Cinta Melati Cinta

Cinta Melati Cinta
Kegalauan Hendrawan


__ADS_3

Hari sudah beranjak sore. Melati baru saja keluar dari kelasnya. Berpisah dengan Reva di lapangan parkir kampus, lalu masuk ke dalam mobil jemputan.


Pas membuka pintu ternyata ada sang Mami yang menanti di kursi belakang sopir. Anita mengembangkan senyum manisnya pada sang putri.


Melati langsung membawa tubuhnya kedalam mobil dan duduk di sebelah Anita.


"Tumben Mami jemput aku?" Anita menjawab dengan senyum.


"Tadi kebetulan ada kerjaan dikit jadi ya akhirnya ikut Pak Heru. Sekalian aja jemput kamu sayang," ucapnya sambil memberikan tangannya pada Melati saat gadis itu mencium punggung tangannya.


"Mel...kita nggak langsung pulang boleh? Mami pengen makan siang. Tadi belum sempat maksi," di jawab anggukan oleh Melati. Anita tersenyum.


"Pak Heru, kita ke restoran tempat biasa ya!"


"Iya Nyonya. Siap!" sahut Pak Heru. Mobil bergerak keluar parkiran kampus Abdi Bangsa.


Melati melirik jam di pergelangan tangannya.


"Sudah Shalat Zhuhur tadi Mel?"


"Sudah Mi...tadi setelah makan siang langsung Shalat," ujarnya.


"Syukurlah, Mami belum. Nanti aja pas sampai di Resto." Melati mengangguk. Menatap sang Mami sekilas. Lalu menatap jalan dari jendela.


Tak lama, mobil sudah memasuki parkiran Restoran yang bernuansa Saung. Biasanya Resto seperti ini menyediakan menu gurame bakar atau gurame goreng lengkap dengan lalapan dan sambal.


Melati dan Anita keluar dari mobil. Berjalan beriringan masuk ke dalam Restoran. Di depan pintu masuk Restoran. Mereka berdua sudah di sambut oleh pelayan restoran. Yang kemudian mengarahkan mereka ke tempat duduk yang mereka pesan.


Setelah mendapatkan tempat duduk. Anita pamit pada Melati untuk melaksanakan Shalat Dzuhur.


"Mel ...sudah pesan makanan?" tanya Anita sekembalinya dari Shalat dzuhur nya.


"Belum Mi..nunggu Mami dulu. Mel nggak tau makanan yang enak disini apa aja," sahutnya. Anita mengangguk. Seorang pramusaji mendekati meja tempat mereka duduk.


"Selamat siang ibu, mbak. Silahkan, memesan makanannya .Ini daftar menunya." sapa pramusaji cantik itu sambil memberikan daftar menu. Menunggu sesaat, lalu mencatat semua menu yang di pesan.

__ADS_1


"Baik ibu, mbak. Orderannya mohon ditunggu ya," di jawab anggukan dan ucapan terima kasih dari Anita dan Melati.


Keduanya menunggu pesanan makanan datang sambil bercerita giat mereka hari ini.


"Mel...ada yang mau Mami certain sama kamu," Anita membuka pembicaraan yang serius dengan Melati. Melati mendengarkan cerita sang Mami dengan penuh perhatian.


"Mami bingung Mel, gimana caranya coba ngomong sama Pak Tommy dan Hera. Tentang penolakan Meli. Padahal Randy itu seorang dokter. Anaknya baik, tampan. Dari keluarga yang bibit, bebet , bobotnya terpercaya. Keluarganya bukan orang sembarangan. Sekarang Mami nggak tau lagi apa yang mau Mami dan Papi lakukan. Meli keras kepala sekali." Melati mendengarkan curhat sang Mami dalam diam. Sebagai pendengar setia. Tanpa ada sanggahan.


"Pusing nggak tuh Mel..Mami dan Papi," keluh Anita. Melati menggenggam jemari Maminya. Memberikan kekuatan untuk sang Mami. Agar sabar menghadapi sikap Meli.


"Sabar ya Mi." disahuti anggukan dan ******* kesal Anita.


"Nanti Mel coba nelpon Lili. Nanya kenapa sampai dia nolak gitu,"


"Ya..tapi Papi aja nelpon dia belum selesai bicara aja sudah dimatiin sambungan telponnya. Apalagi kamu sayang,"


"Nanti Mel usahakan membujuknya Mi," janji Melati. Anita mengangguk setuju.


Pramusaji tiba di meja Anita dan Melati. Menata makanan yang sudah di pesan. Melati dan Anita menikmati makan siang mereka yang kesiangan.


