Cinta Melati Cinta

Cinta Melati Cinta
Pertemuan Tak Sengaja


__ADS_3

Pagi ini Melati sibuk membereskan beberapa buku dan kertas-kertas HVS yang berserakan selepas belajar tadi malam. Hari ini hari minggu. Waktu paling ditunggu oleh semua orang. Agar bisa me time atau berkumpul bersama keluarga.


Melati masih asyik membereskan kamarnya. Dia paling tidak betah jika kamarnya berantakan. Suara ketukan di pintu membuat Melati menoleh sesaat dan menghentikan pekerjaannya.


Matanya menatap sekilas kamarnya yang masih berantakan, belum selesai di rapi kan. tapi sudah ada tamu yang datang. Melati menghembuskan nafas kasar sambil membuka pintu kamar.


"Hei...lagi apa?"


"Duh..kamar lu seperti kamar pecah.." ujar orang itu saat melihat kekacauan di kamar Melati.


Melati menatap gadis di depannya. Ternyata saudara kembarnya, Meli. Wajah gadis itu bingung. lalu Meli menggeleng tak mengerti.


"Kenapa berantakan sekali?" tanyanya sambil menatap Melati dan kamar saudara kembarnya itu. Melati belum menjawab. Lalu masuk ke dalam , tanpa menutup pintu kamarnya.


"Lagi mau beberes.. mindahin ranjang dan meja. sumpek dan pasti banyak debu di bawah ranjang kalau tidak di bongkar," Mulut Meli menganga. Gadis itu melangkahkan kakinya masuk kedalam kamar Melati.


"Kirain kenapa? kayak gempa bumi," sahut Meli sambil duduk di kursi yang terletak di dekat pintu kamar.


"Aku emang suka bongkar-bongkar kamar dari dulu. Biar rapi dan bersih. kan pasti ada aja debu di bawah tempat tidur kita," jelasnya sambil mengambil tumpukan buku dan menatanya di meja belajar.


"Tapi jangan lu yang ngerjainnya Mel , kan ada Bibi yang bisa bantu lu. Lu cukup bilang aja sama mereka, mau nya di tarok di mana tempat tidur dan meja belajar lu. Turun berok baru tau lu.!" sergahnya sambil menoel dagu runcing kembarannya. Melati tersenyum. Meli memanggilnya Mel Sementara Meli biasa di panggil Lili di rumahnya. Bukan Mel...karena kembarannya juga di panggil Mel...Tapi di panggil Lili sama orang rumah ini. Seru juga ya kalo punya saudara kembar. Apalagi kembarnya identik.hehehe


"Gimana kalo aku panggil Wati aja. Biar dia yang beresin semua kekacauan di kamar lu. ...Sementara kita me time dulu ke taman kota," ajak Meli. Melati termangu sesaat. Rasanya bukan dirinya yang biasa meninggalkan bengkalai pekerjaan. Karena ibu Ratih selalu mengajarkan untuk menyelesaikan setiap pekerjaannya sampai selesai.


"Sutt..jangan banyak protes..ayuk kita lari pagi. mumpung udara masih segar... sekalian nanti kita mampir ke belakang. Nyuruh Wati membereskan kekacauan ini. "


"Tapiiii...?"


"Sudah ...ayuk..." sahut Meli sambil menarik lengan saudara kembarnya. Sebelumnya Meli sempat menunggu Melati bertukar pakaian. Karena tak mungkin pergi lari pagi mengenakan daster panjang. Sesudah berganti pakaian oleh raga mereka berdua kemudian turun ke lantai satu dan langsung menemui Wati, art di rumah itu untuk membersihkan kamar Melati. Setelah di instruksi untuk meletakkan ranjang dan meja belajar sesuai keinginan Melati. Kedua gadis itu kemudian keluar rumah sambil memberi pesan pada Mbok Sri kalau mereka pagi ini mau lari pagi di taman komplek rumah mereka. Mbok Sri mengangguk paham. Lalu mengantarkan dua gadis kembar indentik itu menuju halaman rumah yang luas dan asri.


