Cinta Melati Cinta

Cinta Melati Cinta
Makan malam yang romantis


__ADS_3

"Sudah siap?" tanya Randy sambil memperhatikan gaun yang di kenakan istrinya. Melati mengangguk.


"Ayo kita turun," ajak Randy sambil menggenggam jemari istrinya. Keduanya turun melalui lift. Tak menunggu lama keduanya telah tiba di lantai bawah.


"Mas kenalkan dulu sama art yang membantu kita di sini ya!"


"Ya Mas,"


"Mbok Nur...!" panggil Randy pada art yang hari ini baru mulai bekerja di rumahnya. Seorang wanita berusia setengah baya berlari kecil di ikuti oleh seorang wanita di belakangnya.


"Wah nggak usah lari juga kali Mbok. Nanti terpeleset!" Randy mengingatkannya Mbok Nur dan Mila. Keduanya hanya menjawab dengan anggukan, lalu wajah keduanya menunduk.


"Kenalkan ini istri saya, Melati." Melati tersenyum ramah pada dua art itu. Keduanya membalas dengan senyum hormat.


"Ini Mbok Nur, dan yang ini mbak Mila," Randy mulai mengenal kan kedua art itu pada sang istri.


"Ya selamat datang mbok Nur dan Mbak Mila. Semoga betah ya kerja disini sama kami," sapa Melati lembut. Kedua art itu saling pandang. Lalu mengangguk penuh hormat pada Melati.


"Oh ya Mbok. Kami mau keluar dulu. Bahan makanan kebetulan nggak ada di kulkas. Jadi nanti makan malam, biar saya pesankan saja. Pak Eko lagi berjaga di luar.Jadi nggak bisa keluar. Kami pergi dulu," pamit Randy sambil mengamit lengan Melati, lalu keduanya melangkah ke luar rumah.


Di depan rumah, tepatnya di halaman rumah Randy. Pak Eko sudah berdiri di samping mobil yang sudah terbuka pintunya. Pria itu ternyata sudah menyiapkan mobil untuk di pakai Randy keluar malam ini.


"Makasih Pak Eko." ucap Randy sambil mengantar Melati untuk naik ke kursi penumpang di sebelah kemudi. Setelah itu, Randy menutup pintu mobil di sebelah Melati. Dia berjalan cepat di depan mobilnya kemudian membuka pintu, lalu masuk ke mobil.


Randy menghidupkan mesin mobil sedan sport mewah itu. Tak lama mobil mewah itu bergerak meninggalkan halaman rumah yang pintu gerbang nya sudah di buka oleh Pak Eko. Lalu pintu gerbang itu tertutup lagi.


"Kita makan malam di mana Mas?" tanya Melati Ingin tahu.


"Nanti kamu tahu sendiri," jawab Randy sambil tersenyum.


"Ih..Mas suka rahasia -rahasia an ya?" ucap Melati sambil menatap suaminya yang sedang menyetir. Randy terkekeh.


Lalu melirik sekilas sang istri.


" Kapan mulai kuliah lagi Sayang?" tanya Randy melirik sekilas lalu kembali fokus pada lalu lintas di depannya.


"Hari Rabu Mas. Aku kan izinnya cuma dari hari Jumat sampai Selasa. Coba cuma berapa hari tuh?"


"Empat hari lah. Sedikit banget ya yang. Padahal dengan kejadian sebelum pernikahan kita rasanya Mas nggak bisa ngomong apa-apa lagi. Bersyukur banget kamu selamat. Dan seperti malam ini. Kita bisa bersama," Melati mengangguk menyetujui ucapan suaminya.


"Iya Mas. Waktu aku di culik. Aku nggak tau apa yang harus aku perbuat. Aku pasrah. Berharap sama Allah aja yang sudi menolongku."

__ADS_1


"Ya. Kalaupun kamu tetap menikah sama Pak Harjo, pernikahan itu nggak akan sah juga. Wong wali nikahnya cuma wali nikah abal-abal. Berani sekali Pak Harjo . Akhirnya ketangkap sama polisi. Dan harus mendekam di penjara karena kasus penculikan."


"Ya Mas...sayang sekali Pakde Harjo nggak mikir sampai sana,"


"Ya..sayang sekali. Oh ya Om Fahmi tadi wa mas. Katanya hari Selasa, Pak Harjo akan di bawa ke pengadilan. Di sidang, "


"Oh ya..berarti kita juga ikut dong untuk menghadiri sidang?"


"Iya..pasti. Yang akan ikut di tanya itu ya pasti kamu sayang. Karena kamu korban penculikan yang di lakukannya."


"Iya ya Mas..Ah nambah kerjakan aja pak tua itu. Mana besoknya Mel harus mulai kuliah, " gumam Melati. Randy tersenyum mendengar ucapan dari bibir sang istri. Pria itu mengusap lembut kepala Melati yamg tertutup jilbab.


Sekitar tiga puluh menit, sepasang pengantin baru itu tiba di sebuah restoran mewah. Mobil Randy berhenti di halaman parkir.


Setelah memarkirkan mobilnya dengan rapi. Randy langsung keluar pintu mobil, membukakan pintu untuk Melati , lalu menutup pintu itu.


