
Bunyi ponsel berdering, Anita yang sedang di rias membuka matanya dan menatap ke arah ponselnya yang berdering.
"Mau saya ambil kan ibu ponselnya?" Anita mengangguk. Sang perias mengambil ponsel Anita lalu memberikannya segera pada wanita itu. Anita langsung mengambil nya dan menekan tombol terima panggilan berlogo hijau.
"Selamat pagi ibu, maaf menganggu. Saya cuma mau menanyakan tentang mbak Melati. Kok sampai sekarang belum sampai ya bu. Kita sudah satu jam menunggu di kamar hotel. Kebetulan saya belum menelpon Mas Randy. Karena katanya Mas Randy akan kesini bu, tapi sekitar jam 7." Anita yang mendengar penjelasan perias pengantin, langsung melongo. Sungguh tak percaya. "Kemana Melati? Apa dia melarikan diri dari pernikahan ini?" gumam Anita dengan perasaan kacau.
"Ya. Baiklah mbak. Nanti saya tanya suami saya dulu. Mungkin dia tau dimana Melati. Mbak tunggu di sana sebentar ya."
"Baik ibu. saya tutup ya telponnya. Terima kasih," sahut wanita di seberang. Anita menarik nafas panjang. Hatinya tiba-tiba resah. Apa yang terjadi dengan putrinya?
"Ada apa bu?" tanya sang perias menatap lekat ke arah Anita.
"Nggak papa mbak ..terus kan saja." sahut Anita , dan perias itu pun meneruskan merias wajah Anita.
"Mbak, sebentar saya mau telpon suami dulu." sela Anita sebelum mbak perias meneruskan pekerjaannya. di jawab dengan anggukan oleh sang perias.
"Halo Pi.."
"Ya ada apa. Kok pakai telpon, kayak yang jauh aja,"
"Bukan Pi.. karena ini darurat. Mami baru dapat kabar kalau Melati sampai sekarang belum juga sampai di hotel. Gimana ini Pi. Apa Melati melarikan diri?"
"Ah Mami ada-ada aja. Nggak mungkinlah."
"Ya jadi gimana? ini Mami masih di rias, belum selesai Pi. Soalnya yang di rias pertama itu Lili. Bukan Mami."
"Ya sudah. Biar Nanti Papi telpon Pak Nanang. Kenapa bisa belum juga sampai. Kalau mogok nggak mungkin. Wong mobil itu baru kita beli bulan kemaren."
"Ya sudah. Papi telpon Pak Nanang. Kalau sudah dapat kabar kasi tau Mami ya,"
"Ok Mi.." sahut Hendrawan lalu menutup sambungan telpon. Kemudian mencari kontak pak Nanang. Nada dering berbunyi. Tapi sampai habis nada dering ,telpon tak juga di angkat. Hendrawan kembali menelpon Pak Nanang. Namun hasilnya tetap sama. Telponnya tidak diangkat.
"Heh..kemana dia?" gumam Hendrawan kesal.
Lalu pria itu menekan kontak Randy. Beberapa detik kemudian sambungan telpon terhubung.
"Assalamualaikum Pi. Ada apa?"
"Ran...kamu dimana?"
"Masih di kamar hotel Pi. Kenapa?"
"Apa kamu nggak liat Melati? Kata mbak perias pengantin. Melati belum sampai. Aneh kan. Sudah jam tujuh ini."
"Masak sih Pi?"
"Iya ..kalau kamu nggak percaya kamu bisa ke kamar pengantin. Kan Mel di rias di situ harus nya,"
"Ok Pi..Nanti aku ke sana,"
"Ya..kalau sudah ketemu kasi tau Papi ya,"
__ADS_1
"Baik Pi.." Randy langsung mematikan sambungan telponnya. Kemudian bergegas ke kamar pengantin dia dan Melati. Setelah tiba di depan pintu kamar, Randy mengetuk pintu itu. Tak lama seorang wanita membuka pintu kamar.
"Cari siapa Mas?"
"Saya calon suami Melati. Yang akan Mbak rias. Apa Melati ada di dalam?" Wanita itu membuka daun pintu lebih lebar. Dari depan pintu Randy dapat melihat kamar itu kosong. Lalu wanita itu mempersilahkan Randy masuk. Mata Randy berkeliling menatap ke seluruh penjuru ruangan. Kamar yang cantik. Karena sudah di hias untuk kamar pengantin.
"Saya sudah menunggu mbak Mel dari jam setengah enam Mas. Tapi sampai sekarang Mbak Mel nggak kunjung tiba. Kenapa ya. Apa terjebak macet?"
Randy tidak menjawab pertanyaan perias itu. Pria itu langsung keluar kamar pengantin. Hatinya resah. Kenapa sampai sekarang Melati tidak kunjung datang. Ada apa? Pertanyaan itu yang terus-terusan memenuhi pikirannya.
Sementara itu di rumah Hendrawan.
"Ada apa Pi..kok kayak bingung gitu? " tanya Reyhan yang baru bertemu Hendrawan di ruang keluarga. Reyhan melihat Papinya mondar-mandir. Seperti resah dan gelisah.
Hendrawan mendongakkan kepalanya. Menatap si sulung lalu mendekatinya.
"Melati hilang. Padahal tadi pagi jam setengah enam sudah keluar rumah. Diantar sama Pak Nanang ke hotel tempat akad nikah dan resepsi. Kok sampai sekarang belum sampai."
"Pak Nanang dan Mel sudah Papi telpon?" tanya Reyhan.
