Cinta Melati Cinta

Cinta Melati Cinta
Kenangan pahit Randy


__ADS_3

"Assalamu'alaikum, Li..apa kabar?" sapa Anita malam itu lewat sambungan telponnya.


"Wa'alaikumsalam. Alhamdulillah Mih..aku baik."


"Kapan kamu pulang?"


"Belum tahu Mih..mungkin bulan depan, menyelesai kan urusan sidang dulu." jawab Lili singkat.


Anita yang mendengarkan ucapan Meli mendesah sambil menengadahkan kepalanya.


"Mami cuma mau nanya. Gimana hubungan kamu dengan pria bule itu. Apa kamu serius berhubungan dengannya?" tak tahan Anita akhirnya bertanya juga tentang hubungan antara Meli dan pria bule itu.


"Nanti aku cerita Mih. kalau udah pulang ke Indonesia," Meli mencoba menghindar.


"Kenapa bukan sekarang? Mami butuh kejujuran dan ke terus terangan kamu Li." ungkap sang Mami tak sabaran.


Meli menggaruk kepalanya yang tak gatal. Kenapa si Mami begitu kepo dan ingin tahu? bisik nya dalam hati.


"Sabar Mih..bukan saat yang tepat untuk bertanya sedetail itu padaku." protes Meli. Wajah sang Mami mendadak muram.


"Ya sudah. Tapi Mami harap kamu cepat pulang selepas sidang Skripsi kamu," ujar Anita mengingatkan.


"Ah iya Mami sayang. Nanti aku kabari kalau semua urusanku selesai,"


"Udah dulu ah Mih... Assalamualaikum."


"Waalaikumsalam," sahut Anita sambil memutus percakapan mereka terlebih dahulu.


Anita menarik nafas dalam. Saat sambungan telpon telah terputus.Hatinya begitu kacau mengingat sikap cuek Meli.


Anita hanya bisa pasrah. Berharap semoga Allah memberi yang terbaik buat putrinya.


*****


"Mel...kita jalan keluar yuk," ajak Randy saat pria itu sudah berada di rumah Melati.


"Ya . Aku izin sama Mami dulu ya Mas," Melati menjawab menjawab sambil bangkit dari duduknya di ruang tamu.


Randy mengangguk. Menatap Melati yang berlalu dari hadapannya.


"Mi...Mel izin ya keluar sama Mas Randy." amit Melati padang sang Mami. Wanita itu sedang asyik menonton acara televisi, Sinetron di tv ikan terbang.

__ADS_1


"Ada Randy di ruang tamu?"


"Ya Mi...Mel ke kamar dulu ya mau siap-siap," di sahuti anggukan oleh Anita. Anita beranjak dari duduknya menuju ruang tamu. Untuk menemui Randy.


"Randy...apa kabar?" sapa Anita setelah sampai di ruang tamu. Randy yang menekuri ponsel di tangannya mengalihkan tatapannya kearah Anita yang berdiri di sampingnya.


"Tante..." sahutnya berdiri lalu menyalami wanita setengah baya itu.


"Alhamdulillah naik Tan.."sambungnya.


"Lama ya nggak main ke sini," kata Anita sambil duduk di sofa mewah depan Randy. Dokter muda nan tampan itu tersenyum pada Anita.


"Iya Tan.. aku baru pulang dari luar kota juga. Tambah kesibukan di Rumah Sakit dan sesekali mengajar di Kampusnya Mel," Anita terkesima mendengarkan cerita Randy. Tersenyum kagum pada pemuda bergelar dokter ahli penyakit dalam itu.


"Ngajar di Kampusnya Mel juga ? Masha Allah ..kamu emang luar biasa, bangga Tante dengernya," puji Anita dengan senyum tulusnya.


Randy tersenyum menatap wanita setengah baya yang masih terlihat cantik di usianya yang sudah tidak muda lagi.


"Makasih Tante untuk pujiannya. Tapi saya nggak sesempurna seperti yang Tante kata kan tadi," sahut Randy tersenyum simpul.


"Mi..aku jalan sama Mas Randy dulu ya?" ucap Melati membuat Randy dan Anita menatap ke arah datangnya suara.


"Eh sayang., kamu udah siap?..Ehmn cantik sekali gadis nya Mami..,"puji Anita di setujui Randy dengan anggukan.


"Ayo kalo gitu .kita berangkat," ajak Randy sambil bangkit dari duduknya. Di jawab anggukan oleh Melati.


"Tan..saya ajak Mel keluar dulu ya. Udah lama nggak jalan bareng dan bertemu." pamit Randy. Anita tersenyum manis.


"Ya..hati-hati sayang" Anita mengantarkan Randy dan Melati sampai di teras rumah mereka.Anita baru masuk ke dalam rumah saat mobil Randy sudah tak terlihat lagi di jiibalik pagar tinggi rumah nya.


"Gimana kabar kamu Mel. Kita jadi jarang bertemu karena akhir-akhir ini Mas sibuk bangkit."


"Kan kita masih ketemu saat Mas masuk ke kelas Mel di kampus," ucap Melati yang di sahuti dengan anggukan oleh Randy.


"Mas pengen ngajak kamu jalan. Tapi nggak tau kamu mau kemana?" ujar Randy sambil menatap Melati sekilas yang duduk di sampingnya yang sedang menyetir mobil nya.


"Wah..Mel nggak tau Mas..kemana? Kan Mel penduduk baru di Jakarta ini," jawab nya dengan wajah tertunduk.


