Cinta Melati Cinta

Cinta Melati Cinta
Janji Bertemu


__ADS_3

Siang ini Melati masih berada di kampus. Dan sudah hampir satu minggu


Randy mengantar dan menjemputnya. Melati merasa tak enak, karena merasa membebani Randy. Padahal pria itu mempunyai tugas yang cukup banyak. Kesibukan di Rumah Sakit pasti menyita waktunya. Tambah lagi harus antar jemput Melati.


Kuliahnya hari ini masih satu mata kuliah lagi. Dan pertemuan di lakukan di Lab. Kuliah di Kedokteran itu memang banyak di Lab nya. Seperti siang nanti mereka akan belajar mengukur dimensi tubuh manusia atau disebut Antropometri. Yang di ukur antara lain berat tubuh, posisi ketika berdiri, posisi ketika merentangkan tangan, lingkar tubuh, panjang tungkai dan lainnya.


Antropometri data berguna untuk berbagai pekerjaan, seperti perancang stasiun kerja, fasilitas kerja dan desain produk agar di peroleh ukuran yang sesuai dan layak dengan dimensi anggota tubuh manusia yang akan menggunakan nya.


Mata kuliah kedua tanpa terasa sudah selesai. Melati dan Reva gegas berjalan ke kantin kampus.


"Masih di antar dan di jemput Mas dokter Mel?" Melati menoleh ke arah Reva, lalu mengangguk.


"Betapa bahagianya jadi kamu," bisik Reva ke telinga Melati sambil terkekeh.


"Ngejek nih?" sungut Melati. Membuat Reva makin tertawa.


"Siapa sih yang paling berbahagia di dunia ini? Jawabannya ya pasti Melati Ayudia!" seloroh Reva dengan tangan terangkat ke atas. Melati langsung cemberut. Mengerucutkan bibirnya. Reva jadi terbahak-bahak melihat gaya sahabatnya.


Tak lama keduanya sudah berada di dalam kantin. Mencari tempat duduk strategis setelah dapat langsung memesan makanan siang ini. Mbak pramusaji sudah mencatat semua pesanan kedua gadis cantik itu. Lalu undur diri ke dalam dapur kantin untuk menyiapkan pesanan.


"Gimana ceritanya, dari Resnu menjadi Randy dokter tampan yang baik hati itu? Apa sudah saatnya berpindah ke lain hati?" Reva bertanya sambil mencondongkan tubuhnya agar lebih dekat ke Melati.


Melati menarik nafas panjang. Berpikir sesaat. Wajahnya tampak muram. Reva langsung menggenggam jemari sahabatnya itu.


"Kalau belum bisa cerita nggak papa sih.Gue nggak maksa!"Melati mengangguk setuju.


Tak sampai hitungan jam, makanan yang mereka pesan sudah terhidang. Keduanya menikmati makan siang mereka.


"Mas Reyhan nggak ada di rumah ya? Kok nggak pernah kelihatan nganter lu ke kampus?" Reva menatap dalam wajah sobatnya itu.


"Ada sih. Tapi memang agak sibuk belakangan. Sama kayak Mamiku. Sudah hampir seminggu ngurusin perusahaan yang di Bandung."


"Memang ada masalah gitu sama perusahaan bokap lu?" Melati menggedikkan bahunya.


"Kurang tau Rev. Kan kerjaan aku banyak. Nggak sempat nanya-nanya Mami."


sahut Melati sambil menyuap nasi bakar nya.


"Kangen gue sama abang lo. Kalau dia nganter, telpon gue yak. Gue kesemsem ama dia," ucap Reva dengan wajah memerah malu.


Anak ini, berani tapi mukanya langsung merah bak kepiting rebus gitu pas ngomongin Mas Reyhan, batin Melati sambil tersenyum di kulum.


"Kenapa lo senyam-senyum, gak rela ya jadi adik ipar gue?" muka Reva mendadak masam. Sementara Melati hampir tersedak karena menahan tawanya. Lalu menggeleng masih dengan mode tersenyum menahan tawa.


