
"Halo Assalamualaikum, Mami.." suara lembut Meli menyapa sang Mami yang sedang sibuk di ruang kerjanya.
"Waalaikumsalam Li..apa kabar kamu. Kenapa nggak nelpon Mami dan Papi.Bagaimana dengan sidang Skripsi kamu sayang?" tanya Anita sambil meletakkan kacamatanya ke meja kerjanya.
"Baik Mi. Skripsi aku juga baik. Semuanya berjalan lancar, aman."
"Syukurlah..Oh ya Kamu janji kan mau pulang selepas Sidang Skripsi mu, " tagih Anita. Meli terkekeh menjawab pertanyaan sang Mami.
"Kok ketawa?"
""Hehehe..nggak papa kok Mi..rencana aku mau pulang besok lusa. Sama calon aku," mata Anita langsung membola mendengar ucapan Meli.
"Ka-kamu serius sayang?" tanya Anita tak percaya.
"Heem..Masak aku bohong sih. Mami kayak nggak kenal aku aja,"
"Kebetulan kalau kamu pulang Li. Mami lupa bilang sama kamu, abis Mami kesel kamu menolak Randy. Padahal dia anak yang baik. Eh kamu malah pacaran sama orang bule itu," gerutu Anita di sahuti kekehan oleh Meli.
"Mami tenang aja, calon suami ku itu sudah jadi mualaf sekarang. Dia cinta banget sama aku Mi. Jadi dia langsung mengucap dua kalimah syahadat di masjid tempat perkumpulan Mahasiswa Muslim di Melbroune,"
"Kamu serius sayang?" sahut Anita terkejut. Sungguh dia tak menyangka. Betapa tingginya rasa cinta pria itu pada putrinya
"Iya Mi..masak aku bohong. Kami sudah membeli tiket pesawat ke Indonesia." sahut Meli meyakinkan sang Mami.
"Ya bagus kalo gitu. Pas sekali. Melati tiga hari lagi akan menikah," ucap Anita dengan wajah cerah.
"Sama siapa Mi?"sahut Meli dengan mata membelalak, terkejut.
"Apa sama Resnu?" tanya Meli dengan suara bergetar.
"Bukan lah...ada sesuatu yang mau Mami ceritain sama kamu. Jadi..Resnu batal tunangan sama Resnu.Nanti Mami cerita apa alasannya,"
"Terus Mel..mau nikah ama siapa?"
"Sama Randy,"
"Hah..jadi bukan sama Mas Resnu?"
"Bukan." sahut Anita singkat.
"Nggak nyangka aja Mi. Terus kenapa bisa sama Mas Randy?"
"Itu karena kamu nggak mau nikah sama Randy. Papi kan butuh dana segar untuk cabang baru perusahannya. Dan Om Tommy sudah janji mau ngasi dana segar itu. Kamu tu ya..emang gak bisa di
harapkan!" ujar Anita gemas. Meli hanya menjawab dengan kekehan.
"Di bilangi malah ketawa," gerutu Anita pada Meli.
"Jadi dua hari lagi kamu sampai di sini. Nanti bantu Mami untuk persiapan pernikahan adikmu. Apa pacar mu ikut juga?"
__ADS_1
"Ya..sama orang tuanya. Rencana mereka akan melamar aku pada Papi dan Mami."
"Ok. Biar nanti Mas mu yang jemput,"
"Apa Mas nggak repot?"
"Ya pasti repot lah. Hanya saja Itu sudah jadi kewajiban dia sebagai anak sulung."
"Ya sudah sampai ketemu. Kebetulan pakaian yang akan kamu pakai di acara nikah dan resepsi Mel sudah di siapkan. Kan badanmu sama Mel seukuran," sambung Anita.
"Sip lah..Ok. Udah dulunya Mi. Salam sama Papi dan semuanya. Assalamualaikum," Meli mengakhiri percakapannya di telpon dengan Maminya. Di seberang sana Anita menyahuti salam Meli. Lalu ikut menutupi panggilan telponnya.
"Siapa yang telpon?" tiba-tiba saja sebuah suara mengejutkan Anita yang sedang melamun di meja kerjanya. Wanita Itu menoleh ke arah datangnya suara.
"Eh Papi..Mami kira siapa. Ini Lili barusan nelpon. Katanya dua hari lagi mau balik ke jakarta."
"Sendiri atau..?"
"Sama calon suaminya dan kedua orang tuanya," jawaban Anita membuat Hendrawan melongo. Anita terkekeh melihat reaksi suaminya.
"Beneran nih, kalo gitu kenapa nggak sekalian aja menikah kan Meli pada acara nikahan Melati. Kan biasa aja dua anak menikah dalam waktu yang bersama an," ujar Hendrawan. Kali ini gantian Anita yang melongo dengan bibir membulat. Hendrawan gantian terkekeh.
"Meli kan baru mau lamaran Pi. Masak langsung di suruh nikah. Surat-suratnya aja belum terdaftar di KUA sini. Ah Papi ni..halu deh," sahut Anita sambil geleng-geleng kepala. Hendrawan terkekeh melihat reaksi istrinya.
