Cinta Melati Cinta

Cinta Melati Cinta
Rencana menggerebek rumah itu


__ADS_3

Tak berapa lama iring- iringan dua buah mobil berjalan menuju rumah kosong itu. Setelah tiba di depan rumah, kedua mobil itu berhenti, beberapa anggota Pak Harjo keluar dari dalam mobil. Salah seorang membukakan pintu untuk Pak Harjo. Pria tua bertubuh tinggi besar itu keluar dari dalam mobil. Beberapa anggotanya yang menanti di depan mobil membungkuk hormat padanya.


Pria itu mengangguk lalu masuk ke dalam rumah yang pintunya sudah terbuka lebar.


Polisi yang menyamar menjadi petani sambil mengambil rumput di depan rumah itu menatap intens pada pergerakan yang terjadi di depan rumah itu.


Ada hear free yang menempel di telinganya. Pria itu bercakap- cakap dengan suara pelan dengan atasannya yang tak lain adalah Fahmi.


"Bagaimana dengan pergerakan yang terjadi di depan?"


"Mereka yang di dalam mobil sudah masuk Pak. Namun ada seorang yang sepertinya berprofesi sebagai petugas KUA," jelas sang petani palsu.


"Baik. Ikuti terus pergerakannya, kalau terdengar sesuatu. Segera laporkan.Secepatnya akan kita gerebek," ucap Fahmi.


"Siap Pak. Dalam waktu lima menit bapak dan rombongan bisa langsung ke sini,"


"Baik," sahut Fahmi. Lalu mematikan sambungan telponnya.


Pria itu kemudian mencari nama Hendrawan di dalam kontak ponselnya .Setelah mendapat nomor sepupunya itu, pria itu menekan tanda panggilan pada layar handphonenya.


"Halo Mas..sebaiknya Mas dan rombongan bergerak pelan ke arah kami. Tapi jangan masuk ke halaman rumah. Cukup menunggu seperti kami di sini. Setelah itu nanti saya beri aba-aba," Fahmi menjelaskan dengan suara pelan.


"Ok Mi..kami segera kesana," pria itu kemudian mematikan sambungan handphone nya. Kemudian menyuruh Reyhan,Randy dan Pak Hardi masuk ke dalam mobil dengan isyarat tangannya.


Setelah membayar sejumlah makanan yang mereka pesan tadi. Randy segera menyusul Reyhan, Hendrawan dan Pak Hardi ke dalam mobil.


"Kita menyusul rombongan Fahmi. Katanya tadi mereka berkumpul di belakang pepohonan di samping rumah tempat Melati di sekap." Semua yang ada di mobil mengangguk paham.


Mobil bergerak meninggalkan halaman warung kopi. Lalu berbelok ke sebelah kiri Jalan Banyuwangi. Dengan perlahan mobil menyusuri jalan dengan hutan di kiri kanan jalan. Semua hening. Tak ada suara yang keluar dari bibir mereka.

__ADS_1


"Belok kiri Pak Hardi.Kita masuk ke dalam hutan." perintah Hendrawan.


"Apa tempatnya disana bagus dan tanahnya keras Tuan?" tanya Hardi agak ragu.


"Ya..tempatnya bagus, tanah keras.Masuk saja ke sana ya ke kiri," Hendrawan memberi petunjuk pada Hardi. Pria berusia 40 tahun itu mengangguk lalu tetap menjalankan mobilnya ke arah sesuai petunjuk Hendrawan.


Setelah masuk ke hutan di sisi kanan terdapat sebuah mobil terparkir dengan rapi. Seperti kata Hendrawan , tanah di hutan ini cukup padat dan kering. Sehingga tak menyulitkan saat mobil masuk. Apalagi jarak antara satu pohon ke pohon yang lain agak berjauhan. Kemudian Pak Hardi menghentikan mobil yang Ia kemudi. Sambil menatap Hendrawan yang duduk di sampingnya.


"Stop di sini Tuan?" di sahut anggukan oleh Hendrawan.


"Ya, kita tunggu di sini. Sambil bersiap kalau ada arahan Fahmi untuk ikut masuk ke dalam rumah itu." Hendrawan membuka pintu dan langsung keluar mobil itu. Di ikuti oleh Reyhan dan Randy.


"Kamu tunggu di mobil aja Di. Sambil menunggu aba-aba dari Fahmi,"


"Baik tuan. Saya tunggu di mobil," pria itu mengangguk . Dan tetap duduk di belakang kemudi.


"Kita tunggu instruksi om kamu, sabar!" ujarnya mengingatkan.


