
"Mel..lagi ngapain" sapa sang Mami sambil mendekati Melati. Melati mengangkat kepalanya. Lalu menatap Anita yang duduk di sampingnya.
"Lagi belajar Mi..mengulang pelajaran tadi siang." jawabnya sambil menunjukkan buku tebalnya. Anita tersenyum. Lalu mengusap kepala anaknya dengan sayang.
"Kalo nggak ada kerjaan, kita ngemall aja yuk! Rasanya mami nggak pernah deh jalan ke Mall sama kamu sayang." ucap Anita sambil tersenyum.
"Ok...Mel siap-siap dulu ya Mi.." dijawab anggukan oleh Anita. Melati beranjak dari duduknya, menuju ke tangga. Setelah melewati anak tangga Melati tiba di kamarnya.
Melati memilih beberapa baju. Masih bingung harus pakai apa. Akhirnya pilihannya jatuh pada kaos tunik berwarna biru laut dan kulot blue jeans.Sementara untuk jilbabnya Melati memilih jilbab katun dengan motif kembang dan tentunya dengan warna senada dengan bajunya.
Setelah mendapatkan pakaian yang akan di pakainya.Melati mulai mengganti pakaiannya. Berdandan dengan riasan natural. Tentu saja membuat wajah Melati semakin terlihat cantik.
Sebelum meninggalkan kamarnya, Melati mengambil tas selempang berwarna hitam. Memasukkan dompet, Ponsel, tissue dan pernak pernik kebutuhannya ke dalam tas.
Lalu melangkah keluar melalui tangga menuju ke ruang keluarga. Ternyata Maminya belum keluar dari kamar.
Melati berjalan ke arah kamar orang tuanya. Mengetuk pintu itu setelah berada di depan pintu kamar. Lalu menarik handle pintu, hingga pintu kamar terbuka.Kemudian masuk ke kamar. Di kamar sang Mami sedang sibuk merias wajahnya yang cantik jadi semakin cantik.
"Mami sudah siap?"
"Sudah..selesai, ayo kita pergi!" ajak Anita setelah melihat riasannya yang telah rapi di kaca meja rias.
Melati mengangguk. Lalu berjalan keluar kamar bergandengan dengan Mami Anita.
"Kita ke Mall mana Mi...?"
"Ke PI aja ya...Sudah lama Mami nggak ke sana."
Kedua ibu dan putri itu menuju ke parkiran mobil. Pak Heru sudah membuka pintu mobil untuk mereka.
Setelah duduk, mobil bergerak meninggalkan pelataran parkir lalu memasuki jalan raya.
Satu jam kemudian mereka berdua telah tiba di parkiran PI Mall. Mami Anita mengandeng tangan Melati saat mereka berjalan di parkiran menuju pintu masuk PI Mall.
"Kita ke sana yuk Mel," ajak Anita menunjuk sebuah gerai pakaian branded. Melati mengangguk. Berdua sambil berpegang tangan mereka masuk ke dalam gerai. Anita tampak asyik memilih -milih beberapa pakaian. Sementara Melati mengikutinya dari belakang.
Kebiasaan hidupnya, tinggal dengan orang tua tak punya. Membuat Melati tak memiliki keinginan shopping seperti gadis kebanyakan.
"Mel...kamu pilih juga sayang, jangan cuma liatin Mami aja." perintah Anita. Melati tersenyum malu.
"Baju Mel yang di belikan oleh Mas Rey masih banyak kok Mi..Itu aja belum di pakai semua,"sahut Melati . Anita menggeleng tak suka.
"Mami belum pernah belikan baju baru buat kamu sayang. Kecuali yang waktu kamu pakai di acara kenalan dengan keluarga. Resnu. Sekarang kamu ambil. Mana yang kamu suka Ok.Ini perintah!" ucap Anita serius.
Wajar saja kalau Dia berkata begitu pada putrinya. Karena Melati baru saja di temukan. Setelah sekian tahun berpisah.
Karena selama itu pula, Anita maupun Hendrawan belum pernah memberikan yang seharusnya menjadi kewajibannya sebagai orang tua.
Dan kali ini Melati tidak bisa menolak. Dengan di temani oleh sang Mami, Melati kemudian berjalan menyusuri lorong-lorong yang mana di kanan dan kirinya tergantung baju-baju dengan harga fantastis.
