Cinta Melati Cinta

Cinta Melati Cinta
Ide Cemerlang Reyhan


__ADS_3

Sekitar dua puluh menit mobil Reyhan dan mobil Hendrawan yang dikemudikan oleh Pak Hardi untuk membawa Pak Nanang berobat tiba di rumah sakit.


Kedua mobil itu berhenti di depan pintu masuk UGD. Seorang pesawat pria Langsung mengeluarkan brankar saat Hendrawan dan Hardi membuka pintu mobil.


Dengan di bantu perawat pria itu pak Hardi mengangkat tubuh Pak Nanang yang masih pingsan.


"Selamat Pagi Dokter." sapa Hendrawan.


"Pagi bapak siapa yang sakit?" tanya dokter wanita itu lalu mengalihkan tatapannya pada pak Nanang yang sedang di dorong di atas brankar ke dalam ruang Unit Gawat Darurat di rumah sakit itu.


"Kenapa pasien pak?" tanya sang dokter wanita itu.


"Ini sopir saya, tadi pingsan jadi langsung saya bawa ke sini," jelas Hendrawan berbohong. Padahal kan pingsan karena di ikat di bawah pohon.


"Oh gitu. Baiklah saya periksa dulu. Bapak bisa menunggu di luar. Nanti kami beritahu kalau sudah selesai di periksa," ujar sang dokter. Hendrawan mengangguk lalu berjalan keluar ruangan itu bersama dengan Pak Hardi.


" Gimana Pi?" tanya Reyhan, saat Hendrawan dan Pak Hardi sudah keluar dari ruangan UGD.


"Lagi di periksa sama dokter. Semoga saja nggak apa-apa,"


"Ya Pi...semoga,"


Tak lama menunggu, dokter tadi keluar dari ruang pemeriksaan UGD.


"Keluarga pasien Nanang!"


"Ya saya dokter. Bagaimana keadaan Pak Nanang?" tanya Hendrawan dengan wajah agak cemas.


"Setelah saya periksa tadi Pak Nanang mengalami lemah denyut jantung. Mungkin pak Nanang mengalami kecemasan. Jadi berefek dengan denyut jantungnya menjadi lemah sekali.Sekarang sudah kami rawat. Tapi Pak Nanang harus di rawat inap setelah keluar dari UGD ini Pak," jelas sang dokter. Hendrawan mengangguk paham.


"Apa bisa kami tinggal dokter. Soalnya kami ada urusan gang lain. Yang sangat memerlukan kehadiran kami berdua." tanya Reyhan sambil menatap dokter muda yang cantik itu.

__ADS_1


"Bisa pak.Tapi kalau bisa bapak meminta salah seorang keluarga bapak saja untuk menjaga Pak Nanang. Jaga-jaga sampai Pak Nanang siuman," saran dokter lagi.


Keduanya menatap Pak Hardi.Pak Hardi langsung mengerti setelah kedua bosnya itu menatap ke arahnya.


"Pak Hardi bisa kan jaga Pak Nanang? Nanti Pak Hardi bisa nunggu sampai salah satu dari pelayan di rumah datang untuk menjadi Pak Nanang. Baru Pak Hardi pulang atau ikut mencari Melati. Bagaimana?"


"Baik Tuan. Nggak papa."


"Ok..ini ada uang sedikit buat kamu sarapan dan membeli air mineral buat Pak Nanang. " Hendrawan mengeluarkan uang berwarna merah sebanyak lima lembar dan memberikannya pada Pak Hardi.


"Makasih tuan."


Hendrawan mengangguk lalu pamit untuk pergi ke hotel menemui Randy. Reyhan melirik jam di tangannya yang sudah menunjukkan ke pukul delapan. Pria itu mendesah.


'Bagaimana kalau ternyata sebelum jam sembilan mereka tidak kunjung menemui Melati. Bisa batal acara pernikahan Randy dan Melati,' bisik Reyhan dalam hati.


"Ayo kita jalan Rey..Randy pasti sudah menunggu," Reyhan mengangguk sambil menyalakan mesin mobilnya. Kemudian mobil bergerak meninggalkan halaman rumah sakit. Mobil lalu berjalan dengan kecepatan sedang. Jarak Rumah sakit dan Hotel milik Tommy Wiryawan tidak terlalu jauh. Butuh waktu dua puluh menit ke arah situ. Keduanya tak lama kemudian sampai di halaman parkir Hotel megah dan mewah itu.


