Cinta Melati Cinta

Cinta Melati Cinta
Persiapan Pernikahan


__ADS_3

"Mi...sudah siap?" Melati masuk ke dalam kamar Anita. Wanita itu sedang memasukkan ponselnya ke dalam tas, lalu menoleh ke arah putrinya.


"Sudah sayang, ayo kita berangkat. Mungkin Randy sudah sampai di rumah kita," ajak Anita sambil keluar diiringi Melati dari belakang. Mereka berdua jalan menuju ruang tamu.


Tampak Randy masih asyik menekuri layar ponselnya.


"Randy..sudah lama..?" sapa Anita berdiri di depan Randy dengan Melati di sebelahnya.


"Alhamdulillah, baru sepuluh menit yang lalu tante." ucapan Randy membuat wanita itu terkejut.


"Ya Ampun...maaf ya..tante lama di kamar tadi. Habiskan dulu minumnya Randy..."


"Ya makasih tante," Randy meraih cangkir berisi kopi. Meneguk nya hingga tuntas. Lalu menoleh ke arah Anita dan Melati.


"Kita langsung aja Tan?" di sahuti anggukan oleh Anita. Melati hanya diam menatap wajah tampan dokter muda yang sebentar lagi akan menjadi suaminya.


"Hayuk....Mel.." Anita menggenggam tangan Melati lalu menoleh ke arah Randy mereka bertiga berjalan melewati pintu utama rumah itu.


Randy menekan tombol remote mobilnya. membukakan pintu untuk Anita dan Melati. Lalu masuk ke dalam mobil, duduk di belakang kemudi.


Melati duduk di samping Randy.


"Kita langsung ke butik tan?" Randy melirik kaca spion depan. Tampak Anita mengangguk.


Sepanjang perjalanan Anita banyak bercerita. Randy terkadang menyahuti sambil sesekali melirik Melati yang hanya diam.


Mobil Randy sudah di parkir rapi pada halaman luas Butik The Talita. Ketiganya keluar dari mobil berbarengan. Lalu melangkah ke dalam butik yang sudah di sambut oleh pelayan yang berdandan cantik dengan rok selutut. Senyum merekah di bibir saat menatap Anita yang pertama masuk ke dalam butik itu.


"Selamat Siang Nyonya..Mas, mbak..ada yang bisa di bantu, Eh Nyonya Hendrawan?" sapa nya ramah.


"Iya ini saya mau nyari dress untuk nikah dan pesta. Untuk pengantin ya.." di sambut anggukan penuh senyum oleh pelayan butik. Sang pelayan butik sudah lama mengenal Anita. Karena wanita itu sering berbelanja pakaian di sini.


" Mari Nyonya Hendrawan, saya ajak ke lantai atas aja. Di sana lebih banyak model gaun yang cantik dan terbaru tentunya," ketiganya mengikuti mbak pelayan butik menuju ke lantai dua gedung mewah itu.


"Ayo silahkan masuk," ajak Febi pelayan butik itu, sambil membukakan pintu untuk Anita, Melati dan Randy.


"Apa ada untuk pakaian pria nya, Febi?" tanya Anita saat matanya berkeliling melihat beberapa model gaun yang terpajang disana.


"Tentu ada Nyonya, sebentar saya panggil teman yang mengurus koleksi baju pria di sebelah," sahut Febi sambil melangkah keluar. Tak lama kemudian, Febi datang lagi bersama satu orang temannya.

__ADS_1


"Nyonya Hendrawan, ini teman saya yang akan membantu mencarikan baju untuk pasangan pria nya,"


"Nanti saja, setelah baju untuk calon istri saya sudah dapat," sahut Randy. Anita tersenyum mendengar Randy menyebutkan Melati sebagai calon istri. Sementara wajah Melati tampak memerah mendengar sebutan calon istri.


"Iya nanti saja mbak, biar kita cari gaun untuk putri saya saja dulu." Febi mengangguk setuju, lalu mengeluarkan beberapa koleksi gaun indah di dalam lemari.


"Ini Nyonya..koleksi gaun terbaik di sini...saya pilihkan untuk pengantin yang berjilbab." Febi memperlihatkan sepuluh macam gaun untuk wanita berjilbab. Tentu saja bahan brokat dengan lengan panjang yang semuanya terlihat mewah. Anita berdecak kagum. Cantik semua, hingga Ia bingung. Motif yang mana yang cocok untuk Melati.


" Sayang , coba kamu pilih..lalu pakai..biar Mami dan Randy bisa melihat mana yang pas dan cocok buat kamu!"


"Mbak Febi, tolong temani anak saya memakainya ya..!" pinta Anita pada Febi.


"Baik Nyonya.."


