Cinta Melati Cinta

Cinta Melati Cinta
Melati hilang....


__ADS_3

Mobil yang di kendarai oleh Pak Nanang sudah memasuki jalan raya.Lalu lintas pagi ini tidak terlalu ramai. Melati menyenderkan tubuhnya di punggung kursi. Matanya terpejam. Rasa letih masih memenuhi seluruh tubuhnya. Walau tadi Ia sudah coba untuk makan. Tapi hanya beberapa suap saja. Perut nya hanya di isi dengan 2 gelas air hangat.


"Kita langsung ya Non,"


"Iya Pak."


Netra Pak Nanang melirik kaca spion depan. Sedari tadi hatinya agak resah. Seolah ada yang mengikuti. Dan saat Pak Nanang kembali mengemudi dengan fokus, sebuah mobil dari belakang memotong dari jalur sebelah kiri. Pak Nanang langsung ngerem mendadak. Tubuh lemah Melati terhempas di sandaran belakang jok pengemudi. Pak Nanang langsung menoleh ke belakang. Tampak Melati membangunkan tubuhnya yang tersungkur di depan bangkunya.


"Ya nggak papa Pak Nanang. Jalan lagi aja!" perintahnya sambil duduk kembali di kursi penumpang di belakang kursi Pak Nanang.


Baru saja Pak Nanang akan menjalankan kembali mobilnya. Tiba-tiba dari samping kaca mobil pak Nanang di gedor oleh seseorang. Pak Nanang menolehkan pandangannya kearah pintu kaca disebelahnya. Dua orang lelaki dengan raut seram berdiri masih sambil menggedor pintu mobil. Pak Nanang terjingkat. Jantung pria tua itu bergemuruh. Kecemasan memenuhi seluruh rongga dadanya. Pria itu komat kamit. Membaca doa.


"Turun lo,!"


"Non nggak apa?" Netra pak Nanang menatap lekat wajah putri majikannya.


"Nggak papa pak. Kenapa orang itu ngedor mobil kita pak?" tanya Melati cemas. Sambil menunjukkan ke arah dua pria yang menggedor mobil mereka.


Suasana pagi ini memang sepi. Apalagi daerah tempat mereka berhenti sekarang masih lengang. Tak ada satu pun kendaraan yang melintas di jalan itu.


"Keluar..atau mau gua patahkan kepala lo. Cepat buka!" hardik pria bertubuh tinggi tegap bertato di lengannya itu. Suaranya menggelegar.


Nyali pak Nanang menciut. Melati pun merasa cemas. Sudah tubuhnya lesu di tambah oleh kecemasan tingkat tinggi membuat tubuhnya makin lemah. Keringat dingin mengucur di dahinya.


"Coba tanya apa mau nya Pak?" Papa Nanang segera menurunkan kaca pintu mobil. Pria yang bertubuh tinggi besar itu langsung mencekal leher Pak Nanang.


"Ke-kenapa tuan..kok le- leher saya di cekik..?" tanya pak Nanang dengan suara pelan. Lehernya di ceking dengan kuat oleh pria itu. Satu temannya menunggu di sampingnya.


" Tarik dia ke bawah pohon lalu ikat!" perintahnya pada sang teman. Pria botak itu lalu mengikuti instruksi pria bertato.


"Ja-jangan pak...jangan sakiti saya." pinta Pak Nanang memelas.


"Aku nggak menyakitimu. Hanya mengikatmu saja," sahut pria botak itu sambil menarik Pak Nanang ke bawah salah satu pohon besar di pinggir jalan. Lalu mengikatnya.


hilang."gumam Pak Nanang takut.


"Keluar..!" bentak pria itu sambil membuka pintu mobil. Menyeret Pak Nanang keluar mobil. Pria tua itu meringis kesakitan.


"Heh..keluar...cepat!" bentak pria satu lagi yang berkepala plontos. Melati bergidik ngeri. Jantungnya berdebar kuat. Kecemasan merajai hatinya.


"Cepat!" pria itu membentak Melati sambil membuka pintu di samping gadis itu. Lalu menarik kuat tangan Melati. Melati meringis kesakitan karena tangannya di tarik kuat oleh pria botak itu.


"Ayo ikut!" bentak pria botak lagi, sambil menarik tangan Melati mendekat ke arah mobil yang mereka bawa. Membuka pintu mobil itu lalu mendorong tubuh Melati masuk ke dalam mobil itu.


