
pria tampak duduk santai di depan sebuah rumah mewah. Pria itu melihat pergerakan yang terjadi di rumah mewah itu di dalam mobilnya.
Terlihat, beberapa pegawai dengan pakaian seragam sibuk membereskan halaman rumah dan memasangkan beberapa tenda untuk makanan. Tepatnya sebuah perusahaan catering, sedang memasang peralatan catering di halaman luas itu. Seorang wanita setengah baya dengan di balut pakaian gamis dan jilbab panjang yang terpasang menutupi kepalanya. Sibuk mondar-mandir memberikan instruksi pada pria-pria berbaju seragam.
"Ya letakkan di sana. Hem jadi cantik toh?" ucap nya pada seorang pria yang membantunya menyusun semua perlengkapan catering.
" Mbok Sri...Nyonya tanya semua hantaran mana?" Mining sang art bertanya pada kepala pelayan yang sedang sibuk di teras depan. Wanita yang di panggil menoleh ke arahnya.
"Oh..saya tarok di kamar Non Meli.." sahutnya sambil sibuk memperhatikan kerja pegawai catering itu.
"Kok di tarok di sana?" tanya Nining bingung.
"Tempat yang aman ya di sana, Ning. Kan orang nya juga nggak ada. Di Aussie sana, kok kamu malah bingung ya?" Mbok Sri mendekati Nining. Janda beranak dua itu tersenyum malu.
"Maaf Mbok, soalnya saya dengar Non Meli bakalan pulang. Makanya saya bingung kok di letakkan di kamarnya Non Meli?" Mbok Sri terperangah mendengar penjelasan Nining.
"Kok saya nggak di kasi tau. Malah kamu yang lebih dulu tahu?" Mbok Sri menatap tajam wajah Nining. Nining cengengesan.
"Mbok...sini..." panggil Nining agar Mbok Sri mendekat padanya. Wanita itu kemudian mendekat ke arah Nining.
"Tadi saya curi dengar pembicaraan Tuan dan Nyonya.." bisik nya ke telinga Mbok Sri. Wanita itu menjauh kan wajahnya dari Nining.Lalu menatap tajam mata Nining yang sedang salah tingkah karena di tatap seperti itu.
"Kamu itu ya..Ish..pake nguping segala! Nggak boleh. Apa yang kamu dengar harus kamu rahasia kan!" geram Mbok Sri. Nining membulatkan matanya. Dia sungguh terkejut karena mendengar perkataan pelayan senior itu.
"Maaf Mbok.Nggak sengaja," sahutnya pelan. Mata Mbok Sri menatap tak senang.
"Sudah sana.Saya mau ke dalam dulu," Mbok Sri langsung masuk ke dalam rumah. Niatnya mau bertemu tuan dan Nyonya . Ingin mendengar kepastian kedatangan Meli.
" Nyonya?"
" Eh.. kamu Sri..sini..!"
"Iya Nyonya ada apa?"
__ADS_1
"Kamu letakkan dimana hantaran dari Randy?"
"Oh..di kamar Non Lili Nyonya," sahutnya dengan suara ketakutan. Takut salah saja dalam mengerjakan pekerjaan.
"Ehm..di situ..ya sudah kamu bersihin aja kamar Meli. Bentar lagi dia nyampe. Si Reyhan sedang menjemputnya di bandara,"
"Baik Nyonya," Mbok Sri melangkah ke kamar Meli
"Eh Sri..jangan pula kamu yang ngerjain. Kan pelayan yang lain ada. Kamu suruh aja Wati membersihkan kamar Meli. Setelah itu bersihkan kamar tamu. Bakal ada tamu jauh," perintah Anita.
"Baik Nya..nanti saya suruh Wati ngeberesin kamar Non Meli," di sahuti anggukan oleh Anita. Wanita itu lalu masuk ke kamarnya. Badannya amat letih. Seharian sibuk mengomandoi Art nya untuk merapikan dan menyusun perlengkapan Catering untuk tamu yang akan ikut ke Hotel besok pagi. Tentunya tamu itu keluarga dekat Anita dan Hendrawan. Beberapa sanak keluarganya sudah tiba dari berbagai daerah. Ada yang tinggal di Jakarta, ada juga yang dari luar kota dan menginap di sebuah hotel milik orang tua Randy .
Sementara itu pria yang mengawasi keadaan rumah Hendrawan, mengambil ponselnya, menekan tanda panggilan pada sebuah kontak.
"Hallo..Tuan. saya sudah melihat pergerakan yang terjadi di rumah Gadis itu. Dia memang mau menikah. Besok tepatnya. Acara akan berlangsung di sebuah hotel bintang lima di daerah jakarta timur." kata pria itu.
"Ok kau awasi terus dan cepat kasi kabar. Rencana A tetep berjalan. Siapkan orang untuk besok.!" perintah pria di seberang.
