Cinta Melati Cinta

Cinta Melati Cinta
Nasehat Bapak dan Ibu Ratih.


__ADS_3

Malam ini sehabis acara perkenalan dengan keluarga Resnu, Melati masuk ke kamar dan tak keluar sama sekali. Sekedar berbincang bersama Mami dan Papinya.


Melati merasa galau.. sungguh bimbang. Bagaimana bisa Pakde dari kekasihnya adalah Pak Harjo. Seorang rentenir terkenal di desa Sedayu. Dan yang paling tak mengenakan, karena Bapak orang tua angkat Melati, Pak Herman dan Bu Ratih pernah berurusan dengan pria tua itu. Yang amat tersakiti adalah Melati. Karena gara-gara Pak Harjo keluarga angkatnya jadi susah. Mereka harus berpisah dengan Melati.


Walau kini Melati merasa tenang karena sudah bertemu dengan Mami dan Papi kandungnya. Dan Tuan Hendrawan sudah memberikan Pak Herman dan Bu Ratih sebuah rumah di Jakarta juga. Itu berarti Melati tak perlu jauh jika ingin berkunjung ke rumah Orang tua angkat nya.


'Apa aku ke rumah Bapak dan Ibu aja ya..sudah lama sekali aku nggak main ke sana,' kata Melati pelan.


Melati berencana, besok dia akan ke rumah Bapak dan Ibunya setelah selesai kuliah. Kuliah nya besok cuma dua mata kuliah. Berarti sehabis kuliah dan sholat Dzuhur, dia bisa langsung ke rumah Pak Herman. Melati mengangguk. Pikirannya agak tenang, karena besok akan bertemu Bu Ratih. Dia amat merindukan kedua orang tua angkat nya itu.


Sedang asyik melamun , suara ketukan pintu kamar membuat Melati beranjak dari tempat duduknya.


Saat dibuka pintu, ternyata ada Reyhan berdiri di depan pintu kamar. Melati membuka lebar pintu kamarnya.Lalu menyuruh Reyhan masuk.


"Ada apa Mas..?"


"Nggak ada. Cuma dari tadi mas nggak liat kamu. Biasanya kan kita suka ngobrol di ruang keluarga atau taman belakang. Ada apa?" tanya Reyhan sambil duduk di ranjang Melati.


"Nggak ada apa-apa kok Mas. Biasa aja. Cuma lagi capek aja." sahutnya pelan. Reyhan menatap lekat wajah adiknya.


Reyhan memang baru mengenal Melati sebagai adik kandungnya, tapi baru kali ini melihat Melati seperti tak punya semangat. Apalagi tadi Maminya sempat cerita soal perkenalan Melati dengan keluarga Resnu.


"Jadi gimana keputusan kamu Mel?" Reyhan menatap lekat mata Melati.


"Ya nggak gimana-mana Mas..Rasanya Mel harus mutusin hubungan dengan Mas Resnu." sahutnya dengan mata berkaca - kaca. Reyhan mengangguk.


"Terserah kamu Mel. Semua keputusan ada di tangan kamu. Sholat istikharah, minta sama Allah. Mana yang terbaik buat masa depan kamu. Ok."


"Ya Mas...makasih."


"Ya..udah Mas mau ke kamar dulu. Besok kamu ada kuliah pagi kan?" Melati mengangguk.


"Sebaiknya nggak usah hubungi Resnu dulu. Bilang aja sama dia, kamu harus berpikir dulu. Mas tinggal ya," ujar Reyhan lalu melangkah keluar kamar Melati.


"Eh..Mas..tunggu dulu...!" Reyhan langsung menghentikan langkahnya. Menatap Melati dengan tatapan penuh tanya. Menaikkan alisnya. Berhenti di depan pintu kamar adiknya lalu menatap Melati. Menunggu apa yang akan di katakan adiknya.


"Ehmn Mel mau ke rumah Bapak dan Ibu besok sehabis sholat Dzuhur, di Kampus. Tapi nggak tau jalan. Apa bisa Mel minta tolong diantar sama sopir di rumah ini?"


Reyhan tersenyum Lalu mengangguk.


"Berarti kamu menunggu di kampus. kan?"


Melati mengangguk. Reyhan mengembangkan senyumnya.


"Ya sudah. Nanti Mas minta tolong Pak Heru aja nganter kamu," sahut Reyhan. Melati tersenyum lega. Lalu Reyhan langsung keluar kamarnya.


...****...

__ADS_1


Pagi ini Melati sudah berkutat dengan buku tebalnya. Mata kuliah yang sangat menguras pikirannya . Apalagi di tambah dengan masalah hubungannya dengan Resnu. Hanya beberapa kali saja Melati bisa fokus di mata kuliah Biologi dan Molekuler. Pikirannya kemana-mana.


