Cinta Melati Cinta

Cinta Melati Cinta
Kisah sedih masa lalu


__ADS_3

"Mel...udah siap belum?" Reyhan berjalan kearah Melati yang tengah sarapan pagi di meja makan. Melati makan dengan terburu-buru.


"Iya Mas ..bentar ya Mel minum dulu," Melati meneguk minuman susu coklat hangat yang disediakan Mbok Sri. Lalu mengelap mulutnya dengan tissue, dan berjalan ke arah Reyhan yang sudah menunggu dengan sabar.


"Sudah selesai sarapannya?" ulang Reyhan menatap lekat Melati yang dijawab dengan anggukan.


"O ya..Mami dan Papi sudah keluar dari tadi, mereka ke kantor. Masih banyak kerjaan di Perusahaan. Kamu, Mas antar sampai kampus, nanti Mas temenin mendaftar juga . Dan kalo sudah selesai, Mas antar kamu balik ke rumah ya." Reyhan berkata sambil berjalan beriringan dengan Melati, lalu masuk ke dalam mobil.


"Kamu mau ambil jurusan apa, oh ya..dulu kamu SMA tamat apa? IPA atau IPS?" tanya Reyhan sambil menjalankan mobilnya.


Jarak antara rumah dan kampus memakan waktu sekitar dua puluh lima menitan. Melati menikmati perjalanannya. Selama hidupnya, dia tak pernah menikmati mobil pribadi semewah ini. Jangankan mobil mewah, naik bus atau angdes di desanya pun jarang. Bisa dihitung dengan jari.


"Melati waktu SMA jurusan IPA Mas..kalo Mel ambil kedokteran..apa Mami dan Papi mengizinkan?" tanya Melati takut-takut kalau tidak di izinkan kuliah kedokteran oleh Tuan Hendrawan dan Nyonya Anita.


"Jangan kuatir Mel, Mami dan Papi pasti setuju," Reyhan menekankan agar Melati tidak kecewa.


Tak berapa lama mereka berdua sampai di Kampus Abdi Bangsa.


"Yuk, turun.." ajak Reyhan sambil membuka pintu mobil, lalu membukakan pintu mobil untuk Melati juga.


"Makasih Mas..," dijawab anggukan oleh Reyhan.


Kini mereka sudah sampai di Ruang TU Universitas Abdi Bangsa. Reyhan mengarahkan gadis itu untuk mengambil formulir pendaftaran dan beberapa berkas perlengkapan lainnya.


Melati mulai mengisi formulir pendaftaran tersebut dengan teliti. Banyak yang perlu diisi. Dan Melati sesekali bertanya pada Reyhan jika dia tak bisa menjawab pertanyaan di form pendaftaran itu. Reyhan membantu Melati sampai selesai, dengan sabar. Sebenarnya Reyhan sangat senang bertemu dengan Melati. Apalagi menemani gadis itu mendaftar di Universitas Abdi Bangsa.


"Kamu jadi kan ambil Fakultas Kedokteran?" Reyhan memastikan pilihan Melati. Melati mengangguk sambil tersenyum sumringah. Rasanya bahagia sekali bisa kuliah di Universitas terkenal di kota ini.


"Ya udah..kamu isi centang ini, Fakultas Kedokteran. Ok," Reyhan memberi instruksi pada Melati. Melati langsung mencentang kolom Fakultas.


"Nah ini diisi juga Mel !" Melati mengangguk paham. Lalu mulai mengisi form berikutnya. Tak memerlukan waktu lama, Melati kemudian selesai mengisi Formulir itu.


" Udah Mas..aku langsung kasi ke loket itu ya," Melati memastikan sambil menunjuk ke arah loket yang akan dia tuju. Reyhan mengangguk. Melati berjalan ke arah loket ,menyerahkan berkas-berkas yang di perlukan, lalu menunggu panitia penerimaan Mahasiswa baru mengkoreksi berkasnya. Wanita yang mengecek berkas Melati lantas memanggil nama Melati. Melati mendekati loket panitia.