Setelah menyelesaikan makan siangnya kedua gadis itu langsung berjalan kearah Mushala. Sudah waktunya shalat dzuhur.


Selesai shalat, Melati dan Reva kembali ke Lab. Karena siang ini jadwal mereka untuk praktek.


Tak terasa waktu berjalan cepat. Sebelum keluar dari ruang laboratorium, Melati memeriksa ponselnya yang berbunyi notifikasi pesan berlogo hijau. Gadis itu membaca pesan yang tertulis di layar ponselnya. Ternyata dari Resnu.


("Assalamualaikum Mel. Mas ingin bicara sama kamu. Apa kita bisa ketemu sore ini?" )


Melati mengetik pesannya. Lalu mengirimkan pada Resnu.


("Jangan sekarang Mas. Mel baru pulang kuliah. Mas pasti masih di kantor kan? Kalau mau nanti malam saja. Di rumahku!")


("Ok..nanti habis magrib mas ke rumah kamu, makasih")

__ADS_1


("Sama-sama Mas.")


"Mel..apa sore ini masih di jemput sama Mas dokter tampan?" Melati mengalihkan tatapannya pada Reva setelah mengirim pesan berlogo hijau itu.


"Oh ya..memangnya kenapa?"


"Maksud gue, dari pada si mas dokter repot nganter elo. Mendingan bilang aja ke dia nggak usah jemput. Kan rumah kita searah. Biar gue yang nganter lo pulang. Gimana setuju kan. Lagian gue seorang diri gini." Reva mulai melancarkan ide nya.


"Oh gitu...tapi kamu nggak ada maksud buat ketemu abang ku kan?" selidik Melati. Reva langsung memanyunkan bibirnya.


"Suuzon aja lu...!" Melati terkekeh mendengar jawaban Reva.


Akhirnya Melati mengangguk setuju. Segera Melati menelpon Randy. Agar pria itu tak menjemputnya. ke kampus.


Tak menunggu lama, terdengar suara menyapa di seberang.


"Assalamualaikum!"


"Wa'alaikumsalam, ada apa Mel. Tumben nelpon? apa sudah mau pulang?"


"E..gini Mas. Mas nggak usah jemput Mel. Kebetulan temen Mel pulangnya searah. Jadi Mel ikut temen aja," pintanya dengan jantung berdegub kencang.


"Oh..gitu ya. Ehmn boleh deh. Nanti kabarin ya kalo sudah sampai."


"Iya Mas..baik. makasih ya.." Melati kemudian menutup pembicaraan mereka.


"Lu kayak istri izin ke suami aja deh. Geli gue dengernya," Reva terkekeh mendengar percakapan Melati dan Randy barusan.


Wajah Melati di goda Reva langsung memerah.


Akhirnya Melati dan Reva pulang bareng tak butuh waktu lama. Keduanya sudah sampai di depan rumah Melati.


"Nggak mampir dulu nih Rev?" tawar Melati. Reva yang duduk dibelakang kemudian langsung menggeleng.


" Titip salam sama Mas ganteng deh..CAI!" Melati termangu mendengar istilah baru yang keluar dari mulut Reva.


"Apaan CAI?" tanya Melati penasaran.


"Ah kepo lu,"


"Eh. nggak mau kasi tau kepanjangannya, salam nggak bakalan di sampaikan," ancam Melati.


"Idih...CAI pake ngancem nih,"


"Iya dong. Jadi apa arti CAI itu?"


"Ya udah gue kasi tau. CAI singkatan dari Calon Adik Ipar," jawab Reva pede. Melati langsung terkekeh mendengar jawaban Reva.


"Udah ah..aku masuk dulu." pamit Melati.


"Ya jangan lupa salamnya di sampaikan !"


"Insyaallah," sahut Melati. Lalu buru-buru masuk ke dalam halaman rumah mewah itu.


