
Mentari pagi sudah menampakkan wujudnya. Sinarnya memberikan cahaya sangat di penjuru bumi. Bu Ratih sibuk menyiapkan sarapan pagi untuk suaminya, pak Herman. Biasanya pagi begini Pak Herman sudah sibuk di kebunnya. Tapi pagi ini pria tua itu belum pergi ke kebun. Pria itu sibuk melihat catatan. Entah catatan apa. Dari belakangnya bu Ratih mengintip apa yang tengah di baca suaminya.
"Pak.." sapa Bu Ratih membuat pria itu terkejut lalu menyimpan catatan itu di saku kemejanya.
"Hayo bapak nyimpan apa?Tadi Ibu lihat Bapak membawa catatan apa? cerita sama Ibu, Pak!" pria itu membalikkan badannya kearah istrinya. Dan menatap Bu Ratih dengan senyum simpul.
"Tidak ada kok Bu..hanya lihat surat-surat Melati saja. Kok Bapak Jadi kangen ya sama anak kita Bu.." ujarnya sambil menghela nafas panjang. Bu Ratih melihat kerinduan di mata pria tua itu. Sudah tempat hari Melati pergi dari rumah mereka. Sampai sekarang tidak ada kabar. Wajar saja kalau suaminya merindukan putri angkatnya itu. Bu Ratih pun sebetulnya merindukan Melati. Tapi dia harus tahu diri. Melati sudah bertemu dengan Keluarga aslinya. Tak mungkin rasanya merusak kebahagian putri angkatnya itu. Selagi asyik ngobrol dengan istrinya. Pak Herman di kejutkan dengan suara gedoran pintu rumahnya. Biasanya kalau ada tamu mereka mengetuk saja pintu rumahnya. Tapi kali ini berbeda, bukan ketukan tapi gedoran. Mereka berdua saling bertatapan. Seakan tahu siapa yang datang.
"Sudah..Bapak di sini saja, biar Ibu yang hadapi mereka," ujar Bu Ratih sambil berjalan keluar kamar.
"Tidak Bu..jangan, Ibu saja yang tetap disini. Biar Bapak yang menghadapi," tukas Pak Herman sambil berjalan mendahului istrinya. Akhirnya mereka berdua berjalan beriringan menuju ke ruang tamu. Setelah tiba depannya pintu , Pak Herman membuka daun pintu dan tiga orang laki-laki, yang dua jelas debt colector nya Pak Harjo. Pria yang satu lagi jelas Pak Harjo..tersenyum miring menatap Pak Herman.
"Waktu yang saya tentukan sudah selesai Man..kamu tahu saya sudah ngasi solusi. Kalau kamu nggak sanggup bayar kamu bisa kasih anakmu untuk jadi istriku yang ke 6..tapi sampai saat ini uang saja tak ada apalagi menyodorkan anakmu padaku, heh..gayamu itu seperti tidak takut saja pada Harjo Wiratmojo yang terkenal paling kaya di desa ini..hah..ha hahaha.." ujar Pak Harjo sambil tertawa terbahak-bahak. Pak Herman cuma bisa terdiam. Ibu Ratih yang ada di belakang suaminya cemas bukan main. Dia takut pria itu akan mencelakai suaminya.
"Saya minta maaf Pak Harjo, karena belum bisa melunasi hutang -hutang saya. Sebenarnya kalau bunganya tak setinggi itu, Insya Allah saya bisa melunasinya. Rasanya saya sudah cukup membayarnya, kalau di hitung sudah lunas Pak Harjo, tapi karena bunganya yang mencekik..mohon maaf saya belum bisa membayarnya. Mudah-mudahan kalau ada rezeki saya bisa melunasi bunganya," kata Pak Herman dengan tegas. Wajah Pak Harjo langsung memerah, bukan main kesalnya pria itu demi mendengar kata-kata Pak Herman yang seperti meremehkannya. Apa dia tidak tahu dengan aku, orang terkaya di kampung ini, bisik nya dalam hati.
"Aku tidak mau tahu Man..aku maunya hutangmu lunas hari ini. Kalau tidak, anak gadismu aku ambil untuk jadi istriku." sahutnya kemudian. Sambil memberi kode pada anak buahnya untuk merengsek masuk ke dalam rumah Pak Herman.
__ADS_1
"Hei..jangan sembarangan masuk rumah orang,..tidak ada sopan santun ya kalian...pergi...pergi!" hardik Bu Ratih.
