Cinta Sejati Di Depan Mata

Cinta Sejati Di Depan Mata
Bab 48. Sang Penyelamat


__ADS_3

"Iya, Adek," ucap ners seperti kepada anak kecil, "sekarang ganti infus dulu, ya?"


Elina menganggukkan kepala, membiarkan sang ners mengganti infus yang hampir habis. Dia terus menatap perawat pria tersebut saat melakukan tugas.


Setelah selesai mengganti infus, ners kemudian mengambil jarum suntik.


"Jangan disuntik, Mas," ucap Elina. Dia menatap takut pada jarum suntik di tangan ners.


"Gak, kok. Ini cuma disuntik di sini," jelas Ners selalu dengan senyumnya. Dia menunjuk pada selang infus yang berguna untuk memasukkan obat dengan jarum suntik.


Beberapa saat setelah itu, tangan Elina terasa pegal. Dia pun segera mengeluh kepada ners yang hendak pergi.


"Mas, tanganku, kok, pegal, ya?" Elina menunjuk pada ujung selang infus yang menancap di tangannya.


Sang ners pun menoleh ke arah Elina. "Oh, itu tandanya obat yang baru saja dimasukkan, merasuk ke dalam pembuluh darah. Gak apa-apa, kok," jelas ners.


"Ners, gimana keadaannya?"

__ADS_1


Pertanyaan itu mengalihkan perhatian kedua orang yang sedang bercakap. Mereka menoleh ke arah yang sama, yaitu pintu. Seorang pria telah berdiri di depannya.


"Kamu!" pekik Elina, "gimana bisa di sini?" tanyanya tak percaya.


Elina tak pernah berharap pria itu datang, tetapi sekarang malah berdiri di hadapannya. Sedangkan, sang kekasih yang ditunggu tak kunjung datang. Ya, dialah Evan yang baru saja masuk ke dalam kamar rawat wanita tersebut.


"Ternyata kamu sudah sadar. Syukurlah." Evan menghembuskan nafas panjang. Dia merasa lega karena Elina telah sadar dari pingsan.


"Heh, jawab pertanyaanku!" Elina merasa marah karena Evan tak segera menjawab pertanyaannya.


"Oke-oke, jangan marah, dong," pinta Evan, "aku, di sini? Ya, bisalah. Kenapa gak bisa?" Evan begitu santai mengucapkan kalimatnya.


Elina sungguh tak mengerti dengan keadaan yang sedang dihadapi, sungguh membingungkan.


Evan sendiri malah tersenyum melihat wajah Elina yang sedang kebingungan. Dia terus saja mengamati gerak-gerik sang istri dan membiarkan wanita tersebut dalam keadaan seperti itu beberapa saat.


"Tantu saja tahu. 'Kan, aku yang bawa kamu ke sini." Lagi-lagi Evan menyampaikan hal tersebut dengan santai, tanpa beban.

__ADS_1


Apa? Dia yang bawa aku ke sini? Bagaimana mungkin? Berbagai pertanyaan melintas di benak Elina.


Wanita tersebut tidak percaya begitu saja dengan pernyataan Evan. Sebab, dia yakin betul bahwa tak ada seorang pun di sana saat itu.


"Kamu gak percaya?" tanya Evan. Dia melihat wajah Elina penuh tanda tanya.


"Tentu aja. Gimana kamu bisa bawa aku ke sini? Sedangkan preman itu sangat kuat dan kamu harus mengalahkannya lebih dulu sebelum membawaku, 'kan?" tanya Elina.


Wanita itu terus menyangkal pengakuam Evan. Dia juga tidak habis pikir, bagaimana pria itu bisa menang melawan dua pria berbadan kekar tersebut. Menurut logikanya, hal tersebut tidak masuk akal.


"Tentu aja aku kalahin mereka. Kedua orang itu aku tempeleng, aku ijak-injak, terus aku tendang." Evan mengatakan hal itu seraya mempraktikannya.


"Halah, gak mungkin. Paling juga warga sekitar yang nyalametin aku. Lagian, kamu juga gak tahu kalau aku di situ, 'kan?" Elina terus saja tak percaya. Hanya satu keyakinannya, Davidlah sang penyelamat itu.


Oh, ya. Pantas aja David gak masuk ke sini. Ada dia, sih, batin Elina.


"Maaf sebelumnya," sela ners, "kondisi Adiknya sekarang sudah membaik. Mungkin hanya membutuhkan waktu untuk menyembuhkan jahitan saja," jelasnya.

__ADS_1


Evan sangat lega mendengar penjelasan sang ners. Kekhawatiran terhadap kondisi sang istri pun seketika lenyap. Akan tetapi, ada satu kata dari ners yang menggelitik pikirannya.


Bersambung.


__ADS_2