
Hari ini, hari keberangkatan Meli kembali ke Aussie Sudah sebulan dia menghabiskan waktu di Indonesia. Rencananya pertengahan bulan ini ia akan sidang skripsinya. Selama di Jakarta, kegiatannya lebih banyak di habiskan di kamar, di depan laptop lebih tepatnya. Skripsinya membutuhkan pemikiran yang lebih lagi. Walaupun dosen pembimbingnya di sana sangat welcome. Tak ada kendala sedikitpun. Sama sekali tak di temui kesulitan membuat skripsi seperti di Indonesia. Para pembimbing di sini begitu kooperatif. Itulah sebabnya Meli bisa cepat menyelesaikan pendidikannya. Kalau di lihat dari kalender universitas, akhir tahun ini dia sudah bisa wisuda. Itu berarti di tahun depan dia sudah bisa membantu Papinya mengurus perusahaan keluarga Hendrawan.
"Hati - hati di jalan ya sayang. Jangan lupa telpon kalau sudah sampai." pesan Mami Anita sambil merangkul putri kesayangannya. Memeluk dengan erat lalu mengurai pelukan itu lalu menatap sang kembaran yang ikut mengantarkannya ke bandara.
"Aku pamit...jagain Mami...dan Papi..." bisik Meli sambil Memeluk Melati. Lalu mengurai pelukan namun masih sambil merangkul pinggang sang adik. Matanya berkaca - kaca.
"Salam buat Mas Resnu, kabari aku kalau dia jadi melamar mu, " ujarnya sambil mengusap pipi sang adik dengan lembut. Melati mengangguk. Tersenyum lembut pada sang kakak.
"Jangan lupa menelponku...aku selalu merindukan mu...terlebih sekarang. Saat kau tau kalau ada aku, adik kembaran mu," kata Melati dijawab anggukan oleh Meli. Meli kemudian mencium lembut pipi mulus Melati.
"Aku masuk dulu Mi...salam sama Papi dan mas Reyhan."
"Ya..kamu hati-hati ya sayang, Jangan lupa dengan permintaan keluarga Rendy. Keluarganya menunggu keputusan dari kamu " kata Mami Anita sambil melepas ciuman mereka. Gadis itu hanya diam saat mendengar nama Rendy.
Tanpa berkata - kata Meli kemudian masuk ke dalam ruang pemeriksaan boarding pass.
Mami Anita dan Melati meninggalkan bandara Soetta dengan diantar supir pribadi setelah tidak melihat bayangan Meli dari di dalam bandara.
Anita memijit keningnya. Dia benar - benar pusing dengan sikap Meli . Yang seolah cuek tentang pertunangannya dengan Rendy. Sementara keluarga Rendy sudah menunggu jawaban Meli.
Sebenarnya Anita tak suka memaksakan kehendaknya pada anak-anaknya. Tapi suaminya, Hendrawan sangat bersikeras menjodohkan Meli dan Rendy.
Karena orang tua Rendy adalah sahabat kental Hendrawan ketika mereka masih muda dulu.
Hendrawan sangat ingin memiliki menantu anak Tommy Wiryawan. Tommy memiliki perusahaan pembuat tinta tekstil. Itulah sebabnya Hendrawan berkeinginan mengembang kan bisnisnya dengan mempererat hubungan dengan Tommy lewat jalur pernikahan Meli dan Rendy.
Hendrawan selalu beralasan, tak ada ruginya Meli jika menikah dengan Rendy. Pria itu tak hanya tampan tapi juga seorang dokter dan merupakan anak semata wayang Tommy Wiryawan yang tersohor karena kekayaannya. Dan Anita tak akan bisa protes dengan kemauan Hendrawan. Karena pria itu kalau sudah punya mau harus di turuti. Tak terkecuali istri dan anaknya sendiri.
Pesawat yang di tumpangi Meli sudah mendarat di bandara International Melbourne.
Setelah turun dari pesawat dan mengambil tas pakaiannya, Meli langsung mendorong troli menuju keluar pintu bandara. Di depan pintu sudah ramai para penjemput pendatang yang tiba di bandara Melbourne. Termasuk Meli.
Seorang pemuda tampan bertubuh tinggi tegap berkulit putih kemerahan khas bule, melambaikan tangannya pada gadis cantik bertubuh tinggi langsing itu. Meli mendekati pemuda itu.
