Cinta Melati Cinta

Cinta Melati Cinta
16. Siapakah yang harus aku pilih?


__ADS_3

Akhirnya kedua keluarga itu menikmati makan malamnya dan beberapa kudapan berupa kue dan bermacam - macam buah. Mereka meneruskan perbincangan di ruang tamu.


Azan isya sudah berkumandang. Melati pamit untuk melaksanakan sholat Isya di kamarnya. Ketiga tamu itu menatap kepergian Melati di iringi dengan anggukan, terpesona yang jelas. Pada gadis belia yang begitu taat dalam menjalankan perintah Allah.


"Meli kapan pulang ke Jakarta?" tanya Mama Randy , Hera pada Meli yang ikut berkumpul di ruang tamu itu. Meli menoleh ke arah Hera.


"Akhir bulan kemarin tan. Kebetulan di Ausi lagi liburan. Aku juga sedang sibuk mengajukan judul skripsi. Mudah-mudahan. tahun depan sudah bisa maju untuk sidang,"


" Cepat juga ya Mel...umur kamu berapa sekarang?"


"22 tahun tante...aku bisa kuliah cepet kan , loncat loncat sekolahnya . Pas SMP 2 tahun dan 1 tahun di SMA. Jadi cepet Tan.."


" Luar biasa ya Ran.." ucap Hera takjub. Sambil menoleh ke arah Randy. Randy tersenyum sambil menganggukkan kepalanya.


"Melati sendiri kuliah di mana Mbak Anita?"


"Oh..Melati baru kuliah. Dulu Kebetulan dia tidak kuliah. Karena waktu itu masih tinggal dengan orang tua angkatnya. Sekarang sudah kuliah, ambil jurusan Kedokteran di Universitas Abdi Bangsa," sahut Anita bangga.


"Alhamdulillah ya Mbak An..sekarang keluarga mbak lengkap kembali. Kami turut senang mendengarnya.



"Ayo Rendy ngobrol-ngobrol sama Reyhan, dan kedua putri kembar Om Hendra. Dulu waktu kalian masih kecil kita pernah tinggal di komplek ini. Kami sering main sama Reyhan...Ya Kan Rey..kami masih ingat kan..?" cerita Hera panjang lebar. Semua mengangguk. Reyhan mulai mengingat semua kenangan masa kecilnya. Hanya Melati yang sama sekali tidak merasakan kenangan masa lalu, karena setelah hilang dari taman komplek itu hidupnya berubah 360 derajat. Tinggal dengan keluarga sederhana. Namun mampu mengajari Melati tentang kehidupan yang penuh arti.

__ADS_1



Reyhan kemudian mengajak Rendy, Melati dan Meli berjalan di taman belakang rumah. Mencoba kembali bernostalgia akan masa kanak-kanak mereka .



"Ternyata masih ada pohon mangga manalagi ya di taman belakang ini?" tanya Rendy ketika mereka bertiga sudah di halaman belakang.


Mereka berempat mengambil tempat duduk di bangku taman yang di terangi lampu taman di setiap sudut . Membuat pencahayaan di taman ini semakin terang .


"Iya Ren..karena buahnya sangat sangat manis, jadi Mami melarang memotongnya. Jadi tetap ada sampai sekarang. Dan Alhamdulilah nya, buahnya masih ada setiap tahun." jelas Reyhan, di jawab anggukan oleh Rendy.




"Kayaknya awak bulan, karena kalo sudah kembali ke Australia, bakalan susah balik ke sini. Tunggu selesai wisuda, dan dapat ijazah baru ke Indo lagi," sahutnya . Melati menatap Meli yang terlihat ogah-ogahan menjawab pertanyaan Rendy. Cowok itu tersenyum mendengar penjelasan gadis cantik itu.


Setelah panjang kali lebar cerita bareng Reyhan dan kedua saudaranya. Mereka terdiam sesaat. Kayaknya habis bahan untuk di cerita kan. Sementara dari pintu masuk dari arah rumah, mbak Sri berjalan tergopoh menghampiri mereka.


"Kenapa Mbak Sri?" tanya Reyhan.


__ADS_1


"Maaf den...Den Rendy di ajak pulang sama Tuan dan Nyonya Tommy. " dijawab anggukan oleh Rendy. Akhirnya mereka berempat masuk kembali ke dalam rumah. Langsung berjalan menemui Kedua orang tua mereka di ruang tamu.



" Nah itu dia Rendy. Mari Mas Hen dan Mbak An..kami pamit dulu. Kapan - kapan kita ketemu lagi." pamit Papa Rendy sambil menyalami Pak Hendrawan , diikuti oleh Hera istrinya dan Rendy. Setelah semua bersalam. Mereka mengantar tamu itu ke teras depan rumah. Lalu masuk kembali ke rumah saat mobil tamu sudah pergi meninggalkan halaman rumah yang luas dan asri itu.



"Gimana Ren...apa pendapat kamu dengan kedua gadis kembar tadi? mana yang mau kamu pilih. Meli atau Melati?" tanya Hera saat mobil mereka sudah jauh meninggalkan kediaman keluarga Hendrawan.


Rendy masih diam sambil tetap fokus pada kemudinya.


'Mana yang akan aku pilih. Keduanya sama cantik dan sama pintarnya?' bisik hati Rendy.


" Belum tahu Ma...liat nanti aja.Menurut mama siapa yang terbaik?"


"Lah kok liat nanti. Maksud kamu apa Nak?".



" Ya liat nanti Ma...mana yang di pilih kan Tuhan buat Rendy." sahutnya sambil tersenyum.


Papanya, Tommy Wiryawan tersenyum penuh arti pada putra semata wayangnya. Tentu sulit menentukan mana yang akan di pilih mengingat keduanya sama baiknya.

__ADS_1


*****


__ADS_2