Selesai mata kuliah Biologi dan Molekuler di jam pertama, Melati bersama-sama kawan nya menuju Lab. Mata kuliah yang menyenangkan sebenarnya. Siang ini mereka mengikuti mata kuliah Vital sign tapi karena dia lagi suntuk otomatis penjelasan dosen dan praktek pemeriksaan denyut nadi, tekanan darah, laju respirasi dan suhu tubuh seperti tak menarik baginya. Semua teman - temannya bergantian memeriksa satu sama lain. Melati berusaha fokus.


Setelah bel di lab berbunyi tanda mata kuliah Vital Sign telah selesai. Melati bergegas merapikan buku dan beberapa alat yang di pakai untuk praktek bersama teman-temannya.


Kemudian, selesai merapikan bukunya gadis itu gegas meninggalkan teman satu kelasnya untuk menunaikan sholat Dzuhur. Karena azan di Masjid Kampus sudah berkumandang.


Selepas Sholat, ponselnya berbunyi. Melati memasukkan mukenah nya ke dalam tas, lalu mengambil ponselnya yang terletak di saku tas.


"Ya Halo, Assalamualaikum, Oh ya Pak Heru...Ok tunggu sebentar ya. Saya lagi di Masjid. Sebentar lagi ke sana," setelah mematikan sambungan telponnya. Gadis itu langsung keluar Masjid. Dengan gerak cepat, Melati berjalan menuju parkiran. Mobil Alphard berwarna putih sudah menunggu di depan halaman kampus.


Beberapa saat pintu mobil terbuka. Melati langsung masuk ke dalam perut mobil. Lalu duduk dengan nyaman di kursinya.


"Kemana kita Non?" tanya Pak Heru supir pribadi Mami Anita sambil menoleh ke belakang menatap Melati.


"Apa Pak Heru tau alamat Bapak dan Ibu saya?"


"Oh ya tau Non..dua hari yang lalu saya mengantarkan Nyonya ke sana," ujar Pak Heru dijawab anggukan paham oleh Melati.


Mobil bergerak keluar parkiran Kampus Abdi Bangsa. Lalu membelah jalanan yang lumayan ramai siang ini. Setelah lebih kurang empat puluh lima menit. Mereka sudah sampai di depan rumah Pak Herman. Melati langsung turun dari mobil saat pintu otomatis terbuka.


"Pak Heru masuk dulu.. kalo nggak duduk di teras aja. Takutnya saya lama di rumah Bapak." tawar Melati sebelum masuk ke teras rumah minimalis itu. Dan dijawab anggukan sopan oleh Pak Heru.


Melati mengetuk pintu rumah. Tak berapa lama pintu besar itu terbuka. Muncul seraut wajah teduh dan cantik milik Ibu Ratih.


"Mel...!" sapa nya bahagia. Melati tersenyum, langsung memeluk tubuh berisi Bu Ratih.


"Bapak ada Buk?" tanya Melati sambil mencari keberadaan Pak Herman saat mereka berdua sudah sampai di ruang keluarga.


"Ada..tadi lagi sholat, sebentar ibu panggilkan," Ratih meninggalkan Melati yang duduk di sofa ruang keluarga. Rumah ini sangat nyaman. Dan Melati sangat berterima kasih karena orang tuanya sudah memberikan hadiah untuk Pak Herman.


"Assalamualaikum ... Mel...." sapa Pak Herman berjalan mendekati Melati. Gadis itu menyalami pria tua itu dengan hormat. Pak Herman mengusap lembut kepala Melati. Hal yang biasa dia lakukan saat masih di desa dulu. Ibu Ratih tersenyum bahagia.


" Bapak, Mel kangen sekali sama kalian berdua. Apa kabar?" ujar Melati kembali duduk di depan Herman dan Ratih. Kedua nya saling menatap tersenyum bahagia. Lalu menatap Melati dengan penuh sayang.


"Tumben nggak ngabarin ibu. Sudah makan belum?" tanya Ratih.


" Kebetulan belum Bu," sahut Melati sambil tertawa. Pak Herman dan Bu Ratih ikut tertawa.


" Ya udah..ayo makan dulu. Tadi ibu buat urap daun pepaya. Kesukaan kamu. Juga Pepes ikan Mujair, sambal terasi . Ayo ke meja makan!" ajak Ratih sambil menarik tangan Melati menuju meja makan.


Pak Herman, Bu Ratih dan Melati mulai menikmati makan siang mereka. Sesekali di isi dengan cerita, candaan yang mampu membuat hati Melati merasa nyaman.


"Ayo tambah nduk..Ibu senang sekali kalo liat kamu makan urap ini. Kamu biasanya nambah-nambah,". dijawab anggukan oleh Melati.


