
Reyhan sudah tiba di ruangan meeting. Para petinggi perusahaan sudah kumpul di ruang meeting itu. Cuma menunggu CEO PT Andromeda Tekstil, Reyhan Sebagai CEO memasuki ruangan.
"Selamat pagi. Mohon maaf saya agak telat. Kebetulan mengantarkan adik saya ke rumah sakit ." sapa Reyhan sambil mendudukkan bokongnya di kursi kebesaran.
"Tidak masalah Pak Reyhan. " sahut Kepala Divisi Keuangan.
"Baiklah, terima kasih. Kita mulai saja rapatnya. Saya mau mendengar laporan dari Kepala Divisi Produksi."
Lebih kurang 2 jam rapat baru selesai. Reyhan keluar ruangan meeting diikuti oleh kedua sahabatnya. Bayu Aditama dan Resnu Wijayanto.
"Sepertinya kondisi pabrik udah lancar kembali Rey..Alhamdulillah banget. Jadi bagian pemasaran nggak kena marah sama pelanggan," ujar Bayu sambil membuka pintu ruangan CEO .Reyhan dan Resnu masuk ke dalam ruangan itu diikuti oleh Bayu. Pintu kemudian di tutup kembali.
" Iya..karena permintaan bahan pakaian sangat banyak. Apa lagi sekarang mau tahun ajaran baru."
"Alhamdulillah banget ya," sahut Resnu.
"Oya..bagaimana cerita adik kembar lu yang baru di temukan itu? Jadi pemasaran denger kisahnya?" tanya Resnu, saat mereka bertiga sudah duduk di sofa.
Reyhan menarik nafas panjang, lalu memulai kisahnya.Kedua temannya terlihat antusias mendengarkan.
"Iya, sebenarnya gue punya adik kembar, perempuan. Jadi saat mereka berumur 1 tahun. Diajak Mami jalan-jalan di taman. Saat itu mami di temani Mbok Sri , pembantu yang mengurus rumah dan kami bertiga. Singkat cerita Meli nangis..Mami langsung kalut, soalnya Meli kalo nangis nggak bisa berhenti. Jadi lah bikin Mbok Sri dan Mami sibuk mendiamkan Meli. Nah saat itu lah Melati tanpa pengawasan menghilang. Menurut cerita orang kepercayaan Papi, karena melihat Mami dan Mbok Sri sibuk sama Meli. Melati berjalan terus..mengelilingi taman lalu sampai lah di jalanan..karena gak liat Mami dan Mbok Sri.. Melati nangis di pinggir jalan. Nah saat melihat Melati, datanglah Pak Herman. Beliau dulu bekerja sebagai sopir di kota. Akhirnya didekatinya, lalu karena tak tahu alamat untuk mengembalikan Melati. Maka diajak lah Melati ke desa tempat tinggal pak Herman. Pak Herman dan istrinya senang sekali. Karena selama berpuluh tahun menikah mereka nggak pernah di karuniai anak. Jadi lah Melati tinggal di sana. Saat itu Papi sibuk menyuruh orangnya mencari Melati.Tapi pencarian terpaksa terhenti karena Mami mengalami depresi berat. Mami merasa bersalah karena tidak bisa menjaga Melati, sampai hilang gitu." cerita Reyhan. Kedua sahabatnya mendengarkan dengan serius.
"Gimana bisa ketemunya Melati sama keluarga lu Rey?" tanya Resnu lagi.
"Jadi ada orang kepercayaan Papi yang pergi ke desa tempat Melati tinggal. Bukan mau me cari Melati, tapi ketemu gak sengaja. Pak Sandy dan temennya di suruh Papi mencari Sapi untuk di pelihara lagi ya seperti biasa.Untuk menambah sapi peternakan Sapi milik Papi yang di Bekasi. Nah nyarinya kebetulan di desa tempat Melati tinggal. Tak sengaja Pak Sandy dan temannya melihat Melati yang mengantarkan makanan untuk para pekerja ke peternakan. Disitulah mereka ketemu. Di perhatikan nya wajah Melati sangat mirip dengan Meli. Mereka curiga. Lalu tanya -tanya sama pemilik peternakan itu. Ternyata namanya Melati,"
"Kok bisa pak Herman dan istrinya ngasi nama Melati?" tanya Bayu
"Ya karena Melati punya kalung Emas yang bertuliskan namanya Melati. Jadi dengan mudah untuk dikenali. " dijawab dengan O besar oleh kedua teman Reyhan.
