Cinta Melati Cinta

Cinta Melati Cinta
Pernikahan Meli dan kabar bahagia dari Melati


__ADS_3

Selepas menyelesaikan ujian UTS di tempat kuliahnya Melati, Randy mengambil cuti untuk melaksanakan bulan madu yang terhalang beberapa waktu lalu dengan aktifitas Melati. Akhirnya saat libur semesteran Randy dan Melati melakukan perjalanan bulan madu ke Swiss. Sekembalinya dari liburan bulan madu, keduanya sudah sibuk oleh aktifitas mereka. Tanpa terasa bulan berikutnya kesibukan semakin memadat. Pernikahan Meli dan Steven semakin dekat. Tinggal menghitung hari. Rencana akad nikah pada hari Jumat setelah semua muslimin melaksanakan ibadah shalat Jumat masih sama tak ada perubahan apapun. Dua hari lagi acara akad nikah Meli.


Pagi ini Melati baru saja bangun tidur. Saat menatap ke sampingnya, ternyata suaminya, Randy sudah tidak ada. Melati langsung berjalan ke kamar mandi. Kepalanya pagi ini tidak sedang baik-baik saja. Saat berjalan ke kamar mandi kepalanya terasa pusing. Bagai melayang. Melati berpegangan pada sisi kanan dinding ke arah kamar mandi. Perutnya rasa bergulung. Perutnya terasa sakit dan rasa mual yang luar biasa di perutnya membuat tubuh Melati makin sempoyongan.


Sampai di kamar mandi. Melati langsung berjalan ke arah wastafel. Membuang semua rasa mual di wastafel dengan tetes air mata di sudut matanya.


Melati mengusap mulutnya yang basah sehabis muntah.


Uweeek. suara Melati muntah terdengar memenuhi seisi ruangan kamarnya. Randy yang baru saja masuk ke dalam kamarnya langsung mengejar ke arah suara seseorang muntah. Randy membuka pintu kamar mandi yang sedikit terbuka. Randy mendorong pintu kamar mandi. Melihat Melati masih berdiri di depan wastafel. Tertunduk memegang perutnya yang terasa makin mual .


"Sayang kenapa?" sahut Randy cemas. Pria itu merapikan rambut Melati yang menutupi wajahnya.


Melati menatap Randy dengan mata berkaca-kaca.


Randy mengusap kening yang berkeringat dan mata yang basah itu dengan lembut.


"Nggak tau Mas. Barusan bangun. Tapi perutku teras banget mual dan kepalaku sakit banget," keluh Melati pada suaminya.


"Uweeeek..kembali Melati memuntahkan isi perutnya yang sudah habis, tinggal air liur berwarna kuning yang terasa pahit di lidahnya. Randy bergerak di belakang Melati. Memijit tengkuk istrinya itu.


"Oh..mual banget Mas,"


"Ya..ntar . Mas ambil minyak kayu putih dulu," ujar Randy pamit sebentar berjalan ke arah kamar mereka. Mencari minyak Kayu Putih di laci nakas. Setelah mendapatkannya Randy membawa botol kecil itu ke kamar mandi.


"Sini Mas urut dulu kepala dan tengkuk kamu," Melati hanya pasrah di pijit oleh suaminya.


"Mas kemana tadi?"


"Ke bawah ngambil barang ,"


"Udah Mas. Mel mau ambil wudhu dulu Abis itu mau tidur lagi.Badan Mel Lesu banget. Gimana caranya menghilangkan rasa mual ini?"


"Nanti Mas minta mbok Nur membuatkan wedang jahe buat kamu sayang. Duduk dulu. Mas kebawah sebentar," Melati mengangguk . Setelah hilang rasa mualnya, Melati langsung mengambil air wudhu. selepas itu Ia kemudian berjalan ke luar kamar mandi. Setibanya di kamar, Melati membentangkan sajadah. Lalu mulai melaksanakan shalat subuh. Selesai sholat. Melati berjalan ke ranjang. Merebahkan tubuhnya. Lalu memejamkan matanya agar rasa mual dan pusing hilang .


Suara derit pintu berbunyi saat Randy sudah kembali ke kamar. Dengan nampan berisi makanan,minuman dan permen jahe di atasnya.


"Mel..sarapan dulu. Jangan sampai kosong perutnya. Kalau kosong, muntahnya akan terasa sakit di tenggorokan. Karena nggak ada yang bisa di keluar kan lagi," Melati membalikkan tubuhnya. menghadap ke arah sang suami.


"Ah kenapa bisa sakit gini sih. Badanku nggak enak banget Mas." keluh Melati .


