
Jantung Randy berdetak kencang. Amarah dan kecewa memenuhi rongga dadanya.
Randy amat tak menyangka kalau Iqbal, sahabatnya curi star lebih dulu dari nya. Randy kecewa. Ditatapnya ke dua makhluk yang sedang kasmaran itu dengan tatapan nanar. Lalu melangkah pergi menuju mobil nya.
Sejak saat itu, sampai mereka sama-sama menyelesaikan pendidikan di Fakultas Kedokteran. Randy tak ingin melihat wajah ke dua sahabatnya itu.
Sebenarnya tak masalah jika Iqbal mencintai Aline . Tapi Iqbal tahu kalau Randy lebih dulu dekat dan kemudian jatuh hati pada Aline.
Randy merasa Iqbal munafik. Karena saat mereka bertiga jalan bareng atau sedang beraktifitas di Kampusnya, Iqbal dan Aline tidak pernah menunjukkan perasaan mereka.
Dan ciuman di bibir Aline sudah bisa menjelaskan kalau Iqbal dan Aline ada hubungan khusus.
Sampai saat ini, mereka tak pernah bertemu satu sama lain. Randy sempat mendengar kalau Iqbal dan Aline menikah dan mereka menatap di Lombok . Keduanya bertugas di Rumah Sakit Umum Lombok.
Itulah kenapa sampai Ia berusia 30 tahun, pria itu tak kunjung mempunyai kekasih apalagi memiliki seorang istri.
"Mas Randy...kenapa melamun?" Melati membuyarkan lamunan Randy. Pria itu gelagapan. Lalu menatap mata Melati lekat.
"Nggak apa-apa." sahutnya singkat.Untung saja, tak menunggu lama. Pramusaji datang mengantarkan makanan dan minuman yang telah mereka pesan.
Keduanya makan malam dalam diam. Randy menatap wajah Melati yang nampak tertunduk menikmati makan malam nya.
Setelah makan malam yang kemalaman. Keduanya pergi meninggalkan Restoran itu.
Mobil yang di kendarai Randy berjalan dengan kecepatan sedang. Lalu lintas tampak masih ramai. Di dalam mobil tak ada sepatah katapun yang terucap dari bibir Randy. Melati pun yang melihat Randy hanya diam, ikutan diam juga. Sampai saat Melati akan turun dari Mobil nya, barulah Randy memanggil nama Melati.
"Mel..makasih ya udah nemenin Mas jalan malam ini." ucapnya dengan tatapan lekat pada wajah cantik gadis itu
Melati tersenyum. Keduanya lesung pipi menambah manis wajah nya.
"Jangan kapok ya jalan sama Mas?" ujarnya lagi dengan suara lirih. Melati mengangguk. Entah kenapa ada rasa iba di hati Melati pada Randy. Tapi Ia tak tahu kenapa dokter muda nan tampan itu begitu melow malam ini.
"Mas pulang dulu, salam buat Om Hendra dan Tante Anita. Maaf Mas nggak langsung pamit pada mereka.
"Ya Mas..nggak papa. Sudah malam juga. Mas hati-hati ya," sahut Melati sambil melambaikan tangan saat mobil Randy bergerak meninggalkan halaman depan rumah besar dan mewah itu.
Setelah Randy dan mobil nya hilang dari pandangan nya. Melati masuk ke dalam rumah. Ternyata ada sang Mami yang masih asyik menonton sinetron bersambung di televisi.Wanita itu menoleh saat putrinya masuk ke dalam rumah.
__ADS_1
"Assalamualaikum Mi.."
"Wa'alaikumsalam,"
"Mami belum tidur?" Melati kemudian duduk di samping Anita. Wanita setengah baya itu tersenyum.
"Nungguin kamu sayang. Takutnya nanti pelayan di rumah ini pada ketiduran. List tuh udah jam dua belas malam," Anita menunjukkan jam dinding diruang keluarga. Melati tersenyum.
"Maaf ya Mi..jadi menganggu acara tidurnya Mami dan Papi." ucapnya merasa bersalah.
Anita meletakan telunjuknya ke bibir.
"Suutt..jangan ngomong gitu. Mami dan Papi nggak terganggu kok. Sekarang kamu shalat Isya dulu abis itu tidur. Ok..!" di sahuti anggukan oleh Melati.
Baru saja Melati menaiki anak tangga menuju ke kamar nya, suara mami terdengar lagi.
"Mel, boleh mami bertanya sesuatu?"Melati menoleh ke arah sang Mami.
"Iya Mi?"
"Apa kamu masih mencintai Resnu?" tanya Anita pelan dan hati-hati. Melati tertunduk.
"Kamu bisa cerita sama Mami sayang. Jangan di simpan sendiri. Mami liat kamu senang berjalan dengan Randy. Tapi di hati kamu sepertinya masih ada Resnu." Melati masih menangis di bahu Anita. Anita mengusap punggung putrinya dengan sayang.
