Cinta Sejati Di Depan Mata

Cinta Sejati Di Depan Mata
Bab 16. Perjanjian


__ADS_3

Jantung terasa seperti habis lari maraton. Debarannya terdengar hingga di telinga Elina sendiri. Dia pun tak dapat mengatur nafasnya ketika wajah David semakin mendekat.


Inilah saat yang dia tunggu untuk merasan betapa manisnya sebuah ciuman. Setelah beberapa kali mengalami kegagalan, Elina berharap kali ini tidak akan ada pengganggu lagi.


Elina mulai memejamkan mata ketika merasakan sapuan nafas David. Tak berapa lama daging lembut nan kenyal sudah mulai menyentuh bibirnya.


Oh, apa kayak gini rasanya ciuman. Baru nyentuh aja sudah terasa melayang, batin Elina.


Namun, tiba-tiba Elina kehilangan benda kenyal yang baru menyentuh bibirnya itu. Seper sekian detik, dia mendengar seperti sebuah pukulan.


Elina segera membuka mata untuk melihat apa yang sedang terjadi. Mulutnya seketika terbuka ketika melihat David meringis kesakitan dengan memegang pipi kirinya. Dia segera mengalihkan pandangan pada seorang pria yang telah berdiri di hadapannya.


Dia adalah Evan, pria yang selalu saja mengganggunya. Namun, kali ini sudah terlampau kelewatan, pria itu telah memberi David bogem mentah.


Elina tidak akan pernah melupakan saat itu. Hari di mana sang kekasih terlibat adu jotos yang berakhir tentunya oleh kemenangan Evan. Hal itu pula yang menyebabkan putusnya hubungan mereka.


"Ingatlah itu!" teriak Elina penuh emosi. "Kamu yang buat kami putus!"


"Di mau menciummu. Kalau tidak aku hajar, mungkin dia benar-benar menciummu," jelas Evan. Dia mencoba menjelaskan alasan atas tindakannya saat itu.

__ADS_1


"Wajar aja. Dia pacarku."


"Ingat, El, dia cuma pacar, bukan muhrim. Jadi, hal itu gak pantas dilakukan." Evan berusaha memberitahu Elina, jika perbuatannya dengan kekasihnya dulu adalah salah.


"Malah ceramah," gumam Elina. "Kalau kamu gak ganggu, dia yang bakalan jadi imamku, bukan kamu. Kamu yang harus ingat ini, aku nikah sama kamu juga demi ibu!" peringatannya.


"Aku selalu ingat itu. Tapi, akan kupastikan, secepatnya hatimu jadi milikku." Evan tersenyum penuh percaya diri.


Pria itu sungguh yakin bisa meluluhkan hati Elina. Dia sudah bertekad akan melakukan berbagai cara untuk mendapatkan hati sang istri. Nyawa pun dia rela memberikannya.


"PD banget kamu." Elina tersenyum sinis. "Aku juga memastikan kalau kamu gak akan pernah bisa!" Wanita itu membalikkan badan, memunggungi sang suami.


"Eh, apa-apaan nih? Lepasin aku gak!" Elina memberontak, mencoba melepaskan diri.


"Cepat, lepasin aku!" Elina memukul-mukul tangan Evan.


"Udah lama aku pengen peluk kamu. Aku gak akan lepasin kamu, El." Evan mempererat pelukannya, membuat tubuh Elina semakin mendekat.


"Ih, Mas Evan! Aku gak mau kamu peluk! Aku benci kamu!" Elina masih berusaha melepaskan diri.

__ADS_1


Namun, Evan diam saja. Pria itu memejamkan mata seraya menyusupkan kepalanya ke ceruk leher Elina. Hembusan nafasnya menerpa bagian sensitif wanita itu.


Elina menjauhkan kepalanya karena terganggu oleh perbuatan Evan. Bulu-bulu halus di sekujur tubuh wanita itu terasa berdiri. Hampir saja dia mengelurakan len9uhan, tetapi dengan cepat dirinya membumkam mulut agar hal itu tak terjadi.


Akhirnya Elina diam karna lelah. Bagaimanapun usaha wanita itu, semuanya sia-sia. Dia kalah tenaga oleh Evan. Tubuhnya terasa sakit sendiri karena perlawanan itu.


"Jangan lakukan itu padaku!" pinta Elina, "walaupun itu kewajibanku, tapi sekarang aku belum siap. Jadi, kamu gak mungkin memaksaku. Kalau nekat juga, sama halnya kamu memerkosaku," lanjutnya.


"Suami memerkosa istri," dengus Evan.


Dia diam sejenak untuk berpikir. Ternyata wanita ini tak seperti yang dibayangkannya. Evan kira, hanya dengan memperlakukannya lembut, maka semua sudah beres. Namun, semua itu salah. Dirinya tidak boleh gegabah, harus segera membuat rencana lain.


"Oke, aku gak akan meminta jatahku hingga kamu memberikannya sendiri. Tapi, biarin aku peluk kamu kalau aku pengen. Kalau tidak, jangan salahkan aku jika ibu tahu!" Evan menyeringai, tidak mau rugi juga.


"Oke, janji!"


Dengan cepat Elina menyetujuinya karena tidak punya pilihan lain. Dia terpaksa menyetujui permintaan pria itu, dari pada harus berurusan dengan sang ibu.


Oke, hanya peluk aja, gak masalah. Tapi, jangan harap kamu bisa buat aku jatuh cinta. Jadi, kamu gak bakalan dapat jatah. Milikku hanya untuk pria yang sangat aku cintai.

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2