"Ayo mbak, ikut saya," ajak Febi sambil membawa beberapa gaun untuk di coba Melati di sebuah ruangan khusus untuk fitting pakaian.


"Coba yang ini dulu mbak," ujar Febi menyerahkan sebuah gaun dengan warna krem, di hiasi manik-manik bagian dada dan lengannya.


Melati mengambil gaun yang disodorkan padanya. Melati kemudian menanggalkan bajunya, sementara celana jeans di biarkan tetap terpakai di tubuhnya. Setelah memakai gaun itu, Melati keluar ruang ganti lalu berjalan ke ruang sebelahnya dimana Febi sudah menunggunya .


"Sudah mbak Febi. Tapi resletingnya belum aku pasang."


"Ayo mbak kita keluar biar calon mbak dan Nyonya bisa liat." keduanya pergi ke luar dimana tempat Anita dan Randy menunggunya .


"Gimana Nyonya, Mas? Apa ini cocok buat Mbak....siapa namanya mbak?"


"Melati, Febi..putri saya namanya Melati," ujar Anita menjelaskan . Febi mengangguk paham.


"Gimana Randy. Apa cocok buat Melati." Randy tampak menatap lekat Melati yang sedang memakai gaun itu. Randy tersenyum.


"Bagus tante, tapi bolehkan kita coba beberapa yang cocok dengan Mel?" Anita mengangguk di ikuti oleh Febi.


" Bisa Nyonya ,jangan kuatir Mas.."


"Ayo Mbak Mel..kita coba model lain bajunya,"Melati masuk lagi bersama Febi untuk mencoba gaun berikutnya.


Mula-mula berwarna pink, lalu berwarna merah, Salem, abu-abu, ungu dan putih. Dengan berbagai model. Melati keluar lagi dengan gaun brokat berwarna coklat muda.


"Gimana Nyonya dan Mas,mbaknya apa cocok dengan warna ini?" tanya Febi memperlihatkan gaun yang di pakai Melati. Gadis itu terlihat lelah. Randy Jadi kasihan dengan Melati.

__ADS_1


"Kalo menurut tante yang ini bagus ya Dy.?" Anita meminta pendapat pada Randy. Pria itu mengangguk.


"Mel kamu merasa enak nggak dengan gaun ini?" Melati menatap gaun yang di pakai nya.


"Rasanya enak Mi..pas..dak tidak terlalu terlihat bagian dada, karena di tertutup sama bahan ini," sahut Melati.


"Ok kalo gitu , tolong cari baju untuk saya dengan warna senada mbak! ada kan?" ujar Randy kemudian.


"Ya ada Mas. tunggu ya saya kasi tau temen yang di pakaian pria ya," Febi lalu berjalan keluar ruangan itu, menghampiri temannya yang menjaga pakaian untuk pria.


Nyonya. sebaiknya ke sebelah aja. Mari saya antar. Biar Mas bisa milih!"


ajak Febi. Mereka bertiga kemudian mencari pakaian untuk Randy.


Ternyata banyak sekali pakaian untuk pengantin pria. Tinggal pilih saja.


"Silahkan di lihat Mas..!"


"Nyonya Hendrawan cari yang warna gini, coklat muda." sahut Febi sambil menunjukkan gaun yang telah di pilih pada sebuah manekin yang di bawanya. Mimi sahabat Febi mengangguk.Lalu sibuk mencari pakaian dengan warna yang cocok seperti gaun Melati.


Setelah di cari, akhirnya ketemu. Lalu Randy memakainya. Melati tersenyum malu saat melihat Randy begitu gagah fitting pakaian pengantin mereka.


Setelah selesai membeli gaun dan baju pengantin untuk Randy.Mereka bertiga keluar dari butik itu, menuju ke mobil Randy yang terparkir.


"Kemana lagi kita Tan..kayaknya perut udah keroncongan ni. Akibat kelamaan nyari pakaian." tanya Randy, setelah mereka sudah masuk ke dalam mobil.


"Iya juga ya. Lapar juga sibuk nyari-nyari baju buat kalian tadi." sahut Anita sambil terkekeh. Melati hanya tertunduk malu.


"Kita makan di mana Mel?" tanya Randy sambil melirik Melati lalu fokus kembali dengan kemudi nya.


"Terserah Mas aja," sahutnya sambil menatap lalu lintas yang tidak terlalu padat siang itu.


"Kita ke saung aja ya Tan..ada tempat rekomended yang biasa orang rumah sakit pakai untuk makan bersama,"


Anita mengangguk.


"Boleh juga. Kita nurut aja lah." sahut Anita sambil tersenyum.


Kedua orang ibu dan anak itu kemudian di ajak Randy Untuk makan siang di sebuah restoran yang biasa menjadi tempat makan Randy dan teman-temannya.

__ADS_1


__ADS_2