
Satu bulan kemudian...
Hari sudah beranjak siang. Tapi cuaca di Melbourne sangat dingin. Sore kemaren pun terjadi hujan badai. Meli mengeratkan baju sweater nya. Baru saja akan naik ke atas ranjangnya. Sebuah ketukan membuat ia mengurungkan niatnya untuk istirahat di hari minggu ini.
Meli berjalan ke luar kamarnya. Agak tergesa. Karena ketukan di pintu rumahnya tak kunjung berhenti. Setelah membuka pintu rumah, seseorang berdiri membelakangi Meli yang berdiri termangu menunggu seseorang itu membalikkan tubuhnya.
Pria itu membalikkan tubuhnya. Wajah tampannya membuat bibir Meli bergumam pelan.
"Li...kamu sehat?" pria tampan itu mendekati Meli. Steven memang pria yang paling perhatian padanya. Seminggu ini mereka tidak berjumpa. Karena kesibukan keduanya menyelesaikan Skripsi nya. Meli mengangguk pelan, seraya memberikan senyum termanis pada Steven, yang sekarang sudah menjadi kekasihnya.
"Alhamdulillah baik." Meli mengajak Steven masuk ke dalam flatnya. Steven mengikuti langkah gadis itu.
"Apa arti Alhamdulillah?" tanya Steven ingin tahu sambil duduk di sofa pada ruang tamu itu.
"Alhamdulillah, itu artinya segala puji bagi Allah, kalau di agama ku sebagai ungkapan terima kasih kepada Allah," Meli menjelaskan pada Steven. Pria itu mengangguk. Entah kenapa semenjak dekat dengan Meli. Steven merasa tertarik dengan agama yang dianut oleh gadis pujaannya.
"Oh ya Li...aku bawa ini, makan siang buat kamu." Steven menunjukkan paper bag lalu memberikan nya pada Meli. Meli langsung menyambut paper bag itu dan membawanya ke pantry.
"Mau minum apa Steve? sekalian aku buatkan.!" teriak Meli dari dapur.
Steven kemudian berjalan ke pantry. Mendekati Meli yang sibuk mengeluarkan makanan dari paper bag. Setelah memasukkan makanan ke dalam piring dan mangkok, Meli mengambil gelas lalu memasukkan kopi hitam ke dalam gelas.
"Steve..gulanya berapa sendok?"
"Sesendok saja sayang," sahut Steven berdiri tepat di belakang Meli. Lalu memeluk tubuh ramping gadis cantik itu dari belakang, meletakkan dagunya ke pundak Meli. Membuat Meli menoleh kesamping kanannya. Wajah mereka begitu dekat, hanya berjarak beberapa senti saja.
Jantung Meli berdebar kencang. Hal yang sama terjadi pada Steven. Jantungnya berpacu lebih cepat. Saat tak ada pembatas antara tubuhnya yang tinggi tegap dengan tubuh Meli yang tinggi dan ramping.
__ADS_1
"Steve..ehmn kamu?" ucap Meli salah tingkah.
"Kenapa? kok gugup gitu?" Steven makin mempererat pelukannya. Steve lalu membalikkan tubuh Meli hingga menghadap padanya. Kini mereka berdua saling berhadapan. Netra keduanya saling menatap. Mata Steven tampak berembun. Kabut gairah menyelimuti mata coklatnya.
Dengan perlahan Steven mendekatkan wajahnya dengan wajah Meli. Lalu melu*at lembut bibir berwarna merah jambu milik gadis pujaannya tersebut.
Meli tak melakukan balasan. Tapi karena ciuman Steven begitu hangat dan liar, gairahnya seketika bangkit. Dan membalas lidah Steven yang bergerak liar di dalam mulutnya.
"Akh..Steve.." ******* lolos dari bibir gadis itu. Steven semakin bersemangat. Gairahnya sudah naik ke ubun-ubun.
Dengan cekatan Steven mengangkat tubuh Meli dan membawanya ke atas sofa di ruang tengah tanpa melepaskan ciuman mereka. Di sofa itu keduanya saling melu*at dan mencium dengan ******* yang tak henti ke luar dari bibir Meli.
Gadis itu mengelinjang nikmat saat tangan Steven sudah mengelus dan meremas kedua dadanya yang terasa makin keras dan menantang di balik kaos lengan pendek yang di kenakan Meli.
"Steve..oh..tolong jangan teruskan..."bisiknya lirih melepaskan ciuman panas mereka saat jemari Steve mulai turun mengelus pahanya yang hanya mengenakan hotpant berbahan kaos.
"Kenapa sayang...apa aku tidak boleh menyentuhnya?" desis Steven dengan mata berkabut gairah.
Meli menatap wajah Steve dengan nafas memburu.
Jujur seumur hidup baru kali ini dia dicium dan bersentuhan dengan seorang pria.
