
Hendrawan masih termangu tanpa bisa berkata-kata. Entah apa yang sedang di pikirkan nya. Hendrawan dan Anita galau. Sempat terlintas sebuah pertanyaan di benaknya. Mengapa begitu cepat gadis kecilnya yang dulu sudah meninggalkan kini pun harus pula meninggalkannya. Karena sebuah perkawinan.
Hendrawan merasa tak siap jika harus kehilangan dan berjauhan lagi dengan Melati. Begitu pun dengan Anita. Wanita itu saja pernah mengalami depresi karena merasa menjadi seorang ibu yang tak becus mengurus anaknya. Kini, anak gadisnya yang telah kembali padanya akan pergi pula jauh darinya. Oh... sungguh tak sanggup.
Reyhan menunggu jawaban kedua orang tuanya dengan sabar. Menatap dalam wajah Anita. Ada setitik kesedihan yang tersimpan di mata teduh itu. Mata sang Mami sangat mirip dengan mata Melati. Jika orang melihat Melati dan Mami Anita, maka tak ada keraguan dari siapapun untuk mengatakan bahwa Melati memang putri Anita Hapsari.
"Melati mana Rey..?"
"Ada Mi..tadi kami sempat bicara di ruang makan. Mungkin masih di sana,"
"Kita ke dalam aja Pi..Biar bisa ngobrol dengan Melati," Hendrawan mengangguk setuju.
"Iya..tapi bulan berarti Mami dan kamu Rey, untuk melarang hubungan Melati dengan Resnu. Yang tidak kita setujui karena mengapa begitu cepat. Kita baru dua bulan berkumpul dengan Melati. Selama 21 tahun kita tidak bersama dengannya." kata Hendrawan dengan perasaan gusar. Anita menatap lekat mata suaminya. Dia mendesah pelan.
Sebenarnya Resnu pria yang baik. Hendrawan dan Anita pasti menerimanya jika pria itu akan melamar putrinya. Tapi bukan sekarang waktu yang tepat. Dua atau tiga tahun lagi mungkin. Tapi apa bisa sebuah perasaan di tolak, di tentang. Bukannya nanti makin membara rasa cinta itu. Hendrawan menghembuskan nafas
kasar.
"Sudah Pi...sebaiknya kita tanyakan maksud dan tujuan keluarga Resnu ke sini." saran Anita pada suaminya.
"Ya..baiklah," jawab Hendrawan sambil mengangguk dan beranjak dari duduknya menuju ke dalam rumah. Setelah masuk ketiganya langsung menuju ke ruang makan.
"Mel....sudah selesai sarapan?" tanya Anita ketika sudah ada di ruang makan. Melati mendongkak kan wajahnya menatap kearah, Mami, Papi dan abangnya Reyhan.
"Udah Mi...baru aja selesai," sahut Melati sambil tersenyum. Kedua orang tuanya dan abangnya Reyhan duduk di kursi makan. Menatap serius padanya.
" Ada yang mau kami bicara kan sama kamu sayang,"
"Iya..ada apa ya Mi...apa tentang keinginan Mas Resnu untuk melamar Melati malam ini?" tanyanya sambil menatap bergantian mami, papi dan abangnya.
"Ya...Mel, apa malam ini Resnu jadi datang?" kali ini yang bertanya Papi Hendrawan. Melati mengangguk sambil tersenyum senang.
"Gini Mel...Papi dan Mami dan juga Mas mu Reyhan tidak melarang kamu berhubungan dengan Resnu. Tapi rasanya terlalu cepat sayang. Kamu baru berkumpul dengan kita di sini dua bulan, dan...rasanya Mami belum puas dekat dengan kamu Nak...Mami masih ingin lebih lama lagi bersama kamu. Tapi..ini cuma permintaan. Kami tidak bisa melarang kamu sayang," kata-kata Anita meluncur begitu lancar.
Dan ada kesedihan dalam suara itu. Melati tertegun. Tak dapat berkata-kata. Sungguh sangat sulit untuk menjawab kata-kata Maminya...