"Oh ya..Gimana persiapan di gedung untuk nikahan dan resepsi Melati ,Pi. Mami belum sempat ke hotel. Karena sibuk mempersiapkan catering untuk keluarga kita pas Acara nikahan Mel,"
Anita mengangguk paham.
"Papi nggak liat Mel,kemana dia?"
"Kan pergi ke salon. Untuk ikut paket wedding di salon biasa Mami nyalon Itu lho Pi,"
"Sama siapa?"
"Sama Reva, sahabatnya yang sama-sama kuliah di kedokteran juga."
"Harusnya Mami temenin. Apa dia ngerti soal kecantikan gitu?"
"Ya ngerti lah Pi. Itu anakku bentar lagi jadi dokter lho. Ngeremehin banget!" sahut Anita ketus. Hendrawan tertawa mendengar protes sang istri.
"Ok. Kalo gitu Papi mau ketemu Tommy dulu. Mau lanjut kontrak kerjasama cabang kita di Surabaya. Papi pergi dulu," pamit Hendrawan sambil pergi keluar ruang kerja Anita.
Anita mengangguk. Lalu menyelesaikan pekerjaannya Kembali.
****
Salon La Diva
"Mbak Mel ya..yuk masuk," sapa seorang perempuan cantik dengan dandanan natural saat Melati dan Reva baru saja masuk ke dalam salon bergengsi itu.
__ADS_1
Melati dan Reva berjalan beriringan menuju resepsionis yang sudah menyambut dengan ramah.
"Siang Mbak Mel. Putrinya Nyonya Anita ya. Mirip sekali sama Mbak Lili," sapa resepsionis ramah. Melati tersenyum.
"Mbak Mel, ambil paket wedding kan. Ini paketnya mbak."
"Apa aja tuh paket wedding nya?" tanya Reva yang di ikuti anggukan oleh Melati yang berdiri di sisi nya.
"Paketnya tersiri dari Spa, Facial, pedicure, medicure dan reflleksi," sahut resepsionis.
"Tapi Mbak Melati sudah di pilihkan paket wedding oleh Nyonya Anita. Jadi tinggal masuk aja mbak."
"Oh gitu. Ya udah..yuk masuk,"
"Mari mbak saya antar ke dalam." sahut wanita itu sambil berdiri dan mengantarkan Melati dan Reva ke ruang perawatan.
Sekitar dua jam Melati menjalankan perawatan kecantikan di salon itu. Sementara Reva menemani sambil asyik browsing di dunia maya.
Setelah selesai,Melati mencari Reva yang ada di ruang tunggu.
"Lapar nggak Rev. Kita makan siang dulu yuk. Aku dah lapar banget," ajak Melati sambil menarik jemari sahabatnya itu.
Keduanya tiba di sebuah restoran yang menyajikan makanan laut.
Tak lama duduk di lesehan, keduanya di datangi oleh pelayan restoran. Setelah memesan makanan, Melati dan Reva menunggu pesanan datang beberapa saat kemudian.
"Jadi kamu.nggak ketemu-ketemu sama Mas Randy, Mel?"
"Kan di pingit Rev," sahut Melati sambil tersenyum manis.
"Lo cinta sama Mas Randy?" sifat kepo nya Reva muncul juga kemudian.
"Tau deh..aku cuma menghargai Mami dan Papi aja."sahutnya lirih.
"Jangan gitu dong. lo harus membukakan hati. Walaupun Ternyata, kenyataannya kamu nggak bisa bersama Mas Resnu,"
"Nggak tau lah Rev. Aku bingung. Dalam waktu beberapa saat, semua kejadian berlangsung begitu cepat. Sampai-sampai aku nggak bisa mikir lagi,"
"Sabar Mel. Orang tua lo pasti memberikan yang terbaik buat anaknya. Nggak mungkin mereka berniat buruk," bujuk Reva sambil mengusap bahu sang teman. Melati mengangguk.
Tak berapa lama pramusaji mengantarkan makanan pesanan mereka. Karena sudah terlalu lapar. Keduanya menikmati makan siang yang sangat telat. Sambil terus bercerita. Dengan sabar Meli mendengarkan keluh kesah Melati, sahabatnya.
Selesai makan siang, kedua gadis cantik itu pulang ke rumah Melati. Karena mobil Reva di tarok di rumah Melati.
Sampai di rumah, Reva langsung berjalan menuju mobilnya.
"Gue langsung pulang ya Mel. Lu kalo ada apa-apa bilang sama gue ya. Gue siap mendengar semua keluh kesah lo." ujar Reva sambil menghidupkan mesin mobilnya.Mobil Reva bergerak ke luar pintu gerbang rumah Hendrawan. Sambil melambaikan tangannya, Melati menunggu Reva keluar halaman rumah nya. Dan baru masuk ke dalam rumah saat mobil sahabatnya itu tidak terlihat lagi oleh netranya.
*****
__ADS_1