Randy kemudian duduk sisi tempat tidur. lalu menekan nadi di pergelangan tangan Melati. Pria itu mendengarkan detak jantung Melati dengan seksama. Senyum kemudian mengembang di bibirnya. Pria itu kemudian beranjak dari sisi tepat tidurnya. Berjalan ke sebuah meja rias yang terletak di samping tempat tidur. Membuka laci meja rias itu. Lalu mengeluarkan sebuah benda berbentuk kertas panjang dengan ukuran kecil. Kemudian membawanya kepada Melati.


"Sebaiknya kamu cek urine dulu sayang. Mas curiga kalau kamu hamil," mendengar perkataan Randy itu Melati terkejut. Lalu segera bangkit tidurnya. Randy meraih tangan Melati, keduanya berjalan ke arah kamar mandi. Keduanya langsung masuk saat pintu kamar mandi di buka Randy. Melati langsung duduk di wc duduk itu. Lalu mengambil botol plastik kecil yang tersedia di lemari kamar mandi itu. Menampung air urine nya lalu menyerahkan botol yang sudah terisi urine tadi kepada Randy. Melati kemudian membersihkan bagian intinya dengan air. Randy memasukkan kertas kecil panjang tadi ke dalam botol urine tadi. Setelah cukup waktunya , Randy mengeluarkan kertas kecil panjang itu. Mata keduanya fokus menatap kertas yang menyerap urine milik Melati tadi. Mata Melati dan Randy membulat saat melihat kertas menunjukkan dua garis berwarna pink . Melati dan Randy termangu sesaat. Terpana menatap kertas bergaris dua warna pink.


"Mas,"

__ADS_1


"Alhamdulillah. Terima kasih Ya Allah. Kamu hamil sayang." kata. Randy mengucap syukur. Air mata Melati langsung menetes di pipinya. Kebahagian dan ketakutan bergantian hadir di hatinya. Randy memeluk Melati dengan perasaan haru. Pria itu bahagia sekali karena ternyata Melati akhirnya hamil. Tak perlu menunggu lama. Randy teramat bersyukur. Karena bakal memiliki generasi penerus. Apalagi selama ini Randy sendiri. Tak punya saudara. Sebagai anak tunggal yang sangat ingin sekali memiliki saudara.


"Mas gimana ini. Mel masih ingin kuliah Mas. Masih ingin banyak beraktifitas." kata Melati dengan mata berkaca-kaca..


"Kehamilan itu nggak akan membuat kamu berhenti dari kuliah maupun dalam beraktifitas sayang . Semua dapat berjalan dengan baik. Hanya saja energimu jangan terlalu di porsir. Pikirkan juga kesehatan kamu dan bayi kita," sahut Randy. Melati mengangguk . Randy kembali memeluk Melati dengan kebahagian yang tak bisa di ucapkan dengan kata-kata.


****


Jumat pagi. Randy mengantarkan Melati ke rumah orang tuanya. Randy tak langsung masuk ke rumah. Pria itu meninggalkan Melati di teras rumah Orang tuanya.


"Mas pergi dulu ya. Nanti Mas kesini lagi," ujar Randy pamit pada Istrinya. Melati mengangguk .


"Jam berapa Mas kesini lagi?" tanya Melati gusar.


"Jam sebelas. Setelah selesai visit pasien. Ya..Jangan gusar seperti itu. Kamu kan calon dokter juga. Masak takut sih," sahut Randy . Sebelum melangkah pergi pria itu mencium kening sang istri lebih dahulu. Lalu berjalan cepat ke arah mobilnya yang terparkir di halaman rumah Hendrawan.


Melati baru masuk ke dalam rumah saat mobil suaminya sudah tak nampak dari pandangannya.


Setelah itu Melati masuk ke dalam rumah. Netranya menatap semua penjuru ruangan. Melati memutuskan duduk di ruang keluarga.


"Mel...sejak kapan datang?". tanya Reyhan yang baru saja datang dari kamar Maminya.


"Baru aja Mas. Mami mana Mas. Mel kangen?" ucapnya sambil memeluk tubuh sang abang.


"Ada tuh di kamar. lagi nyiapin baju untuk akadnya Lili,"


"Ya..langsung aja. Eh..Randy mana..Kok nggak kelihatan?"


"Tadi nganter Mel kesini. Tapi pergi lagi. Mau visit pasien. Biasa lah. Kayak nggak tau kerja dokter aja," seloroh Melati membuat Reyhan terkekeh.


"Udah pinter becanda ya kamu," sahut Reyhan mengusap kepala sang adik yang tertutup jilbab.


