
"Mel..." sebuah teriakan memanggil nama Melati. membuat gadis itu menoleh mencari arah datangnya suara.
"Mas Randy.." gumam Melati saat melihat yang memanggilnya ternyata Randy. Pria yang sudah satu bulan ini selalu ada untuknya.
Sementara hubungan Melati dan Resnu semenjak pertemuan singkat di rumah Melati, tak membuat hubungan keduanya menjadi baik. Walaupun begitu, setiap kali Resnu menelponnya, Ia akan meladeninya, meskipun hanya berbincang dalam waktu yang tak lama.
Entah mengapa perasaan cinta Melati semakin hari semakin hambar pada Resnu. Terkadang ada perasaan iba di hatinya, karena Resnu sangat ingin kembali seperti dulu. Tapi semua itu tak bisa merubah rintangan yang telah ada dalam hubungannya dan Resnu.
Rintangan itu terjadi karena Pakde Resnu adalah orang yang ingin di jauhi oleh Melati dan orang tua angkatnya. Jika Ia dan keluarganya ingin menjauh dari Pakde Harjo, otomatis Ia dan Keluarganya akan menjauhi Resnu.
Berat bagi Melati, untuk melupakan Resnu. Walau Melati tahu hubungan mereka belum lama. Baru dua bulan. Hanya saja keinginan Resnu yang mau melamar Melati untuk menjadi istrinya itu lah penyebabnya. Jika saja Resnu bukan keponakan Pakde Harjo, mungkin keluarga Melati akan menerima pria itu menjadi mantunya. Akan tetapi, akibat sikap buruk Pakde Harjo, Resnu seakan terkena imbas buruk dan seperti menelan pil pahit dalam urusan asmaranya dengan Melati.
Pagi ini Melati mengikuti pelajarannya di Lab. Ia berjalan dengan beberapa temannya yang merupakan teman sekelas untuk mengikuti praktek komunikasi. Bagaimana seorang dokter membangun komunikasi yang baik dengan pasiennya. Di ajarkan bagaimana membuka sesi tanya jawab dengan pasien dan menutup sesi itu , dengan memberikan empati pada pasiennya.
Melati memperlambat langkahnya. Ia menunggu Randy yang akan berjalan ke arahnya.
"Mas Randy, ada apa kesini?" Melati agak terheran kenapa pria ini ada di kampusnya.
"Apa kabar Mel? Maaf sudah dua hari ini kita nggak bertemu. Mas dinas ke Surabaya. Tadi pagi baru pulang. Langsung ke kampus kamu, karena di minta Professor Hadi Atmaja untuk mengisi mata kuliah di Lab.Apa kamu akan ke Lab juga?" tanya Randy sambil mengikuti langkah Melati menuju Lab,"
Melati mengangguk, di sebelahnya ikut berjalan di sisinya , Reva sobat dekatnya. Reva menatap Randy dengan tatapan terpesona. Baginya, semenjak bersahabat dengan Melati, sejak itu juga matanya selalu berjumpa dengan yang bening-bening yg seperti begini.
"Ya Mas...aku akan ke Lab pagi ini. Kabar aku ...seperti yang mas liat. Aku baik-baik aja."ucap Melati menjawab semua ucapan dokter muda nan tampan itu.
Beberapa Mahasiswi yang berpapasan dengan mereka menatap tak henti pada Randy.
Beberapa menit kemudian ,mereka sampai di depan Lab.
Seorang teman Melati membuka pintu Lab, dengan kunci di tangannya.
Mereka kemudian masuk dan mengambil tempat duduk di dalam Lab.
Randy ikut masuk dan berjalan ke arah kursi dosen. Beberapa Mahasiswi wanita terpana tak percaya karena yang akan mengajar mereka pagi ini pada mata kuliah Lab Skill ilmu Komunikasi adalah Randy. Pria tampan yang berjalan bersama teman mereka Melati.
Beberapa terlihat bisik-bisik dengan nada penasaran, melihat kedekatan Melati dengan sang Dosen.
__ADS_1
"Assalamualaikum, selamat pagi.Kenalkan saya, Randy Putra Wiryawan. Yang akan mengajar mata kuliah Lab Skill Ilmu Komunikasi. Saya Dokter tetap di rumah sakit Siti Aisyah." sapa Randy pada Mahasiswa dan Mahasiswi nya di Lab itu.
Semua mahasiswanya memperhatikan Randy di awal pelajaran mereka. Lalu pelajaran pun berlanjut. Hingga dua jam tak terasa mereka mengikuti Lab Skill Ilmu Komunikasi bersama Randy.
Setelah mengucapkan kata penutupan pria itu pamit pada Mahasiswanya. Randy kemudian keluar Lab di ikuti oleh beberapa mahasiswa lainnya. Termasuk Melati dan Reva.
Randy, Melati dan Reva berjalan beriringan. Siang ini jam sepuluh Melati ada kelas lagi. Sementara Randy pergi ke ruang dosen di Universitas Abdi Bangsa.Sebelum berpisah di persimpangan karidor kampus Fakultas Kedokteran, Randy berhenti sebentar.