"Mbak ini surat tanda terima berkas. Tanggal sepuluh bulan ini mbak bisa mengikuti ujian. Karena sekarang masa Covid -19 jadi mbak bisa ujian di rumah. Dengan menggunakan laptop ya." kata panitia itu menjelaskan.


Melati mengambil surat tanda terima berkasnya. Lalu menghampiri Reyhan yang dengan sabar menunggu urusan Melati sampai selesai.


"Sudah selesai Mel?"


"Udah Mas, alhamdulillah selesai. Tinggal ujiannya aja, tanggal sepuluh. Nanti Melati buka web nya dan sesuai petunjuk panitia tadi. Sebenernya daftarnya bisa lewat online Mas, tapi kata mbak panitia tidak apa-apa karena Melati terlanjur kesini," jelasnya dan Reyhan mengangguk mengerti.


"Ok, kalo gitu kita langsung pulang ya. Mas juga masih ada urusan di kantor!" ajak Reyhan. Kemudian keduanya berjalan meninggalkan Kampus Abdi Bangsa, menuju parkir mobil.


"Makasih ya Mas Rey udah nganterin Mel..doain ya semoga Mel bisa lulus ujian nanti," ujar Melati sambil menatap Reyhan yang sedang menyetir mobil.


"Ya ..sama-sama Mel..semoga sukses ya." Melati tersenyum. Aamiin, gumamnya pelan.


"O.ya..Tadi Papi telpon. Menanyakan Kamu, Mas jawab lagi sibuk melengkapi berkas pendaftaran. Dan Papi juga sempat tanya Melati ambil Fakultas apa? Mas jawab, ambil Fakultas Kedokteran. Alhamdulillah. Papi sangat setuju,"


"Alhamdulillah, semoga tak merepotkan Papi dan Mami ya Mas.." Reyhan menyahut dengan tersenyum.


Tak lebih dari dua puluh lima menit, Melati dan Reyhan sudah tiba di rumah. Untungnya jalanan tidak macet, mungkin karena mereka jalan tadi di jam tak macet sehingga bisa meluncur tanpa kendala.


"Mas Rey langsung ya Mel, kamu bisa buka-buka web Kampus Abdi Bangsa. Mas sudah pesankan Laptop terbaru buat kamu, mudah-mudahan sampai siang ini. Ditunggu aja. Mas juga sudah minta tokonya menginstal laptop kamu. Tapi yang jelas sekarang kamu istirahat dulu, habis itu setelah laptop kamu sampai baru bisa Googling ya," Reyhan menerangkan panjang lebar, sebelum berangkat ke kantor.


Melati hanya mengangguk. Dia bahagia sekali, sangat di perhatikan disini. Ah..tiba-tiba saja Melati ingat ibu dan bapak. Kangen sekali. Tidak terasa Melati sudah 2 hari disini. Perlakuan Tuan Hendrawan dan Nyonya Anita yang begitu sayang padanya membuat Melati nyaman tinggal disini. Walau bagaimana pun, Melati tak akan pernah melupakan orang tua yang sudah mengasuh dan membesarkannya.

__ADS_1


Melati berjalan ke arah pagar tinggi itu, Pak Syukri Satpam di rumah mewah ini membukakan pintu untuknya.


"Maaf Non, bapak tadi ke dalam mengantarkan paket, pas keluar eh si Non udah di depan pagar. "


"Makasih Pak Syukri, nggak apa- apa kok Pak.." Melati kemudian masuk ke dalam halaman rumah yang luas itu.


"Sudah selesai toh daftar kuliahnya?"


"Alhamdulillah sudah pak, tinggal ujiannya saja, tolong doain Melati ya pak, semoga lulus,"


"Aamiin..Non.."


"Makasih Pak, Mel masuk dulu ya," Pak Syukri mengangguk hormat.