"Huek.. uek emmm," Melati mulai mual lagi.


"Mel kamu kenapa?" Melati tak mampu menjawab. perempuan itu berjalan cepat ke arah kamar mandi.


Anita yang mendengar suara seseorang muntah, langsung keluar kamar.


"Siapa yang muntah Rey?" tanya Anita saat menemukan Reyhan berdiri melongo melihat sang adik yang kabur ke kamar mandi.


"Mel Mi. Nggak tahu kenapa.Mungkin masuk angin," sahut Reyhan bingung.


Anita tersenyum mendengar perkataan Reyhan.


"Di kamar mana Mel tadi?" tanya Anita. perempuan setengah baya itu berlari kecil ke arah telunjuk Reyhan. Anita menemukan Melati masih berdiri di wastafel kamar mandi dengan mata berair.

__ADS_1


"Sayang..kenapa?" tanya Anita lembut sambil mengusap lembut punggung Melati.


"Mual banget Mi..Huh nggak tahan Mel Mi. "


"Semua ibu muda rata -rata ya begitu sayang. Apa kamu bawa minyak kayu putih?" tanya Anita. Melati mengangguk sambil mengelap sisa muntah di mulutnya.


Anita mengambil minyak kayu putih di dalam tas Melati. Lalu mengusapnya lembut di leher dan punggung Melati.


"Oh..enaknya kalau di urut dan di usap Mami. Rasanya semua mual hilang," sahut Melati. Anita tersenyum senang mendengar pujian sang putri.


"Memang hamil kan?" Melati mengangguk. Anita langsung memeluk tubuh Melati dengan sayang.


"Jangan lupa kasi tau Pak Herman dan Bu Ratih ya sayang. Kedua orang itu orang tua kamu juga. Mereka berdua pasti bahagia mendengar kabar bahagia ini."


"Ya Mi..pasti,"


Keduanya keluar dari kamar mandi bersama-sama. Dan terlihat boleh Hendrawan. Membuat pria itu penasaran.


"Ada apa nih?" tanya Hendrawan sambil menatap istri dan putri bungsunya berjalan saling rangkul keluar kamar mandi.


"Kepo ih si Papi. Ya nggak Mel?" Melati terkekeh melihat wajah kepo sang papi.


"Kejutan Pi..coba tebak?" tanya Anita makin membuat Hendrawan penasaran.


"Apa kok rahasia-rahasiaan sih sama Papi?" tanya Hendrawan menatap Istri dan anaknya bergantian.


"Mel sudah isi Pi. Alhamdulillah tak menunggu lama. Akhirnya kita bakalan dapat cucu dari putri bungsu kita. ha hahaha," Kata Anita men jelaskan dengan tawa bahagia. Hendrawan ikut tertawa bahagia. Pria. setengah baya itu langsung merangkul sang putri . Memeluk dengan erat .


" Alhamdulillah . akhirnya jadi kakek juga...hahahaha. tawa Hendrawan memenuhi ruang keluarga itu.


"Wah Papi kesenangan banget. Mau dapat cucu. Ehmm. Mas kapan ya Pi..?" tanya Reyhan kocak. Semua tertawa bahagia.


...****************...


Hari beranjak siang. Acara pernikahan megah Meli di gelar setelah shalat jumat.


Semua keluarga berkumpul di sebuah ruangan yang telah di rias dan dibuat secantik mungkin. Hingga terlihat elegan dan mewah.


"Saya terima nikah dan kawinnya Meli Andriani Putri binti Hendrawan Natanegara dengan seperangkat alat sholat dan emas logam mulia seberat sua ratus lima puluh gram tunai,"ucap Steven lancar.


"Bagaimana saksi Sah?" tanya penghulu pada hadirin yang hadir.


"Sah..sah.." teriak semua yang menyaksikan prosesi ijab kabul Steven dan Hendrawan. Meli yang duduk di kursi tunggu di ruang rias itu tersenyum penuh haru. Impiannya terwujud sudah. Serasa kebahagian menarik lengannya bersama Steven yang notabene seorang kualat asal Melbroune.


Tangis bahagia Meli pecah sesaat bertemu dengan Steven di ruang akad nikah. Setelah itu acara penyematan cincin kawin. Tak lupa sesi pengambilan foto pengantin dengan berbagai gaya.

__ADS_1


Kebahagian menyelubungi keluarga Hendrawan. Apalagi dengan berita kehamilan Melati yang tak perlu menunggu waktu lama untuk hamil. Benar-bener berita gembira untuk keluarga itu .


bersambung


__ADS_2