"Ayo Mel...kita stretching dulu..biar nanti sehabis lari pagi betis kita nggak sakit," ajak Meli. Melati mengikuti instruksi kembarannya. Setelah selesai melakukan pemanasan kedua gadis cantik itu langsung berlari kecil mengelilingi komplek dan berakhir di taman.


Mata Melati mengamati taman yang asri terletak tak jauh dari pos satpam. Maminya pernah bercerita, kalau di taman inilah dia hilang waktu berumur 1 tahun. Meli menatap seksama wajah Melati. Lalu berjalan mendekati saudari kembarnya.


"Kenapa Mel...?" tanya Meli lalu memegang tangan kakak nya.


"Nggak apa-apa?" sahut Melati sembari mengedipkan matanya.


"Sudah jangan sedih. Yang penting kita sekarang sudah kumpul dengan keluarga kandung kamu. Aku, Mami, Papi dan Mas Reyhan. ok,"

__ADS_1


Melati mengangguk. Meli langsung memeluk kakak nya. Tanpa sengaja, air mata Melati jatuh. Tiba- tiba dia teringat dengan Pak Herman dan Bu Ratih, orang tua angkatnya. Meli mengurai pelukan mereka.


"Kenapa?"


"Aku jadi ingat Pak Herman dan Bu Ratih. Apa kabar mereka ya? Kemaren aku belum sempat nengok Pak Herman. Apa sudah keluar dari ruang ICCU atau belum."


"Coba nanti tanya sama Mas Reyhan. Kan Mas Rey punya kenalan perawat di Rumah Sakit Sehat Sejahtera. Sudah lu nggak perlu sedih. Papi juga udah menyiapkan hadiah buat pasangan suami istri yang sudah baik sekali mengurus kamu dari kecil."


"Oh ya..kok aku nggak di kasi tau?" tanya Melati terkejut.


"Oh..itu kejutan hahaha," Meli menjawab sambil tertawa. Membuat Melati makin penasaran.


"Sudah ah...mending kita pulang. Nih liat kaos training gue basah kuyup...tuh lo sama juga," ajak Meli sambil menarik dengan kembarannya kembali ke rumah.


Sepanjang perjalanan ke rumah Melati nampak berpikir kejutan apa yang akan di berikan Papi dan Maminya pada Pak Herman dan Bu Ratih. Meli yang melihat sikap Melati tersenyum dalam hati.


Sampai di rumah Melati langsung masuk ke kamarnya, sementara Meli memilih mengambil minuman jus di kulkas yang selalu tersedia setiap hari.


Melati masuk ke kamarnya. Ternyata kamarnya sudah rapi. Wati ,art di rumah itu yang sudah merapikannya. Semenjak Wati tau kalau Melati anak kandung Tuan Hendrawan, art itu sudah bersikap hormat dan baik pada Melati. Walaupun Melati tidak mempermasalahkan sikap kasar Wati tempo hari. Melati selalu berusaha untuk memaafkan sikap orang yang tak baik pada nya. Itu yang selalu diajarkan Bu Ratih, ibu angkatnya pada nya.


Setelah mendinginkan tubuhnya terlebih dahulu, Melati kemudian ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya. Selesai mandi, gadis itu langsung mengenakan pakaian santainya, baju kaos longgar berwarna hijau muda dan celana kulot berwarna hitam. Tak lupa mengikat rambutnya lalu mengenakan jilbab panjang berbahan kaos senada dengan warna baju kaosnya. Selesai berdandan, Melati keluar kamarnya menuju ruang makan. Jam segini biasa nya keluarga nya akan sarapan pagi bersama sebelum memulai aktifitas. Melati sudah berdua di ruang meja. Ternyata semua anggota keluarga sudah berkumpul di sana. Gadis itu menarik kursi di samping abangnya, Reyhan.


