Cinta Melati Cinta

Cinta Melati Cinta
Rencana di percepat


__ADS_3

Akhirnya Melati melangkahkan kaki nya menuju ke kamar mandi. Kamar mandi itu terletak di dalam kamar yang merupakan tempat Melati di sekap.


Gadis itu memperhatikan handuk dan baju yang tersedia di sisi tempat tidur.Handuknya ternyata masih baru. Masih terpasang merk di sisi kiri handuk. Begitu juga baju, setelah Melati melihatnya ternyata baju yang di berikan untuknya sebuah baju gamis, lengkap dengan jilbabnya. Ada pakaian dalam juga tersusun di dalam handuk tadi.


Melati sampai geleng kepala. Segitunya keinginan Pak Harjo untuk menikahinya. Tanpa izin dari orang tuanya. Tapi setelah Melati pikir tentu saja langkah ini yang di lakukan oleh pak Harjo. Jika pria tua itu meminta izin untuk menikahinya sudah pasti Hendrawan, Papinya tak akan menyetujui. Kalau untuk kekayaan, tentu orang tua Melati lebih kaya dari Pak Harjo yang cuma sekadar rentenir terkenal di desa Sedayu. Jadi belum ada seujung kukunya harta Pak Harjo bagi Hendrawan.


Wajar saja Pak Harjo melakukan penculikan terhadap Melati. Tapi Melati sempat berpikir juga, apa Pak Harjo tidak malu dengan kelakuannya terhadap keponakan kandungnya Resnu. Padahal dia ikut berkenalan dengan keluarga Melati saat menemani Resnu untuk lamaran tempo hari. Tapi sepertinya pria tua ini tidak punya malu sama sekali.


Akhirnya Melati mandi juga, tapi gadis itu tidak mau memakai pakaian yang di sediakan Pak Harjo. Melati lebih memilih memakai pakaiannya sendiri. Selesai mandi Melati merasa tubuhnya segar. Lalu agar tubuhnya bertenaga, Melati mencoba makan nasi kotak yang sudah disediakan di nampan yang di bawa oleh pria botak tadi.


Setelah merasa cukup mengisi perutnya. Melati menutup kota nasi itu. Lalu meletakkannya di meja nakas di samping tempat tidur itu.


Melati menatap kearah jendela yang tertutup. Jendela kamar ini tidak memiliki kaca dan terali. Seharusnya dengan mudah bisa saja Melati melarikan diri dari kamar itu. Tapi setelah didorong oleh Melati, ternyata jendela kamar itu di paku dengan kuat. Sehingga susah untuk dibuka.


Melati hanya bisa pasrah. Tak tahu apa yang harus di perbuat. Akhirnya yang di lakukan nya hanya diam, duduk merenung di atas


ranjang itu.


****


"Assalamualaikum. Ya Mi gimana? apa kita bisa ketemu sekarang?" tanya Hendrawan sore itu.


"Waalaikumsalam .Bisa Mas. Mas sekarang berjalan aja ke ujung jalan Banyuwangi. Berhenti di sebuah rumah yang terletak di persimpangan jalan. Rumah itu ada warung kopinya. Mas dan rombongannya bisa menunggu di sana..Bawa mobil satu saja. Nggak usah banyak. Biar gak di curigai oleh gerombolan penculik." jelas Fahmi panjang lebar.


"Baiklah Mi..Kami segera meluncur kesana," sahut Hendrawan lalu mematikan sambungan telponnya.


"Gimana Pi..apa bisa kita jalan sekarang?" tanya Reyhan sambil menatap lekat wajah Papinya.


"Bisa, kamu telpon Randy dan pak Hardi sekarang. Kita kumpul di lobby hotel," sahut Hendrawan sambil berjalan keluar kamar, Anita yang mendengar percakapan antara Suami dan Putranya hanya bisa berdoa dalam hati, semoga putrinya Melati di temukan dengan selamat dan bisa mengikuti resepsi acara nanti malam.

__ADS_1


"Halo Randy...kita ketemu di lobby. Ya..buruan ya!" ajak Reyhan.


"Ok Mas..saya segera meluncur," setelah menerima telpon dari Reyhan, Randy segera menutup sambungan telponnya. Lalu berjalan keluar kamar pengantin nya yang telah ditata rapi dan mewah.


"Pak Hardi sudah kamu telpon Rey?" tanya Hendrawan saat mereka berdua sudah berada di lobby hotel.


"Sudah Pi..bentar lagi kesini katanya," Hendrawan mengangguk mendengar cerita Reyhan.


Tak lama kemudian Randy dan Hardi berjalan berbarengan menuju lobby hotel. Mereka berempat berkumpul di salah satu kursi di lobby hotel itu.


