
Meli menikmati makan siangnya di sebuah cafe tak jauh dari kampusnya. Dari pagi sampai di jam makan siang Ia masih berkutat dengan dengan buku pelajarannya.
Di sampingnya duduk seorang pria bule tampan, menemani makan siang. Sambil sesekali bercerita di sela suapannya.
"Masih ada kelas siang ini Li?" tanya sang pria. Meli mengangguk lalu menatap kearah pria itu.
"Kamu?"
"Tidak ada."
"Tapi nanti aku tungguin di Perpus. Temui saja aku di sana. Kalau kelas mu sudah selesai. Kita pulang bareng," ujar pria itu yang ternyata Steven. Meli mengangguk. Lalu tersenyum manis para Steven. Sebuah hadiah indah bagi Steven. Karena sejak mengenal Meli 3 tahun lalu, dia sudah jatuh cinta pada gadis cantik bermata almond itu. Gadis Indonesia.
Meli menatap jam di pergelangan tangannya. Lalu menatap Steven lembut.
"Aku harus ke kelas. Sebentar lagi dosen masuk. Aku tinggal ya." pamit Meli. Steven mengangguk.
"Apa sudah shalat?"
"Sudah, tadi setelah kelas bubar langsung ke mushala,"
Steven tersenyum mendengarnya. Lalu mereka berdua sama-sama bangkit lalu keluar cafe.
Mereka berpisah di persimpangan antara kelas Meli dan jalan menuju Perpustakaan. Meli ke kanan dan Steven ke kiri. Pria bule itu melambaikan tangannya saat sudah semakin jauh dari Meli.
Meli memasuki kelasnya siang ini. Setelah duduk di kursinya Meli membuka buku catatannya. Seseorang menyapanya saat Ia sedang asyik membaca.
"Asyik sekali," sapa seorang gadis, lalu mengambil duduk di sebelah Meli. Meli menoleh dan menatapnya lekat .
"Tumben...cepat masuk?" goda Meli. Gadis itu terkekeh.
"Lagi nggak sibuk pentas. Kalau sibuk ya pasti bangun kesiangan. Dan yang pasti bakalan telat masuk kelas," sahutnya tersenyum manis.
Teman Meli itu berasal dari Malaysia. Namanya Nur Fatimah. Gadis itu tinggal dekat flat Meli. Mereka cukup akrab. Saat mulai masuk kuliah dulu. Hingga sekarang. Kini mereka sama - sama mengambil mata kuliah yang sama.
"Aku nggak liat kamu Nur saat masuk kelas tadi pagi. Apa kita tidak mengambil mata kuliah yang sama?" Nur Fatimah menggeleng.
"Kita kan sama pas ngambil SKS dulu. Masak nggak sama. Tanya saja aku yang telat masuk. Kelas pertama dan kedua aku nggak masuk. Masih bobok cantik," sahut Nur ringan.
__ADS_1
Ya Salam...gadis Malaysia itu terlihat santai sekali. Meli tak habis pikir. Dia merasa adalah orang yang paling cuek. Tapi Kalau untuk pendidikan maka ia akan menomor satukan nya.
Beberapa menit kemudian. Dosen yang mengajar di kelas itu masuk. Keduanya menghentikan perbincangan mereka. Lalu larut dalam kegiatan belajar.
Dua jam sudah mereka mengikuti kelas siang itu. Meli menahan kantuknya yang terasa berat. Selepas Dosennya keluar kelas. Meli langsung mengetik pesan pada Steven.
Rasanya Ia tidak akan sanggup menemui Steven di Perpustakaan. Karena rasa kantuk yang menyerang. Setelah mengirim pesan Meli memutuskan untuk keluar gedung kampus. Dan menyetop sebuah taksi. Lalu masuk ke dalam perut mobil sedan itu. Setelah memberi tahu sopir taksi alamat rumahnya. Gadis itu memejamkan matanya sekejap. Tak sampai dua puluh menit suara sopir taksi membangunkan Meli.
"Miss..kita sudah sampai." Meli membuka matanya. Lalu membayar sejumlah uang, kemudian turun dari mobil taksi itu.
Dengan masih menahan kantuk Meli berlari kecil menuju ke rumahnya. Membuka pintu rumah, menguncinya kembali, lalu langsung masuk ke kamarnya. Membuka sepatu kemudian merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur.
Lama Meli terlelap, hingga sebuah telpon membangunkan dirinya dari mimpi. Dengan langkah gontai, di ambilnya ponsel yang terletak di meja riasnya. Lalu meletakkan benda pipih itu di telinganya.
" Hallo..ya..." lama Meli mendengarkan suara dari balik sambungan telepon itu. Dia hanya bisa menjawab ya lalu mengangguk. Seolah orang yang menelponnya di seberang tahu gerak geriknya. Meli memijit pangkal hidungnya. Tak lama tetesan air mata jatuh di pipi mulusnya.