"Biar saja, mereka mencari anak gadismu yang ayu itu Ratih!" bentak Pak Harjo marah. Anak buah Rentenir itu mencari Melati ke setiap sudut rumah. tapi hasilnya nihil. Kedua pria tadi memberi kode bahwa Melati tidak ada di rumah ini. Pak Harjo yang tahu bahasa isyarat kedua anak buahnya langsung menatap Pak Herman tajam.
"Berani kamu padaku ya Man..luar biasa..kemana anak gadismu yang ayu itu. Kenapa tidak ada di sini?" tanyanya kesal.
"Maaf Pak Harjo..Melati bukan anak kandung saya, dia memiliki orang tua kandung. Sekarang dia ada di kota.Tinggal bersama orang tua kandungnya," kata Pak Herman menjelaskan semuanya.
"Bagaimana bisa? kan selama ini Melati tinggal denganmu, kau asuh dari bayi. Ah aku tak percaya, kamu pasti berbohong. Kamu sengaja menyuruh Melati kabur. Agar tak jadi menikah denganku..begitu kan?" tanya Pak Harjo dengan wajah masam, tangannya terkepal. Menahan geram.
"Sungguh saya tidak bohong Pak.." ujar Pak Herman menyakinkan. Tapi pria tua itu tak menggubris ucapan Pak Herman. Dengan sekali kode, kedua pria anak buah pria tua itu, langsung mendekati Pak Herman, lalu memukul kuat perut Pak Herman.Pak Herman terpelanting kebelakang lalu terduduk sambil memegang perutnya. Namun kawan pria yang satu lagi menarik tangan Pak Herman agar berdiri lagi. Lalu memukul perut Pak Herman dengan dua kali pukulan. Pak Herman langsung tak sadarkan diri. Ibu Ratih yang melihat kejadian itu hanya bisa memekik, lalu berlari mendatangi suaminya yang sudah terkapar di tanah. Suara tangis Ibu Ratih membuat beberapa tetangga yang tidak jauh dari rumahnya berlari mendekati Pak Herman yang terkapar pingsan. Melihat Pak Herman pingsan. Pak Harjo dan anak buahnya meninggalkan kediaman Pak Herman. Para tetangga yang menolong Pak Heran masuk ke dalam rumah sempat terkejut melihat Pak Harjo yang berlalu dari hadapan mereka.
"Kami punya hutang dengan Pak Harjo Pak Rusli. Karena tidak dapat uang jadinya Bapak di pukul sama anak buah rentenir itu," jawab Bu Ratih sambil menyusut air matanya.
"Ya sudah Bu Ratih , apa Ibu punya minyak kayu putih. Kalau ada gosok saja di hidung Pak Herman. Biar beliau siuman," Bu Ratih langsung menyerahkan sebotol minyak kayu putih. Lalu meletakkan minyak itu di hidung suaminya. Beberapa menit kemudian Pak Herman terbangun. Matanya bergerak - gerak mencari seseorang.
" Melati..Melati...dimana kamu nak?" tanyanya dengan mata berkaca-kaca.
__ADS_1
"Pak..Bapak..sadar Pak..Melati kan sudah ke kota menemui orang tuanya," sahut Ibu Ratih menangis. Pak Herman menatap wajah istrinya.
"Bu..kenapa Ibu menangis?"
"Apa sakit Pak, di pukul anak buah Pak Harjo?" tanyanya sambil menyusut air mata dengan punggung tangannya.
"Tidak Bu..Bapak lebih sakit kalau Melati dipaksa menikah dengan pria tua bangka itu. Sungguh Bapak tak rela Bu. Walaupun Melati bukan anak kandung kita tapi Bapak tak rela melihat dia bersedih dan merana Bu,"
"Bapak tenang saja, apa yang Bapak rasakan?" tanya Pak Rusli sambil memegang bahu Pak Herman.
"Rusli..terima kasih sudah menolong aku dan istriku..aku tidak merasa sakit Rus..hanya aku takut Pak Harjo menemukan Melati," jawabnya cemas.
" Bapak jangan kuatir, kita berdoa saja semoga Melati aman bersama orang tuanya,"
Pak Herman mengangguk sambil menatap sedih istrinya.
"Kalau Bapak tidak apa-apa..saya pulang dulu. Oya bu, nanti kalau Bapak merasa gak enak di perutnya, kasi tahu saya ya..biar saya antar ke dokter ," kata Pak Rusli kemudian pamit lalu berjalan keluar kamar meninggalkan kedua suami istri yang tengah dilanda cemas dan sedih.
__ADS_1
"Sebaiknya kita telpon Melati, Bu..Bapak cemas memikirkannya," ujar Pak Herman kemudian . Ibu Ratih mengangguk setuju.