badannya lemah sekali." ujarnya dengan cemas.


"Kamu tau dari mana Sri. Ini masih pagi juga. Jangan ngelantur kamu!" bentak Anita gusar.


"Nyah..saya baru dari kamar Non Mel..nganterin sarapan. Karena saya pikir Non pasti butuh sarapan pagi ini. Karena jam enam akan ke hotel untuk di rias. Pas saya liat kok Non Mel kayaknya kurang tidur dan pucat banget muka nya. Saya cemas Nyah. Apa Nyonya nggak mau liat Non Mel?"


"Dimana dia?" Anita kemudian keluar kamar masih dengan daster melekat di tubuhnya.


"Di kamarnya Nyah. Silahkan liat. Saya takut nanti Non Mel pingsan. Soalnya Mukanya pucat banget,"


"Ya udah, saya akan ke atas. Kamu jangan lupa siapkan sarapan buat kami. Karena sebentar lagi kan orang salon akan datang."


"Injeh Nyonya. Semua masakan sudah siap. Tinggal menghidangkan saja." sahutnya.


"Ya sudah." Anita langsung berjalan ke arah tangga menuju kamar Melati. Sementara Mbok Sri berjalan ke arah dapur. Untuk menyuruh para pelayan segera menyiapkan makanan sarapan pagi untuk keluarga Tuan Hendrawan.


"Mel...Mel..nak buka pintunya!" Anita mengetuk pintu kamar Melati. Tapi tak ada sahutan dari dalam kamar.


"Mel...kamu masih di kamar kan?" Anita bertanya sambil mengetuk keras daun pintu kamar Melati. Tapi tetap tak ada jawaban. Anita makin resah. Karena tak ada jawaban, wanita itu memutuskan untuk membuka pintu kamar Melati.


"Ceklek.." pintu kamar Melati terbuka. Ternyata kamar Melati tidak di kunci. Saat masuk ke dalam kamar Melati, wanita itu tak melihat Melati di kamar. Anita mengedarkan pandangannya pada setiap sudut kamar putrinya.


"kok nggak ada?" gumamnya pelan.


Anita lalu mengetuk pintu kamar mandi.


"Mel..kamu di dalam nak?" tanya Anita sambil menempelkan telinganya di pintu kamar mandi.


"Sayang...kamu di dalam?" ulang Anita dengan suara lebih keras. Tak lama pintu kamar mandi terbuka sedikit. Muncul wajah Melati yang masih basah oleh air.


"Mi..kenapa?"


"Tadi Mbok Sri bilang kamu nggak enak badan.Makanya Mami kesini," Melati lalu melebarkan daun pintu kamar mandi lalu berjalan keluar. Anita menatap Melati yang berjalan di depannya dengan perasaan risau.


"Iya Mi...badanku nggak enak. Ini habis muntah.."


"Mel..kenapa bisa begitu?" Melati hanya menggeleng.


"Nggak tau Mi..kenapa dengan perutku" jawabnya berbohong. Padahal sudah dari seharian kemarin dia nggak makan. Jelas aja perut nya masuk angin.


"Sudah makan?"

__ADS_1


"Udah tadi, diantar sama Mbok Sri. Tapi nggak nafsu Mi. Mungkin udah keduluan angin kali ya?" suara Melati terdengar bergetar.


"Ya sudah. Jam berapa kamu ke hotel. Sebaiknya kamu makan dulu.Setelah itu baru ke hotel. Nanti biar Pak Nanang yang antar."


"Ya Mi."


"Mami tunggu di ruangan makan Mel. Mami nggak mau kamu ngeles di suruh makan!" Anita lalu berjalan keluar kamar putrinya. Melati hanya terdiam. Matanya tampak berkaca-kaca akibat mual yang luar biasa di lambungnya.


Melati bergegas mengganti pakaiannya. Tanpa berbedak. Karena nanti juga akan di rias oleh penata rias. Setelah mengambil tas dan handphone nya yang di letakkan di dalam tas kecilnya.


Melati lalu meninggalkan kamarnya. Berjalan pelan menuruni anak tangga lalu setelah tiba di lantai satu, gadis itu langsung berjalan menuju ruang makan.


Ternyata Anita serius. Wanita itu memang menunggu Melati di meja makan. Karena kalau tidak di awasi pas makan, bisa-bisa Melati tak makan sama sekali.


"Duduk sayang. Ini ada roti. Kalau mual makan nasi atau bubur, kamu bisa makan roti aja."Ujar Anita sambil menyodorkan potongan roti tawar ke arah Melati.Gadis itu mengangguk.


"Makasih Mi," sahutnya sambil mengambil roti itu kalau mulai menggigitnya pelan.


"Enak? Sudah Mami isi sama selai Raspberry, kan kamu suka sekali sama selai Raspberry. Selain itu biar nggak mual. Karena ada rasa asam manisnya sedikit,"


"Ya Mi."


"Habiskan. Ini ada air putih hangat di kasi gula sedikit. Biar lega lambungnya,"


"Mami udah kayak dokter aja," seloroh Melati sambil terkekeh pelan. Tawa Melati membuat perasaan Anita agak tenang.


"Aku udah selesai makan nya Mi. Aku pamit dulu ya," ucap Melati sambil mengambil tangan Anita lalu mencium punggung tangan wanita itu. Anita lalu tersenyum. Dan memeluk tubuh Melati dengan erat.


"Hati-ati ya sayang,"


"Sri...kasi tau Pak Nanang kalau Mel udah siap diantar ke hotel," teriak Anita memanggil Mbok Sri.


Mbok Sri berjalan tergopoh-gopoh.Tubuhnya yang gemuk membuat dia seperti bola yang bisa saja menggelinding saat terjatuh. Pelayan senior itu langsung menemui Pak Nanang yang sudah menunggu Melati di teras.


"Pak...Non Mel udah siap."


"Oh ya Sri. Baik lah. Saya hidupkan dulu mesin mobil." ujar pak Nanang sambil berjalan menuju mobil sedan mewah itu.


Melati langsung berjalan dengan sang Mami menuju teras depan rumah. Tampak Pak Nanang sudah masuk ke dalam mobil. Lalu turun dan membukakan pintu untuk Melati. Melati kemudian masuk ke dalam mobil. Saat mobil sudah bergerak akan keluar halaman rumah. Melati melambaikan tangan pada sang Mami dan Mbok Sri.


"Heem..ada -ada aja ya Mbok Sri. Saya jadi cemas," ucap Anita sambil masuk ke dalam rumah di ikuti oleh Mbok Sri di belakangnya.

__ADS_1


Anita kemudian kembali ke kamarnya. Untuk mandi. Karena jam enam pagi ini perias dari salon akan datang untuk mendandaninya dan putrinya Meli.


...****************...


__ADS_2