"Hai..Li .." sapa nya ramah. Meli tersenyum lalu membiarkan pria itu mengecup kedua pipinya.
"Are you ok? kenapa seperti ada masalah di wajahmu?" tanya pria itu sambil mengangkat travel bag Meli dan mendorongnya menuju parkiran. Meli hanya diam. Tanpa kata-kata sampai mereka sudah masuk ke dalam mobil.
"Stev...maafkan aku. Aku belum bisa bercerita denganmu. Maafkan aku," jawab Meli dengan muka sedih. Steven, pria yang menjemput Meli itu terdiam. Lalu mulai memutar kontak mobilnya dan mobil pun melaju meninggalkan parkiran bandara.
"Ok...aku tak ingin memaksamu untuk cerita, tapi kau bisa menumpahkan semua kesedihanmu di sini, di bahu ini. In my shoulder..Ok.." ujarnya sambil sesekali menatap Meli yang bersandar di kursinya. Lalu kembali fokus dengan jalanan di depannya.
__ADS_1
"Yah...thanks.." sahut Meli sambil memejamkan matanya. Pikirannya benar-benar ruwet. Apa jawaban yang harus di katakan pada orang tuanya.Sementara hatinya sama sekali tak mencintai Rendy.
Steven hanya diam saat melirik Meli yang memejamkan matanya. Beberapa hari yang lalu Meli mengirimkan chat di aplikasi berwarna hijau.
Dalam chat nya Meli mengatakan kalau awal bulan dia akan pulang. Dan meminta Steven untuk menjemputnya di bandara udara Melbourne. Sama sekali tak ada tanda-tanda kesedihan di chat gadis itu padanya. Tampak seperti biasa saja.
Tidak lebih dari tiga puluh menit, mobil Steven sudah berada di parkiran flat tempat tinggal Meli. Pria tampan itu membangunkan Meli yang masih tertidur lelap. Karena tak ingin menggangu tidur nyenyak Meli , Steven memutuskan untuk menggendong Meli ke dalam rumah sewaan Meli. Beruntung saat akan pergi ke Indonesia , gadis itu menitipkan kunci rumahnya pada Steven.
Membuat pria itu dengan mudah membuka pintu rumah. Setelah masuk ke dalam rumah, Steven membawa Meli ke kamarnya. Sebelum nya satu tangannya dengan susah payah memencet saklar lampu di dinding. Lalu meletakkan tubuh gadis itu dengan hati-hati lalu menutupi tubuh Meli dengan selimut.
Sehari sebelum Meli pulang ke Melbourne, Steve sudah menyuruh orangnya untuk membersihkan flat Meli. Sehingga saat Meli pulang hari ini, rumah sudah rapi dan bersih.
Meli tampak nyenyak sekali tidurnya. Wajar saja karena jarak Jakarta - Melbourne biasa di tempuh lebih kurang 10 jam lebih. Steve tahu Meli pasti kelelahan .
Setelah Steve meletakkan tubuh Meli di tempat tidur , Steve kemudian berjalan menuju dapur. Membuka kulkas yang sudah di isi dengan aneka sayuran, ayam, daging dan buah.
Steve mulai membuat ayam bakar madu, membakar roti dan merebus beberapa buah buncis dan wortel. Tak menunggu waktu lama. Masakan Steven sudah terhidang.
Aroma masakan Steven yang harum, membangun kan Meli yang tertidur lelap. Gadis itu berjalan mengikuti arah bau harum yang menyebar dari dapur mungilnya. Matanya seketika melebar saat melihat Steven yang sedang menata makanan di atas meja makan.
Stev, sedang apa?" tanya Meli berjalan mendekati Steven .
Meli tertawa sambil menutup mulutnya. Sungguh sahabatnya ini selalu rajin memberi kejutan manis untuknya.
"Thanks a lot Stev. Jangan sibuk-sibuk begitu..aku jadi nggak enak..kau selalu menyenangkan hatiku yang lagi amburadul seperti ini. Makasih ya.." ujar Meli sambil duduk dengan kursi yang telah di siapkan oleh Steven. Steven menjawab dengan senyuman.
