
Mobil Evan sudah terparkir di depan kafe The Tavern. Mereka turun dari mobil, lalu melangkah masuk ke dalam kafe. Sebuah ruangan yang begitu luas menyambut mereka. Desian ruangan itu juga sangat bagus.
Elena terheran ketika mereka hanya melewati ruangan itu. Evan membawa gadis itu menaiki tangga. Sampailah mereka di rooftop yang menampilkan pemandangan kota.
Elena berjalan menuju pagar besi di pinggir atap. Matanya memandang lepas menikmati pemandangan kota di bawah sana. Lampu berwarna-warni menjadi penghias malam.
"Ehm!"
Deheman menyadarkan Elena. Gadis itu membalikkan badan, menatap pria yang berdiri agak jauh darinya. Kepalanya segera menunduk karena malu.
"Kita duduk di sini." Evan melambai, mengajak Elena untuk mendekat.
Di atas meja di sudut bagian tempat itu, sudah terdapat papan nama bertuliskan 'Tn. Evan' yang menunjukkan bahwa tempat itu sudah di pesan. Sungguh pemilihan tempat yang tepat. Dari sana bisa melihat pemandangan yang lebih luas.
Bos memang paling pengertian, bisa memesankan tempat yang sangat mendukung, batin Evan. Dia kelihatan senang banget. Ini bagus untukku.
Tidak berapa lama, pelayan membawakan beberapa menu makanan di meja mereka. Craem of mushroom soup untuk pembuka, the tavern beef fillet steak makanan utama, dan chocolate avalanche sebagai penutup. Tidak lupa summer season sebagai minumannya. Masing-masing dipesankan menu yang sama.
Elina mulai menikmati makanan yang belum pernah dirasakannya sebelum ini. Walaupun semua itu masakan barat, tetapi lidah Elina bisa menerimanya. Dia sangat menikmati semua makanan itu.
Sepertinya hati Elina sudah lebih. Aku harus katakan sekarang, batin Evan.
__ADS_1
"Elin." Evan menatap Elina lekat.
"Hm!" Elina tak sedikit pun mengalihkan pandangannya. Dia masih saja menikmati es krim pada makanan penutup seraya manatap keindahan lampu kota.
"Aku mau ngomong sesuatu sama kamu."
"Ngomong aja. Aku dengerin, kok." Elina memasukkan sesendok kecil es krim ke dalam mulut.
Evan menghela nafas panjang. Dirinya mempersiapkan diri ketika keinginannya di tolak gadis itu. Dia tahu pasti penolakan itu, tetapi apa salahnya jika dicoba.
Evan segera memberi minuman kepada Elina. "Pelan-pelan makannya."
"Kamu itu buat aku tersedak!" ketus Elina. Tidak pernah terpikir olehnya berhenti bekerja setelah menikah. Jadi, dia kaget dengan ucapan Evan tadi.
"Apa ada yang salah sama ucapanku?" tanya Evan. Dia merasa ucapannya tadi biasa-biasa saja.
"Ngapain kamu menyuruhku berhenti bekerja? Aku senang bekerja, bisa bertemu orang banyak di sana. Gak ketemu kamu melulu. Bisa mati bosan aku," sungut Elina.
__ADS_1
"Tapi ...."
"Gak." Elina memotong perkataan Evan.
Elina kembali melahap makanannya dengan kasar. Ucapan Evan dia anggap sebagai perusak suasana hatinya.
Evan hanya menghela nafas panjang. Akhirnya, usulan darinya di tolak Elina juga.
...****************...
Elina menjatuhkan tubuhnya ke atas kasur. Sungguh, wanita itu sangat lelah hari ini, fisik maupun hati. Dia merasa ditipu atas sikap Evan. Ternyata, sikap baik pria itu hanya karena menginginkan dirinya agar melayani sang pria di rumah.
Tentu saja Elina tidak setuju. Dia lebih memilih untuk bekerja daripada harus terkurung di dalam rumah. Seperti burung dalam sangkar, pasti sangat membosankan.
"Elin, bagaimana hari ini?" tanya Diyah. Wanita itu telah berdiri di ambang pintu.
"Bagaimana apanya?" Elina bangkit dari tidurnya lalu duduk di sisi ranjang.
"Baju kamulah, apa lagi. Pasti bagus, Evan gitu loh. Gak mungkin beliin baju ecek-ecek." Diyah berjalan menghampiri sang anak lalu duduk di sebelahnya. "Gak kayak ibu dulu. Baju nikahnya sewa."
"Ya, gitulah. Yang penting nikah, sah. Itu 'kan udah bagus," sindir Elina.
"Bener juga, sih." Diyah menganggukkan kepala terlihat polos. Elina hanya menggelengkan kepala melihat sang ibu mengiyakan ucapannya.
"Ngomong-ngomong, tadi lama banget. Kamu diajak ke mana lagi?" tanyanya seraya tersenyum menggoda.
Elina melengos, kesal dengan pertanyaan sang ibu. Rasa penasaran ibunya sudah mulai muncul. Pasti akan banyak pertanyaan lagi setelah ini.
"Udah ah, Bu. Aku capek, mau mandi dulu." Elina berlalu pergi meninggalkan Diyah di dalam kamar sendiri.
Namun, bukan Diyah namanya kalau menyerah begitu saja. Wanita itu segera mengejar sang anak hingga di depan pintu kamar mandi. Kalau dia tidak segera menutup pintu, mungkin sang ibu juga akan ikut masuk ke dalam.
Bersambung.
__ADS_1