Belum selesai suara itu terdengar di gendang telinganya, gadis itu memencet tanda merah di layar ponselnya. Lalu menangis se-segukkan. Duduk dengan kepala tertunduk menekuri lantai. Sementara air matanya tak berhenti mengalir deras di pipinya.
"Tok..tok..tok..." suara pintu depan rumah di ketuk. Meli mengabaikan suara ketukan itu. Air matanya belum berhenti benar, tapi karena suara ketukan tak kunjung berhenti, Meli membangunkan tubuhnya sambil mengelap air mata yang membasahi pipi dengan tissue.
"Steve..." panggil Meli dengan suara bergetar.
Pria itu menoleh lalu memutar tubuh tinggi tegapnya ke arah Meli. Alisnya terangkat. Sebagai isyarat, bertanya ada apa dengan dirinya.
Meli tertunduk, lalu masuk ke dalam rumah. Steven mengikuti langkah gadis itu. Kini air mata Meli semakin pecah saat Steven menarik tangannya dan langsung memeluknya erat.
"Ada apa?" tanya Steven mengurai pelukannya, sambil memegang kedua pipi Meli dengan kedua tangannya. Meli tertunduk. Tak mampu menjawab.
Entah kenapa, sekarang dia menjadi gadis yang amat rapuh. Cinta yang tak sampai. Dan selentingan kabar tentang kedatangan keluarga Resnu ke rumah orang tuanya, untuk melamar kembarannya, Melati.
Dan rasa luka itu semakin parah , dengan cinta paksa orang tuanya dengan seorang pria yang merupakan kerabat dekat .
Meli merasa mengapa sejak Melati datang. Semua keberuntungan itu berpihak pada kembarannya. Dan bukan pada dirinya.
Betapa beruntungnya Melati, bisa di cintai oleh pria yang mencintainya. Berbeda sekali dengan dirinya, yang hanya bisa mencintai Resnu dalam diam. Hanya bisa tersenyum sedih menatap setiap perlakuan manis yang dibuat Resnu untuk Melati.
"Apa soal pemaksaan cinta lagi?" kali ini suara Steve terdengar bergetar. Dia ingin marah. Mengapa orang tua Meli terlalu diktator. Seolah mereka lah yang berhak menyusun jalan hidup gadis itu. Gadis yang diam-diam dia cintai.
__ADS_1
"Li..kalau mereka masih ingin menjodohkan kamu dengan dokter itu. Tolak saja. Katakan kalau kamu sudah mempunyai kekasih disini!" ujar Steven lugas. Meli terkejut mendengar kata-kata Steven. Gadis itu menatap wajah pria tampan di depannya dengan tatapan penuh tanya.
"Aku tidak punya kekasih Steve..bagaimana bisa aku bilang ke orang tuaku..kalau aku punya kekasih...Tidak ada yang mau mencintaiku Steve...tidak ada...!" teriak Meli lirih...memilukan. Steven menggeleng.
"Jangan ngomong begitu Li..." Meli membuang tatapannya dari Steven.
"Liat aku Li..Liat akuuu!" perintah Steven sambil menangkup pipi Meli dengan kedua tangannya. Wajah Steven nampak tegang. Meli menatap wajah pria itu, dengan air mata yang terus mengalir.
" Aku Li...aku yang akan mencintaimu. Jangan lagi mengatakan kalau tidak ada yamg mencintaimu. Aku Steven yang akan melamar mu untuk menjadi istriku," Ujar Steven sambil mengusap lembut air mata yang mengalir di pipi mulus Meli.
Meli menggeleng.
"Tidak Steve...jangan menjadi korban untuk urusan keluargaku. Aku nggak mau kamu terpaksa. Aku nggak mau Steve," tolak Meli sedih. Steven menggeleng.
"Siapa bilang aku terpaksa? Apa kamu nggak tau Li..sudah sejak dulu aku jatuh cinta sama kamu," mata Meli membulat mendengar pengakuan Steven.
"Ka ..kamu serius Steve?" tanya Meli ragu. Steven tersenyum lalu mengangguk.
"Ya...Li..aku serius...dua rius malah..." sahut Steven sambil terkekeh. Meli tersenyum di sela-sela tangisnya mendengar kejujuran dari bibir pria bule itu. Namun bagaimana perasaanya yang begitu mencintai Resnu?
"Kalau kamu setuju, maka tolak saja lamaran dokter itu. Karena sudah ada aku yang akan bersamamu. Mencintaimu Li " sambung Steven mantap.
Pria itu semakin mempererat pelukannya. Dan Meli membiarkan dirinya dalam pelukan dada bidang Steve yang mulai terasa hangat bagi Meli kali ini.
Walau merasa tenang dalam pelukan Steven. Tetapi Meli merasa risau. Tentang apa yang harus Ia katakan pada Mami dan Papinya nanti.
Karena minggu depan, Randy akan datang ke Aussie untuk bertemu dengannya.
***
__ADS_1