Cinta Melati Cinta

Cinta Melati Cinta
Menunggu..


__ADS_3

Hendrawan tampak termenung di ruang kerja kantornya. Kemarin sore Ia menelpon putrinya, Meli yang sedang berkuliah di Aussie.


Hendrawan galau, karena Meli mematikan sambungan telpon selulernya, sebelum Ia menyelesaikan pembicaraan.


Putrinya Meli memang memiliki watak cuek, masa bodoh akan hal apapun. Tapi kali ini untuk urusan perjodohan. Meli begitu menentang keras perjodohannya dengan Randy.


Hendrawan merasa tak memiliki muka terhadap Tommy Wiryawan, jika Meli menolak perjodohan itu.Hendrawan berpikir keras tentang apa yang harus di lakukan.


Jemarinya memencet ponsel, lalu menunggu nada dering berbunyi. Tak lama panggilan di seberang menyahut.


"Waalaikumsalam, Ya..Mi...Papi lagi bingung. Gimana cara mengatakan pada Tommy kalau Meli tidak mau di jodohkan dengan Randy." ujar Hendrawan pada Anita yang sedang meninjau perusahaanya di cabang lain.


"Aduh gimana ya Pi...ini Mami mau rapat dulu di kantor. Semua Mami serahkan sama Papi," sahut Anita.


Hendrawan menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Ia bingung sekali. Anita malah menyuruh dirinya menyelesaikan masalah ini.


"Mi...gimana kalau kita minta Melati yang menggantikan Meli. Papi yakin Meli tak akan menolak. Dia anak yang baik dan nurut sama kita. Beda sama Meli yang pembangkang." di seberang sana Anita menganggukkan kepalanya setuju. Padahal kan tidak kelihatan.


" Ya kalau begitu, nanti malam kita coba ngobrol sama Melati. Papi rasanya merasa Melati lebih cocok dengan Randy. Dari pada sama Meli Pi."


"Ya bener. Papi setuju. Randy seorang dokter. Sementara Melati calon dokter. Mereka akan saling melengkapi,"


Setelah selesai percakapan di telpon selulernya, Hendrawan menutup sambungan telpon. Wajahnya tampak sumringah. Dia tak ingin di buat malu oleh Meli. Perusahaanya lagi butuh dana segar, itulah sebabnya Hendrawan ingin menjodohkan Meli dengan Randy. Tapi ternyata Meli tak mau menerima perjodohan itu.


Bukan maksud jahat pada putri kembarnya. Tapi jika salah satu putri kembar Hendrawan menikah dengan Randy. Tentu masa depan bisnisnya makin bagus. Dan putrinya tak akan hidup kekurangan.


Karena menikah dengan miliarder.


...****************...


"Mel...Mel..." suara ketukan pintu dan panggilan berbarengan memanggil Melati yang bari siap shalat Isya. Melati membuka pintu kamarnya setelah melipat mukenah dan sajadah yang terbentang di lantai. Meletakkan peralatan Shalat ke atas kursi lalu membuka pintu kamar.



"Mami...sudah pulang?"


Anita belum menjawab pertanyaan Melati , tapi masuk ke kamar anak gadisnya. Menatap ke penjuru ruangan. Lalu duduk di tepi ranjang.


"Kamar Mami rapi banget sayang. Mami yang menatanya ya?" mata Anita tak berhenti menatap ke setiap sudut kamar.



"Ih Mami.. ada-ada aja. Kayak nggak pernah masuk kamar Mel aja," Melati terkekeh melihat tatapan tak biasa Maminya. Anita ikut terkekeh.



"Iya ya..tapi bari kali ini Mami memperhatikan kamar Mami Mel..Ternyata Mami anak yang rapi. Ehmn Mami suka melihatnya. Kapan-kapan Mami pengen tidur di sini," Melati mengangguk dengan senyum yang tak lepas dari bibirnya.



"Mami bari sampai?" ulangnya lagi. Sang Mami mengangguk.

__ADS_1



"Pasti ada yang mau di bicarakan ya...?" tebak Melati. Anita terperangah. Namun kembali biasa saja.



"Ya..nggak salah juga kan.Mami jarang ngobrol sama kamu sayang. Kemarin lusa kita pergi belanja bareng. Hari ini Mami sibuk dengan urusan perusahaan kita. Ya Mami sempatkan untuk ngobrol sama kamu," Melati menatap lekat wajah Anita. Anita mengusap jemari tangan kirinya. Berusaha menghilangkan debaran jantungnya yang tak beraturan.



"Ya Mi...kalau pun Melati ada di rumah. Mama yang keluar ke kantor....berselisih terus..." ucapnya sambil tersenyum. Lesung pipi itu menambah kecantikannya.


Anita tersenyum.


"Ehmn ..gimana keputusan hubungan kamu sama Resnu, Mel ?"



