
Steven sudah bangun dari tidurnya. Teringat kata-kata Meli, jika ingin menikahi nya Steven harus mengurus semua berkasnya. Baik itu berapa izin dari kantor Kedutaan di Melbourne, mau pun soal ikrar kalimat Syahadat dan khitan.
Steven membangunkan tubuhnya lalu berjalan ke kamar mandi.Setelah masuk ke kamar mandi, Ia membuka semua pakaian yang melekat di tubuhnya. Menghidupkan shower, lalu menikmati hangat nya air yang membasahi tubuhnya.
Kurang dari dua puluh menit kegiatan mandi pagi di sudahi nya dengan mengenakan handuk yang menutup bagian bawah tubuhnya. Kemudian ke luar dari kamar mandi.
Steven berjalan ke arah lemari pakaian di depan kamar mandi. Sebuah ruangan yang menyimpan seluruh pakaian dan perlengkapan pribadi lainnya. Semua tertata rapi di ruangan itu. Ruangan yang biasa di sebut Walk in closet.
Steven lalu memilih sebuah kemeja casual , celana bahan berwarna hitam dan sepatu kets untuk melengkapi penampilannya. Steven juga memilih tas sandang berbahan kulit kemudian meletakkan nya ke atas meja petak berwarna senada dengan lemari.
Selesai memilih pakaian dan perlengkapan lainnya, Steven gegas memakai pakaian nya. Setelah semua perlengkapan terpasang dengan rapi di tubuhnya, pria itu mengoleskan pome di rambut brown nya. Menyisir dengan rapi. Setelah terlihat puas dengan penampilannya, Steve berjalanan keluar walk in closet menuju kamar tidurnya. Selesai memakai sepatu, Steven menarik tas kulit yang berwarna hitam dan meletakkan ke bahunya. Lalu turun ke lantai satu di rumah mewah itu.
Di depan nya seorang perlahan membungkuk hormat, dan menawarkan nya untuk sarapan. Steven mengangguk, kemudian masuk ke ruang makan.
"Steve..ayo sarapan duluan," ajak Mommy nya sambil menoleh padanya yang baru masuk ke ruang makan. Steve duduk di depan sang Mommy.
"Pagi Mom,"
"Pagi sayang. bagaimana dengan kuliah mu?" tanya Rose pada putranya.
"Baik Mom. Aman!" Steven mengambil sepotong roti, sosis dan omelette yang terhidang di meja makan. Lalu memasukkan nya ke dalam piring nya.
"Sudah sampai mana Skripsi mu?" Rose menatap putranya sambil menyuapkan sepotong roti ke mulutnya.
"Minggu depan aku mulai sidang," Rose mengangguk senang mendengarnya.
__ADS_1
"Apa kau ingin meneruskan ke Magister jika selesai dengan gelar Sarjana mu?"
"Mungkin nanti Mom, Aku ingin menikah?" jawab nya blak-blak an. Sang Mommy membelalakkan Mata nya.
"Kau serius Steve? Siapa gadis yang beruntung itu?" Rose bertanya seraya menatap lekat mata putra tunggalnya.Mencoba mencari jawaban di sana.
Namanya Meli Anastasia. Dia orang Indonesia," tegasnya. Mata Rose membulat mendengar jawaban Steve.
"Orang Indonesia? Apa kau sudah lama berteman dengan nya? apa dia teman kuliahmu?" cecar Rose penasaran. Wanita setengah baya itu menghentikan makan nya.
Dia serius ingin tahu siapa gadis yang begitu menarik bagi putranya. Di tatapnya lekat mata putranya. Mata Steve seolah mengisyarat kan kebahagian yang akan dia dapatkan.Rose menarik nafas dalam.
"Setahu Mom. Kalau orang Indonesia itu mayoritas Muslim . Lalu bagaimana kau akan menikah dengan nya Steve. Agama kita berbeda dengannya?" selidik Rose dengan jantung berdebar.
'Oh No..aku tak ingin mendengar kenyataan kalau Steve akan mengikuti agama kekasihnya.' tolak hati Rose marah.
"Aku...aku tertarik dengan agama yang di anut kekasihku Mom. Aku ingin memeluk agama nya. Aku mencintai nya. Dan tak mungkin dengan perbedaan hang besar itu. aku akan menjadi Mualaf sebentar lagi," ungkap Steve dengan penuh percaya diri menceritakan semuanya pada sang Mommy. Mata Rose melotot. Ini lah jawaban yang amat di benci Rose. Dia tak ingin melepaskan putranya pada gadis Indonesia itu. 'Tidak..tidak akan' bisik Rose dalam hati.