Keduanya berjalan bergandengan tangan memasuki restoran mewah itu.


"Yuk masuk." ajak Randy.


Di depan pintu masuk seorang pegawai restoran menyambut kedatangan keduanya dengan ramah.


"Meja nomor berapa Tuan," pria itu bertanya pada Randy.


"Baik tuan. Silahkan masuk."


Di depan pintu masuk itu ada sebuah meja panjang. Seorang Resepsionis wanita menyambut keduanya dengan ramah. Sementara pria yang ada di depannya keluar lagi untuk menunggu para tamu yang akan makan di restoran itu ,meninggalkan Randy dan Melati untuk reservasi tempat yamg sudah Randy pesan .


"Malam tuan. Ada yang bisa saya bantu?" sapa resepsionis cantik itu ramah pada Randy.


"Ya saya pesan ruang VVIP."


"Atas nama siapa?"


"Randy Prasetya Wiryawan," sahutnya singkat.


" Ok..nanti di antar sama petugas kita ya Tuan Randy." tak lama seorang wanita cantik berjalan ke arah mereka berdua.


"Mari ikut saya Tuan. Tempat yang anda pesan sudah di siapkan!" ajak wanita itu.


Randy berjalan dengan masih menggandeng tangan sang istri yang berjalan di samping. Pasangan serasi. Siapa saja yang melihat pasti berkomen seperti itu.

__ADS_1


"Silahkan Tuan .. Nyonya," wanita itu mempersilahkan keduanya masuk pada sebuah ruangan yang di design untuk pasangan pengantin baru itu.


Keduanya duduk di kursi yang sudah di sediakan untuk mereka berdua.


"Sebentar lagi pesanan Tuan segera datang, permisi," pamit pelayan Resto itu sambil membungkuk hormat.


Randy menoleh ke arah sang istri yang termangu menatap interior restoran mewah itu.


"Kenapa sayang?"


"Ah..nggak papa Mas."


Tak berapa lama menunggu, seorang pria yamg merupakan pelayan di reatoran itu datang dengan mendorong troli makanan dan menghampiri mereka berdua.


Setelah pramusaji pria itu menghidangkan makanan, yang sudah di pesan Randy sewaktu booking tempat di restoran ini.


"Silahkan menikmati makanan kami Tuan dan Nyonya." kata Pramusaji itu sambil membungkuk kan tubuhnya usai menghidangkan makanan ke meja. Randy mengangguk. Sambil tersenyum.


"Terima kasih mas," pramusaji itu langsung pergi meninggalkan Randy dan Melati.


"Ayo makan sayang. Kamu pasti sudah lapar." ajak Randy mempersilahkan istrinya menikmati steak daging yang di hidangkan lengkap dengan mash potato, buncis, wortel dan says jamur yamg sangat lezat. Di sebelahnya tersedia pula segelas jus mangga kesukaan Melati. Dan beberapa makanan pencuci mulut yang manis dan lembut.


Mereka berdua menikmati makan malam dalam diam. Seorang pemain saxophone membawakan sebuah lagu romantis yang biasa di nyanyikan oleh Kenny G. Pemusik saxophone ternama dari negara Amerika. Yang terkenal dengan tiupan saxophone nya yang merdu. Walau bukan suaranya. Dua lagu milik Kenny G yang di mainkan oleh pria itu. The Moment dan Forever in Love . Sangat pas dengan suasana pengantin baru itu. Musik yang mengalun indah membuat suasana berubah menjadi romantis.


Randy tak henti-hentinya menatap lekat wajah sang istri yamg cantik. Melati hanya tertunduk malu. Debaran indah di jantungnya dapat mengungkapkan kalau gadis itu mulai menyukai suaminya.


Randy mengelus lembut jemari Melati. Yang menimbulkan gelenyar aneh di tubuhnya.


"Kita dansa yuk," ajak Randy.


"Tapi Mel nggak bisa Mas"


"Nanti mas ajarin. Yuk


sayang." Randy menarik tangan sang istri , keduanya berjalan menuju lantai dansa.


"Santai aja Sayang. Jangan tegang. Nikmati musiknya." kata Randy yang melihat sang istri nampak gugup. Randy mulai memeluk pinggang sang istri. Lalu membawa tangan Melati ke pundaknya.


Keduanya berjalan berayun mengikuti iringan bunyi saxophone yang merdu dan romantis.


"Bisa kan? nikmati saja sayang. Lama - lama nanti terbiasa." Melati menunduk malu mendengar ucapan Randy.

__ADS_1


Melati merasa malam Ini malam paling romantis dalam Sepanjang hidupnya. Randy memperlakukannya dengan baik dan penuh kasih sayang.


Jika sudah begitu. Apakah mungkin dia menolak ajakan suami saat pria itu meminta haknya? Melati menatap lekat wajah tampan Randy. Di tatap seperti itu membuat Randy makin mendekatkan wajahnya ke wajah Melati. Pelan namun pasti, bibir pria tampan itu mengecup lembut kening Melati membuat wajah Melati bersemu merah, karena malu. Apalagi sang pemain saxophone menatap mereka sambil tersenyum dan tentu saja sambil memainkan saxophone nya.


__ADS_2