'Ya Tuhan, kenapa Non Melati ini mirip sekali dengan Non Meli putri tuan ya, apa mereka saudara kembar? ' batin Pak Syukri.


"Eh..Non Melati..sudah pulang?" sapa ramah Mbok Sri membukakan pintu untuknya. Melati masuk ke dalam rumah.


"Iya Mbok...alhamdulillah pendaftarannya udah selesai, tinggal ujian aja,"


"O. ya Non ..tadi ada paket. Dan tadi Den Reyhan juga menelpon Mbok, kalo paket itu isinya Laptop untuk Non Melati kuliah. " Mbok Sri berkata sambil memberikan kotak besar berisi Laptop pada Melati. Melati mengambil laptop itu lalu berjalan membawanya ke dalam kamarnya.


" Jangan lupa makan siang Non, bentar lagi. Nanti Mbok yang dimarahin Tuan dan Nyonya," kata Mbok Sri mengingatkan Melati, saat gadis itu berjalan mendekati tangga, karena kamarnya terletak di lantai 2.


"Iya , Mbok..makasih..nanti pas makan siang Melati. turun kok," jawabnya sambil menaiki tangga satu demi satu menoleh ke arah Mbok Sri. Mbok Sri mengangguk dan tersenyum pada Melati.


"Ah ,Non Melati tidak tau saja kalau Tuan dan Nyonya senang sekali bisa bertemu Non dan tinggal disini, gumam Mbok Sri pelan.


Mbok Sri berjalan ke dapur untuk melihat pelayan yang berkerja disini. Dia kepala asisten rumah tangga disini. Memastikan semua pekerjaan sudah terlaksana dengan baik.


"Eh..cewek manja...waktunya makan siang. Lelet banget sih lu..heran deh kenapa mesti di panggil terus buat makan siang, makan malam..huhf nyebelin!" bentaknya . Melati hanya tersenyum.


" Ya, Mbak..bentar lagi..ya..aku tutup dulu laptopku.." Melati menjawab cepat lalu bergegas ke meja belajarnya dan menekan power, lalu mengklik shutdown hitungan detik..laptop padam. Melati melirik kearah pintu. Wati, pelayan judes itu sudah tidak ada lagi di depan kamarnya.


Melati berjalan kearah pintu lalu keluar kamarnya. Menutup pintu kamar kemudian berjalan kearah tangga menuju ke meja makan. Di meja makan, bermacam makanan lezat terhidang. Melati heran juga, yang makan dia sendirian. Kenapa makanan banyak sekali. Melati mengambil sambal terasi ,sayur sop dan ayam goreng. Di desanya, kalau makan seperti ini, cuma pas ada tetangga yang kenduri, nikahan dan lainnya. Makanan seperti ini cuma bisa di masak sekali sebulan oleh ibunya. Kehidupan yang susah membuat mereka harus ngirit, agar bisa bertahan hidup dan bisa menyekolahkan Melati sampai di bangku Sekolah Menengah Atas. Melati maklumi itu. Dan selalu bersyukur atas semua nikmat yang di berikan Allah. Bahagia karena punya orang tua yang begitu sayang dan mencintainya.


"Non..Melati sudah makan?" suara Mbok Sri mengejutkan Melati yang sedang menyuap nasi. Beruntung tidak tersedak. Melati menoleh ke arah Mbok Sri yang berjalan menghampirinya.


"Ini lagi makan, Mbok,"


Mbok Sri tersenyum, lalu duduk di depan gadis cantik dan lembut tutur katanya itu.


"Mbok senang, Non ada di rumah ini. Mbok liat, Tuan dan Nyonya bahagia sekali," tutur Mbok Sri pelan, sambil menatap Melati dalam. Melati menjawab dengan senyuman, sambil mengunyah makanan di mulutnya. Dia agak heran, kenapa semua pelayan yang lama mengabdi di sini kata-kata yang mereka keluarkan begitu dalam. Penuh makna, pada saat bertemu Melati.


"Semoga Non Melati betah ya disini. O. ya katanya Non daftar untuk kuliah tadi?"