Setelah menikmati makan siang bersama. Mereka kembali ke ruang keluarga. Meja makan di bereskan oleh seorang art yang di siapkan oleh Hendrawan. Agar Ratih bisa fokus mengurus Herman, suaminya.

__ADS_1


"Ibu dengar dari Nyonya Anita, keluarga Resnu datang ke rumah Tuan Hendrawan semalam?" Melati mengangguk. Senyumnya sirna seketika. Bu Ratih termangu menatap sikap Melati. Bu Ratih menatap Pak Herman sekilas.Lalu mulai bertanya lagi pada Melati.


"Kenapa kamu seperti nggak bersemangat Nak..Ada apa?"


"Ibu dan Bapak tau nggak, ternyata keluarga dekat yang di bawa oleh Mas Resnu itu , Pak Harjo."


Pak Herman dan Bu Ratih terkejut mendengar cerita Melati. Kedua nya saling bertatapan.Tak menyangka sama sekali.


"Kau serius nak? Siapanya Resnu, Pak Harjo itu?" tanya Herman.


"Pakde nya Pak,"


"Astaqfirullah," jawab Bu Ratih dan Pak Herman berbarengan. Melati tersenyum kecut. Lalu mengangguk.


"Apa Resnu nggak ada keluarga lain. Selain Pak Harjo?" tanya Pak Herman. Melati menggeleng.


"Pak Harjo itu Pakde kandungnya, Papa Mas Resnu. Pak."


"Ya Allah..ternyata dunia ini kecil. Kok bisa ya?"


" Ya bisa aja Pak..namanya segala sesuatu itu tentu takdir NYA Allah," ujar Bu Ratih.


" Lalu apa keputusan kamu. Apa kamu akan meneruskan hubungan kalian? Atau kalian putus saja?" tanya Bu Ratih penasaran. Pak Herman yang duduk di sampingnya mengangguk merasa pertanyaan mereka sama.


"Itulah Bu..Pak..Mel bingung. Mas Reyhan menyuruh Mel sholat istikharah. Minta petunjuk Allah."


"Ya benar itu,". sahut Pak Herman sembari mengangguk setuju.


"Ya Mel. Ibu rasa memang harus Istikharah jika hatimu ragu.Tapi jika kamu merasa nggak mungkin berhubungan lagi dengan Resnu. Ya putus saja."


"Jika itu jalan yang membuat kamu tenang. Apalagi kan Mel tau, kalau Pak Harjo berniat menikah sama kamu kalau hutang Bapak nggak terbayar," ujar Pak Herman mengingatkan Melati akan peristiwa dua bulan lalu.


"Ya Pak...Mel juga merasa jadi agak ilfil kalo masih di teruskan. Apalagi mengingat sikap Pak Harjo pada Bapak tempo hari,"


"Tapi kamu mencintai Resnu kan Mel?" tanya Bu Ratih.


Melati menunduk. Kalau di tanya hatinya. Tentu saat ini cintanya masih hangat-hangatnya pada Resnu. Tapi Melati merasa nggak mampu untuk meneruskan hubungan itu. Apalagi keluarga Melati tau sikap pak Harjo yang arogan dan kasar.


"Nasehat ibu dan Bapak cuma satu Mel. Tanyai hatimu. Jikalau masih ada cinta di sana. teruskan hubungan kalian. Tapi jika sudah tak ada lagi, karena tergerus oleh Pakde nya Resnu yang ternyata adalah Pak Harjo, rentenir di desa kita. Bapak sarankan kamu pikir-pikir dulu."


"Jangan lupa, memohon pada Gusti Allah. Karena cuma DIA yang bisa menolong kita. Memberikan kamu petunjuk apa yang terbaik buat masa depanmu Mel," sambungan Ibu Ratih arif. Melati mengangguk.


"Eh Mel..kamu tadi dengan siapa kesini?" tanya Bu Ratih. Melati seketika terkejut. Sopir Maminya sedang menunggu di teras depan.


"Sama Pak Heru bu. Sopir nya Mami. Ya Ampun Mel lupa ngasi tau ibu. Minta buatin kopi dan cemilan. Biar Pak Heru nggak boring nunggu Mel," kata gadis itu sambil menepuk jidatnya. Pak Herman dan Bu Ratih melongo.


"Ampun deh ..anak ini Pak...baru juga ada masalah cinta sudah lupa sama yang ngantar dia ke sini." kata Bu Ratih sambil tertawa terpingkal-pingkal. Pak Herman juga ikut tertawa. Lalu pria itu memanggil Art nya untuk membuatkan kopi dan cemilan untuk Pak Heru.

__ADS_1


Setelah puas bercerita, Melati pamit pada Bapak dan Ibu angkatnya. Kemudian pulang ke rumah orang tua kandungnya, diantar oleh Pak Heru.


...***********...


__ADS_2