Cinta Sejati Di Depan Mata

Cinta Sejati Di Depan Mata
Bab 13. The Wedding


__ADS_3

Hari ini, Elina sedang duduk diam dalam beberapa menit ini. Wajah wanita itu disulap sedemikian rupa sehingga membuatnya sulit dikenali. Dia begitu cantik, membuat siapa saja yang melihatnya akan terpesona.


 


"Sudah selesai!" Sang perias wajah telah selesai memberikan sentuhan terakhir di wajah Elina.


 


Elina tidak ingin melihat wajahnya karena dia masih belum berkenan dengan pernikahan itu. Sungguh berat rasanya untuk melangkah ke luar rumah. Dia sengaja berjalan melambat untuk mengulur waktu.


 


"Elin! Ayo, cepat sedikit!" Diyah menarik tangan Elina untuk segera memasuki mobil.


 


Mau tidak mau, Elina mengikuti langkah Diyah. Dengan sedikit kesulitan wanita itu mengimbangi sang ibu karena kebaya yang dikenakannya. Hampir saja dirinya terjungkal ketika sudah berada di samping mobil. Untung saja dia cekatan dengan segera memegang badan mobil agar tidak terjatuh.


 


Mobil pun segera meninggalkan depan rumah Elina setelah semua orang masuk ke dalamnya. Roda bergulir membawa mereka ke masjid yang ada di komplek itu. Tidak memerlukan waktu yang lama, akhirnya mereka sampai di tempat tujuan.


 


"Elin, benarkah ini kamu?" tanya Evan. Pertanyaan pria itu tidak memerlukan jawaban karena hanya gumaman kecil yang keluar dari mulutnya.


 


Elina sudah berjalan menuju meja kecil di mana sang penghulu sudah menunggu. Dia segera duduk di samping pria yang sedari tadi menatapnya. Namun, tak sedikit pun dirinya melirik pria tersebut.


 


Prosesi ijab qobul segera dilangsungkan setelah Elina duduk. Penghulu mulai menjabat tangan Evan. Dengan sekali tarikan nafas, pria itu sanggup mengelesaikan kalimatnya.


 


"Sah."


 

__ADS_1


Kata itu menggema ke seluruh ruangan masjid setelah sang penghulu bertanya. Doa pun penggulu panjatkan untuk kedua pengantin baru itu.


 


Evan bisa bernafas lega. Kini, wanita yang selama ini dia idamkan telah sah menjadi makmuknya. Senyum senantiasa berkembang di wajah pria tampan itu.


 


Berbanding terbalik dengan Evan, Elina menundukkan kepala karena sedih. Pernikahan yang selama ini dia impikan bersama sang mantan kekasih telah sirna. Tanpa terasa air mata mengalir menuruni pipi.


 


"El, kamu kenapa?" Evan mengusap lembut air mata Elina.


 


Elina segera menyingkirkan tangan Evan. Dia tidak ingin di sentuh oleh pria itu. Hatinya benar-benar hancur. Kini, dirinya sudah sah menyandang sebagai nyonya Baskoro.


 


"Elin, ayo, sekarang kita ke hotel untuk melangsungkan pesta pernikahan." Diyah memapah tubuh Elina menuju mobil.


 


 


"Baik, Bu." Evan segera meninggalkan mobil itu lalu menuju mobil lain.


 


...****************...


 


Wajah Elina sudah tampak lebih tenang sekarang. Wanita itu berdiri di samping Evan untuk menyalami tamu yang datang. Senyum palsu terpaksa dia tampilkan hanya untuk mengelabuhi para tamu.


 


Satu per satu para tamu menyalaminya. Mereka mengucapkan selamat kepada pengantin baru itu. Teman kantor Elina maupun Evan, hadir dalam pesta tersebut.

__ADS_1


 


"Bunga." Elina memeluk sang sahabat.


 


Bunga tahu jika sahabatnya itu pasti sangat terpukul dan sedih. Dia mengusap punggung sang sahabat untuk menenangkan.


 


"Aku yakin, setelah ini kamu akan menemukan kebahagiaan. Tetap semangat, Elin!" bisik Bunga.


 


Elina menganggukkan kepala. Senyum tipis dia berikan kepada sang sahabat. Dirinya sangat senang karena Bunga selalu menemani dan menghiburnya di saat apa pun.


 


"Hi, Bro. Selamat, ya!" Chandra menyalami David dengan cara khas anak remaja.


 


"Terima kasih, Bos." Evan tersenyum bahagia.


 


Chandra mendekatkan bibirnya ke samping telinga Evan lalu berbisik, "Jangan lupa! Setelah ini ceritain bagaimana rasanya."


 


Chandra menjauhkan kepalanya, kemudian menaik-turunkan alisnya. Dia pun memberikan senyum menggoda kepada sang asisten pribadi.


 


"Makanya, cepetan nikah." Evan memberi pagar pada bibirnya ketika berbicara dengan si bos supaya tidak ada yang mendengar.


"Jangan suruh aku nikah sama tante ganjen itu lagi, ya."


 

__ADS_1


Mereka tertawa bersama. Kebahagiaan terpancar dari wajah Evan. Namun, di sudut lain ada seseorang yang menatapnya dengan wajah penuh kesedihan.


Bersambung.


__ADS_2