Melati sempat geleng-geleng kepala saat melihat sebuah gaun cantik di bandrol dengan harga sepuluh juta. Mungkin bagi sang Mami membeli baju seharga itu murah sekali. Tapi bagi Melati begitu mahal.
Akhirnya setelah berkeliling, Melati mendapatkan juga sebuah tunik dan celana panjang. Dengan harga lima juta.
Setelah membeli baju dan berkeliling di berbagai gerai mereka mampir ke sebuah restoran.
"Kita minum dulu ya sayang."
__ADS_1
"Ayo pesan aja. Melati mau makan apa?" tanya sang Mami dengan perhatian.
Gadis itu mengangguk setuju.
Saat pramusaji mengantarkan daftar menu mereka mulai memilih minuman dan makanan.
Siang ini Restoran tempat mereka makanan ramai di kunjungi.
Melati yang memilih tempat duduk paling sudut. Agar bisa melihat ke penjuru arah. Setelah setelah memilih menu yamg di inginkan. Sementara Pramusaji kembali ke dapur.Melati kembali ngobrol dengan Mama Anita.
"Mami lupa...sudah tiga hari dari hari Resnu datang berkenalan dengan keluarga kita. Apa kamu sudah mendapatkan keputusan sayang?"
Melati memandang wajah Maminya serius.
"Ehm Mi...kayaknya hati Mel menolak hubungan dengan Mas Resnu Mi."
"Kamu serius sayang? Apa tidak menyakitkan bagi kamu Mel?" wanita itu menatap lekat wajah Melati. Seakan ingin mencari sebuah jawaban jujur di mata indah itu. Mata bening meneduhkan hati siapa saja yang menatapnya.
"Tidak Mi...Rasanya akan lebih sakit kalau Mel meneruskan hubungan ini. Mel nggak ingin membuat. Bapak kecewa dan sedih." sahutnya tegas lalu menunjukkan wajahnya.
"Apa begitu cepat rasa cinta itu hilang Mel?"
Melati mengangkat wajahnya. Menatap ke arah Anita. Lalu menggeleng. Anita melihat mata itu berkaca-kaca. Anita menarik nafas dalam. Lalu menggenggam jemari putrinya.
"Jangan pernah membuat keputusan yang menyakitkan buat dari kamu sayang. Jangan siksa diri kamu dengan keputusan yang tidak kamu inginkan."
"Mami melihat kamu amat menyukai Resnu. Mami sebenarnya setuju. Resnu pria yamg dewasa. Bukan hanya tampan, tapi juga sholeh. Bukankah pria ideal bagi kamu seperti itu nak?"
Melati mengangguk. Air mata yang dari tadi coba Ia bendung akhirnya menetes juga.
"Mami sebenarnya senang kalau kamu bisa bersama Resnu. Tapi..kalau keputusan untuk bersama Resnu itu tidak baik bagi kamu. Mami nggak bisa maksa. Tambah lagi..Papi belum siap jauh dari kamu. Dan Mami juga. Takut kehilangan kamu lagi. Walaupun ada Meli..tapi tidak akan lengkap tanpa pasangan kembar Mami," kata Anita sambil terus mengelus jemari Melati. Melati kemudian menunduk. Mengusap air mata yang jatuh di pipinya. Saat Ia mengangkat kepalanya.
Mereka menikmati makan dalam diam. Ibu dan anak itu saling menatap. Setelah selesai makan. Anita memanggil pramusaji pria tadi . Meminta agar pria itu mengantarkan nota yang harus di bayar. Setelah selesai membayar makanan keduanya langsung keluar restoran. Berjalan menuju parkir mobil.
Sebelum sampai ke mobil seseorang menyentuh bahu Melati. Gadis itu menoleh ke belakang.
Ternyata seorang pria . Pria itu Randy. Pria yang akan di jodohkan dengan Meli. Anita juga ikut menoleh ke arah belakang.
"Eh...saya kira siapa? apa kabar Randy?" tanya Anita ramah.
"Alhamdulillah. Baik Tante." jawabnya kemudian melirik ke arah Melati. Anita tersenyum melihat sikap Randy kepada Melati.
'Ah apa Randy menyukai Melati?' tanyanya dalam hati. Lalu tersenyum.
"Sendiri aja Randy?" tanya Anita ramah. Anita melirik ke arah Melati. Putrinya itu tertunduk lalu menoleh ke arah lain.
"Sendiri Tan, kebetulan ada pertemuan dengan kolega sejawat. Tante sendiri.berdua aja?" Randy balik tanya. Anita tersenyum.