"Sini dek, ayo sarapan dulu," kata Reyhan sambil membantu Melati menarik kursi jati di sebelahnya.


"Nasi uduk aja Mi...udah lama nggak makan nasi uduk. Biasa nya ibu Ratih sering memasak nasi uduk sekalian untuk di jual juga," cerita Melati sambil menyendok kan nasi uduk dan lauk pelengkap nasi uduk. Seperti telor dadar, tempe goreng sambal, bihun goreng dan kerupuk.


Pagi itu semua menikmati sarapan nya. Setelah selesai mereka kembali ke ruang keluarga dan bercengkrama seperti biasa di ruangan itu.


"Mel..nanti siang, jam sepuluh kita jalan ke Mall yuk...temenin mas ada yang mau Mas beli. Mau ya," ajak Reyhan sambil menatap Melati. Melati menatap Maminya. Seakan meminta izin. Mami Anita mengangguk.


"Udah pergi aja. Kan jarang -jarang kalian punya waktu bersama,"


"Aku nggak di ajak nih. Mentang-mentang baru ketemu adik yang hilang..." seloroh Meli sambil mengerucutkan bibirnya. Membuat semua yang berkumpul di ruangan itu tertawa .


"Ya nggak usah..Kenapa juga mau ikutan. Kan Mas cuma ngajak Melati," goda Reyhan pada Meli. Meli menjulurkan ludahnya sebal. Reyhan tertawa ngakak. Diikuti oleh kedua orang tuanya.


"Ya udah. kamu siap-siap nanti kita jalan bareng. Dandan yang cantik Ok." sahut Reyhan kemudian sambil mengucek puncak kepala Meli. Gadis itu masih memasang wajah cemberut.


Tak lama kemudian jam sudah menunjukkan ke pukul sepuluh lewat lima belas menit. Sesuai kanji mereka bertiga akan kumpul di ruang keluarga lalu berangkat bersama ke Mall.

__ADS_1


Melati sudah siap. Dengan celana kulot hitam dan kemeja bunga-bunga kecil berwarna pink.Di pada dengan jilbab senada . Membuat penampilan nya begitu manis.


Setelah selesai berdandan, gadis itu langsung keluar kamarnya menuju ruang keluarga.


Papi nya sedang asyik membaca koran, sedang Mami Anita sedang asyik memegang ponselnya. Berselancar di dunia maya.


"Hei...anak Mami, sudah siap rupanya. Mana Mas dan Meli, apa sudah siap juga?" Anita mengangkat kepalanya menatap penampilan sang anak gadis. Melati tersenyum.


"Mungkin sebentar lagi Mi. Nah itu dia mereka sudah siap," ujar Melati sambil menunjukkan ke arah Reyhan dan Meli yang turun dari tangga berbarengan.


"Oh ya..Papi punya hadiah untuk Melati. Ini kartu Atm debit yang bisa Mel gunakan untuk membeli semua kebutuhan kamu Mel..." ujar Papi Hendrawan sambil memberikan kartu ATM ke pada Melati.


"Nggak udah Pi." tolak nya halus.


"Ambil saja sayang, Meli juga punya kok Kartu Atm itu. Kamu jangan tolak. Semua anak Papi dan Mami mendapat perlakuan yang sama, nggak ada yang di lebihkan atau yang di kurangi. Sudah..ayo ambil!" perintah Anita. Melati mengambil kartu itu dari tangan Hendrawan dengan sungkan. Seumur hidupnya mana pernah dia memiliki kartu ini.


"Ya sudah...kalian berangkatlah..senang-senang ya...pulangnya jangan kemalaman. " kata Mami Anita kemudian. Setelah pamit ketiga kakak beradik itu meninggalkan rumah menuju Mall. Tak me makan waktu lama . Lebih kurang tiga puluh menitan ketiga nya sudah tiba di plataran parkir Mall. Lalu ketiga nya turun dari mobil.


