
Evan berdiri ketika perlahan sang istri keluar dari kamar mandi. Dengan senyum lebar, dia mulai mendekati Elina. Matanya pun tak teralihkan, terus saja tertuju pada sosok indah di depan mata.
Elina sigap menanggapi tindakan Evan. Dia segera berlari, lalu melompat ke atas ranjang. Selimut ditariknya hingga menutupi seluruh tubuh.
Evan tak mau kalah, pria itu mengikuti langkah Elina. Kini, tubuhnya berada di atas, mengungkung wanita di bawahnya.
"Mau apa kamu?" tanya Elina. Dia begitu ketakutan. "Katanya gak mau nyentuh aku kalau aku belum suka sama Mas Evan?"
Elina mengingatkan kembali perjanjian tak tertulis mereka. Dia tidak ingin Evan melupakan itu, lalu dengan seenaknya memainta jatah.
"Memang," jawab Evan enteng. Senyum seringai tampak di wajahnya yang membuat sang istri semakin ketakutan.
"Lalu, kamu mau apa?" tanya Elina dengan berteriak. Kini, bayangan benda di antara paha Evan kembali melintas di benaknya. Benda yang terlihat lembek menggelitik pikirannya.
Katanya sakit pas pertama itu masuk. Tapi, benda lembek seperti itu, apa bisa bikin sakit, ya?
Tidak tahu bagaimana, tiba-tiba saja pikiran Elina bisa berkata seperti itu. Mungkin gara terlalu banyak bergaul dengan para ibu di tempat kerjanya. Pikiran wanita itu kian hari, kian meliar.
Evan mencoba menarik selimut yang menutupi tubuh Elina. Rasa penasaran menghantui pikirannya. Dia ingin merasakan bagaimana bersentuhan kulit dengan wanita yang berada di bawahnya.
Namun, Elina mempertahankan selimut itu. Digenggamnya erat agar Evan tidak bisa menyibaknya. Dia sangat ketakutan sekarang.
Oh, David, tolong aku.
__ADS_1
Hanya orang itu yang ada dalam pikiran Elina. Satu-satunya harapan yang dapat melepaskannya dari jerat sang tetangga.
"Ih, katanya gak akan, tapi kenapa maksa kayak gini?" Elina masih saja mempertahankan selimut di atas tubuhnya hingga suara nyaring terdengar dari arah perut wanita itu.
Evan seketika menghentikan aksinya, lalu segera bertanya, "Kamu lapar?"
"Iya," jawab Elina dengan nada tidak senang, "aku udah lapar dari tadi. Kamu malah giniin aku."
"Kalau begitu, ayo, bangun. Kita makan bersama." Evan turun dari posisisnya, duduk di sisi ranjang. Tangannya terbuka, membantu sang istri bangun dari atas ranjang.
Elina untuk pertama kali menerima uluran tangan Evan. Mungkin dirinya tidak sadar ketika melakukan itu.
Elina segera berjalan menuju ke arah lemari. Tentu saja dia ingin mengganti pakaiannya. Mana mungkin turun ke bawah hanya memakai baju seperti itu.
Sepasang celana dan baju tidur telah di tangan, lemari pun hendak di tutup. Namun, tiba-tiba Evan merebutnya.
"Tentu aja. Gak mungkin aku ke bawah pakai ini." Elina menundukkan kepala, menunjukkan apa yang dimaksud dengan 'ini'.
Seketika Evan pun mengikuti apa yang dilakaukan sang istri. Dia memandangi tubuh wanita di hadapannya dari atas hingga turun ke bawah. Pada saat itu pula, dirinya merasa takjub dengan ke indahan itu. Dengan susah payah dia menelan salivanya.
Tahu apa yang dilakukan Evan, Elina segera menutupi tubuh dengan kedua tangan. "Eh, ngapain lihat-lihat!" serunya.
"Kamu begitu indah, Elin," ucap Evan jujur. Dia mulai mendekati kembali tubuh sang istri.
__ADS_1
"Jangan aneh-aneh." Elina mundur ke belakang, menghindari sauminya. "Aku udah lapar banget. Mau makan."
Evan menggaruk kepala seraya menampakkan gigi-gigi putih terawatnya. Dia sungguh melupakan perut sang istri yang keroncongan tadi. Namun, dia merasa ini bukan salahnya karena pemandangan indah itu tidak mau dilewatkan.
Evan segera memgambil jubah tidur, lalu diberikannya kepada Elina. Dengan memakai itu, istrinya tidak perlu mengganti baju. Kalau selesai makan, maka wanita itu tinggal melepas jubah itu. Jadi, saat tidur Evan masih bisa memeluk tubuh indah di balik baju tipis tersebut.
Elina melirik Evan dengan rasa kesal karena rencana ganti bajunya yang gagal. Wanita itu dengan berat hati memakai jubah tidur tersebut.
Tak berapa lama, mereka kembali ke dalam kamar. Perut Elina pun sudah terisi penuh. Namun, hal itu tidak membuat hatinya senang karena setelah ini dia harus berhadapan dengan Evan lagi.
"Ayo, sini tidur," ucap Evan lembut. Dirinya telah duduk di sisi ranjang.
Lelah setelah seharian berkeliling membuat Elina mengikuti perkataan Evan. Dia berjalan menuju sisi ranjang lain untuk naik ke atasnya. Mata sudah tidak kuat terbuka, rasanya ingin selalu terpejam.
"Lepas dulu jubah tidurnya, dong," pinta Evan. "Kamu gak mungkin tidur pakai jubah itu, 'kan?"
"Emangnya kenapa?"
"Gak akan nyaman kalau tidur pakai itu," jelas Evan.
Elina pun akhirnya melepas jubah itu lalu segera membaringka tubuhnya. Rasa kantuk yang teramat, membuatnya enggan untuk berdebat dengan pria itu berlama-lama.
Senyum mengembang ketika semua yang diharapkannya terlaksana, Evan segera memeluk tubuh sang istri. Tangannya perlahan mengelus perut rata sang istri. Merasa tidak ada perlawanan, dia lebih nekat untuk menelusupkan ke balik benda tipis itu.
__ADS_1
Hembusan nafas lembut keluar dari mulut Elina ketika kulit tangan Evan menyntuh perutnya. Seluruh tubuh seketika meremang. Namun, kantuk yang sangat berat membuat wanita itu mengabaikan semua itu, lalu terlelap ke alam mimpi.
Bersambung.