"Ikat tangannya. Biar nggak melarikan diri," perintah pria bertato pada pria botak itu. Pria itu kemudian mengambil tali Yang di lemparkan pria bertato padanya. Dengan cepat pria botak itu mengikat Kedua tangan Melati.

__ADS_1


"Kenapa mesti mengikat tangan ku. Lepaskan!" sergah Melati marah.


"Ha hahahaha..."kedua pria itu tertawa terbahak. Membuat Melati makin takut.


"Ke Kenapa aku di masukkan ke mobil ini! keluarkan aku!" teriak Melati histeris. Pria itu tersenyum licik.


"Diam..Nggak usah banyak omong. Tak perlu berteriak. Gak ada yang dengar juga. Kalau pun dengar mereka juga nggak akan bantu kamu," hardik pria itu sambil membanting pintu mobil membuat wajah Melati terlihat cemas.


Pak Nanang terdiam menyaksikan kejadian yang di matanya. Tatapannya nanar saat melihat Melati yang di tarik paksa pindah ke mobil kawanan penculik itu. Hatinya bergemuruh. Rasa takut menghinggapi hatinya. "Apa yang harus di jawab jika Non Melati


Tak berapa lama kedua orang itu masuk ke dalam mobil. Mobil bergerak meninggalkan pak Nanang yang terikat di sebuah pohon di pinggir jalan.


Air mata Melati mengalir deras. Dia tak menyangka akan begini nasibnya.


"Nggak usah nangis. Kamu harus nya bersyukur karena saya sudah bantu kamu untuk lari dari pria yang tidak kamu cintai." kata pria bertato. Sambil melirik Melati sekilas.


"Siapa kalian. Apa maksud kalian sama aku. Aku nggak pernah berbuat salah sama kalian. Keluarkan aku dari sini. Berhenti!" teriak Melati histeris. Air mata tak henti mengalir di kedua pipinya.


"Baron coba kamu telpon tuan. Bilang kita sudah otw ke markas," perintah pria bertato yang menyetir kemudi. Pria berkepala botak itu bernama Baron. Menoleh pada pria bertato. Lalu mengangguk. Mengeluarkan ponselnya dari saku baju, memencet sebuah kontak lalu meletakkan ponsel itu ke telinganya, mendengarkan nada dering di ponsel itu.


Tak lama suara terdengar dari seberang.


"Halo... kenapa?" tanya suara di seberang.


"Kami akan ke markas tuan. Dia sudah berada sama kami."


"Baik tuan. Kami segera sampai," sahut si botak.


"Apa tujuan kalian menculik aku. Cepat keluarkan aku dari sini!" pinta Melati sambil mengusap air matanya.


Kedua pria itu tertawa terbahak-bahak. Lucu mendengar permintaan Melati.


"Sudah kamu diam saja. Banyak bacot!" bentak pria botak. Membuat nyali Melati menciut.


Mobil bergerak ke sebuah tempat tujuan, meninggalkan Pak Nanang yang berdiri dengan di ikat di pohon besar itu. Mobil itu kemudian sampai pada sebuah hutan. Jalanan sepi dan sunyi. Tak ada satu orang pun manusia di sana. Tak jauh dari rerimbunan pohon besar itu. Tampak sebuah rumah kecil yang memiliki halaman luas, Melati tidak tau daerah mana itu.


Setelah masuk ke dalam halaman luas itu. Mobil berhenti. Melati melihat tak ada manusia seorang pun Kecuali mereka bertiga.


Kengerian merayapi diri Melati.


"Ayo keluar!" pria bertato membuka pintu mobil lalu menarik kuat lengan Melati yang terikat oleh tali. Menyeret gadis itu berjalan keluar dari dalam mobil lalu masuk ke dalam rumah kecil itu.


Setelah sampai di dalam rumah itu, mata Melati melihat ke sekeliling ruangan. Tak ada barang apapun di ruangan itu. Lalu lengan Melati di tarik lagi masuk ke ruangan tengah dari rumah itu. Ada sebuah kursi menempel di dinding ruangan itu.


Pria bertato mendorong tubuh Melati ke arah kursi itu, sehingga tubuh Melati terduduk di kursi usang itu.

__ADS_1


"Jangan kasar ya! Apa mau kalian? Siapa yang menyuruh kalian?" tanya Melati berani.


Pria bertato dan kepala plontos tertawa terbahak-bahak. Mendengar ucapan Melati.