"Yuk ke dalam.." ajak Reyhan memimpin kedua adiknya untuk masuk ke dalam Mall. Sampai di dalam, mata Melati terpana melihat kemewahan Mall yang mereka kunjungi. Dia memang belum pernah kesini. Menurut cerita beberapa teman kampus nya, Mall ini menyediakan bermacam kebutuhan dengan harga mahal. Semua barang-barangnya pilihan dan bermerk.


"Yuk kita di sana, liat-liat dulu...siapa tau ada yang sreg..." ajak Meli sambil menarik lengan Melati. Gadis itu hanya nurut di bawa oleh saudari kembarnya. Di ikuti oleh Reyhan dari belakang.


Selagi asyik memilih baju yang terpajang, Seseorang menepuk bahu Reyhan dengan pelan. Reyhan menoleh ke arah seseorang itu. Tawanya langsung terdengar oleh Melati dan Meli. Kedua gadis itu menatap orang itu. Ternyata Resnu. Sahabat karib Reyhan dari Sekolah kasar sampai sekarang bekerja di perusahaan milik keluarga Reyhan.


"Sendirian aja lo...?" tanya Reyhan. Di jawab anggukan oleh cowok tampan itu.


"Gue sama adikku ni si kembar," Resnu menangkup kan tangannya di dada saat menatap Melati dan Meli.


"Hei..apa kabar Mas Resnu..lama gak ketemu ya .." sapa Meli ramah.


"Alhamdulillah , Li...baik..kok gue gak tau ya kalau kamu udah ada di sini lagi. Kapan balik dari Aussie,"


Udah seminggu mas.kebetulan lagi liburan. Dan ada pertemuan, ini sama cewek satu ini. " ujar Meli sambil menunjukkan Melati..Membuat semua tertawa . Meli memang lucu. Walaupun. terkesan cuek dan jutek tapi dia anak yang baik .


"Ya udah..gimana kalau kita ke cafe itu aja...udah pada lapar kan..udah masuk jam makan siang lho ini.." tawar Reyhan. Semua nya mengangguk setuju. Akhirnya mereka berempat berjalan kearah Cafe yang tidak jauh dari toko yang mereka datangi tadi.


Setelah tiba di Cafe , mereka mencari tempat duduk di sudut. Tak berapa lama pelayan Cafe datang dengan membawa daftar menu Cafe . Setelah memesan makanan dan minuman, mereka asyik kembali ngobrol bareng. Mata Resnu tak pernah lepas dari wajah Melati. Sementara gadis itu tertunduk malu. Meli memperhatikan sikap Resnu saat menatap Melati. Gadis itu cemburu. Tapi dia berusaha untuk menutupi perasaan nya.


Setelah selesai makan siang di cafe itu, mereka bertiga memutuskan untuk nonton sore itu. Namun Sebelumnya Melati izin untuk melaksanakan sholat Dzuhur dulu setelah itu baru mereka menonton bareng. Resnu sengaja mengambil tempat duduk di samping Melati. Cowok itu begitu tertarik dengan Melati. Reyhan cukup mengerti dengan membaca bahasa tubuh Resnu. Hanya saja saat Resnu duduk dan ngobrol dengan Melati, ada mata yang melihat dengan kecewa. Ya Meli dari dulu sangat menyukai Resnu. Tapi cowok itu begitu dingin. Baru saat bertemu Melati lah hati Resnu terbuka. Resnu sangat menyukai sikap dan tingkah laku Melati. Bagi Resnu, Melati gadis dengan penampilan alami dan sederhana yang terlahir di zaman modern.

__ADS_1


Memiliki orang tua kaya raya tak membuat sikap dan penampilan nya berubah. Sungguh jarang terjadi di zaman ini.


*****


__ADS_2