Setelah Melati masuk, Reva langsung tancap gas pulang ke rumahnya.


...****************...

__ADS_1


Melati baru saja selesai Shalat Magrib. Mengenakan pakaian yang rapi , gadis itu berdiri di depan cermin besar di kamarnya. Merasa sudah rapi. Melati berjalan keluar kamarnya. Di depan tangga Melati melihat Nining berjalan ke arah dapur.Lalu menyapanya.


"Eh..Non...itu barusan ada tamu. Nungguin Non Mel di teras."


"Ya Mbak makasih. Tolong buatin minuman ya!" dijawab anggukan oleh Nining.


Melati berjalan kearah teras. Setelah melewati ruang tamu. Menyibak Dan pintu yang sudah terbuka sedikit. Lalu melangkah menuju teras. Di teras sudah menunggu Resnu, yang terlihat menatap layar ponselnya.


"Ehmn..." Melati berdehem.Resnu menoleh ke arah datangnya suara. Tatapannya sendu menatap Melati. Melati mengalihkan pandangannya sejenak. Lalu menatap Resnu sekilas. Kemudian duduk di depan Resnu.


"Assalamualaikum,"


"Wa'alaikumsalam," jawab Melati .


"Apa kabar Mel?"


"Alhamdulillah..baik Mas!"


Resnu mengangguk.


"Syukurlah. Lama ya kita nggak ketemu. Sibuk sekali ya?" Resnu membuka pembicaraannya.


"Lumayan Mas,"


"Sudah baca surat ku?" tanya Resnu menatap lekat wajah cantik kekasihnya.


Melati menundukkan kepalanya.


"Apa yang terjadi? kenapa kamu jadi berubah setelah pertemuan dengan keluargaku?"


Melati menatap Resnu sekilas. Kemudian menunduk lagi.


"Tidak ada. Biasa saja," dusta nya. Resnu menatap wajah Melati tajam .


"Jika tidak ada apa-apa. Kenapa menghindar. Dan meminta saya tak bertemu lagi sama kamu?" Melati terpana sesaat. Tak biasanya Resnu menyebut dirinya saya.


"Kamu ingin hubungan kita berakhir?" sambung Resnu lirih.


Melati terdiam. Mata nya kini berkaca-kaca. Tanpa diminta . Tetesan air keluar dari sudut mata indahnya.


Mata Resnu pun berkaca- kaca pula.


Keduanya terdiam membisu. Melati sibuk mencari alasan dalam hatinya. Alasan yang tak Membuat Resnu kecewa.


Ah kecewa. Jelas Resnu pasti akan kecewa jika ia membatalkan pertunangan mereka.


Melati menarik nafas panjang.


"Maafkan aku, Mas Resnu. Aku merasa sebaiknya pertunangan kita di batalkan saja. Aku..aku nggak bisa bersama dengan Mas Resnu," ujar Melati dengan suara lirih. Rasanya sesak memenuhi rongga dada dan tenggorokannya. Air matanya tumpah mengalir bagai air terjun. Melati menyusutkan air mata nya dengan punggung tangan nya.


"Tapi Kenapa Mel? apa kamu sudah tidak mencintai saya lagi?"


Menggeleng. Lalu bangkit berlari masuk ke dalam rumahnya. Meninggalkan Resnu yang terpana menatap kepergiannya.


Resnu memijit pangkal hidungnya. Kepalanya saaaerasa mau pecah. Seumur hidupnya. Baru kali ini jatuh cinta. Tapi tiba-tiba di putuskan tanpa alasan yang tak jelas. Resnu mendesah. Pria itu melangkahkan kakinya meninggalkan rumah Melati. Saat akan berjalan ke arah mobilnya, seorang art di rumah itu memanggilnya. Sambil membawa nampan berisi air minum untuknya.


Resnu tak menghiraukan panggilan itu. Pria itu langsung masuk ke dalam mobilnya. Lalu tancap gas dengan meninggalkan asap knalpot mobilnya.

__ADS_1


__ADS_2