"Jadi gini. Fahmi tadi susah telpon Papi. Dan dia bilang kita menunggu di ujung jalan Banyuwangi. Ada sebuah warung kopi disana. Jadi kita bisa menunggu di situ. Pasukan Fahmi akan melihat situasi dulu. Kalau sudah pas waktunya, bisa segera menggerebek rumah yang di maksud," kata Hendrawan. Semua mengangguk paham. Akhirnya keempat pria itu pergi keluar lobby hotel menuju mobil Randy. Setelah keempat orang itu masuk ke dalam mobil, mobil mulai bergerak keluar halaman hotel dan langsung berjalan menuju jalan Banyuwangi yang di maksud Fahmi.


Membutuhkan waktu satu jam setengah, akhirnya mereka sampai di jalan Banyuwangi sesuai instruksi Fahmi mereka menunggu di sebuah warung kopi di seberang jalan Banyuwangi.


Agar tak mencurigakan beberapa orang yang minum di warung kopi itu, Hendrawan memesan empat gelas kopi untuk mereka berempat. Setelah pesanan tiba, ke empat pria itu menyesap kopi yang terhidang. Sambil menunggu perintah Fahmi selanjutnya.


"Halo Mas..udah di warung kopi ya?" tanya Fahmi langsung to the point.


"Ya Mi."


"Ya tadi saya sempat liat pas lewat di depan warung kopi. Mas tunggu sebentar. Kami mau liat situasi disana. Kalau memungkinkan akan saya telpon mas kembali.Tetap standby ya mas!" perintahnya.


"Siap. Baiklah kami tunggu," di seberang Fahmi sudah mematikan sambungan telponnya.


"Bagaimana Pak? Apa kita mulai penggerebekan? Tkp sudah dekat." tanya seorang anak buah Fahmi.


"Kita berhenti disini dulu. Sebaiknya mobil kita simpan di balik pepohonan itu. Baru kita keluar untuk melihat situasi," ujar Fahmi. Anak buahnya yang duduk di belakang kemudi langsung membawa mobil ke balik pepohonan dam semak yang rimbun. Kebetulan tanah di kebun ini keras. Bukan tanah becek. Setelah mobil berhenti. Ke tujuh orang itu langsung keluar dari mobil dengan membawa senjata masing -masing.


"Beny..kamu cek lokasi. Pakaian kamu khas orang kebun. Pistol simpan di tempat yang tak terlihat oleh kawanan penculik!" perintah Fahmi pada salah seorang anak buahnya. Pria yang berpakaian layaknya petani mengangguk.

__ADS_1


Lalu menunjukkan dimana dia menyimpan senjatanya. Fahmi mengangguk setuju.


Pria itu kemudian dengan membawa cangkul dan keranjang langsung pergi ke arah rumah tempat Melati di sekap. Di depan rumah tua itu nampak empat orang pria bertato menjaga rumah tapi terlihat sedang santai ngobrol di teras rumah. Memang gaya mereka cukup mengelabui siapa saja yang ada di dekat rumah itu. Tak terlihat jika mereka tengah menyekap seorang gadis.


"Heh Black..gimana calonnya Bos Harjo udah makan?"tanya pria bermata sipit bertanya pada seorang temannya yang berkulit hitam. Makanya di panggil Black.


"Kagak tau gue. Coba tanya sama Tony. Kan dia yang nyiapin makanan untuk cewek itu," sahut pria berkulit gelap.


"Tring..tring" bunyi sebuah pesan masuk ke handphone pria bermata sipit. Pria itu mengeluarkan Ponsel yang terletak di saku celananya.


{Siapkan ruangan untuk acara pernikahan bos Harjo sore ini}


{Lho nggak jadi nanti malam?}


{Nggak. Bos udah kebelet pengen nikahi Neng cantik itu}


{Ok segera kami siapkan}


"Heh..kalian semua sini ngumpul! Aku dapat berita," seru pria bermata sipit. Ketiga temannya mendekati pria itu.


"Gini, kita di perintahkan Bos untuk menyiapkan tempat untuk pernikahan bos dan cewek itu."


"Sekarang?" tanya salah seorang temannya.


"Ya sekarang. Nggak jadi nanti malam. Bos pengen cepat-cepat bisa duaan sama tuh cewek hahaha," sahut pria bermata sipit. Ketiga temannya geleng kepala mendengar penuturan temannya.


Keempat pria itu lalu masuk ke dalam rumah. Merapikan ruangan, membentangkan karpet dan menyiapkan meja kecil untuk si tarik di ruangan itu.


Setelah selesai, pria bermata sipit menemui Tony yang sedang berjaga di depan kamar Melati. Pria itu berbisik ke telinga Tony. Tony nampak mengangguk paham. Setelah itu pria bermata sipit kembali berjaga diluar dengan ketiga temannya.

__ADS_1


__ADS_2