"Ayo...coba makanan buatan ku...semoga suka ya,"
"Tentu, dengan senang hati. Kebetulan sekali aku sudah lapar berat. Tadi di Indo nggak sempat sarapan dengan sempurna," ujarnya di barengi dengan tawa renyah.
Mereka berdua lalu menikmati makan malam bersama. Sambil bercanda dengan akrab.
Jam di dinding sudah menunjukkan ke pukul 10 malam. Itu berarti di Jakarta baru pukul 7 malam. Meli dan Steven duduk santai di sofa yang terletak di depan televisi.
Steven memandang gadis cantik itu. Wajahnya tidak lagi menampakkan kesedihan. Sudah kembali ceria. Steven memandang jam di dinding.
"Li...aku pulang dulu ya...sudah malam. Besok kalo mau ke kampus telpon aku ya. Biar aku jemput." pamit Steven.
"Kenapa nggak nginep aja. Kan masih ada satu kamar kosong lagi di sini. Aku kesepian," pintanya manja. Steve tersenyum.
__ADS_1
"Aku sih mau aja Li..tapi apa kamu nggak takut kalau aku ngelindur masuk ke kamar mu?" goda Steven. Di goda seperti itu membuat wajah Meli memerah seperti kepiting rebus. Steven semakin tertawa keras.
'Betapa lucu nya kamu Li, jadi gemes' bisik Steve dalam hati.
"Sudah ah..aku pulang dulu. Besok lagi aku jemput . Kamu pasti mau ketemu sama dosen pembimbing kamu kan?"
dijawab anggukan oleh Meli. Meli lalu mengantarkan Steven sampai pintu depan. Lalu masuk kembali ke dalam. Saat mobil Steven menghilang di tikungan jalan.
Saat masuk ke dalam rumah. Meli mendengar ponselnya berdering. Setengah berlari Meli mengambil ponselnya. Lalu membaca siapa yang menelponnya. Tertulis nama Mama. Meli kemudian memencet tombol hijau. Tak lama terdengar suara lembut di seberang.
"Assalamualaikum..Mih.."
"Waalaikumsalam, Sudah sampai kamu Li?"
"Sudah Mih...aku sudah di rumah."
"Ya sudah. Mami langsung aja, gimana keputusan kamu? Papi sudah mendesak Mami untuk nelpon kamu. Nanyain keputusan kamu. Dan tetap aja menurut papi kamu , harus menerima Rendy untuk jadi suami kamu. Ingat Li..tahun depan kamu sudah harus resmi menjadi istri Rendy." suara Mami berubah menjadi suara berat, suara Papi. Meli langsung syok. Dia tak menyangka betapa keberuntungan amat tak memihak dirinya. Air matanya mengalir tanpa di komando. Meli menyusut air matanya. Berusaha agar tak terdengar oleh Papi dan Mami nya .
" Maafin Lili Mami ...Lili nggak...." tangisnya makin pecah. Namun seseorang yang ada di balik pintu rumahnya mendengar tangisan Meli.
Meli menutup panggilan telpon nya. Menekan tanda merah di layar ponselnya. Panggilan terputus. Gadis itu menangis dengan tersedu-sedu. Tanpa di sadari nya sebuah tangan merangkul tubuh nya yang bergetar oleh tangisan. Tangan itu lalu membalikkan tubuh Meli sehingga menghadap orang itu.
"Steve..."
"Ponsel ku tertinggal di dapur. Saat aku kembali untuk mengambil nya aku melihat kau menangis. Ada apa Li?"
"Papi memaksa aku untuk menikah dengan anak sahabat Papi..aku nggak bisa menerimanya Stev..aku nggak mencintai nya..Aku mencintai pria lain," jawab Meli dengan tangisan yang tak kunjung henti.
Steve menarik nafas kuat. Hatinya amat sakit menyaksikan kesedihan gadis yang amat dia sayangi.
'Tapi tunggu dulu. Siapa pria yang di cintai Meli' tanya Steven penasaran dalam hati.
"Kenapa sampai ada perjodohan itu?kalau kau tidak mau harus nya kau menolak. Jangan membiarkan hatiku terluka karena perjodohan itu." nasihat Steve dalam.
"Kalau boleh aku ber tanya, siapa pria Beruntung yang sudah membuat kamu jatuh cinta?" tanya Steven penasaran.
__ADS_1