Melati mengerti sekali. Sekian lama tak berjumpa dengan kedua orang tuanya dan saudara kandungnya. Tentu satu sama lain saling merindu. Itu pasti . Apalagi 21 tahun bulan waktu yang pendek untuk menata hati yang di landa kabut rindu.
"Mel mengerti Mi..sekarang terserah Papi dan Mami dan Mas Reyhan saja. Keputusan apa yang akan diambil . Mel pasrah kan sama Mami dan Papi." sahut Melati sambil tertunduk.
Mami Anita menarik nafas dalam. Sangat tak enak di posisinya sekarang ini. Ingin menuruti keinginan anak atau suami?
__ADS_1
"Jam berapa Resnu dan keluarganya akan kesini?" tanya Anita sambil menatap dalam wajah anak gadisnya.
"Sepertinya habis magrib Mi." Anita mengangguk. Lalu menatap suaminya, Hendrawan.
"Kita perlu persiapan Pi..makanan dan snack. Mami ke dapur dulu, mau nyuruh Mbok Sri dan yang lain siap-siap," ujar Anita sambil menoleh kepada suaminya, lalu berjalan meninggal kan mereka bertiga yang masih termangu.
Melati mengangkat wajahnya. Lalu menatap Papinya yang berjalan duduk di kursi meja makan. Diikuti Reyhan.
" Sebaiknya kamu siap- siap Nak...jangan melamun di sini. Rey..kamu suruh Pak Jajang untuk menyiapkan mobil untuk mengantarkan Mbok Sri ke Supermarket." perintahnya pada Reyhan. Pria tampan itu mengangguk lalu berjalan keluar ruang makan.
"Mel ke kamar dulu Pi," pamitnya pada Sang Papi. Pria paruh baya itu mengangguk pelan.
Melati beranjak dari kursinya lalu berjalan menuju ke ruang keluarga. Belum sampai menaiki tangga menuju ke kamar nya, Mami Anita sudah memanggilnya. Gadis itu menoleh ke arah sang Mami.
"Ya Mi..." Anita melambaikan tangannya agar Melati mengikutinya masuk ke dalam kamar sang Mami.
"Ini..ada gaun untuk kamu pakai nanti malam. Sebenarnya ini hadiah dari Mami untuk kamu, sewaktu kita makan malam di restoran seafood. tapi Mami kelupaan. Jadinya Mami kasi sekarang ke kamu sayang, pakai ya..dan dan yang cantik." ujar Anita sambil memberikan sebuah paper bag pada Melati. Melati mengambilnya.
"Makasih Mi." di jawab anggukan oleh Anita. Lalu gadis itu pamit untuk kembali ke kamarnya.
******
Melati sudah melaksanakan sholat Magrib. Gadis itu melipat mukenah dan sajadahnya dengan rapi. Lalu meletakkannya di kursi yang terletak di sudut kamar.
"Mel..." sapa Anita saat melihat Melati sudah ada di depan kamarnya.
"Iya Mi....Mel udah siap." Anita mengangguk tersenyum manis pada sang anak gadis. Kamu masuk aja. Mami dan Papi lagi berpakaian." ajak Anita sambil menarik tangan Melati.
Mereka berdua sudah masuk ke dalam kamar yang mewah dan luas. Melati mengedarkan pandangannya pada seluruh penjuru ruang kamar.
Tempat tidur jati berukir emas dan sebuah televisi yang terletak di depan ranjang. Di samping tempat tidur ada sebuah sofa yang mewah berwarna senada dengan ranjang. Melati menoleh Menatap sang Mami yang sedang berdandan.
" Papi mana Mi?" tanya Melati karena melihat sekeliling tapi tak nampak Hendrawan sang Papi.
"Ada tuh..diruang ganti pakaian." Melati mengangguk sambil duduk di sofa mewah itu. Anita masih asyik berdandan.
__ADS_1
Tak lama Hendrawan keluar dari ruang ganti. Tampak sudah rapi, dengan mengenakan baju batik. Berjalan mendekati Melati.
"Kamu sudah siap nak?"
Di jawab anggukan oleh Melati. Gadis itu Menatap sang Papi yang Menatap nya dengan sayang.