"Ya..Mbok Sri. Melati ambil jurusan Kedokteran. Semoga Papi dan Mami suka..mendengarnya," ujarnya kemudian meneguk segelas air dengan perlahan.


" Pasti suka lah Non..jangan ragu sama Tuan dan Nyonya.." Melati tersenyum lega. Melati menyelesaikan makan siangnya dengan cepat. Dia teringat kalau ada tugas lain, yaitu menyelesaikan pendaftaran.


"Sudah Non..nggak usah dibereskan, biar Mbok aja yang membereskannya." Melati membereskan piring makan dan sendok.


Namun Mbok Sri buru-buru membereskan meja makan, dengan cepat dia mengambil piring dan gelas kotor bekas Melati makan. Sebelum Melati membersihkan meja, Mbok sudah dengan sigap membereskan meja makan. Dan meja makan kembali bersih.


"Melati , ke kamar dulu ya Mbok Sri." pamit Melati ambil berjalan ke tangga menuju kamarnya. Mbok mengangguk sambil melempar senyum tulus pada Melati.


Melati menaiki tangga menuju ke kamarnya. Setelah tiba di depan kamarnya, Melati membuka pintu kamar dan masuk ke kamarnya, berjalan ke arah meja belajar, kemudian menghidupkan laptopnya.

__ADS_1


Mengambil kursi dan mulai tenggelam dengan kesibukannya membuka web pendaftaran di Universitas Abdi Bangsa.


Lebih kurang satu setengah jam, Melati selesai mendaftar secara online. Menatap jam di dinding kamarnya, tak terasa waktu berjalan dengan cepat. Melati baru tersadar kalau jam dinding sudah menunjukkan pukul satu lebih tiga puluh menit .


Baru teringat kalau dia belum sholat Dzuhur. Melati gegas pergi ke kamar mandi yang berada di dalam kamarnya, mengambil air wudhu, lalu keluar kamar mandi dan mulai Sholat. Beruntung dia melihat jam di dinding kamarnya . Selesai Sholat Dzuhur Melati berjalan menghampiri tempat tidurnya.


Lalu mulai merebahkan tubuhnya, baru terasa lelahnya sekarang. Tak lama mata Melati tertutup, nafasnya mulai teratur. Terlelap cukup lama. Dirinya terbangun saat mendengar azan Asar berkumandang. Beruntung di rumah Tuan Hendrawan ada Masjid besar di komplek perumahan mewah ini. Jadi Melati selalu di ingatkan untuk sholat oleh Azan.


"Non Mel..Non..!" panggil sebuah suara membangunkan Melati yang masih termenung di tempat tidurnya. Perlahan membangunkan badannya, berjalan kearah pintu kamar. Sosok keibuan berdiri di depan kamarnya sambil melempar senyum padanya.


"Eh..mbak..ada apa?"


"Ehmn..ini disuruh Mbok Sri. manggil Non. Ehmn ..Non disuruh ke bawah, ditunggu," Melati menatap heran.


"Apa Tuan dan Nyonya sudah pulang?"


"Papi dan Mami, Non..belum pulang,"


"Ya..nanti Mel ke bawah mbak.."


"Mbak Lilis, Non.." sahutnya cepat. Melati menjawab dengan anggukan.


"Saya permisi dulu Non." pamit Lilis. Melati mengangguk lagi. Pelayan muda itu berlalu dari hadapannya. Melati menutup pintu kamarnya, kemudian berjalan kearah kamar mandi. Mandi dan sekalian mengambil wudhu untuk sholat Asar.


Setelah menyelesaikan Sholat Asarnya, Melati berjalan ke ruang keluarga yang terletak di lantai satu. Mencari Mbok Sri, seperti pesannya pada pelayan yang bernama Lilis.


Mbok Sri sedang duduk menulis sesuatu di meja belakang. Meja itu terletak di belakang dapur. Biasanya Mbok Sri akan memerintahkan sesuatu pekerjaan pada para pelayan disini.


