
Jalanan begitu ramai, semua orang berlomba-lomba agar segera sampai di rumah masing-masing. Berbanding terbalik dengan Elina, bukannya pulang ke rumah, wanita itu justru melajukan motornya berlawanan arah jalan menuju rumah. Dia ingin pergi ke tempat yang telah disepakati.
Elina memarkirkan motornya di depan The Hitz Cafe lalu segera memasuki tempat tersebut. Mata wanita itu mencari keberadaan pria yang lebih dulu menunggu kehadirannya. Di sudut ruangan, dia melihat seorang pria dengan kaos putih. Dirinya pun segera menghampiri pria itu.
"Sayang." Elina merentangkan tangan lalu memeluk pria itu. Rasanya enggan untuk melepaskan pelukan. Namun, mau bagaimana lagi, dia juga tidak ingin menjadi pusat perhatian.
"Bagaimana kabarmu, Sayang?" tanya David ketika pelukan itu terlepas.
"Baik, Sayang," jawab Elina sangat antusias. Dia terus saja memandangi wajah pria itu.
Mereka pun duduk berdampingan. Tangan David melingkar di pundak Elina. Wanita itu pun tanpa disuruh, menyenderkan tubuhnya ke tubuh sang pria. Senyum juga terus berkembang di wajah wanita tersebut.
David memang memilih tempat duduk sofa supaya mereka bisa menjalin kasih. Tempat duduk seperti itu mendukung mereka agar bisa duduk berdekatan.
"Kamu mau makan apa?" David menyodorkan buku menu ke arah Elina.
"Oh, iya." Elina menegakkan tubuhnya lalu menerima buku menu itu.
__ADS_1
Mereka memilih dua menu berat dan dua minuman. Tak lupa juga dua buah makanan untuk penutup. Pesanan segera diberikan kepada pelayan.
"Sayang, sepertinya ada yang kamu sembunyikan dariku. Kamu juga kemarin gak angkat teleponku. Kenapa?" tanya David tiba-tiba.
Pertanyaan itu membuat Elina terhenyak. Dia tidak tahu harus menjelaskan dari mana. Dirinya belum siap ditembak pertanyaan seperti itu.
"Em ...." Elina sanksi untuk mengatakan kebenaran. Dia takut jika David tidak menerimanya, lalu mengajak putus lagi. Dirinya tidak ingin itu terjadi.
"Katakan aja! Kamu gak usah takut." David menatap Elina penuh kasih. Tangannya meraih tangan sang kekasih.
Dengan kasih sayang David itu pula, dia mulai mengumpulkan keberanian. Wanita itu mulai membuka mata, memantapkan hati untuk mengatakannya.
"Sayang, maaf, kemarin aku matikan teleponnya karena ada orang di belakangku," jelas Elina masih basa-basi. Ternyata keberaniannya belum terkumpul seluruhnya.
"Orang? Kamu, 'kan, di dalam kamar?" David semakin tak mengerti. Kenapa ada orang lain di kamar Elina? Apakah ayah atau keluarganya yang lain? Namun, David tidak ingin mengambil kesimpulan sendiri. Dia lebih memilih untuk menunggu wanita itu menjelaskan.
"Iya, dia," jeda Elina sesaat, "suamiku. Sebenarnya aku udah nikah."
__ADS_1
Lega rasanya dia dapat mengungkapkan suatu kebenaran. Dia tidak ingin membohongi David dengan menyembunyikan hal yang sesungguhnya. Wanita itu pasti tidak akan tenang dalam menjalani hubungan mereka selanjutnya.
Keterbukaan adalah hal yang paling penting dalam suatu hubungan. Jika salah satu pasangan menyembunyikan sesuatu terhadap pasangannya, lalu ketahuan. Maka, satu pihak yang dibohongi tidak akan percaya lagi. Hal itu yang tidak diinginkan Elina.
Namun, suasana seketika hening, tanpa ada suara dan pergerakan, membuat Elina gelisah. Dia tak berani manatap wajah pria di sisinya. Hanya lirikan mata yang mampu dirinya lakukan.
"Kenapa secepat itu." David menyingkirkan tangannya dari bahu Elina. "Kamu bohong sama aku, El."
David sungguh tampak kecewa. Elina menjadi semakin resah. Dia takut jika pria itu meninggalkannya lagi. Lebih baik dia tenggelam dilautan dalam daripada hidup tanpa sang kekasih.
"Bohong? Kapan aku bohong?" tanya Elina cepat. Dia segera meraih tangan David. Wanita itu juga merasa tidak pernah membohongi sang kekasih, bahkan saat ini saja dia sedang jujur akan statusnya.
"Saat kirim pesan kamu bilang 'sayang' sama aku. Tapi, nyatanya kamu udah nikah. Bagaimana bisa begitu? Kamu membohongi hatiku, El."
Elina menundukkan kepala, menyadari hal itu. Sungguh dirinya terlalu terburu-buru mengambil keputusan saat itu. Andai saja dia menunggu sejenak, pasti semua tidak akan seperti ini. Sekarang, dia benar-benar menyesali keputusannya untuk menikah dengan Evan.
Bersambung.
__ADS_1