"Iya..berdua aja. Oh ya..kapan-kapan kalau nggak sibuk. Mainlah ke rumah. Walau nggak ada Meli. Kan ada Melati dan Reyhan.Ehmn.." tawar Anita sambil tersenyum. Randy mengangguk. Lalu menatap Melati.
"Melati Mahasiswi Kedokteran kan Tan..?" dijawab anggukan oleh Anita.
"Kebetulan, nanti kalau mau Coas bisa di klinik Papa,"
"Masih lama Mas..kan baru semester 1," jawab Melati di barengi anggukan oleh Anita.
"Ya..nanti nggak terasa Mel..tau-tau sudah semester akhir." sahut Randy sambil tersenyum.
__ADS_1
"Kamu lupa ya cah ganteng. Kalo Papinya Melati punya Rumah Sakit besar di beberapa daerah. Termasuk Jakarta." Randy langsung terkekeh.
"Apa ada ruang di balik bakwan hem?" selidik Anita sambil menepuk bahu pria tampan itu. Randy makin terkekeh. Lalu menyatukan kedua tangannya ke dada ,tanda Ia Meminta maaf. Anita tersenyum melihat sikap dokter muda itu.
"Ya sudah..Tante dan Melati mau pulang. Kalo pengen main ke rumah main aja ok." ujar Anita ramah. Randy tersenyum manis.
Ok Tante. Terima kasih banyak. Nanti kalau ada waktu kosong, saya main ke rumah Tante." sahutnya.
Anita mengangguk. Sementara Melati hanya diam. Matanya menatap ke depan hanya sesekali menatap Randy.
Setelah pamit pada Anita dan Melati. Randy berjalan menuju tempat pertemuan.
Sementara Melati berjalan beriringan ke arah pintu utama PI Mall
Setelah masuk ke dalam mobil. Pak Heru menjalankan kendaraan roda tempat itu dengan kecepatan sedang. Membelah jalanan menuju kembali ke rumah.
Sementara itu, Randy yang akan memasuki lift di Mall megah itu menghentikan langkahnya saat sebuah suara memanggilnya. Randy menoleh ke arah suara.
Seorang pemuda dengan wajah tenang tapi terlihat ada amarah tertahan tergambar di wajah itu.
"Saya peringatkan sama kamu.Jangan coba-coba mendekati calon istri saya.!" ancaman keluar dari bibir pria tampan itu. Randy menggedikkan bahunya.
"Siapa yang anda maksud. Saya sama sekali nggak mendekati calon istri anda?" tanya Randy bingung.
Pria itu ternyata Resnu.
Resnu langsung mencengkram kerah baju Randy. Dokter muda itu terdesak ke dinding disebelah lift yamg akan Ia naiki.
"Jangan terlalu percaya diri. Saya memperhatikan tatapan kamu sama Melati. Melati itu calon istri saya. Saya peringatkan jangan sekali-sekali mendekatinya.!" ancamnya penuh amarah.
"Hei..lepas duluuu!" desis Randy yang merasa agak sesak di tenggorokannya.
Resnu kemudian melepaskan cengkraman tangannya pada kerah baju Randy.
"Harusnya ada percaya diri. Kenapa ada merasa seolah saya akan merebut Melati dari anda? Anda cemburu?" tanya Randy dengan nada mengejek.
Rahang kokoh Resnu mengeras. Dia benci di ganggu. Apalagi yang di ganggu sebentar lagi akan menjadi miliknya.
"Sebaiknya ada berusaha menarik hati Melati kembali. Karena di luaran sana banyak pria-pria mapan yang akan melamarnya." kata Randy membuat Resnu tertunduk.
"Saya nggak ada urusan sama anda. Perjuangkan saja apa yang ingin anda miliki. Jangan mengancam saya!" bisik Randy ke telinga Resnu lalu berlalu dari hadapannya.
Resnu menunduk lalu membalikkan tubuhnya ke arah Randy.
"Saya pastikan anda akan kalah jika bersaing dengan saya, cam kan itu!" teriak Resnu. Beruntung tempat Randy akan masuk ke Lift itu sepi. Sehingga tak ada yang mendengar perkataan Resnu.
Randy hanya melambaikan tangannya, sambil berjalan cepat mencari Lift lain di gedung itu. Bukannya Takut. Akan tetapi Ia malas ribut dan di anggap perebut kekasih orang.
Itu bukan tipe nya.
__ADS_1
*****