"Tok..tok.." suara ketukan terdengar di pintu kamar.
"Biar Mami yang buka," Anita gegas berjalan kearah, pintu kamar. Membukanya. Tampak Mbok Sri kepada Pelayan berdiri di depan pintu. Lalu membungkuk hormat pada Anita.
"Maaf nyonya, saya mau ngasi tau...keluarga deb Resnu sudah datang. Sudah saya suruh masuk tadi. Mereka menunggu di ruang tau," Anita mengangguk.
"Ya..nggak apa. Makasih Mbok. Tolong siapkan minuman dan makanan kecil yang udah kita siap kan tadi sore!" di jawab anggukan oleh Mbok Sri. Wanita berusia 58 tahun itu meninggalkan Anita yang masih termangu di depan pintu kamarnya. Anita baru tersadar saat Hendrawan menyentuh lembut bahunya.
" Apa keluarga Resnu sudah datang Mi?"
Anita mengangguk. Lalu kembali ke dalam kamar. Menyelesaikan riasannya.
"Ayo Mi..nggak enak kalo kelamaan mereka nunggu kita," ajak Hendrawan sambil menunggu Anita Menyelesaikan riasannya. Anita mengangguk. Lalu menoleh kepada Melati yang asyik berselancar di dunia maya.
"Sayang, Mami sama Papi mau ke depan dulu menemui keluarganya Resnu. Kamu tunggu di sini dulu. Nanti Mami akan nyuruh Mbok Sri memanggil kamu untuk ketemu sama keluarga Resnu ya..." ujar Anita lalu berjalan keluar kamar di ikuti oleh Hendrawan yang mengangguk , menatap sang anak gadis dengan senyum manis sambil berjalan mengikuti Anita menuju ruang tamu.
Saat masuk ke dalam ruang tamu, Ternyata Resnu sudah duduk menunggu di kursi tamu bersama dengan dua orang, seorang perempuan baya dan seorang lagi pria gagah yang kira-kira usianya lebih tua sedikit dari Wanita itu.
"Selamat malam, maaf lama menunggu," sapa Hendrawan ramah sambil mengalami satu persatu tamunya.
"Nggak papa Om..Hen.."
"Jadi saya kesini mengajak Pak de dan Bu de saya..Pak de Harjo dan Bu de Mina. Kebetulan Mereka dari desa karena ada keperluan. Sekalian menemani saya dan bisa di bilang menjadi wali saya mewakili Papa dan Mama yang sudah almarhum . " kata Resnu membuka ui pembicaraan mereka malam ini. Hendrawan dan Anita mendengarkan dengan seksama.
"Ya Pak Hendrawan, saya mewakili orang tua Resnu ingin melamar gadis pujaannya Resnu.Dan kami berharap bisa menyambung tali silaturahmi keluarga kita dengan mengikat hubungan antara ananda kami Resnu dengan calon istrinya," ujar Pak Harjo.
"Melati pak De..calon saya namanya Melati," sambung menambahkan ucapan Pak Harjo dan Resnu mengangguk setuju ucapan pria tua itu.
"Kami sebetulnya berterima kasih atas ke datang Resnu dan keluarga. Tapi..kami belum bisa memberikan Keputusan saat ini. Karena anak kami ini baru satu bulan ini berkumpul kembali dengan kami di sini.
__ADS_1
Namun untuk berhubungan berteman dekat, kami Tentu setujui. Tapi untuk lamaran sementara kami minta waktu dulu." jawab Hendrawan sambil memegang erat jemari istrinya , Anita. Pak Harjo terkejut mendengarkan kata-kata pak Hendrawan. Lalu memandang Resnu dengan tatapan tanda tanya.
"Maksud anda menolak lamaran kami?" tanya Pak Harjo berang. Wajah pria tua itu memerah karena menahan marah. Istri pria itu menarik tangan pak Harjo mengisyaratkan tak perlu marah -marah di acara perkenalan ini. Pak Harjo menoleh kearah istrinya. Lalu menarik nafas dalam. Dan berusaha untuk menenangkan dirinya.