
Malam itu selesai mandi dan berganti pakaian, Melati berdandan biasa saja, mengenakan gamis berwarna pink bermotif bunga-bunga . Dengan hijab senada dengan gamisnya. Sebelumnya Melati sudah mengambil wudhu, agar nanti pas azan magrib dia bisa langsung melaksanakan sholat.
Selang waktu beberapa menit , adzan magrib terdengar. Selepas adzan selesai gadis itu segera menunaikan kewajibannya melaksanakan shalat magrib.
Selesai dengan ibadahnya, gadis itu merapikan jilbab dan baju gamisnya. Lalu turun ke lantai satu untuk bergabung dengan keluarganya. Malam ini rumah orang tuanya akan kedatangan tamu spesial. Yang Melati tahu tamunya kerabat dekat Mami dan Papi. Melati tidak tahu persis...yang ia tahu tamu itu akan di jamu dengan makan malam yang lezat dan banyak kue serta buah untuk di hidangkan.
Melati sudah menginjakkan kakinya di ruang keluarga.
"Hei sayang...ayo sini kumpul ," sapa ramah sang Mami yang juga sudah rapi dengan dress berwarna blue soft . Yang membuat sang Mami semakin cantik dan berseri. Melati tersenyum lalu berjalan mendekati orang tuanya. Papi Hendrawan juga tampak rapi dengan kemeja kotak - kotak berwarna biru . Sepertinya pasangan itu sudah janjian untuk memakainya di acara keluarga malam ini.
"Kamu cantik sekali sayang..."
Anita memeluk anak gadisnya penuh sayang. Lalu mencium pipi mulus dan putih Melati. Hati gadis itu bertabur kupu-kupu. Betapa ia amat bahagia bisa bertemu kembali dengan orang tuanya.
"Makasih untuk pujiannya Mi...tapi Mami jauh lebih cantik..." jawabnya tulus sambil tersenyum. Disambut dengan senyum lembut dan penuh kasih dari sang Mami.
"Meli mana ya Pi...kok belum turun-turun dari tadi. apa ketiduran ya?" tanya Mami Anita sambil menatap suaminya. Tuan Hendrawan mengangkat bahunya.
"Mbok...Mbok Sri...sini dulu deh!"
"Ya nyonya..ada apa?"
"Mbok Sri coba ke kamar Meli...liat apa dia sudah siap..sebentar lagi tamunya mau datang..." dijawab anggukan oleh Mbok Sri.
Wanita itu berjalan tergesa ke kamar Meli. Yang terletak di lantai dua di sebelah tangga. Wanita itu mengetuk. pintu kamar Meli.
" Non...apa sudah selesai. Di tunggu nyonya dan tuan di bawah. "
"Ya..tunggu sebentar, ini belum selesai mbok?" sahut Meli dari dalam.
Tak berapa lama, pintu kamar terbuka.Seorang gadis cantik bak bidadari berdiri di depan mbok Sri. Wanita itu ternganga. Terpesona dengan penampilan Meli yang super cantik.
__ADS_1
"Yuk turun mbok...aku udah selesai," ajak Meli sambil meraih tangan tua mbok Sri. Wanita tua itu tersenyum.
Keduanya berjalan menuruni tangga langsung ke ruang keluarga dimana sudah ada Mami, Papi , Melati dan Reyhan duduk menantinya.
"Maasha Allah cantik sekali kamu sayang. Randy pasti terpesona melihat kecantikan kamu,"
Mami Anita begitu terpesona melihat kecantikan putrinya. Meli hanya menjawab dengan senyum manisnya.
Bunyi ketukan pintu ruang utama berbunyi. Membuat tatapan mereka semua beralih ke arah pintu itu. Tak lama pintu dibuka oleh pelayan. Muncul seraut wajah Pak Maman. Pria itu mendekati mereka yang sedang menanti tamu.
"Ada apa Pak Maman?" tanya Hendrawan .
"Maaf tuan, ada tamu di luar. Apa langsung saya persilahkan masuk?" jawabnya sambil menatap tuannya.
"Ya..suruh masuk saja, saya akan ke luar menyambut tamu ," sahut Hendrawan sambil berjalan ke luar rumah mengikuti Pak Maman.
Setelah tiba di halaman besar nan asri itu, Hendrawan mengarahkan pandangannya kearah sepasang suami istri dengan anak lelakinya.
"Wa'alaikumsalam, Alhamdulillah.. akhirnya sampai juga ke rumah saya Dek Tommy Wiryawan..dan dan Jeng Hera , Randy..." sapa Pak Hendrawan sambil menyalami mereka satu persatu.
"Alhamdulillah.. apa kabar Pak Hendrawan," Pak Tommy Wiryawan menyambut tangan Pak Hendrawan. Kemarin mereka bersalaman dengan akrab.
"Alhamdulillah.... mari...silahkan masuk, Istri saya dan anak-anak sudah menunggu kedatangan Dek Tommy dan keluarga," ajak Pak Hendrawan sambil mempersilahkan tamunya masuk ke dalam rumah.