"Cocok dengan kembarannya Meli.." ujar Bayu sembari mengangguk paham.
"Emang lu pernah ketemuan sama Melati?" tanya Resnu penasaran.
"Gue pernah disuruh Om Hendra untuk menjemput Melati di terminal, tapi nggak ketemuan karena gue telat kena macet. Kebetulan nganter adik gue ke tempat les dulu."
"Wah lu kalah cepat sama Bayu, Nu.." sergah Reyhan santai. Resnu menatap Reyhan dengan wajah datar.
__ADS_1
"Gimana dengan Melati? Apa wajahnya beda dengan Meli?" tanya Reyhan kemudian kepada Bayu. Menyenggol lengan Bayu. Membuat cowok itu tergagap.
"Mirip. Mereka kembar identik," sahut Bayu. Resnu sedikit melongo tapi kemudian menutupi wajah penuh tanya nya. Tapi dengan cepat kemudian mengubah dengan mode datar. Cowok itu begitu cool. Wajar saja banyak yang tergila-gila dengannya. Walau sampai sekarang Resnu belum menemukan tambatan hati.
"Gimana perasaan lu Rey, waktu ketemu Melati setelah sekian lama gak ketemu?" tanya Bayu menatap sobat dari kecilnya hingga dewasa.
"Alhamdulillah banget..gue seneng. Nemenin dia daftar kuliah. Ngasi hadiah laptop untuk dia. Pagi tadi gue nemenin dia ke rumah sakit ketemu dengan ibu dan bapak angkatnya. Banyak pokoknya. Dulu gue sempet ngebayangin, gimana wajah adik gue yang hilang itu. Ternyata dia cantik banget, kulitnya putih, hidungnya bangir. Ada lesung pipi. Berhijab pula. Pokoknya top banget. Saingan sama Meli..dan mirip banget. Tapi Melati lebih lembut dan anggun. Gak kayak Meli yang cuek dan jutek." cerita Reyhan sambil tertawa diakhir cerita.
Kedua sobatnya mendengarkan dengan seksama. Keduanya merasa pingin banget ketemu adik Reyhan.
"Kenapa lu liat gue?" tanya Bayu menatap Resnu yang menatapnya lekat.
"Ehm..gue cuma mikir aja, sama cerita lo waktu di suruh om Hendra menjemput Melati. Apa lu gak liat betapa miripnya wajah Melati dengan Meli?" tanya Resnu.
Bayu tersenyum. Lalu mengangguk paham.
"Ya..gue sempat nanya samo Om Hendra. Kenapa wajah gadis itu mirip dengan Meli. Tapi Om Hendra diem aja. Mungkin gak mau ngasi tau karena masih privasi banget,"
"Iya, Papi memang sengaja mendiamkan masalah itu. Dan menunggu biar Melati ketemu dulu sama Mami dan Meli." sahut Reyhan memperjelas jawaban Bayu.
"Eh..ngomong-ngomong, itu ada berkas yang perlu lu tanda tangani Rey...kenapa juga gue sampai lupa," ujar Bayu kemudian sambil memupuk jidatnya. Reyhan dan Resnu ketawa bareng.
"Serius...Oh ya gue mau nanya, ambil jurusan apa Melati?" tanya Resnu penasaran.
"Ya Allah, gue sampai lupa. Ambil jurusan Kedokteran ,Nu..di Universitas Abdi Bangsa," Resnu mengangguk.
"Gue pamit keruangan dulu. Masih ada yang harus gue kerjakan.Ayo Bro.." pamit Resnu pada Reyhan dan Bayu.
"Ok Bro.." sahut mereka berdua serempak.
******
Melati berjalan tergesa melewati karidor rumah sakit. Sore ini selepas kuliah, gadis itu langsung diantar Revi
sahabatnya ke Rumah Sakit Sehat Sejahtera.