Rasanya tak sabar untuk bercerita pada Arthur suami nya tentang keinginan Steve, putranya.
"Aku keluar dulu Mom, masih ada urusan di kampus," pamit Steven kepada Rose. Wanita itu hanya diam saat putranya pergi meninggalkan nya di meja makan.
Rose mengepalkan jemari tangannya. Menahan geram pads sang putra. Setelah Steven berlalu dari hadapannya, Rose langsung mengambil ponselnya yang terletak di meja makan . Lalu membuka layar ponsel itu, dan menekan menu daftar panggilan di kontak telponnya, dengan nama Mark my Husband. Setelah melakukan panggilan, menunggu sebentar sampai nada dering berhenti sebagai tanda panggilan tersambung.
"Mark ,apa kau sedang sibuk?"
"Tidak juga sayang, aku sedang dalam perjalanan menuju perusahaan Arthur, kenapa. Suaramu mengisyaratkan ada masalah, benar begitu?" tebak Mark, suami Rose. Ayah dari Steven.
"Ah kau pintar sekali menebak darling. Aku risau akan Steven. Tadi dia bercerita padaku. Kalau selepas sidang Skripsi nya , akan segera menikah," Rose mulai bercerita. Nafas nya tersengal- sengal menahan amarah. Dadanya seperti di himpit sebuah batu besar.
Di seberang sana, tepatnya di Sydney. Mark yang sedang melakukan perjalanan bisnis hanya tersenyum mendengar keluhan istrinya.
__ADS_1
"Kan bagus, jika Steven setelah menamatkan kuliah nya langsung menikah. Maka kita tidak usah pusing mencarikan jodoh untuk nya. Steven itu anak jaman sekarang. Sudahlah tak perlu kau risau kan Rose." bujuk Mark pelan.
Emosi Rose makin naik. Dia berpikir suaminya sama sama dengan sang putra. Tak pernah mau memikir kan perasaannya.
"Aku ingin kau cepat pulang ke Melbourne. Aku tak tahan menanggung amarah ku sendiri. Lagian kau kan tak tahu siapa gadis yang akan di nikahi nya!" sergah Rose dengan emosi. Suara di seberang terdengar terkekeh.
"Lalu siapa gadis yang akan di nikahi Steve?"
"Kau tahu Mark. Gadis itu orang Indonesia. Dan Penduduk Indonesia itu mayoritas Muslim." ujar Rose dengan kesal.
"So What , Rose?" tanya Mark heran.
"Gadis itu seorang Muslim.Dan putra kita akan mengikuti agama gadis itu!" jerit Rose, sambil memijit keningnya. Kepalanya tiba-tiba sakit.
Di seberang sana Mark terdiam sambil menatap jalanan di kota Sydney.
"Tuan sebentar lagi tempat yang anda tuju akan segera sampai." kata sopir taksi sambil melirik dari kaca spion di depannya.
"Ya." jawab nya singkat.
"Mark?" panggil Rose di seberang. Karena Mark hanya diam saat ia menjelaskan tentang kekasih Steven.
"Ya,"
"Kenapa kau terdiam. Kau pasti menolaknya juga kan?" selidik Rose.Wajah wanita itu tampak sumringah. Karena ia merasa suaminya pasti menolak gadis yang ingin di nikahi Steven. Berarti pendapatnya di setujui Mark.
"Rose, maaf. Aku tidak bisa memberikan pendapatku sekarang. Karena aku sudah tiba di perusahaan Andromeda Arsitek milik Arthur. Sebaiknya kita bicara kan lagi saat aku pulang ke Melbourne ya." pinta Mark sambil masuk ke dalam gedung tinggi itu .
Di seberang sana tampak Rose mengumpat kesal. Tadi saat sebelum menelpon Mark, Ia berpikir suaminya itu akan sependapat dengannya. Ternyata kenyataannya jauh berbeda.
"Huh..Daddy dan anaknya ternyata sama saja. Membuat tensi ku jadi naik saja ," umpat Rose kesal. Selanjutnya memutus sambungan telponnya.
__ADS_1
Di seberang sana, di Sydney. Mark sudah bertemu dengan Arthur si pemilik perusahaan Andromeda Arsitek.