"Pi..bagaimana tadi?" Randy menyalami Hendrawan dan Reyhan.


"Pak Nanang sudah kami bawa ke rumah sakit. Untuk sementara yang menunggunya Hardi. Tapi nanti ada satu orang Art yang akan menunggui pak Nanang,"


"Tapi kabar Melati belum ada Ran. Kami belum bisa meminta keterangan sama Pak Nanang, karena pria itu masih pingsan saat kami antar ke rumah sakit. Pun saat kami akan kesini belum juga siuman," kata Reyhan membuat wajah Randy menjadi cemas.


"Ya Allah kenapa bisa begini? Siapa yang bikin ulah? Apa mas tahu siapa yang tak suka sama Melati?" tanya Randy cemas.


"Kayaknya bukan karena nggak suka. Tapi karena banyak yang suka makanya di culik," sahut Hendrawan sembari memijit pelipisnya. Kepalanya pusing sejak Melati di nyatakan hilang.


"Jadi bagaimana solusinya dengan pernikahan saya sama Mel Pi?" tanya Randy yang tak kalah pusing. Karena satu jam lagi dia harus ijab kabul sama Hendrawan di depan penghulu.


"Gimana kalau kita suruh Meli menggantikan Melati.Kan wajah mereka mirip banget. Bagai pinang tak berbelah," sahut Reyhan tiba-tiba membuat kedua pasang mata menatapnya seram. Reyhan terkekeh.

__ADS_1


"Sorry Pi.Ran...gue pusing banget mikirin nya. Salah satu cara ya minta tolong Lili. Ya kan? Apa Papi nggak malu kalau pernikahan Randy di batalkan. Semua undangan udah tersebar." Reyhan dengan lancar mengemukakan ide yang katanya cemerlang itu.


Hendrawan menarik nafas dalam. Randy menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Kesal sekali dia mendengar usul Reyhan.


"Nggak bisa gitu Mas..yang mau saya nikahi itu Melati. Bukan Lili!" ucapnya sengit.


Hendrawan mengangguk setuju dengan ucapan Randy.


"Bukan gitu. Kan kamu pas ngucapin ijab kabulnya dengan Nama Melati Ayudia binti Hendrawan Natanegara. Bukan Lili yang kamu sebut. Gimana ngerti nggak?"


Hendrawan dan Randy saling menatap.


"Emang boleh?" tanya Hendrawan dan Randy serentak. Reyhan mengangguk. Boleh untuk menghindarkan dari malu para undangan. Toh yang di sebut bukan nama Lili tapi Melati Ayudia.


"Astaga..mimpi apa saya Mas sampai harus kejadian seperti ini?" Randy menggelengkan kepalanya.


"Sabar Randy. Papi dukung kalau itu boleh di lakukan. Kan Melati bukan menghindar dari kamu tapi diculik," tegas Hendrawan. Randy menatap netra pria setengah baya itu dengan pandangan penuh tanya.


"Ok masalah ke satu sudah selesai. Bagaimana sekarang menyelesaikan masalah kedua. Yaitu mencari Melati. Dimana keberadaan anak itu sekarang?" tanya Hendrawan.


"Sebaiknya kita liat dulu pak Nanang ,Pi. Kita tanya kronologisnya. Abis itu baru kita cari. Kita bisa melangkah mencari seseorang yang patut di curigai," ujar Reyhan. Wah makin menarik ini.


Hendrawan mengangguk.


"Tapi jangan sekarang Mas. Tiga puluh lima menit lagi aku mesti ijab kabul dengan Melati," ucap Randy mengingatkan.


"Oya..Mami, Meli dan calon mertuanya sudah datang ke sini?"


"Sudah Pi. Mereka ada di sebelah kamar pengantin saya dan Mel."


"Kalau gitu kita suruh Meli bergantian pakaian. Biar nanti kita sekalian siap-siap," ajak Reyhan. Di sahut dengan anggukan setuju oleh Randy dan Hendrawan. Ketiganya berjalan menuju lift yang ada di hotel mewah itu. Setelah masuk ke dalam lift ketiganya hanya diam. Sibuk dengan pikiran mereka masing-masing.

__ADS_1


bersambung


__ADS_2