Melati keluar dari mobil Revi, lalu berjalan kearah lobi rumah sakit. Setelah ber da - dah ria dengan sahabatnya.
__ADS_1
"Selamat Sore Non Melati, ada yang bisa kami bantu?" tanya seorang perawat saat Melati akan ke ruangan Pak Herman. Gadis itu menghentikan langkahnya. Berbalik menatap suster yang ada di belakangnya.
"Eh Suster.. ini mau liat pasien..atas nama Pak Herman."
" Oh Pak Herman. Maaf kami lupa mengabari, kalau Pak Herman tadi siang sudah operasi kateterisasi jantungnya. Sekarang dipindahkan ke ruangan ICCU. Nanti kalau kondisi beliau susah stabil baru bisa di pindahkan ke ruang rawat inap." jelas suster yang bernama Arumi. Melati mengangguk.
"Kalau Non mau, bisa saya antar ke ruang tunggu di ICCU," tawarnya ramah. Melati mengangguk.
" Ok..makasih ya Suster Arumi," di jawab anggukan dengan senyum ramah Suster Arumi.
Mereka berdua berjalan keluar karidor VVIP. Lalu berjalan memasuki lift yang terletak di ujung ruangan. Ruang ICCU di lantai 1. Sementara VVIP di lantai 2.
"Tiing.." bunyi lift. Pintu lift terbuka. Melati berjalan di belakang suster Arumi.
" Silahkan Non..masuk. Sebelumnya pakai baju steril dulu."
Melati mengangguk dan berjalan mengikuti Suster Arumi ke ruangan ganti pakaian. Melati memakai baju steril berwarna hijau. Di luar ruangan ada meja resepsionis.Petugas Resepsionis menyapa Suster Arumi.
"Siapa?"
"Keluarga Pasien Herman. Kebetulan putri Bos. Tuan Hendrawan."
Resepsionis cewek itu mengangguk, lalu tersenyum hormat pada Melati. Melati menjawab dengan anggukan dan senyum manisnya.
"Silahkan Non, sambil memberi name tag pengunjung kepada Melati. Gadis itu mengambilnya lalu memasang di jilbabnya. Kemudian mengikuti Suster Arumi yang berjalan kearah ruang ICCU.
Melati berjalan ke arah brankar Pak Herman. Banyak selang di tubuh pria baya itu. Melati tanpa sadar meneteskan air matanya. Pria baik yang telah merawatnya dari kecil. Di dekat pria itu ada seorang wanita yang matanya tak lepas menatap Pak Herman dengan mata basah. Berlinang air mata. Melati mendekati wanita paruh baya itu. Menyentuh bahunya, lalu menatap lekat wanita di sampingnya.
Wanita itu menoleh pada Melati. Lalu memeluk gadis cantik yang sangat di sayangi.
"Sabar ya bu..setelah ini bapak akan segera sehat. Maaf Melati tidak bisa menemani ibu saat bapak operasi tadi. Masih ada kuliah siang tadi." bisik Melati pelan masih memeluk Bu Ratih yang menangis se segukan. Melati mengusap punggung wanita itu.
"Ya Nak, terima kasih kamu sudah datang. Salam buat keluarga mu di sini." ujar Bu Ratih mengurai pelukannya.
"Iya bu..ibu jangan sungkan. Kalo ada apa-apa telpon Melati ya Bu.."
"Kita keluar aja yuk Bu. Biar Bapak istirahat.Apa ibu dah makan?"
__ADS_1
"Udah Mel..tadi siang ada yang ngasi nasi kotak untuk ibu.Perawat yang bawakan. Gak tau ibu siapa yang ngirim. Ibu ambil aja..." jawabnya sambil melangkah keluar ruang isolasi ICCU berjalan beriringan dengan Melati. Keduanya menggantungkan baju steril ke lemari penyimpanan. Lalu berjalan keluar ruangan steril itu. Mengambil tempat duduk di sudut agar leluasa berbincang.
"Kamu gimana kabarnya?Kuliah kamu. Ibu bahagia banget kamu bisa kuliah. Dan alhamdulillah juga bisa ketemu dengan orang tua kandung kamu mu," ujar bu Ratih sambil mengusap bahu Melati.