Pria itu hanya mengangguk.
Di kediaman Hendrawan.
"Mel...sedang apa?" Anita masuk ke dalam kamar putrinya. Melati menoleh ke arah suara. Lalu mengembangkan senyum manis pada sang Mami.
"Nggak ada Mi..hanya baca-baca buku aja. Seminggu lagi Mid semester," Sahutnya sambil memperlihatkan buku tebal yang sedang di bacanya.
"Sayang..besok kamu dah nikah sama Randy. Jadi belajarnya nanti saja ya. Fokus dengan pernikahan kamu ya sayang," bujuk Anita.
"Kan Mel lagi nggak ada aktifitas juga Mi. Sayang kalau nggak ada yang di kerjakan mendingan baca -baca aja,"
"Kamu terlihat tidak semangat sayang.Padahal besok hari paling bersejarah dalam hidup kamu,"
"Ya..kalau nikahnya sama orang yang kita cintai Mi," sahut Melati lirih.
__ADS_1
"Sayang..berusahalah untuk mencintai Randy. Selain seorang anak konglomerat dia juga seorang dokter dan pria soleh. Apa lagi yang mau kamu cari. Mami dan Papi pasti memilih kan yang terbaik buat kamu sayang," bujuk Anita sambil duduk di dekat sang putri. Melati menatap wajah sang Mami dengan tatapan sedih.
"Yang Mel kesalkan, kenapa bukan Meli saja yang nikah sama Mas Randy. Kenapa mesti Mel, Mi. Kan yang akan di jodohkan Lili Bukan Mel. Kenapa jadi begini?" tanya nya putus asa.
Anita hanya menarik nafas panjang.
"Sayang..kamu jangan menyesali semua yang terjadi. Papi menjodohkan salah satu dari kalian karena sudah ikrar papi dan papanya Randy saat masih sekolah di menengah atas dulu. Mereka memang beda usia. Tapi mereka akrab semenjak Om Tommy hanyut dalam sungai saat mereka kamping bersama saat sekolah dulu. Disitulah mereka jadi akrab. Sudah seperti saudara sendiri. Dan mereka sering berjanji. Kalau punya anak nanti di jodohkan. Itu ikrar mereka dulu,"
"Maaf Jika terkesan memaksa. Karena memang itu sudah perjanjian mereka," lanjut Anita menjelaskan sambil mengusap tangan sang putri. Melati tertunduk sedih.
"Tapi kenapa harus Mel, Mi..kenapa nggak Lili aja.Kan rencananya emang Lili yang akan nikah sama Mas Randy." suara Melati terdengar lirih. Lalu tangis pedih keluar dari bibirnya yang mungil.
Anita memeluk Melati erat. Air matanya ikut menetes. Ia safar, perjodohan ini amat berat bagi Melati. Menikah dengan orang yang tidak di cintai nya.
Apalagi hubungannya dengan Resnu bermasalah. Pakde pria itu pernah berkeinginan untuk mempersuntingnya. Apa tidak ribet masalahnya itu. Antara Resnu dan Pakde memperebutkan Melati. Hanya saja Resnu tak tahu apa alasan Melati menghindar darinya.
"Sudah sayang. Mami tahu dan paham. Kamu pasti kecewa dengan kami. Yang tiba-tiba menjodohkan kamu dengan Randy. Tapi percayalah. Apa yang kami beri buat kamu bukan yang buruk. Tapi yang terbaik.Mel mau kan membantu Papi. Perusahaan Papi kekurangan dana untuk membuat pabrik baru di daerah Jawa Timur. Itulah sebabnya Papi meminta kucuran dana segar dari Papa Randy, Om Tommy. Itu semua untuk kelangsungan perusahaan kita di Surabaya." bujuk Anita sambil menatap Melati. Lalu menyusut air mata di pipi putrinya dengan lembut.
"Iya Mi..Mel mengerti." sahut Melati sambil tertunduk sedih.
"Mami keluar dulu ya. Terusin aja baca-bacanya!" Anita kemudian keluar kamar Melati. Melati menjawab dengan anggukan.
Melati menarik nafas panjang. Tak tahu apa yang harus diperbuat.
Kembali membaca buku nya. Dan tenggelam dengan keasyikannya.
Di ruang keluarga Anita memanggil kepala pelayan nya.
"Sri...baju pengantin Melati udah disiapkan?"
"Sudah Nyonya. Semua perlengkapan sudah selesai. Nanti jam lima setelah subuh Non Melati di rias sama perias MUA.
"Ok. jangan lupa tarok semua perlengkapan itu di kamar Melati. Biar salon yang akan meriasnya nggak susah mencari semua keperluan Melati," perintah Anita lalu pergi ke ruang kerjanya.
__ADS_1
****