"Mami nggak ingin memaksa. Jika cinta untuk Resnu masih ada, kamu bisa bersamanya. Tapi kalau sudah tidak ada. Kamu bisa memilih Randy. Bukan Mami memuji, Tapi ...Randy lebih segalanya bagi Mami dan Papi. Dia pria baik.Bibit, bebet dan bobotnya sangat kami kenal. Papa nya sahabat Papi waktu Sekolah Menengah Atas. Agamanya bagus. Apalagi coba yang kamu cari?"
Melati menyusut air mata nya. Lalu mengurai pelukan dirinya pada sang Mami.
Anita menatap lekat mata putrinya.
"Kenapa? ada yang mau kamu katakan sayang?" Anita memegang bahu putrinya yang masih menangis. Air mata itu jatuh begitu saja.
Melati menggeleng.
"Mel ke atas dulu Mi...nanti kalau hati Mel sudah mantap Mel akan melepaskan Mas Resnu."
Anita menarik nafas dalam. Lalu mengangguk. Dia ingin Melati memilih Randy. Karena selain suaminya memerlukan suntikan dana untuk perusahaannya. Tapi juga untuk masa depan putrinya. Cuma Melati yang bisa di harapkan. Bulan maksud mengorbankan, Tapi Anita merasa Melati lebih cocok dan dia memimpikan pernikahan Melati dan Randy.
__ADS_1
"Ya sudah. Sekarang kamu tidur dulu. Besok kita bisa ngobrol lagi. Mami juga mau tidur," Anita membiarkan Melati berjalan ke kamarnya. Anita baru masuk ke dalam kamarnya, saat Melati sudah berbelok menuju ke kamarnya.
Anita menarik nafas dalam.
lalu berjalan ke arah kamarnya. Membuka pintu dan melihat Hendrawan, suaminya sudah tertidur pulas.
Anita kemudian naik ke atas ranjangnya. Dirinya masih kepikiran dengan Melati. Hati nya tak ingin sang putri bersedih.
Tak lama mata Anita terpejam. Lalu terdengar nafas beraturan.
****
Di rumah kediaman Tommy Wiryawan.
Hera membangkitkan tubuhnya yang sedang asyik membuat rajutan dari benang wall, saat mendengar bunyi mobil masuk ke parkiran di halaman rumahnya yang luas.
Lalu berjalan ke pintu samping. Bunyi kunci terdengar di putar. Tak lama seraut wajah muram dan lelah terpampang di depan matanya. Hera memejamkan matanya pedih. Randy berjalan ke arahnya. Lalu mencium punggung tangannya hormat.
"Baru pulang sayang? Gimana,apa menyenangkan pergi berdua dengan Melati?" Hera menatap lekat wajah putranya. Randy masih tertunduk.
"Hemn..nggak tau Ma..Randy naik ke atas dulu ya mau istirahat." ucapnya sambil membalikkan tubuhnya ke arah lift yang terletak di sudut ruangan besar dan mewah itu.
Hera hanya bisa menjawab ya. Dan membiarkan sang putra masuk ke dalam list menuju kamarnya.
Sampai di lantai dua, Randy langsung berjalan ke arah kamarnya. Membuka pintu lalu masuk ke dalam kamar yang bercat biru laut itu. Kamarnya sudah terang. Penerangan di setiap ruangan di design dengan baik. Jadi saat seseorang masuk, lampu akan otomatis hidup. Tak perlu memencet saklar lampu lagi.
Randy langsung masuk ke kamar mandi. Sebelumnya melepaskan seleuruh pakaiannya di walk in closet. Kemudian masuk ke kamar mandi.
Pria itu mengidupkan shower air hangat. Lalu mulai berdiri di bawah pancuran shower.
Sekitar sepuluh menit, ritual mandinya selesai. Randy memakai handuk yang menutupi tubuhnya dari pinggang ke bawah. Tubuhnya yang six-pack begitu mempesona. Setiap wanita yang menatapnya pasti akan terpesona.
Randy berjalan keluar kamar mandi, lalu mengambil kaos oblong berwarna putih dan celana boxer di tubuhnya. Setelah rapi, pria itu keluar walk in closet. Berjalan menuju tempat tidurnya.
Duduk di pinggir tempat tidur ukuran king size nya. Lalu bersandar di kepala ranjang.Pria itu termenung. Masih terbayang wajah cantik Melati. Dan air mata yang tiba-tiba mengalir di Kedua mata Melati. Randy menarik nafas dalam. Hatinya sakit. Rasa de javu saat mencintai seorang gadis namun gadis itu masih mencintai pria lain.
Randy menggeser tubuhnya. Hingga berbaring terlentang di atas tempat tidur. Mencoba memejamkan matanya. Walau sangat sulit. Namun akhirnya rasa kantuk mulai menyerang, tak lama matanya terpejam. Dan nafasnya mulai teratur.
__ADS_1
Jam di kamarnya sudah menunjukkan ke pukul setengah dua malam. Tubuhnya dan hati yang lelah membuat ia mampu tertidur lelap.