"Mel, apa masih ada kelas lagi?"
"Ya Mas..aku pulang jam dua hari ini. Masih dua kelas lagi yang aku ikuti. Kenapa ya Mas!"
"Nggak ada apa-apa. Hanya saja nanti malam Mas ke rumah ya. Sudah lama nggak main ke rumah kamu," di jawab anggukan oleh Melati. Reva yang sengaja agak menjauh dari mereka berdua tersenyum penuh arti.
"Pulang nanti sama siapa?"
"Pulang sendiri Mas. Kan aku sudah bisa nyetir. Mas sih yang terlalu sibuk sampai nggak tau kalau aku dah bisa nyetir mobil sendiri!" sindir Melati sambil tersenyum. Randy menggaruk tengkuk nya. Sebulan ini memang dia cukup dekat dengan Melati. Hanya saja kalau bertemu bukannya siang atau sore. Tapi malam. Sepulang dari Rumah Sakit. Atau hari Sabtu dan Minggu yang mana jadwal di Rumah Sakit tidak terlalu padat.
" Ok kalau gitu Mas ke ruang dosen dulu. Sampai ketemu nanti malam." pamit Randy di jawab anggukan oleh Melati. Saat Randy meninggalkan Melati , Reva yang mengawasi dari jarak yang tidak terlalu jauh mendekati gadis itu.
"Iseng ya!" hardik Melati pura - pura. Reva mengerucutkan bibirnya. Membuat Melati makin terkekeh.
"Sudah ah.. yuk masuk ke kelas. Nanti dosennya masuk duluan, gak lucu!" ujar Melati menarik tangan Reva menuju ke kelas mereka.
Tak menunggu lama, dosen pun masuk. Dan mereka mulai fokus mengikuti pelajaran yang di ajarkan Dosen.
***
"Rey...baru datang?" sapa Hendrawan saat melihat Reyhan putra sulungnya masuk ke ruang kerjanya setelah mengetuk pintu.
__ADS_1
"Ya Pi..ada yang mau aku bicarakan sama Papi," sahut Reyhan sambil duduk di kursi depan meja kerja Hendrawan.
"Ada apa?" Hendrawan menatap dengan ingin tahu.
"Tadi siang Lili menelpon, aku," ucap Reyhan.
"Lalu..apa ada masalah?" Hendrawan menatap Reyhan dengan penasaran.
"Lili ingin menikah. Senin yang lalu dia sudah lulus siang Skripsi. Pria yang akan menikahinya juga sudah menyelesaikan sidang Skripsinya kemarin."
"Jadi..?"
"Ya Lili cerita akan menikah bulan depan. Setelah berkas pernikahannya selesai," Tangan Hendrawan terkepal. Wajah pria setengah baya itu nampak memerah marah.
"Kenapa dia nggak bilang sama Papi dan Mami?" geram Hendrawan.
"Nggak tau Pi...Tapi perlu Papi ketahui pria yang akan menikahi Lili adalah seorang bule!"
"Sialan anak itu. Kenapa dia jadi memutuskan ingin menikah dengan bule? Agama kita berbeda, negara kita berbeda...Ah..Papi nggak habis pikir. Anak itu berjalan sendiri. Dia pikir orang tanya sudah tidak ada apa!" ucap Hendrawan geram. Kepalanya tiba-tiba sakit.
"Kemarin di kenalkan dengan Randy, malah di tolaknya. Sekarang malah ingin menikah dengan pria yang berbeda dengan kita." sambung Hendrawan. Sungguh Ia tak habis pikir dengan kemauan putri keduanya itu.
"Aku nggak tahu Pi. Tapi nanti aku suruh temanku di Aussie yang menyelidiki nya." Ucap Reyhan tenang.
"Papi sudah tahu kalau dia berpacaran dengan pria bule itu. Tapi Papi nggak pernah berpikir kalau dia ingin menikah dengan pria itu," Hendrawan memijit pelipisnya yang tiba-tiba terasa sakit.
"Sabar ya Pi..nanti kita cari jalan keluarnya. Tapi kalau tekad Lili sudah kuat kita tak mungkin menghalangi niatnya untuk menikah." di balas anggukan oleh Hendrawan.
"Ya sudah, aku pamit dulu. Mau ke kantor lagi. Papi jangan sampai sakit," Reyhan berjalan mendekati Papinya yang masih duduk di kursi kebesarannya.
Mengusap pelan bahu sang Papi. Lalu berjalan ke arah pintu ruangan itu. Keluar lalu menutup pintu itu lagi.
Sekretaris Hendrawan yang duduk di dekat pintu ruang Direktur Utama itu bangkit dari duduknya. Membungkuk hormat padanya. Reyhan membalasnya dengan tersenyum dan anggukan kecil pada wanita itu.
Lalu beranjak meninggalkan perusahaan Hendrawan.
__ADS_1
****