"Mas Resnu beberapa hari yang lalu datang ke Kampus Mel ,Mi ." Anita menatap dengan tatapan ingin tau.



"Lalu?"



"Mel cuma bilang sama mas Resnu , gak usah ketemuan dulu. Sampai Mel dapat keputusan yang tepat." ujar Melati jujur. Anita mengangkat sebelah alisnya. Menunggu lanjutan cerita putrinya.




"Hambar..maksudnya?"



"Mel nggak ngerasain cinta, sayang atau takut berpisah dengan Mas Resnu." Anita mengangguk paham. 'Ah kesempatan sekali ini' pikir Anita.



"Jadi keputusan kamu apa sayang?" selidik Anita sambil menatap lekat wajah Melati. Mencoba menebak akhir cerita putrinya.



"Mel udah tiga kali shalat Istikharah Mi.., dan jawabannya Mel mundur untuk tunangan atau lebih jauh lagi menikah dengan Mas Resnu," Anita langsung tersenyum samar saat mendengar akhir cerita yang paling di tunggunya.



"Syukurlah...rasanya memang nggak enak kalo kamu meneruskan hubungan dengan Resnu yang Pakde nya pernah berniat menikah sama kamu sayang. Apalagi Pakde Harjo itu pernah membuat Pak Herman terluka dan sakit parah."


__ADS_1


"Iya Mi. Sebenarnya bulan dendam.Tapi nggak enak aja. Apa lagi melihat tatapan Pakde Harjo sama Melati waktu itu. Kayak mau menerkam aja," sahut Melati sambil bergidik ngeri.


Anita terkekeh.


"Ehmn gini. Ini soal perjodohan Lili saudara kembar mu dan Randy. Papi pusing. Meli menolak perjodohan itu. Kamu tau nggak saat Papi menelponnya. Eh malah dia matiin sambungan telpon duluan. Padahal Papi belum selesai bicara. Anak itu keras kepala. Maunya yang di dia aja.Selalu membantah,"


" Dan menurut keterangan orang suruhan Papi,Lili udah berpacaran sama seorang pria bule. Namanya Steven Alexander.Huh..bikin tensi Papi kamu naik aja." keluh Anita. Melati mendengarkan cerita sang Mami dengan antusias.


"Terus gimana ya Mi. Papi ngomong sama Om Tommy?"



"Nggak tau sayang. Papi dan Mami masih bingung. Nggak tau alasan apa yang harus kami berikan, pusing Mami..Mel," Melati ikut perihatin. Dia tak punya solusinya.



"Ya udah Mel..hati Mami jadi lega udah cerita sama kamu,"



"Ya Mi"



"Makasih ya sayang. Udah jadi pendengar setiap Mami. Udah jadi tempat curhat Mami. Mami seneng kamu ada di sini. Kumpul bareng. Saat yang sudah lama Mami tunggu," Anita bangkit dari duduknya, berjalan ke arah Melati yang duduk di sofa tunggal. Lalu memeluk putrinya dengan penuh kasih sayang. Melati membalas pelukan itu. Pelukan yang menenangkan.


Anita mengurai pelukannya. Lalu menatap putri cantiknya penuh arti. Lalu tersenyum.


"Mami kembali ke kamar ya. Teruskan kegiatan kamu. Maaf Mami sudah menganggu," pamitnya sambil berjalan keluar kamar Melati. Melati hanya diam termangu tanpa tahu solusi terbaik buat keluarganya.


Di kamar kerja Hendrawan.


Setelah keluar dari kamar Melati, Anita langsung berjalan menuju ruang kerja suaminya. Malam seperti ini, Hendrawan biasanya berada di ruang kerjanya. Menyelesaikan pekerjaan yang belum selesai. Sambil mencek beberapa Email yang masuk di akunnya.



"Mi...apa sudah bicara dengan Melati?" Hendrawan menatap istrinya, setelah Anita masuk ke ruang kerjanya. Mencob mencari tahu apakah Anita sudah cerita tentang Randy atau belum. Anita mengangguk. Lalu duduk di kursi depan meja kerja Hendrawan.



"Tapi belum sampai menyuruh Melati menggantikan posisi Lili ,Pi.." Hendrawan mengangguk paham.


"Jadi kapan Mami akan


ngobrol sama Melati lagi?" Anita menggedik kan bahunya. Hendrawan memijit pangkal hidungnya. Tiba-tiba kepalanya mendadak sakit. Melihat itu Anita langsung bicara.


"Besok Mami ngobrol lagi sama Mel. Sepulang dia kuliah. Mami besok nggak ke kantor. Sore..ya sore.." ucapnya memastikan. Hendrawan menarik nafas lega.



"Ok kalo gitu, Papi tunggu kepastiannya!" Anita mengangguk . Lalu pamit pada Hendrawan untuk kembali ke kamar mereka.

__ADS_1


__ADS_2