*****


Malam itu Hendrawan dan Anita ngobrol santai di sofa kamar mereka.


Anita mengangguk.


"Bagaimana tanggapan Mel?" tanya Hendrawan penasaran. Anita menarik nafas dalam. Mendesah galau. Keningnya tampak sedikit berkerut.


"Mel cuma ngasi solusi untuk menelpon Meli. Menasehatinya mungkin."


"Nggak akan mempan lah Mi. Wong Lili itu anaknya keras kepala!" bantah Hendrawan gak setuju. Anita mengedikkan bahunya.


"Nggak tau Mami, Pi. Pusing...!" Hendrawan menarik nafas dalam. Lalu mengangguk.


"Sama, Papi juga pusing. Alasan apa yang mesti kita kasi ke Tommy. Dia bisa tersinggung kalau kita menolak perjodohan dengan putranya," sahut Hendrawan menepuk jidatnya.

__ADS_1


"Gini aja Pi. Sebenernya Mami nggak tega buat nyusahin Melati. Jadi lebih baik nggak usah bilang terus terang sama Mel kalo kita ingin menjodohkan dia sama Randy. Tapi kita suruh saja Randy mendekati Mel."


"Bagaimana bisa? Apa Randy setuju?"


"Ya nggak tau. Tapi kalau Mami liat nih. Randy kayaknya lebih suka sama Mel deh, dari pada sama Lili."


"Kok Mami bisa punya feeling gitu?"


"Ah situ kayak nggak pernah muda aja. Liat aja tatapannya Randy sama Mel. Beda banget sama Lili."


"Yang bener Mi...Jangan bikin statemen ngaco deh!" sergah Hendrawan dengan wajah kesal. Anita terkekeh menatap wajah suaminya.


"Ya sudah kalo nggak percaya. Mami mau tidur. Ngantuk nih. Tuh liat sudah jam berapa," ucapnya gemas sambil menunjuk jam dinding. Hendrawan yang mengikuti arah telunjuk Anita sampai kaget melihat jam di kamar mereka. Sudah jam dua belas malam. Dan Ia nggak mungkin begadang lebih malam lagi. Karena besok pagi pekerjaannya sudah menunggu.


Hendrawan kemudian mengikuti Anita membaringkan tubuhnya di atas ranjang ukuran king size. Mengistirahatkan tubuhnya. Agar esok pagi bagun lebih awal.


Sementara di kamarnya Melati tengah menelpon Meli. Melati berbincang serius dengan Meli.


"Aku cuma mau nanya Li...gimana dengan Mas Randy. Terus terang Mami dan Papi bingung mau ngomong apa sama Om Tommy, Papanya Mas Randy. Kasian lho orang tua kita,"


Mendengar cerita Melati. Lili mengerucutkan bibirnya. Pokok bahasan tentang perjodohannya dengan Randy membuat rambutnya serasa keriting.


"Eh tunggu deh. Lu ngajak gue ngobrol ini karena ada maksud terselubung ya?"


"Bukan gitu Li..Mel cuma mau cerita betapa paniknya Papi dan Mami karena kamu nggak setuju di jodohkan dengan Mas Randy. Cuma itu?" bantah Melati sengit. Meli di seberang sana terlihat mencibir mendengar cerita Melati. Kesal sekali di jadikan Siti Nurbaya di zaman serba canggih ini oleh orang tuanya.


"Sudah deh..mending kita cerita yang asyik -asyik aja. Nggak usah cerita yang bikin gue emosi deh Mel!" sergah Meli kesal. Melati cuma bisa mengurut dada mendengar kata-kata Meli.


"Ya sudah. Aku nggak akan tanya-tanya lagi soal perjodohan kamu sama Mas Randy," kata Melati mengalah. Ada kekecewaan dihatinya karena tidak bisa membujuk Meli , saudari kembarnya. Mami memang benar. Meli memang keras kepala. Dia sangat tak sudi didikte oleh siapapun. Termasuk orang tuanya sendiri.


Akhirnya keduanya bercerita topik berbeda. Yang lebih di sukai oleh Meli. Melati mengenyampingkan tugasnya. Sambil berpikir keras , jawaban apa yang akan diberi jika Papi dan Maminya bertanya tentang hasil dari pembicaraan mereka.


Malam semakin larut. Melati pamit untuk tidur pada Lili. Karena di Indonesia sudah menunjukkan pukul 2 dini hari. Besok jadwal kuliahnya jam sepuluh pagi.Jadi sehabis shalat subuh dia bisa istirahat kembali.


*****

__ADS_1


__ADS_2