"Kalau Pak Nanang sudah Papi telpon. Nyambung sih tapi nggak di angkat."
"Mel sudah Papi telpon?"
"Belum. Coba kamu telpon . Siapa tau diangkat," saran Hendrawan. Reyhan mengangguk lalu mengambil handphone yang berada di saku celananya.
Setelah itu menekan tombol kontak Melati. Pria itu mendengarkan nada sambung dari ponsel Melati. Ditunggu sampai nada sambung berakhir. Tapi tetap tak diangkat.
"Makanya. Papi jadi resah Rey. Gimana caranya ya,"
"Iya. kalau mau lapor polisi juga belum 24 jam Pi."
"Bener. Bingung Papi jadi nya Rey. Coba kamu telpon Randy. Tanya apa solusinya. Papi dah nggak bisa mikir lagi,"
"Ya Pi..Nanti aku coba telpon Randy,"
Randy kemudian menelpon calon adik iparnya.
"Halo. Randy, Assalamualaikum,"
"Halo. Waalaikumsalam. Ya Mas Rey. ada apa?"
"Jadi gini Ran.Setelah kami telpon handphonenya Melati, tapi nggak di angkat. Apa solusi kita. Kalo lapor polisi belum 24 jam Ran,"
"Ya Mas. Bener. Sekarang ini saya sedang diskusi sama orang-orangnya Papa. Nanti saya kabari lagi Mas. Insyaallah Mel bisa di temukan." sahut Randy tenang.
"Ya Ran..mas cemas banget. Kalian kan akan nikah jam sembilan Nanti. Ini sudah jam setengah delapan. Apa bisa kita menemukan Melati?" kata Reyhan gusar.
"Insyaallah Nanti ketemu Mas. Kita berdoa aja,"
"Ok saya tutup ya Ran..Assalamualaikum," Reyhan menutup sambungan telponnya dengan Randy. Pria tampan itu menatap lekat mata Papinya.
__ADS_1
"Gimana?"
"Randy bilang sedang diskusi sama orang-orang papanya. Berdoa saja Pi semoga Mel cepat di temukan,"
"Rey..tunggu bentar. Coba bilang sama Randy. Kita ikut mencari Mel."
"Baik Pi," sahut Reyhan. Lalu mulai menelpon Randy lagi. Setelah berbincang sebentar Reyhan mematikan sambungan telponnya.
"Pi kata Randy dia nunggu kita di Hotel.
"Ok. Papi siap-siap dulu," Hendrawan berjalan meninggalkan Reyhan menuju ke kamarnya. Reyhan pun duduk di ruang keluarga menunggu sang Papi yang sedang mengganti pakaian di kamarnya.
"Yuk Rey. Papi Sudah siap," Reyhan yang sedang asyik dengan ponselnya mendongakkan kepalanya menatap kearah sang Papi.
"Ok ayo kita berangkat," sahut Reyhan lalu bangkit dan berjalan di samping sang Papi.
Mereka telah sampai di parkiran mobil. Lalu keduanya langsung masuk ke dalam mobil mewah itu. Pak Hardi yang biasa jadi sopir pribadi Anita sudah menunggu di mobil. Tadi Mbok Sri sudah memberi tahu dirinya kalau dia di tugaskan mengantarkan tuan Hendrawan dan Reyhan untuk mencari Melati yang hilang.
"Berangkat sekarang tuan?"
"Ya jalan Di!" Pak Hardi kemudian menjalankan mobil meninggalkan halaman parkir rumah.
"Kalau pak Nanang , ke hotelnya Om Tommy biasanya lewat mana Pak?" tanya Reyhan sambil menatap makanan di depannya.
"Lewat jalan alternative den. Biasanya sih gitu. Emang kenapa Den?"
"Kita coba lewat jalan alternative aja ya Pak.Siapa tahu ketemu pak Nanang di sana!"
"Baik den." sahut Pak Hardi.
"Oh lewat sini, biar cepat sampai dan menghindari macet ya Pak," kata Reyhan saat mereka memasuki jalan lain selain jalan raya yang lebar dan banyak kendaraan lalu lalang. Di daerah ini kendaraan agak lengang. Mungkin itu alasan Pak Nanang memilih jalan alternative ini.
Sampai di pertengahan jalan, tampak mobil parkir di tengah jalan. Reyhan dan Pak Hendrawan mengenali kalau mobil itu milik mereka.
"Itu mobil kita Pi. Kok bisa berhenti di pinggir jalan gini,"
"Iya ya...mana Pak Nanang. Kok nggak kelihatan?"
"Kita berhenti di pinggir pak. Kita cek dulu apa Pak Nanang ada di dalamnya,"
Tampak beberapa orang memeriksa mobil yang bisa di katakan aneh karena terparkir di tengah jalan. Bisa mengganggu para pengendara lain di jalan.
Pak Hardi memarkirkan mobilnya dengan rapi di pinggir jalan.Keduanya turun dari mobil.
Lalu berjalan memeriksa mobil itu.
"Kok bisa mobil ini berhenti di tengah jalan gini?" ujar seorang pria tua yang meneliti mobil itu dari luar. Matanya berkeliaran menatap isi mobil.
"Mana sopirnya ya?" tanya pria lain yang juga memperhatikan kondisi mobil.
"Pi..mana pak Nanang ya..kok nggak.kelihatan," kata Reyhan sambil menatap mobilnya dengan cemas. Apa Sebenarnya yang terjadi. Melati dan Pak Nanang sama-sama tak ada di dalam mobil.
__ADS_1
bersambung