"Ok..kalau gitu kita nonton aja ya..abis itu kita makan, Gimana setuju nggak?" Melati mengangguk setuju. Selama perjalanan mereka hanya diam. Tak ada yang memulai untuk sekedar berbincang. Mereka diam seribu bahasa.


Setelah tiba di parkiran Mall. Keduanya berjalan ke arah pintu utama Mall itu. Berkeliling melihat berbagai produk dipajang pada gerai - gerai ternama ,baik sepatu, baju dan lainnya.

__ADS_1


Karena studio twenty-one berada pada lantai atas. Keduanya memasuki lift dengan beberapa orang lainnya. Setelah sampai di lantai paling atas, mereka berjalan beriringan menuju Bioskop. Memasuki pintu utama Studio itu ,Melati dan Randy langsung ke kasir. untuk memesan dua tiket. Setelah mendapatkannya, keduanya berjalan kearah kursi tunggu. Karena film yang akan mereka tonton belum mulai.


"Mel..nggak pesan minuman dan makanan apa gitu?" tawar Randy sambil menatap gadis cantik di sebelahnya.


"O, ya . Mas mau makan apa? Nanti Mel belikan." Randy menggeleng.


"Yuk kita pilih sama-sama," ajak nya sambil menarik tangan Melati. Melati kemudian bangkit dari duduknya berjalan mengikuti Randy yang akan ke outlet makanan kecil.


Setelah memesan minuman dan makanan kecil. Keduanya langsung masuk ke dalam bioskop. Karena studio 2 tepat mereka akan menonton pintunya sudah terbuka. Gadis-gadis cantik yang menunggu mereka di dekat pintu masuk menyambut dengan ramah. Randy memberikan dua tiket untuk di sobek bagian kecil nya dari tiket itu lalu memberi kan dua lembar tiket tadi ke tangan Melati. Keduanya kemudian masuk dan mengambil tempat di tengah dari dua barisan paling atas . Beberapa saat film sudah di mulai. Keduanya hanyut dalam alur cerita film.


Tepat dua jam mereka berdua menghabiskan waktu di dalam bioskop. Setelah film selesai, keduanya langsung keluar. Berjalan menuju pintu ke luar. Turun melalui lift, kemudian keluar langsung ke lantai satu. Di lantai satu Randy dan Melati langsung keluar Mall. Karena beberapa gerai dan outlet banyak yang tutup. Hari sudah menunjukkan ke pukul setelah sepuluh malam.


"Lapar kan Mel? Kita cari tempat makanan yang buka 24 jam ya.." kata Randy setelah masuk ke dalam mobil nya, sebelumnya membukakan pintu samping untuk Melati.


"Terserah sama Mas aja. Tapi Mel nggak biasa jalan di malam hari seperti ini. Jangan sampai pulang jam 12 malam ya Mas. Nggak enak sama Papi dan Mami." di sahuti anggukan oleh Randy.


Mobil Randy berhenti pada sebuah Restoran dengan gaya pedesaan. Tiap ruangan di buat bilik terbuka dengan masing-masing menyediakan meja dan kursi lesehan.


Randy membawa Melati ke bilik nomor 2. Nampaknya masih kosong, dan belum terisi. Sementara bilik-bilik yang lain sudah terisi orang yang menikmati makan malamnya.


Saat mereka masuk ke bilik terbuka itu, seorang pelayan pramusaji pria datang menghampiri mereka dengan buku menu di tangannya.


Setelah mengucap selamat malam. Sang Pramusaji menanyakan makanan yang akan di pesan Randy dan Melati.


Pramusaji meninggalkan mereka saat semua pesanan sudah selesai di catat.


"Mel..Mas mau bicara sebenarnya sama kamu," Melati menatap Randy saat pria itu memulai pembicaraannya.


"Ada apa Mas..Kok serius amat," selorohnya sambil tersenyum manis pada Randy.


"Apa ku masih dekat dengan Resnu?" mata Melati tampak menatap mata Randy lekat. Lalu menjawab dengan gelengan. Mata Randy berubah binar. Mata almond itu tampak mengisyaratkan kebahagiaan.


"Alhamdulillah," sahutnya singkat. Mata Melati membesar mendengar ucapan Randy.


"Maksud Mas apa?" ujar nya lirih. Mata yang tadi nampak bercahaya, jadi meredup kembali. Mata itu mulai berkaca-kaca.


Randy terdiam. Setelah melihat reaksi Melati. Sungguh tak di sangka jika Melati masih mencintai Resnu. Hati Randy merasa sakit.


Dulu, saat masih kuliah di Fakultas Kedokteran, Randy pernah jatuh cinta dengan sahabatnya. Randy saat itu mempunyai 2 sahabat karib, Iqbal dan Aline. Kedekatan mereka bertiga membuat Randy jatuh cinta pada Aline. Aline gadis yang cantik. Mereka sama -sama kuliah di fakultas yang sama. Namun saat kuliah mereka hampir berakhir, Randy ingin mengutarakan niatnya untuk mencintai Aline.


Waktu itu, malam minggu. Malam yang di tunggu-tunggu muda- mudi. Randy melangkah kan kaki nya ringan ke teras rumah Aline. Tapi siapa sangka, jika saat Randy akan memasuki teras. Mata Randy menatap Iqbal dan Aline saling menautkan bibir mereka. Ciuman itu berlangsung lama.

__ADS_1


Jantung Randy berdetak kencang. Amarah dan kecewa memenuhi rongga dadanya.


__ADS_2