"Apa kabarnya Mel ya Pi?" tanya Reyhan. Hendrawan tersenyum menatap putra sulungnya. Lalu menepuk lembut bahu Reyhan.


"Kangen? Randy lebih kangen lagi sama Melati!" sahut Hendrawan sambil menatap wajah Randy lekat. Pria muda yang sudah menjadi menantunya itu menaikan alisnya. Dengan tatapan penuh tanya. Reyhan dan Hendrawan terkekeh bareng.


"***** *****.." suara ponsel Hendrawan berbunyi membuat pria setengah baya itu menatap ponsel yang tergenggam di jemari tangannya. Tertulis nama Fahmi di sana.


"Ya Halo Mi? gimana?" Hendrawan menyapa Fahmi dengan suara pelan.


"Mas ikut kami! kita mulai gerebek mereka. Melati sudah berada di ruang tamu itu. Sepertinya akan segera menikah dengan bandot tua itu!"


"Baik Mi..kami segera ke sana," Hendrawan kemudian mematikan sambungan telponnya.

__ADS_1


"Kita ke rumah itu sekarang. Fahmi sudah ngasi instruksi," ujar Hendrawan. Keempat pria itu kemudian berjalan beriringan menuju ke rumah itu. Gak lama ke empat pria itu sudah tiba di depan pagar bonsai rumah usang itu.


Di sana keempat orang itu melihat anak buah Fahmi memukul dan melumpuhkan dengan mudah kawanan yang menjaga rumah itu . Dua Diantaranya mengikat anak buah Pak Harjo di sebuah pohon Jati di samping rumah itu. Kemudian dengan mudah anak buah Fahmi yang dua lagi melumpuhkan dua orang lainnya. Lalu mengikatkannya juga ke sebuah pohon asam yang tumbuh tinggi dan kokoh.


"Wah Om..kenapa nggak ngajak kita untuk baku hantam sama mereka?" tanya Reyhan agak kesal.Pria bertubuh tinggi tegap dan berwajah tampan di usianya memasuki 45 tahun itu menjawab dengan tersenyum.


"Mereka akan melaksanakan ijab kabul tuh. Ayo buruan kita kacau," ajak Fahmi . Keempat anak buah Fahmi mengikuti langkah atasan dengan langkah cepat. Sambil bersiap dan waspada dengan menggenggam pistol di tangan mereka masing-masing. Hendrawan, Reyhan , Randy dan Hardi tak ketinggalan mengikuti dari belakang.


"Tok..tok..tok," bunyi ketukan di pintu yang terbuka sedikit daun pintunya membuat semua orang yang berada di dalam langsung menoleh ke arah luar pintu Mereka melihat seorang pria nampak dari sela pintu yang terbuka.


"Assalamualaikum." sapa Fahmi sopan.


"Eh Bos..emangnya ngundang orang ya?" tanya pria botak heran. Pak Harjo menggeleng merasa tak mengundang siapa pun di acara nikahan dia dan Melati.


"Coba kamu tanya ada perlu apa? Baron ayo maju!" perintah Paka Harjo. Baron mengangguk lalu berjalan ke arah pintu. Membuka daun pintu setengah. Lalu menatap tajam pria yang ada di depannya. Pria tampan bertubuh tinggi tegap.Siapa pria ini?


"Cari siapa?" tanya Baron dengan tatapan menyelidik.


"Nyari Pak Harjo. Apa saya bisa bicara dengan beliau?" tanya Fahmi masih dengan gaya sopan.


"Tuan lagi sibuk? Kalau ada perlu sama saya saja!" bentaknya. Fahmi tak menghiraukan bentakan pria bertato itu. Matanya menatap sekeliling. Mencoba menghitung orang yang berada di dalam ruangan itu.


"Ehem gini. Saya mau pinjam uang. Kata orang rumahnya, Pak Harjo ada di sini," ucap Fahmi cuek. Tanpa menatap Baron sedikitpun. Baron sangat kesal. Dia yang mengajak bicara, tapi mata pria itu berkeliaran menatap ke arah dalam rumah.


"Apa maksud kamu kesini? bilang yang jujur?" Jangan bikin saya emosi. Kamu belum pernah ya kena bogem mentah saya?" tanya Baron dengan suara tinggi. Fahmi hanya menjawab dengan senyuman. Membuat emosi Baron makin meluap.


"Siapa pria ini, berani sekali membuat saya marah," bisik baron dalam hati.


bersambung

__ADS_1


__ADS_2