Keluarga Pak Tommy masuk kedalam rumah Pak Hendrawan. Ternyata keluarga Pak Hendrawan sudah menanti tamunya di ruang tamu. Kedua keluarga itu bertemu, saling bersalaman dan berpelukan dengan penuh keakraban.
"Lho kok ini ada gadis lain yang mirip dengan Meli..?" tanya Hera sambil menunjuk seorang gadis cantik berjilbab. Gadis itu tersenyum ramah lalu mencium tangan Hera, mama Randy dengan sopan.
"Silahkan duduk dulu....nanti kita cerita-cerita...agak panjang...hahahaha," Hendrawan tertawa senang sambil mempersilahkan tamunya untuk duduk.
Hera menjawab dengan anggukan. Duduk dengan anggun di sofa mewah di ruang tamu rumah Hendrawan. Diikuti dengan yang lain.
__ADS_1
"Randy masih ingat dengan Meli kan?"
Anita melirik kearah pria tampan itu. Pria itu tersenyum dan mengangguk. Lalu menatap Meli dan Melati secara bergantian.
'Sungguh mirip, hanya jilbab saja yang membedakan gadis kembar ini' bisik Randy dalam hati.
"Mirip ya Ran...ini Melati. Saudara kembarnya Meli. " ujar Anita memperkenalkan Melati pada Randy.
"Ya...yang hilang saat masih berumur 14 bulan. Sempat membuat istri om depresi. Merasa bersalah karena merasa tak becus mengurus dua bayi kembar," jelas Hendrawan. Semua menatap pria setengah baya itu. Mendengarkan ceritanya dengan antusias.Anita mendengar cerita suaminya dengan kepala tertunduk. Seakan kenangan beberapa waktu silam terbentang lagi di memorinya. Matanya berkaca-kaca.
"Dua bulan yang lalu, staf ku di kantor aku suruh mencari peternak sapi di desa. Rupanya Sandy dan satu temannya memilih desa Sedayu yang merupakan penghasil ternak sapi terbaik di daerah itu. Saat sedang bernego dengan pemilik ternak sapi itu mereka melihat seorang gadis berjilbab yang mengantarkan kue ke pegawai ternak sapi itu. Diliat dan di perhatikan kok mirip sama non Meli , kata Sandy.
Akhirnya setelah selesai bernego harga. Sandy bertanya dengan pak Rahmat siapa gadis itu, yang begitu mirip dengan Meli. Pak Rahmat lalu bercerita jika gadis itu bernama Melati. Diberi nama Melati karena waktu di temukan balita itu memakai kalung emas dengan nama Melati. Dan Keluarga Pak Herman dan Bu Ratih sedikit pun tak mengganti nama Melati. Tujuannya agar suatu saat kalau bertemu dengan orang tua kandungnya."
"Lalu Sandy dan Ricard mengabarkan pada saya kalau dia menemukan putri saya. Sudah besar..sudah berusia 22 tahun. Bahkan sudah tamat Sekolah Menengah Atas. Untuk itulah saya menyuruh staf saya untuk mencari keberadaan orang tua angkat Melati. Dan memberi alamat pada mereka. Agar mereka mengirim putri angkatnya itu pada saya. Dan Alhamdulillah. tidak mengalami kesulitan. Akhirnya putri kami yamg sudah menghilang lebih dari 22 tahun kembali lagi...." cerita Hendrawan dengan mata berkaca-kaca mengakhiri kisah putrinya yang hilang lalu bertemu lagi.
Semua menarik nafas lega. Terutama Anita. Yang begitu berbahagia karena bisa bertemu lagi dengan salah satu putri kembarnya yang hilang.
"Saya tidak menyangka dengan cerita ini Mas Hen..karena saya pernah mendengar kalau Mbak Anita begitu terguncang dengan peristiwa itu. Alhamdulillah. akhirnya bisa bertemu lagi dengan putrinya..Melati..."
" Melati..tante senang sekali bisa bertemu dengan kamu," ujar Hera dengan senyum yang tak lepas dari bibirnya. Melati pun tersenyum pada wanita itu.
"Tuan..makan malam sudah terhidang."Mbok Sri kepala pelayan di rumah itu tiba-tiba menyapa di tengah keheningan.
"Alhamdulillah.. mari dek Tommy, Hera dan Randy kita makan malam bersama. Sudah lama kita tidak bertemu. Dan sekarang waktu yang tepat untuk bersilaturahmi ...mari mari..." ajak Hendrawan pada tamunya.
Semua kemudian berjalan kearah meja makan. Dimana sudah tersedia berbagai macam makanan. Dari nasi kebuli dan nasi putih , sup, rendang , sambal goreng udang beberapa macam sayuran terhidang di sana.
Sementara meja kecil di seberang meja makan terhidang berbagai macam kue - kue dan buah-buahan. Yang pasti semua lezat dan enak.
Tak berapa lama mereka semua asyik bertukar cerita sambil menikmati makan malam yang di hidangkan.
__ADS_1