"Jangan Steve. Memang tak boleh. Aku masih perawan Steve. Dan aku ingin mempersembahkan keperawanan ku pada suami ku nanti," jawab Meli lirih.
Steve menjauhkan wajahnya dari Meli. Menatap gadis itu dengan pandangan penuh tanya.
"Kalau begitu aku ingin menikahi mu," sahut Steve mantap. Meli tersenyum.
"Kalau kau ingin menikahi ku lamar lah aku pada Papi ku , Steve." Steven menatap mata Meli dalam.
"Baiklah..aku akan ke Indonesia. Melamar mu." tegasnya. Meli tersenyum.
"Tapi aku belum sidang Skripsi Steve. Apa kau bisa sabar menunggu sampai sidang Skripsi ku selesai?"
Steven mengangguk.
__ADS_1
"Aku sidang Skripsi minggu depan. Kamu sendiri kapan pastinya?"
"Senin besok Steve. Berarti duluan aku yang sidang, senin berikutnya baru kamu, betul?" ucap Meli.Steve mengusap lembut wajah mulus Meli. Menatap lekat wajah cantik itu. Lalu mengangguk.
"Kalau kau ingin melamar ku, kau harus menyiapkan semua berkasnya. Kau tahu kan. Syarat-syaratnya banyak sekali.Tak semudah kalau kau menikah dengan wanita asal Melbourne." Meli mengingatkan Steven dengan tatapan serius.
"Ok..nanti aku akan meminta orang kepercayaan Daddy ku untuk mengurus pernikahan kita." sahut nya mantap. Meli menggeleng.
"Kita beda agama Steve, jangan lupa itu!" Meli mengingatkan pria bule itu.
Steve tercekat saat akan bangkit dari duduk nya, untuk mengambil minuman di pantry.
Pria itu berdiri menegang menatap Meli dengan tatapan syok . Meli terkekeh melihat keterkejutan di wajah Steven.
"Kalau kau mau semuanya cepat selesai. Kau harus memulainya dengan membaca dua kalimah Syahadat di depan Imam Masjid perkumpulan mahasiswa Islam di sini. Setelah itu se segera mungkin untuk berkhitan."
"Apakah harus?" tanya Steven dengan wajah memucat. Meli tersipu sambil menutup mulutnya.
"Syarat untuk menjadi seorang Muslim memang begitu Steve. Apakah kau siap meminta izin pada Daddy dan Mom?"
Steve menunduk.
"Bukan aku sok suci Steve. Tapi kami para gadis di Indonesia terutama yang beragama Islam akan menegang teguh untuk mempertahankan keperawanan kami. Karena itu merupakan suatu bentuk kesetiaan kami dan ketaatan kami dalam menghindari zina." Steven mengangguk paham. Dia semakin terpesona dengan sikap tegas Meli. Gadis Muslimah asal Indonesia.
"Aku sungguh mencintaimu Li...dan aku akan melakukan apa pun asal aku bisa menikahi mu." ujar Steven mantap. Meli tersenyum bahagia mendengarnya.
"Apa aku boleh mencium kening mu?" pinta Steven sembari mendekati Meli yang tengah duduk di sofa.
"Kita sudah melakukan nya Tadi Steve. Dan aku merasa berdosa melakukan nya. Jangan lagi ajak aku untuk memasuki pintu neraka hanya karena sebuah ciuman penuh gairah dari mu!" tolak Meli tegas.
Steven menatap Meli penuh cinta. Sebagai seorang pria, dia merasa tersanjung. Karena dengan dirinya yang mencintai Meli saja, gadis itu mampu membentengi dirinya dengan iman . Apalagi dengan pria lain.
"Ok..sekarang sebaiknya kamu makan siang. Itu nanti, makanan yang aku beri bisa basi kalau tak kunjung di makan," kata Steve mengingatkan. Meli tersenyum menatap pria itu. Lalu langsung berjalan menuju pantry untuk mengambil makanan yang sudah ditata nya di atas meja pantry.
Membawa dua buah piring ke ruang tengah. Menghidangkannya di meja yang terletak di depan sofa tempat mereka ngobrol tadi. Meli kembali ke pantry mengambil dua gelas minuman. Dan berjalan kembali ke tempat Steve yang duduk menunggu nya.
"Ayo kita makan siang!" ajaknya sambil menyerahkan sepiring steak lengkap dengan mash potato, rebusan buncis, wortel, brokoli dan saus keju kesukaan Meli.
Saus Steak biasanya bisa BBQ, saus lada hitam, dan saus jamur. Tapi Meli lebih menyukai saus keju. Karena rasanya yang gurih dan wangi butter yang lebih harum.
__ADS_1
Keduanya lalu menikmati makan siang yang telat beberapa jam. Akibat ciuman liar Steven.
**