"Mbok Sri," panggil Melati pelan pada wanita paruh baya itu. Mbok Sri menoleh lalu melempar senyum padanya.


"Non..tadi Mbok di telpon Den Reyhan, agar sehabis Asar ini Non siap-siap pergi. Ada sopir yang akan menjemput Non. Mbok kurang tau untuk apa, tapiiii ...sebaiknya Non segera bersiap, sebentar lagi sopir akan datang menjemput Non,!"


"Oh begitu..baiklah Mel siap-siap dulu ya Mbok,"


"Lilis...!" panggil Mbok Sri pada pelayan yang memberi tahu Melati beberapa saat yang lalu, dan pelayan itu bergegas ke arah mbok Sri. Mbok Sri memberi isyarat pada Melati agar jangan pergi dulu.


"Ini Mbok...barangnya," ujar Lilis sambil menyerahkan paper bag ke arah Mbok Sri.


"Ini Non..pakai untuk pergi nanti. Nyonya yang memilihkan. Non dandan yang cantik ya," Melati mengambil paper bag itu.


"Baik mbok, Mel bersiap dulu ya," sahutnya sambil berjalan menuju kamarnya. Secepat kilat Melati berdandan, dan mengenakan pakaian yang di dalam paper bag itu. Baju yang di belikan Nyonya Anita sangat cantik, sebuah gaun dan lengkap dengan jilbab Syar'i. Melati menatap dirinya di meja kaca riasnya. Setelah yakin dengan penampilannya, Melati meraih tas kecil yang ada di dalam paper bag. Nyonya Anita ternyata sangat tahu kebutuhannya. Bukan hanya itu Reyhan pun juga sangat perhatian padanya. Dua hari yang lalu saat akan berbelanja pakaian untuknya, Reyhan juga mengajak Melati membeli ponsel terbaru, yang harganya membuat Melati tercengang. Soalnya dia sama sekali tak pernah membeli ponsel semahal itu.


Dulu, Bapak dan Ibunya hanya sanggup membelikan dia ponselnya jadul merk Nokemi. Bapak pun punya ponsel jadul juga. Sama seperti Melati. Melati mengambil Kartu Tanda Penduduk, Ponselnya lalu memasukkannya ke kedalam tas. Gegas Melati keluar kamar dan berjalan ke arah pintu utama rumah megah ini. Di halaman luas nan asri pak Pardi sudah menunggu Melati. Gadis itu berjalan tergesa ke arah pak Pardi yang sudah menantinya dari tadi.


"Silahkan Non Mel.." ujar Pak Pardi sambil membukakan pintu mobil untuknya.


"Makasih Pak Pardi," Melati langsung menaiki mobil mewah itu. Pak Pardi menganggukkan kepalanya penuh hormat.


Alhamdulillah...Tuan dan Nyonya pasti senang Non Melati kembali, batin Pak Pardi.


" Kita sudah di tunggu Tuan dan Nyonya ya Non di Restoran Sari Laut," ujar Pak Pardi memecahkan kesunyian. Melati mengangguk.


Kurang lebih dua puluh menit, Melati dan Pak Pardi sudah tiba di parkiran. Pria itu menurunkan Melati di depan Restoran Sari Laut.


"Sampai disini ya Non. Nanti Bapak tunggu di parkiran kalau sudah selesai." ujarnya sambil membukakan pintu mobil untuk gadis itu. Melati mengangguk.


"Oh ya..nanti Non tanya sama Resepsionis saja, tanya saja nomor berapa meja pesanan Tuan Hendrawan," jelasnya, karena melihat Melati tampak kikuk. Wajar saja gadis itu baru ini tinggal di kota. Apalagi ke Restoran mahal. Kalaupun Sudah pernah pergi itu cuma ke Restoran cepat saji, bersama Reyhan. Saat Dia di antar Reyhan untuk membeli berbagai macam keperluan.

__ADS_1


__ADS_2