"Nanti kamu juga bakalan tahu. Tunggu saja. Nanti orang yang kau tanya sebentar lagi akan datang," ucap pria botak itu. Temannya hanya menyeringai sadis menatap Melati.


Tak lama suara sepatu terdengar memasuki rumah itu. Melati mencoba mengangkat wajahnya. Tangannya yang terikat membuat dia kesulitan untuk memperbaiki posisi duduk nya.


"Pagi Tuan," sapa pria bertato dan pria botak dengan tertunduk hormat.


Pria itu menoleh dan menyunggingkan senyum pada keduanya. Lalu menoleh menatap Melati yang masih sibuk memperbaiki posisi duduk nya. Pria itu tersenyum menatap Melati.


"Akhirnya, aku bisa juga memiliki mu...hah ha ha ha ha ha," ucap pria itu. Melati mendongkak kan kepalanya menatap ke arah suara itu.


"Pak Harjo?" ucap Melati terkejut. Matanya membelalak menatap pria yang menjadi dalang penculikannya. Dia sama sekali tak menyangka Pak Harjo akan tega melakukan ini.


"Ya..Melati cantik Hah.. kau memang cantik. Dari dulu aku sudah jatuh cinta padamu. Paras yang cantik, tubuh yang ramping namun berisi..Hem..kau memang gadis idaman. Wajar saja banyak pria yang tergila-gila denganmu. Termasuk aku..ha ha ha ha.." Pak Harjo tertawa terbahak.


Hatinya bahagia karena sudah bisa memiliki gadis itu. Walaupun dengan paksa. Ah Dia tak peduli. Yang dia inginkan Melati menjadi istrinya.


Melati menggidik ngeri membayangkan menjadi istri ke 4 pria tua itu. Pak Harjo memang kaya. Tanahnya dimana-mana. Uangnya banyak sebagai rentenir. Bapak Melati, Pak Herman saja pernah terpaksa meminjam uang dengan Pak Harjo.


"Pak..Mel mohon. Tolong lepaskan Mel. Hari ini Mel akan menikah dengan Mas Randy. Tolong Pak..lepasin Mel!" pinta Melati dengan suara lemah. Pria itu menggeleng.


"Aku tak sudi. Kau tak perlu menikah dengan Dokter muda itu. Lebih bagus menikah denganku. Menjadi istri ke empat ku. Kau pasti bahagia. Hartaku banyak. Hidupmu bakalan terjamin."


"Bapak nggak salah ngomong ya. Tak menikah sama Bapak. Hidup Mel dengan Papi Hendrawan sudah bergelimang harta. Untuk apa mengejar kemewahan yang lain." protes Melati dengan muak.


"Apa kau yakin kalau kau sungguh putrinya Pak Hendrawan? Hem...jangan kesenangan dulu. Kamu itu anaknya Herman. Pria tua yang miskin."


"Nggak..pak Harjo nggak tau apa-apa!" sentak Melati tak suka.


Pria tua itu terkekeh.


"Kurung dia di kamar itu. Nanti malam jangan lupa menyiapkan pernikahanku dengan Melati. Aku tahunya besok pagi prosesi pernikahan ku berjalan dengan lancar," perintah pak Harjo lalu keluar dari ruangan itu menuju keluar. Melati sangat syok mendengar penuturan pak Harjo pada body guard nya.


"Yang benar saja. Masak aku harus kawin sama pria tua itu?" gumam Melati pelan. Tak lama kedua pria suruhan Pak Harjo membawa Melati ke sebuah kamar kosong.


Ada sebuah tempat tidur. ukuran king size di sana. Di lapisi seprai bersih. Tampak nya baru di pasang di ranjang itu.


"Tunggu di sini," kata pria bertato sambil mendorong tubuh Melati ke atas tempat tidur. Tubuh gadis itu terjerembab di atasnya. Melati meringis kesakitan. Apalagi kedua tangannya di ikat dengan kuat oleh orang Pak Harjo.


Pria botak keluar kamar, lalu kembali lagi ke kamar tempat Melati di sekap dengan membawa nampan berisi makanan dan minuman. Melati hanya terdiam. Tak tahu harus ngomong apa.


Sementara pria bertato pergi keluar rumah. Karena dia akan menghubungi seorang petugas KUA kenalannya yang akan menikahkan Melati dan Pak Harjo besok pagi.

__ADS_1


****


.


__ADS_2